#30 tag 24jam
Siapa Tokoh yang Bakal Menjadi Pemimpin Hamas Berikutnya? Ini 4 Kandidatnya
Dengan tewasnya Yahya Sinwar, Hamas kini harus menunjuk pemimpin baru Gaza dan pemimpin politik baru. [653] url asal
#yahya-sinwar #khaled-meshaal #dewan-syura #khalil-al-hayya #mohammed-sinwar #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #peristiwa
(Kontan - Terbaru) 19/10/24 03:08
v/16675960/
Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Dengan tewasnya Yahya Sinwar, Hamas kini harus menunjuk pemimpin baru Gaza dan pemimpin politik baru.
Dewan Syura keagamaan akan menangani penunjukan tersebut. Hal ini bisa jadi merupakan proses yang panjang karena sebagian besar pimpinan senior telah terbunuh.
Namun, setidaknya dua dari kandidat yang mungkin terpilih tinggal di Qatar, sekutu utama AS.
Mengutip The Telegraph, Joe Biden kemungkinan akan mendapat tekanan untuk mengupayakan ekstradisi para pemimpin tersebut dalam beberapa hari mendatang. sementara Hamas diperkirakan akan meminta jaminan dari Doha bahwa mereka akan diizinkan untuk tetap tinggal.
Tokoh-tokoh kunci yang diyakini akan mencalonkan diri untuk menggantikan Sinwar adalah sebagai berikut:
1. Mantan pemimpin Hamas
Khaled Meshaal, mantan pemimpin Hamas, mungkin satu-satunya orang yang dapat menggantikan posisi Sinwar dan memerintah kelompok tersebut secara efektif, meskipun dari luar negeri dan bukan di dalam Gaza.
Ini berarti bahwa ia kemungkinan akan ditunjuk sebagai pemimpin politik dan akan tetap tinggal di Qatar.
Meshaal diangkat menjadi pemimpin politik Hamas pada tahun 1996. Setahun kemudian, ia selamat dari upaya pembunuhan Israel di Amman, Yordania, ketika agen Mossad menjebaknya.
Namun, para agen tersebut tertangkap dan ditahan oleh polisi Yordania, sementara Meshaal dibawa ke rumah sakit. Raja Yordania sangat marah dengan Israel atas operasi mereka di wilayahnya.
Peristiwa itu berakhir dengan Israel menyediakan penawar yang menyelamatkan nyawa Meshaal, sekaligus membebaskan Sheikh Ahmed Yassin, pendiri Hamas, dari penjara Israel dengan imbalan Yordania membebaskan agen Mossad.
Meshaal terus mewakili Hamas dari Suriah hingga perang saudara pecah dan ia kemudian pindah ke Qatar. Penentangannya terhadap Bashar al-Assad membuat Hamas berselisih dengan Iran, yang mendukung Assad.
Ketika Meshaal digantikan oleh Ismail Haniyeh pada tahun 2017, Hamas menjalin kembali hubungan dengan Iran.
Meskipun pensiun pada tahun 2017, Meshaal terus terlibat dengan Hamas. Tidak jelas apakah ia tertarik menduduki jabatan tersebut dan bagaimana hal itu akan memengaruhi hubungan Hamas dengan Iran.
2. Wakil Regional Hamas
Khalil al-Hayya, 64 tahun, memulai kariernya di Hamas pada tahun 2006 dan perlahan naik pangkat. Pada tahun 2017, ia terpilih sebagai wakil pemimpin politbiro regional Hamas di Gaza pada tahun 2017, sebuah jabatan yang masih dipegangnya.
Seperti Meshaal, Hayya tinggal di Qatar dan telah menjadi orang utama Hamas dalam negosiasi gencatan senjata. Ia adalah salah satu tokoh paling senior yang masih hidup, dan kemungkinan besar menjadi kandidat untuk posisi sebagai pemimpin politik.
Hayya juga diyakini memiliki hubungan baik dengan Sinwar dan Haniyeh, mantan pemimpin politik yang terbunuh di Teheran pada bulan Juli.
Tidak seperti Meshaal, Hayya memiliki hubungan baik dengan Assad, Iran, dan Hizbullah. Pada tahun 2022, ia memimpin delegasi Hamas ke Suriah untuk memulai babak baru dengan Assad.
Hubungannya dengan poros Iran bisa jadi menentukan, tergantung ke arah mana dewan Syura ingin bergerak.
