#30 tag 24jam
Pedagang Kaset Masih Eksis Meski Zaman Sudah Berubah
Salah seorang pedagang kaset di toko Storage Vintage, Blok M Square, Adel, mengatakan masih ada yang mendengarkan musik dari kaset. [774] url asal
#pedagang-kaset #toko-kaset #penjual-kaset
(detikFinance - Moneter) 03/08/24 09:30
v/13105080/
Jakarta - Perkembangan zaman dan digitalisasi tidak lantas membuat pecinta musik Tanah Air meninggalkan alat pemutar musik retro seperti kaset pita atau tape. Kondisi ini terlihat dari banyaknya orang dari berbagai kalangan yang masih mengunjungi toko kaset.
Salah seorang pedagang kaset di toko Storage Vintage, Blok M Square, Adel, mengatakan masih ada yang mendengarkan musik dari kaset, meski sekarang sudah banyak compact disc (CD) hingga platform streaming digital.
Ia menyebut para pembeli ada datang dari berbagai kalangan seperti pelajar SMP-SMA, orang tua, hingga kolektor. Dalam hal ini menurutnya para pembeli generasi muda seperti pelajar datang karena terpengaruh media sosial.
"Ada banyak yang cari, bahkan pelajar gitu, anak SMP-SMA, terus orang-orang yang lumayan tua suka cari untuk nostalgia. (Kalau kolektor kaset itu ada?) kalau kolektor pasti ada lah," ucapnya saat ditemui detikcom, Jumat (2/8/2024).
"(Anak SMP-SMA ini cari kaset karena apa?Kan mereka mungkin belum lahir saat orang masih pakai kaset ini?) Banyak juga yang mungkin lihat di TikTok gitu dengar lagu pakai kaset gitu kan, awalnya ikutan, penasaran, ujung-ujungnya suka," papar Adel.
Lebih lanjut, Adel menjelaskan ada perbedaan gaya membeli dari berbagai kalangan ini. Misalkan saja untuk pembeli dari kalangan pelajar yang masih meraba-raba musik apa yang disenanginya, tapi sedikit irit dalam berbelanja.
"Kalau yang masih SMP-SMA kan kadang mereka masih meraba-raba tuh selera musiknya gimana. Jadi kadang hari ini belinya pop, besok jazz lawas, besoknya lagi metal. Kadang mereka nanya juga mana yang enak, terus didengerin, suka, beli. Tapi kadang belinya nggak langsung. 'besok ya om belinya, pelajar nih'," katanya.
"Kalau yang sudah tua-tua gitu kan biasanya sudah tahu mau cari lagu apa, 'wah ini lagu saya pas masih zaman pacaran nih' gitu. Lagian mereka biasanya selera musiknya sudah pakem kan, atau memang fans penyanyi lama, ya yang dicari sekitar itu-itu saja paling. Kalau kita nggak ada ya dia pindah ke toko lain, nggak nanya-nanya yang lain," papar Adel.
Kemudian ada juga dari kalangan kolektor yang biasanya lebih loyal untuk membeli. Selain itu khusus untuk kalangan ini, Adel mengaku bisa menaikkan harga jual sedikit lebih mahal karena mereka tahu nilai dari rekaman musik jadul ini.
"Kalau kolektor itu malah album yang sama tapi beda terbitan pasti dibeli. Misal terbitan pertama ada typo di (cover kaset), terus di keluaran berikutnya sudah dibenerin, itu masih dibeli, malah kadang dicari yang salah-salah gitu," ucapnya.
"Kadang album yang sama beda gambar foto (penyanyi) masih dibeli juga. Album sama beda tahun keluar dibeli juga. Makanya mereka biasanya satu album ada 7-8 kaset. Jadi kalau ke kolektor ini bisa lah harganya naik sedikit," jelas Adel lagi.
Namun karena jumlah peminat dari berbagai kalangan inilah Adel percaya kaset pita dagangannya tak lekang oleh waktu. Terlebih mengingat saat ini cukup banyak pembeli dari kalangan pelajar.
"(Penikmat kaset pita) tak lekang oleh waktu lah, aman. Apalagi ada yang anak SMP-SMA tadi kan, jadi ada regenerasi lah," katanya.
Bersambung ke halaman berikutnya. Langsung klik
Pengalaman tak jauh berbeda dialami penjual kaset lain dari toko Kedai Musik bernama Andri. Bahkan ia mengaku sering menerima pelanggan yang masih mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD).
