JAKARTA, investor.id – Investasi berbasis environmental, social, and governance (ESG) banyak diminati investor retail terutama generasi Z atau Gen Z. Tren ini positif untuk iklim investasi ke depan, karena Gen Z bakal menjadi generasi yang berperan penting dalam perkembangan ekonomi Indonesia.
Menurut Head of Research Insight Investments Management, Dhanang A Satrio, dari sekitar 13 juta investor pasar modal yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebesar 55% di antaranya masuk kelompok muda alias di bawah 30 tahun.
“Jadi, kalau kita lihat demografi atau minat terkait produk berbasis ESG cukup besar pada segmen retail terutama demografi yang gen Z atau kelompok investor muda,” tandas Dhanang dalam tayangan “Investor Market Today” di IDTV, Jakarta, Jumat (26/7/2024).
Dikatakan Dhanang, perhatian Gen Z terhadap ESG didasarkan pula pada hasil survei yang dilakukan timnya. Sebanyak 60% orang menjawab isu utama yang menjadi kekhawatiran Gen Z dalam berinvestasi mengenai ketimpangan sosial dan ekonomi. Sementara 30% sisanya mengenai perubahan iklim.
Mengapa perlu berinvestasi pada saham dari emiten atau saham berbasis ESG? Sebab ada sejumlah keuntungan yang dapat diperoleh investor. Pertama, mendapat keuntungan yang dari selisih harga jual dan harga beli saham atau capital gain.
Kedua, pendapatan tetap yang diperoleh atas investasi atau kupon. Ketiga, menerima risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan emiten yang menawarkan saham konvensional.
“Karena kita melihat perusahaan dari sisi environmental mereka dampaknya sangat minim yang dapat memberikan efek positif secara sosial. Ini akan berdampak pada kelangsungan usaha perusahaan yang lebih panjang,” pungkasnya.
Dhanang menjelaskan, investor yang berinvestasi pada emiten berbasis ESG secara tidak langsung, turut berperan dalam mendorong stakeholder untuk menyelesaikan isu-isu terkait lingkungan, kesetaraan, sosial, dan memastikan tata kelola dari perusahaan tersebut dijaga dengan baik.
Tren investasi berbasis ESG terlihat bertumbuh positif dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai gambaran, pada 2021, dana kelolaan (AUM) reksa dana berbasis ESG di Indonesia hanya sebesar Rp 2,3 triliun dengan produk yang relatif terbatas. Sedangkan per Juni 2024, total tersebut naik menjadi Rp 8,21 triliun dengan 34 produk yang diterbitkan 19 Manajer Investasi (MI).
Pertumbuhan ini didorong dari banyaknya emiten berbasis ESG yang melakukan pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO) di BEI. Sementara dari sisi obligasi, tidak sedikit pula emiten yang menetapkan berwawasan lingkungan berbasis berkelanjutan.
Berdasarkatan data, saat ini baru ada 10 emiten berwawasan lingkungan yang terkait obligasi sepanjang 2018 hingga Juli 2024. Dari jumlah tersebut didominasi oleh emiten dengan sektor finansial, manufaktur, dan energi baru terbarukan.
Editor: Maswin (maswin.investorID@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News