3. Saudara Sinwar
Saudara Yahya Sinwar, Mohammed, diyakini masih hidup dan bersembunyi dari pasukan Israel di Gaza.
Mohammed dianggap sebagai ahli strategi utama dalam operasi Hamas di Gaza.
Ia diangkat sebagai komandan brigade Khan Younis milik Hamas pada tahun 2005 dan ikut serta dalam penculikan tentara Israel Gilad Shalit pada tahun 2006 dari Israel ke Gaza.
Saudara Sinwar saat ini memimpin brigade selatan Hamas dan menjadi anggota dewan militer sayap militer kelompok tersebut.
Israel menawarkan hadiah sebesar £230.000 untuk informasi apa pun yang mengarah kepada Mohammed, yang lolos dari enam upaya pembunuhan, sehingga ia dijuluki "mayat hidup".
4. Pendiri Hamas
Moussa Abu Marzouk merupakan salah satu pendiri Hamas dan terpilih sebagai pemimpin politik pertama kelompok tersebut pada tahun 1992.
Ia telah tinggal di beberapa negara selama bertahun-tahun, termasuk AS tempat ia dipenjara selama 22 bulan. Ia kemudian diusir dari Yordania dan Suriah, dan saat ini tinggal di Qatar.
Pada tahun 2013, Marzouk diangkat sebagai wakil di bawah Meshaal, yang bertugas menangani semua masalah eksternal Hamas.
Ia telah memberikan beberapa wawancara kepada media Israel sejak 7 Oktober, sering kali meremehkan kekejaman dan menolak mengakui pembunuhan massal warga sipil.
Tonton:Putra Mahkota: Arab Saudi Ogah Akui Israel Tanpa Negara Palestina
4 Tokoh yang Disebut-sebut Bakal Menjadi Pemimpin Hamas Berikutnya
Dengan tewasnya Yahya Sinwar, Hamas kini harus menunjuk pemimpin baru Gaza dan pemimpin politik baru. [653] url asal
#yahya-sinwar #khaled-meshaal #dewan-syura #khalil-al-hayya #mohammed-sinwar #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #peristiwa
(Kontan - Terbaru) 18/10/24 09:00
v/16640086/
Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Dengan tewasnya Yahya Sinwar, Hamas kini harus menunjuk pemimpin baru Gaza dan pemimpin politik baru.
Dewan Syura keagamaan akan menangani penunjukan tersebut. Hal ini bisa jadi merupakan proses yang panjang karena sebagian besar pimpinan senior telah terbunuh.
Namun, setidaknya dua dari kandidat yang mungkin terpilih tinggal di Qatar, sekutu utama AS.
Mengutip The Telegraph, Joe Biden kemungkinan akan mendapat tekanan untuk mengupayakan ekstradisi para pemimpin tersebut dalam beberapa hari mendatang. sementara Hamas diperkirakan akan meminta jaminan dari Doha bahwa mereka akan diizinkan untuk tetap tinggal.
Tokoh-tokoh kunci yang diyakini akan mencalonkan diri untuk menggantikan Sinwar adalah sebagai berikut:
1. Mantan pemimpin Hamas
Khaled Meshaal, mantan pemimpin Hamas, mungkin satu-satunya orang yang dapat menggantikan posisi Sinwar dan memerintah kelompok tersebut secara efektif, meskipun dari luar negeri dan bukan di dalam Gaza.
Ini berarti bahwa ia kemungkinan akan ditunjuk sebagai pemimpin politik dan akan tetap tinggal di Qatar.
Meshaal diangkat menjadi pemimpin politik Hamas pada tahun 1996. Setahun kemudian, ia selamat dari upaya pembunuhan Israel di Amman, Yordania, ketika agen Mossad menjebaknya.
Namun, para agen tersebut tertangkap dan ditahan oleh polisi Yordania, sementara Meshaal dibawa ke rumah sakit. Raja Yordania sangat marah dengan Israel atas operasi mereka di wilayahnya.
Peristiwa itu berakhir dengan Israel menyediakan penawar yang menyelamatkan nyawa Meshaal, sekaligus membebaskan Sheikh Ahmed Yassin, pendiri Hamas, dari penjara Israel dengan imbalan Yordania membebaskan agen Mossad.
Meshaal terus mewakili Hamas dari Suriah hingga perang saudara pecah dan ia kemudian pindah ke Qatar. Penentangannya terhadap Bashar al-Assad membuat Hamas berselisih dengan Iran, yang mendukung Assad.
Ketika Meshaal digantikan oleh Ismail Haniyeh pada tahun 2017, Hamas menjalin kembali hubungan dengan Iran.