"Sekarang anak SD sudah mulai lagi (dengar lagu dari kaset), sampai yang berumur lah, yang sudah tua," kata Andri.
"(Anak SD ini tahu kaset musik dari mana?) nggak tahu ya. Mungkin karena lihat di medsos ya, dari situ mungkin mereka jadi tertarik. Akhirnya dari FOMO jadi suka beneran," ucapnya lagi.
Secara khusus, anak-anak SD ini biasanya datang dengan ditemani orangtua mereka. Sebab secara finansial kebanyakan anak-anak ini belum bisa membeli kaset pita dengan uang jajan mereka yang sangat terbatas.
"Yang nganterin ibunya, sekalian ngenalin juga 'ini penyanyi di era-nya ibu' gitu-gitu," terang Andri.
Belum lagi menurutnya kawasan Blok M ini sudah cukup dikenal sebagai salah satu pusat rekaman musik lama. Jadi mereka yang ingin memburu kaset pita lama hingga CD dan vinyl akan mampir ke sini.
"Lagian Blok M ini sudah jadi destinasi juga kan, maksudnya kalau orang mau cari CD atau kaset lama ya ke sini. Kalau dulu kan pas masih misah-misah ada yang di Jatinegara, saya di Taman Puring dulu, pas kumpul di sini kan orang jadi pada datang," kata Andri.
"Di sini komunitas (penjual kaset pita, CD, dan vinyl) ada 20 plus. Cuma memang rata-rata baru buka siang, jam 1-2. Kalau sebelah ini (sambil menunjuk toko di sebelahnya) paling lama jualan, cuma baru buka sore," tambahnya lagi.
Sehingga sama seperti Adel, ia juga percaya barang dagangannya akan terus dicari orang dari berbagai kalangan. "Makanya masih aman lah jualan kaset. (Ada regenerasi?) ada, pasti. Lagian musik itu bisa dibilang yang nggak akan hilang," paparnya.
(hns/hns)
Penjual Kaset Pita Masih Eksis Sampai Sekarang, Berapa Omzetnya?
Kaset pita lagu-lagu zaman dulu (jadul) masih diminati banyak orang. Kondisi ini tentu membuat omzet para pedagang kaset cukup untuk menyambung hidup. [626] url asal
(detikFinance - Market Research) 02/08/24 16:44
v/13021154/
Jakarta - Kaset pita lagu-lagu zaman dulu (jadul) masih diminati banyak orang. Bahkan ada anak-anak usia sekolah dasar (SD) datang untuk membeli koleksi kaset yang mungkin umurnya lebih tua dari mereka.
Kondisi ini tentu membuat omzet para pedagang kaset cukup untuk menyambung hidup. Termasuk salah satunya penjual kaset bernama Adel di toko Storage Vintage, Blok M Square, Jakarta Selatan.
Adel mengaku dalam sebulan ia bisa mendapat omzet setara UMR Jakarta yang saat ini di kisaran Rp 5 juta. Namun ia enggan untuk menjelaskan lebih rinci berapa penghasilannya dari usaha ini.
"Omzet ya cukup lah untuk bayar sewa toko, listrik sama kelebihan jajan lah. Ya intinya ketutup aja sih, ada lah lebihnya. (UMR Jakarta sampai?) kalau UMR sampai, kadang buat toko sama listrik belum jajan rokok, kopi, makannya itu sudah UMR sendiri itu. Ada lebihnya sedikit lah," katanya saat ditemui detikcom.
Ia menjelaskan omzet ini tidak hanya berasal dari hasil penjualannya secara offline di toko, tapi juga dari hasil jualannya secara online di berbagai platform e-commerce. Sebab sebelum membuka toko di Blok M Square, ia sudah lebih dulu jual kaset pita secara online.
Saat ini, khusus untuk kaset-kaset yang dijual online, Adel menandai kemasan kaset dengan tempelan kertas berbentuk bulat kecil berbagai warna. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari memasarkan kaset yang sama di satu e-commerce. Selain itu, cara ini juga membantunya dalam mencari kaset yang dijual secara online saat menerima pesanan.
"Kalau yang dititik orange ini sudah masuk (dijual secara) online. Ini kan sudah di-posting gitu, ngasih tanda biar gampang ada yang pesan nggak usah cari-cari," jelas Adel.
