JAKARTA, KOMPAS.com - Rintik hujan dan genangan di aspal Terminal Tanjung Priok tak membuat puluhan penumpang JakLingko goyah.
Bermodal tutup kepala dari jaket serta sebagian lainnya menggunakan payung, mereka setia mengantre dengan rapih untuk masuk ke armada demi sampai ke rumah masing-masing.
Bahkan ada yang membiarkan kepala dan bajunya basah karena tidak terlindungi apa-apa.
Antrean calon penumpang JakLingko itu sendiri berada di sisi barat terminal. Lokasinya beralas aspal yang dipenuhi genangan air hujan serta beratap langit yang kelihatan masih mendung meski sudah gelap.
Tak seperti Transjakarta, commuterline, MRT atau LRT, tempat mengantre JakLingko di Stasiun Tanjung Priok ini sebenarnya hanyalah lintasan bus dan angkutan umum lainnya.
Tak ada pula marka atau rambu yang menunjukkan bahwa area itu merupakan tempat mengantre armada JakLingko.
Fitria (28) salah seorang calon penumpang mengatakan, kondisinya memang demikian. Ia dan calon penumpang JakLingko lain mengetahui bahwa area itu untuk mengantre karena sudah terbiasa.
"Aturannya memang begini dari awal. Jadi sudah biasa," ujar dia.
Ia pun tak memungkiri, calon penumpang JakLingko yang baru pertama kali naik, pasti akan kesulitan mencari akses menaikinya.
Di tengah berbincang dengan Fitria, muncul celetukan dari calon penumpang di barisan belakang.
"Bau kotoran kucing," ujar dia sembari menutup hidung.
Calon penumpang di depan serta belakangnya rupanya merasakan aroma yang sama. Meski dalam kondisi gelap karena lampu terminal mati, gestur mereka memperlihatkan menutup hidung dengan tangan.
Fitria menambahkan, kondisi lampu mati ini baru beberapa hari ini saja ia rasakan.
"Biasanya mah enggak gini nih. Lampu semuanya nyala terang. Enggak tahu deh ya ini kenapa mati," ujar dia.
Salah seorang penumpang lainnya bernama Andi (48) berharap, pemerintah memperhatikan calon penumpang JakLingko. Pemerintah semestinya menyediakan fasilitas yang nyaman dan aman bagi penumpang transportasi umum agar orang-orang banyak yang berpindah ke sana.
"Harapannya, supaya lebih ditingkatkan lagi aja untuk fasilitasnya," ujar Andi.
Tidak lama kemudian, armada JakLingko pun tiba. Sekitar 20 calon penumpang yang tadi mengantre naik satu per satu. Mereka yang berdiri di barisan paling depan yang pertama kali masuk, kemudian diikuti orang di belakangnya.
Tak berebut saat naik, mereka justru dengan sabar menunggu orang di depannya untuk duduk terlebih dahulu, barulah ia memasuki armada.
Situasi ini boleh dibilang sangat tertib meski hujan, becek, dan bau kotoran hewan yang menyergap.
KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU Puluhan calon penumpang JakLingko mengantre dengam tertib menunggu armada meski diguyur hujan di Terminal Tanjung Priok, Jumat (5/7/2024)
Merujuk survei evaluasi layanan transportasi terintegrasi JakLingko tahun 2019 yang dirilis Pusat Pelayanan Statistik Dinas Informasi, Informatika, dan Stastistik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, indeks kepuasan pelanggan JakLingko secara umum di Jakarta Utara sebenarnya sudah masuk kategori cukup baik.
Tetapi, ada beberapa catatan. Pertama, ada rute di mana penumpang merasa belum puas, yakni Rute 01. Hasil survei itu pun merekomendasikan pemerintah meningkatkan pelayanan di rute tersebut.
Kedua, mengenai elemen sarana serta prasarana. Unsur kondisi/kualitas terminal di Jakarta Utara apakah sudah baik (memadai, rapi dan bersih) atau belum, memperoleh skor terendah dibandingkan unsur lainnya.
Unsur yang memiliki skor terendah lainnya, yakni tentang ketersediaan papan informasi rute dan jadwal JakLingko.
"Hal ini bisa menjadi pertimbangan untuk perbaikan agar layanan Jaklingko meningkat," tulis survei tersebut.