Meskipun pensiun pada tahun 2017, Meshaal terus terlibat dengan Hamas. Tidak jelas apakah ia tertarik menduduki jabatan tersebut dan bagaimana hal itu akan memengaruhi hubungan Hamas dengan Iran.
2. Wakil Regional Hamas
Khalil al-Hayya, 64 tahun, memulai kariernya di Hamas pada tahun 2006 dan perlahan naik pangkat. Pada tahun 2017, ia terpilih sebagai wakil pemimpin politbiro regional Hamas di Gaza pada tahun 2017, sebuah jabatan yang masih dipegangnya.
Seperti Meshaal, Hayya tinggal di Qatar dan telah menjadi orang utama Hamas dalam negosiasi gencatan senjata. Ia adalah salah satu tokoh paling senior yang masih hidup, dan kemungkinan besar menjadi kandidat untuk posisi sebagai pemimpin politik.
Hayya juga diyakini memiliki hubungan baik dengan Sinwar dan Haniyeh, mantan pemimpin politik yang terbunuh di Teheran pada bulan Juli.
Tidak seperti Meshaal, Hayya memiliki hubungan baik dengan Assad, Iran, dan Hizbullah. Pada tahun 2022, ia memimpin delegasi Hamas ke Suriah untuk memulai babak baru dengan Assad.
Hubungannya dengan poros Iran bisa jadi menentukan, tergantung ke arah mana dewan Syura ingin bergerak.
3. Saudara Sinwar
Saudara Yahya Sinwar, Mohammed, diyakini masih hidup dan bersembunyi dari pasukan Israel di Gaza.
Mohammed dianggap sebagai ahli strategi utama dalam operasi Hamas di Gaza.
Ia diangkat sebagai komandan brigade Khan Younis milik Hamas pada tahun 2005 dan ikut serta dalam penculikan tentara Israel Gilad Shalit pada tahun 2006 dari Israel ke Gaza.
Saudara Sinwar saat ini memimpin brigade selatan Hamas dan menjadi anggota dewan militer sayap militer kelompok tersebut.
Israel menawarkan hadiah sebesar £230.000 untuk informasi apa pun yang mengarah kepada Mohammed, yang lolos dari enam upaya pembunuhan, sehingga ia dijuluki "mayat hidup".
4. Pendiri Hamas
Moussa Abu Marzouk merupakan salah satu pendiri Hamas dan terpilih sebagai pemimpin politik pertama kelompok tersebut pada tahun 1992.
Ia telah tinggal di beberapa negara selama bertahun-tahun, termasuk AS tempat ia dipenjara selama 22 bulan. Ia kemudian diusir dari Yordania dan Suriah, dan saat ini tinggal di Qatar.
Pada tahun 2013, Marzouk diangkat sebagai wakil di bawah Meshaal, yang bertugas menangani semua masalah eksternal Hamas.
Ia telah memberikan beberapa wawancara kepada media Israel sejak 7 Oktober, sering kali meremehkan kekejaman dan menolak mengakui pembunuhan massal warga sipil.
Tonton:Putra Mahkota: Arab Saudi Ogah Akui Israel Tanpa Negara Palestina
Seperti Burung Phoenix, Hamas Bertekad Bangkit di Tengah Gempuran Israel
Khaled Meshaal mengatakan bahwa Hamas akan terus merekrut pejuang baru dan memproduksi senjata. [293] url asal
#hamas #israel #burung-phoenix #jalur-gaza #khaled-meshaal #palestina
(MedCom - Internasional) 08/10/24 12:47
v/16152633/
Gaza: Pemimpin Hamas di pengasingan, Khaled Meshaal, mengatakan bahwa kelompok pejuang Palestina itu akan bangkit "bagai Burung Phoenix" meski telah mengalami kerugian besar selama setahun dalam perang melawan Israel. Ia menegaskan Hamas akan terus merekrut pejuang dan memproduksi senjata.Satu tahun setelah serangan Hamas ke Israel yang memicu perang di Gaza, Meshaal membingkai konflik dengan Israel sebagai bagian dari narasi yang lebih luas yang mencakup 76 tahun, yang dimulai sejak apa yang disebut warga Palestina sebagai "Nakba", atau "malapetaka.” Kala itu, banyak orang mengungsi selama perang 1948 yang diikuti dengan pembentukan negara Israel.