Untuk harga jual kaset pita ini cukup bervariasi tergantung pada kelangkaan barang hingga ketenaran penyanyi/lagu dalam kaset tersebut. Mulai dari yang paling murah Rp 30 ribu sampai jutaan rupiah.
"Rata-rata (harga kaset) paling ya start dari Rp 40 ribuan. Rp 30-40 ribu standar, paling murah itu. Kalau paling mahal mah bisa sampai ratusan ribu sampai jutaan juga ada kalau yang benar-benar langka ya," tuturnya.
Sementara itu penjual lain di toko Kedai Musik, Blok M Square, bernama Andri mengaku bisa mendapatkan omzet sekitar dua kali UMR Jakarta. Namun ia juga enggan untuk merinci lebih jauh berapa penghasilannya dari berjualan kaset ini.
Andri menjelaskan pendapatannya bisa sangat bergantung pada jumlah barang dan harga yang dijual. Jika ia berhasil menjual kaset dengan harga yang lebih mahal tentu omzetnya akan semakin besar juga.
"Kalau ngomongin omzet ya lumayan lah, ya relatif banyak sedikitnya. Pokoknya kalau dari CD dan kita mulai harga kan Rp 50 ribu, piringan hitam kita mulai harga Rp 100 ribu. Ya lumayan lah, kalau angka kita nggak bisa sebut," ucapnya.
"(Tapi omzet setara UMR dapat?) lebih lah, ya dua kali lipat UMR ya lumayan lah. Bahkan bisa lebih tergantung kita punya barang. Namanya usaha hobi, kadang kita dapat rezekinya itu. Saya pernah jual CD Rp 800 ribu," tambah Andri.
Pada umumnya Andri menjual kaset pita dari harga termurah Rp 20 ribu. Namun jumlah ini bisa meningkatkan berkali-kali lipat tergantung pada tingkat kelangkaan kaset. Apalagi kalau di kaset tersebut ada tanda tangan sang artis, membuat nilai tawar produk ini jadi lebih tinggi.
"Kadang kan orang ada kepuasan sendiri kalau di kasetnya itu ada tanda tangan artis kan. Jadi bisa kita jual lebih tinggi lah," ucapnya.
Sama seperti Adel, ia mengaku juga berjualan kaset pita di e-commerce. Menurutnya dengan berjualan secara online, ia bisa memasarkan kaset dagangannya hingga ke berbagai daerah di Indonesia yang justru di wilayah mereka tidak ada penjual produk rekaman jadul ini.
"Untungnya sekarang kan ada dibantu online ya, banyak market place. Nah di satu sisi kan untuk orang-orang di daerah kan mereka sudah nggak ada yang punya toko (tidak ada penjual kaset pita di daerahnya). Kita lewat online, itu membantu juga," terang Andri.
(fdl/fdl)
Orang-orang Ini yang Masih Suka Beli Kaset Pita Musik di Blok M
Di era serba digital sekarang ini, ternyata toko kaset masih diminati pembeli dari berbagai kalangan. [756] url asal
(detikFinance - Finansial) 02/08/24 14:34
v/13010758/
Jakarta - Di era serba digital sekarang ini, ternyata toko kaset masih diminati pembeli dari berbagai kalangan. Termasuk di antaranya pelajar SD-SMA hingga orang tua dan kolektor.
Salah seorang penjual kaset di Blok M Square, Adel, mengatakan rekaman musik zaman dulu (jadul) ini masih memikat banyak orang karena penampilan 'vintage' dan suaranya yang khas.
Ia menyebut para pembeli ada datang dari berbagai kalangan seperti pelajar SMP-SMA, orang tua, hingga kolektor. Dalam hal ini menurutnya para pembeli generasi muda seperti pelajar datang karena terpengaruh media sosial.
"Ada banyak yang cari, bahkan pelajar gitu, anak SMP-SMA, terus orang-orang yang lumayan tua suka cari untuk nostalgia. (Kalau kolektor kaset itu ada?) kalau kolektor pasti ada lah," ucapnya saat ditemui detikcom, Jumat (2/8/2024).
"(Anak SMP-SMA ini cari kaset karena apa?Kan mereka mungkin belum lahir saat orang masih pakai kaset ini?) Banyak juga yang mungkin lihat di TikTok gitu dengar lagu pakai kaset gitu kan, awalnya ikutan, penasaran, ujung-ujungnya suka," papar Adel.