"Sejarah Palestina terdiri dari siklus," kata Meshaal, 68 tahun, seorang tokoh senior Hamas di bawah pemimpin Yahya Sinwar.
"Kami melewati fase-fase di mana kami kehilangan martir, dan kami kehilangan sebagian dari kemampuan militer kami, tetapi kemudian semangat Palestina bangkit kembali, seperti Burung Phoenix,” sambungnya, melansir dari Times Live, Selasa, 8 Oktober 2024.
Meshaal, yang selamat dari upaya pembunuhan Israel pada 1997 setelah ia disuntik dengan racun dan menjadi pemimpin umum Hamas dari tahun 1996 2017, mengatakan bahwa kelompoknya mampu melakukan penyergapan terhadap pasukan Israel.
Hamas menembakkan empat rudal dari Gaza pada Senin pagi, di momen peringatan satu tahun perang. Semuanya berhasil dicegat sistem pertahanan udara Israel.
"Kami kehilangan sebagian amunisi dan senjata kami, tetapi Hamas merekrut pemuda dan terus memproduksi sebagian besar amunisi dan senjatanya," kata Meshaal, tanpa memberikan rincian.
Ia tetap berpengaruh di Hamas karena telah memainkan peran penting dalam kepemimpinannya selama hampir tiga dekade, dan secara luas dipandang sebagai wajah diplomatik kelompok tersebut.
Komentar Meshaal tampaknya dimaksudkan sebagai sinyal bahwa Hamas akan terus berjuang hingga akhir, apa pun kerugian yang akan dialaminya, menurut sejumlah analis isu Timur Tengah.
Baca juga: Perang Gaza Masuki Tahun Pertama, Situasi Timur Tengah 'Sangat Mungkin Memburuk'
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(WIL)
Ini Dia Sosok Calon Pengganti Ismail Haniyeh
Khaled Meshaal dikenal sebagai tokoh yang menjunjung persatuan Palestina. [1,035] url asal
#khaled-meshaal #pengganti-haniyeh #pembunuhan-ismail-haniyeh #ismail-haniyeh-dibunuh #ismail-haniyeh-syahid #petinggi-hamas-ismail-haniyeh
(Republika - News) 01/08/24 16:42
v/12889436/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Tokoh Palestina Khaled Meshaal diprediksi akan menggantikan Ismail Haniyeh sebagai kepala biro politik Hamas. Meshaal sempat dijauhkan dari Hamas karena mengupayakan rekonsiliasi dengan Fatah, sikap yang kini sudah direngkuh kelompok tersebut.
Meshaal (68 tahun) mulai dikenal di seluruh dunia pada tahun 1997 setelah agen-agen Israel menyuntiknya dengan racun dalam upaya pembunuhan yang gagal di jalan di luar kantornya di ibu kota Yordania, Amman. Serangan terhadap tokoh senior penting kelompok militan Palestina, yang diperintahkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu itu membuat marah Raja Hussein di Yordania.
Ia mengancam menghukum gantung penyerang Meshaal dan membatalkan perjanjian perdamaian Yordania dengan Israel kecuali obat penawarnya diberikan. Israel akhirnya mengikuti permintaan itu dan juga setuju untuk membebaskan pemimpin Hamas Sheikh Ahmed Yassin, namun kemudian membunuhnya tujuh tahun kemudian di Gaza.
Bagi warga Israel dan negara-negara Barat, Hamas yang melakukan perlawanan bersenjata melawan Israel adalah kelompok teroris yang bertekad menghancurkan Israel. Bagi para pendukung Palestina, Meshaal dan pimpinan Hamas lainnya adalah pejuang pembebasan dari penjajahan Israel, menjaga perjuangan mereka tetap hidup ketika diplomasi internasional gagal.
Israel telah membunuh atau mencoba membunuh beberapa pemimpin dan agen Hamas sejak kelompok tersebut didirikan pada tahun 1987 selama pemberontakan Palestina pertama melawan pendudukan Tepi Barat dan Gaza.
Meshaal menjadi pemimpin politik Hamas di pengasingan setahun sebelum Israel mencoba melenyapkannya, sebuah jabatan yang memungkinkan dia mewakili kelompok Islam Palestina dalam pertemuan dengan pemerintah asing di seluruh dunia, tanpa hambatan oleh pembatasan perjalanan ketat Israel yang berdampak pada pejabat Hamas lainnya.
Sumber-sumber Hamas mengatakan Meshaal diperkirakan akan dipilih sebagai pemimpin tertinggi kelompok itu untuk menggantikan Ismail Haniyeh, yang dibunuh di Iran pada Rabu dini hari.
Pejabat senior Hamas Khalil al-Hayya, yang berbasis di Qatar dan pernah memimpin perundingan Hamas dalam perundingan gencatan senjata tidak langsung di Gaza dengan Israel, juga kemungkinan menjadi pemimpin karena ia adalah favorit Iran dan sekutunya di wilayah tersebut.
Hubungan Meshaal dengan Iran tegang karena dukungannya di masa lalu terhadap pemberontakan yang dipimpin Muslim Sunni pada tahun 2011 melawan Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Meshaal telah menjadi tokoh sentral di puncak Hamas sejak akhir 1990-an, meskipun ia bekerja sebagian besar dari pengasingan yang relatif aman ketika Israel berencana membunuh tokoh-tokoh Hamas terkemuka lainnya yang berbasis di Jalur Gaza.
Setelah Yassin yang berkursi roda terbunuh dalam serangan udara pada Maret 2004, Israel membunuh penggantinya Abdel-Aziz Al-Rantissi di Gaza sebulan kemudian, dan Meshaal mengambil alih kepemimpinan Hamas secara keseluruhan.
Seperti para pemimpin Hamas lainnya, Meshaal telah bergulat dengan isu penting mengenai apakah akan mengadopsi pendekatan yang lebih pragmatis terhadap Israel dalam mewujudkan negara Palestina, atau berjuang menegakkan piagam Hamas pada 1988 yang menyerukan penghancuran Israel.
Meshaal menolak gagasan perjanjian perdamaian permanen dengan Israel tetapi mengatakan bahwa Hamas dapat menerima negara Palestina di Tepi Barat, Jalur Gaza dan Yerusalem Timur sebagai solusi sementara sebagai imbalan untuk gencatan senjata jangka panjang.
Serangan pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel oleh pejuang pimpinan Hamas dari Gaza, yang menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan penculikan lebih dari 250 orang, menurut penghitungan Israel, memperjelas prioritas kelompok tersebut. Israel membalas dengan serangan udara dan invasi ke Gaza yang telah menewaskan lebih dari 39.000 warga Palestina, melakukan kampanye untuk memberantas Hamas yang telah membuat sebagian besar wilayah pesisir yang padat penduduknya menjadi puing-puing.
Meshaal mengatakan serangan Hamas pada 7 Oktober mengembalikan perjuangan Palestina ke dalam agenda utama dunia. Dia mendesak negara-negara Arab dan Muslim untuk bergabung dalam pertempuran melawan Israel. Ia juga mengatakan bahwa rakyat Palestina sendirilah yang akan memutuskan siapa yang memerintah Gaza setelah perang saat ini berakhir. Hal ini bertentangan dengan Israel dan Amerika Serikat yang ingin mengecualikan Hamas dari pemerintahan pascaperang.
Meshaal telah menjalani sebagian besar hidupnya di luar wilayah Palestina. Lahir di Silwad dekat kota Ramallah di Tepi Barat, Meshaal pindah bersama keluarganya saat masih kecil ke negara Teluk Arab, Kuwait, yang merupakan pusat gerakan pro-Palestina.
Pada usia 15 tahun ia bergabung dengan Ikhwanul Muslimin, kelompok Islam tertua di Timur Tengah. Ikhwanul Muslimin berperan penting dalam pembentukan Hamas pada akhir 1980-an selama pemberontakan Palestina pertama melawan pendudukan Israel.
Meshaal menjadi guru sekolah sebelum melakukan lobi untuk Hamas dari luar negeri selama bertahun-tahun, sementara para pemimpin kelompok lainnya mendekam dalam waktu lama di penjara-penjara Israel. Dia bertanggung jawab atas penggalangan dana internasional di Yordania ketika dia nyaris lolos dari pembunuhan.
Netanyahu memainkan peran yang tidak disengaja namun penting dalam membangun kredibilitas militan Meshaal ketika ia memerintahkan agen Mossad untuk membunuhnya pada tahun 1997 sebagai pembalasan atas pemboman pasar Yerusalem yang menewaskan 16 orang dan menyalahkan Hamas.
Para tersangka pembunuh ditangkap oleh polisi Yordania setelah Meshaal disuntik dengan racun di jalan. Netanyahu, yang saat itu sedang menjalani masa jabatan pertamanya sebagai perdana menteri, terpaksa menyerahkan obat penawar racun tersebut, dan insiden tersebut mengubah Meshaal menjadi pahlawan perlawanan Palestina. Yordania akhirnya menutup biro Hamas di Amman dan mengusir Meshaal ke negara Teluk Qatar. Dia pindah ke Suriah pada tahun 2001.