Lebih lanjut, Adel menjelaskan ada perbedaan gaya membeli dari berbagai kalangan ini. Misalkan saja untuk pembeli dari kalangan pelajar yang masih meraba-raba musik apa yang disenanginya, tapi sedikit irit dalam berbelanja.
"Kalau yang masih SMP-SMA kan kadang mereka masih meraba-raba tuh selera musiknya gimana. Jadi kadang hari ini belinya pop, besok jazz lawas, besoknya lagi metal. Kadang mereka nanya juga mana yang enak, terus didengerin, suka, beli. Tapi kadang belinya nggak langsung. 'besok ya om belinya, pelajar nih'," katanya.
"Kalau yang sudah tua-tua gitu kan biasanya sudah tahu mau cari lagu apa, 'wah ini lagu saya pas masih zaman pacaran nih' gitu. Lagian mereka biasanya selera musiknya sudah pakem kan, atau memang fans penyanyi lama, ya yang dicari sekitar itu-itu saja paling. Kalau kita nggak ada ya dia pindah ke toko lain, nggak nanya-nanya yang lain," papar Adel.
Kemudian ada juga dari kalangan kolektor yang biasanya lebih loyal untuk membeli. Selain itu khusus untuk kalangan ini, Adel mengaku bisa menaikkan harga jual sedikit lebih mahal karena mereka tahu nilai dari rekaman musik jadul ini.
"Kalau kolektor itu malah album yang sama tapi beda terbitan pasti dibeli. Misal terbitan pertama ada typo di (cover kaset), terus di keluaran berikutnya sudah dibenerin, itu masih dibeli, malah kadang dicari yang salah-salah gitu," ucapnya.
"Kadang album yang sama beda gambar foto (penyanyi) masih dibeli juga. Album sama beda tahun keluar dibeli juga. Makanya mereka biasanya satu album ada 7-8 kaset. Jadi kalau ke kolektor ini bisa lah harganya naik sedikit," jelas Adel lagi.
Namun karena jumlah peminat dari berbagai kalangan inilah Adel percaya kaset pita dagangannya tak lekang oleh waktu. Terlebih mengingat saat ini cukup banyak pembeli dari kalangan pelajar.
"(Penikmat kaset pita) tak lekang oleh waktu lah, aman. Apalagi ada yang anak SMP-SMA tadi kan, jadi ada regenerasi lah," katanya.
Pengalaman serupa juga dirasakan penjual kaset lain dari toko Kedai Musik bernama Andri. Bahkan ia mengaku sering menerima pelanggan yang masih mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD).
"Sekarang anak SD sudah mulai lagi (dengar lagu dari kaset), sampai yang berumur lah, yang sudah tua," kata Andri.
"(Anak SD ini tahu kaset musik dari mana?) nggak tahu ya. Mungkin karena lihat di medsos ya, dari situ mungkin mereka jadi tertarik. Akhirnya dari FOMO jadi suka beneran," ucapnya lagi.
Secara khusus, anak-anak SD ini biasanya datang dengan ditemani orangtua mereka. Sebab secara finansial kebanyakan anak-anak ini belum bisa membeli kaset pita dengan uang jajan mereka yang sangat terbatas.
"Yang nganterin ibunya, sekalian ngenalin juga 'ini penyanyi di era-nya ibu' gitu-gitu," terang Andri.
Belum lagi menurutnya kawasan Blok M ini sudah cukup dikenal sebagai salah satu pusat rekaman musik lama. Jadi mereka yang ingin memburu kaset pita lama hingga CD dan vinyl akan mampir ke sini.
"Lagian Blok M ini sudah jadi destinasi juga kan, maksudnya kalau orang mau cari CD atau kaset lama ya ke sini. Kalau dulu kan pas masih misah-misah ada yang di Jatinegara, saya di Taman Puring dulu, pas kumpul di sini kan orang jadi pada datang," kata Andri.
"Di sini komunitas (penjual kaset pita, CD, dan vinyl) ada 20 plus. Cuma memang rata-rata baru buka siang, jam 1-2. Kalau sebelah ini (sambil menunjuk toko di sebelahnya) paling lama jualan, cuma baru buka sore," tambahnya lagi.
Sehingga sama seperti Adel, ia juga percaya barang dagangannya akan terus dicari orang dari berbagai kalangan. "Makanya masih aman lah jualan kaset. (Ada regenerasi?) ada, pasti. Lagian musik itu bisa dibilang yang nggak akan hilang," paparnya.
(fdl/fdl)
Cerita Penjual Kaset Pita Blok M Bertahan dari Perubahan Zaman
Perkembangan teknologi membuat gaya hidup terus berkembang, termasuk bagaimana cara mendengarkan musik. [498] url asal
(detikFinance - Perencanaan Keuangan) 02/08/24 13:37
v/13000698/
Jakarta - Perkembangan teknologi membuat gaya hidup terus berkembang, termasuk bagaimana cara mendengarkan musik. Saat ini sebagian besar orang mungkin mendengarkan lagu favorit mereka melalui digital streaming platform (DSP) atau layanan streaming digital.
Meski begitu, ternyata masih ada yang menikmati musik dengan teknologi lawas seperti kaset pita atau banyak juga dikenal dengan tape. Kaset pita yang dianggap jadul, nyatanya masih memikat banyak orang.
Salah seorang penjual kaset di toko Storage Vintage, Blok M Square, Adel, mengatakan banyak orang masih mendengarkan musik dari rekaman zaman dulu karena suaranya yang khas, berbeda dengan compact disc (CD) atau pun platform streaming digital.
"Kalau CD itu kan sudah mulai digital ya, jadi suaranya sudah jernih. Beda sama tape atau vinyl yang masih ada kesan analognya. Beda lah suaranya, sama kaya yang streaming kaya YouTube gitu kan suaranya sudah jernih banget tuh," kata Adel saat ditemui detikcom, Jumat (2/8/2024).
Adel menyebut banyak juga pembeli yang datang karena pengaruh media sosial. Kondisi ini terjadi khususnya untuk generasi muda yang tak begitu mengenal teknologi lawas.
"Banyak juga yang mungkin lihat di TikTok gitu dengar lagu pakai kaset gitu kan, awalnya ikutan, penasaran, ujung-ujungnya suka," papar Adel.
Selain itu, menurutnya banyak lagu lama semisal tahun 1980-an ke bawah tidak tersedia di layanan platform digital. Sehingga mereka yang ingin menikmati lagu-lagu lama ini lebih memilih untuk menggunakan kaset pita atau tape.
Penjual Kaset Blok M Foto: Ignacio Geordy Oswaldo |
"Kadang Indonesia itu kan kurangnya kan mengarsipkan arti-artinya itu ke digital. Coba deh cari artis-artis Indonesia yang tahun 80an ke bawah, pasti nggak ada. Tapi kalau orang barat, artis-artis luar pasti masih ada," ucap Adel
"Makanya mereka larinya ke kaset, karena adanya di kaset. Jadi kadang mereka dengar ada yang nyanyi, di cari lagunya di YouTube, nggak ada. Larinya ke kaset," jelasnya lagi.
Atau menurutnya pilihan lain bagi mereka yang ingin mendengar musik bergaya vintage adalah vinyl. Namun biasanya mereka yang mendengarkan lagu dengan cara ini memiliki kondisi ekonomi yang cukup tinggi, sebab baik kaset vinyl atau alat pemutar musiknya cukup mahal.
"Kalau vinyl kan harga satu piringannya saja sudah berapa, Rp 500 ribu - 1 juta. Kalau beli kaset gini bisa dapat 5 bisa dapat 10. Belum pemutar musiknya, mahal itu. Kalau kaset kan masih bisa pakai walkman atau (tape radio) compo yang rada murah," ucap Adel.
Senada dengan itu penjual kaset lain di Blok M Square dari toko Kedai Musik bernama Andri mengatakan hingga saat ini masih banyak orang berburu kaset pita lama karena terpengaruh media sosial.
"Mungkin karena lihat di medsos ya, dari situ mungkin mereka jadi tertarik. Akhirnya dari FOMO jadi suka beneran," ucapnya.
Kemudian ada juga yang mencari kaset-kaset ini karena ingin mengenang masa lalu alias nostalgia. Khususnya bagi mereka yang masa mudanya ditemani lagu-lagu rekaman dalam kaset pita.
"Ya ada juga yang mencari karena ingin dengar lagu lama kan. 'Wah ini lagu pas saya masih kecil','ini lagu yang saya dengarkan saat lagi dekat sama si ini nih'," papar Andri.
(fdl/fdl)
"Kaset" Nintendo Super Langka Dilelang, Penawaran Tembus Rp 2 Miliar
Kaset Nintendo tersebut terhitung superlangka karena merupakan salah satu dari 26 katrid emas yang diproduksi Nintendo pada tahun 1990. Halaman all [576] url asal
#game #nintendo #konsol #lelang #kaset #cartridge
(Kompas.com) 25/07/24 12:00
v/12046454/
KOMPAS.com - Cartridge alias "kaset" konsolNintendo lawas dilelang di rumah lelang kenamaan Goldin. Harga penawaran tertingginya saat berita ini ditulis adalah Rp 2 miliar.
Bukan sembarang benda, kaset tersebut terhitung superlangka karena merupakan salah satu dari 26 katrid emas yang diproduksi Nintendo pada tahun 1990.
Kaset itu diproduksi sebagai hadiah utama kompetisi "Player's Poll Contest" yang digelar majalah Nintendo Power pada tahun yang sama.
Pada tahun tersebut, Nintendo menggelar kompetisi tur Nintendo World Championship (NWC) pertama. Kompetisi ini digelar di 29 kota di seluruh Amerika Serikat (AS) dari bulan Maret - Desember.
Pemenang di setiap kota mendapatkan piala, uang tunai 250 dollar AS, dan trip ke final kompetisi tersebut yang berlangsung pada Desember 1990.
Dalam ajang itu, para gamer kenamaan di AS berlaga mendapatkan skor tinggi untuk sejumlah game termasuk Super Mario Bros, Rad Race, dan Tetris.
Untuk menjalankan kompetisi itu, Nintendo membuat katrid khusus berkelir abu-abu. Katrid ini memuat tiga game yang dimainkan dalam kompetisi tadi, dilengkapi dengan sakelar khusus agar batas waktu permainan bisa disesuaikan.
Pada saat yang sama, Ninendo membuat 96 katrid abu-abu replika dari katrid khusus NWC tadi sebagai salah satu hadiah para semifinalis.
Steemit Cartridge Nintendo lawas yang diproduksi pada tahun 1990Majalah Nintendo Power mengadakan kompetisi terpisah bertajuk "Player's Poll Contest" dengan hadiah utama replika katrid NWC. Namun, desainnya dibuat spesial dengan kelir emas dan hanya dibuat dalam 26 eksemplar oleh Nintendo.
Jadi katrid emas ini memuat file yang sama seperti versi abu-abu, yaitu game yang dipakai di NWC. Hanya saja, warnanya dibuat berbeda.
Dikutip KompasTekno dari situs resmi Goldin, Kamis (25/7/2024), katrid emas Nintendo yang akan dilelang ini awalnya dimiliki oleh Patrick King dari Cheyenne, Wyoming.
Dia memenangi kontes Nintendo Power pada tahun 1990 dan namanya muncul dalam majalah itu volume 18, bersama pemenang lainnya.
Sejak awal, katrid NWC memang tidak pernah dikemas dalam kemasan khusus dan tidak pula dijual secara komersil.
Katrid milik Patrick King yang akan dilelang juga sudah dalam kondisi cukup rusak, di mana label aslinya hilang. Oleh karena itu, kondisi katrid emas yang dilelang di Goldin ini dinilai 4 dari total penilaian kualitas 10 level.
Meski begitu, benda tersebut memiliki nilai dan memori yang penuh kenangan dari sejarah game Nintendo, sekaligus menjadi salah satu dari 26 katrid emas lainnya. Apalagi dari total katrid yang dibuat, hanya sekitar 13 eksemplar yang teridentifikasi masih ada. Tak ayal bila benda ini menjadi incaran kolektor.
Di Goldin, katrid ini dilelang dengan harga penawaran awal 10.000 dollar AS (sekitar Rp Rp 160 juta ). Pantauan KompasTekno saat artikel ini ditulis, kaset game ini sudah ditawar sampai 130.000 dollar AS (sekitar Rp 2,1 miliar).
Adapun periode lelang katrid emas Nintendo masih akan berlangsung sampai 18 Agustus 2024 mendatang. Jadi, para kolektor masih bisa mengajukan penawaran sampai tenggat tersebut.
Pihak Goldin juga akan menyortir peserta lelang guna memastikan mereka bisa membayar unit lelang bila menjadi pemenang, dilansir TechSpot.