Meshaal memimpin Hamas, sebuah gerakan Muslim Sunni, dari pengasingan di Damaskus pada 2004 hingga Januari 2012 ketika ia meninggalkan ibu kota Suriah karena tindakan keras Presiden Assad terhadap kaum Sunni yang terlibat dalam pemberontakan melawannya. Meshaal kini membagi waktunya antara Doha dan Kairo.
Kepergiannya yang tiba-tiba dari Suriah awalnya melemahkan posisinya di dalam Hamas, karena retaknya hubungan dengan Damaskus dan Teheran. Meshaal sendiri mengatakan kepada Reuters bahwa langkahnya mempengaruhi hubungan dengan pendana utama Hamas dan pemasok senjata, Iran.
Pada Desember 2012, Meshaal melakukan kunjungan pertamanya ke Jalur Gaza dan menyampaikan pidato utama pada rapat umum peringatan 25 tahun Hamas. Dia belum pernah mengunjungi wilayah Palestina sejak meninggalkan Tepi Barat pada usia 11 tahun.
Saat berada di luar negeri, Hamas menegaskan diri atas saingan sekulernya, Otoritas Palestina yang didukung Barat, yang terbuka untuk merundingkan perdamaian dengan Israel, dengan merebut kendali Gaza dari Otoritas Palestina dalam perang saudara yang singkat pada tahun 2007.
Perselisihan antara Meshaal dan kepemimpinan Hamas yang berbasis di Gaza muncul karena upayanya untuk mendorong rekonsiliasi dengan Presiden Mahmoud Abbas, yang memimpin Otoritas Palestina.
Meshaal kemudian mengumumkan bahwa dia ingin mundur sebagai pemimpin karena ketegangan tersebut dan pada tahun 2017 digantikan oleh wakilnya di Gaza, Haniyeh, yang terpilih untuk mengepalai kantor politik kelompok tersebut, yang juga beroperasi di luar negeri. Pada 2021, Meshaal terpilih mengepalai kantor Hamas di diaspora Palestina.
Khaled Meshaal Jadi Calon Kuat Pemimpin Hamas, Pengganti Ismail Haniyeh
Para pejabat Hamas mengatakan bahwa Khaled Meshaal diperkirakan akan dipilih sebagai pemimpin tertinggi Hamas untuk menggantikan Ismail Haniyeh. [276] url asal
#ismail-haniyeh #pimpinan-hamas #pemimpin-hamas #ismail-haniyeh-tewas #khaled-meshaal #khaled-meshaal-calon-pemimpin-hamas #calon-pemimpin-hamas #ismail-haniyeh-tewas-di-iran #teheran
(Bisnis.Com) 01/08/24 16:20
v/12887378/
Bisnis.com, JAKARTA — Para pejabat Hamas mengatakan bahwa Khaled Meshaal diperkirakan akan dipilih sebagai pemimpin tertinggi Hamas untuk menggantikan Ismail Haniyeh yang dibunuh oleh militer Israel dalam serangan ke Teheran, Iran pada Rabu (31/7/2024).
Setelah kematian Haniyeh, Hamas mengaku kesulitan untuk mencari pemimpin baru sekaligus menimbulkan kekhawatiran tentang arah yang akan diambil kelompok tersebut di tengah konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
DilansirReuters, Khaled Meshaal (68) sempat terkenal di seluruh dunia pada 1997, setelah agen Israel menyuntikkan racun kepadanya, dalam upaya pembunuhan yang gagal di sebuah jalan di luar kantornya di Ibu Kota Yordania, Amman.
Sebagai pemimpin politik Hamas, Meshaal telah mewakili kelompok tersebut secara internasional, dan mendapat keuntungan dengan lebih sedikit pembatasan perjalanan dibandingkan dengan pejabat Hamas lainnya.
Adapun hubungan Meshaal dengan Iran menjadi rumit, karena dukungannya terhadap pemberontakan Sunni terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad pada 2011.
Selama masa jabatannya, Meshaal menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan tujuan awal kelompok tersebut, yaitu menghancurkan Israel, dengan kemungkinan pendekatan yang lebih pragmatis untuk mencapai negara Palestina.
Selain itu, upayanya untuk berdamai dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyebabkan ketegangan internal di dalam Hamas, yang mengakibatkan penggantiannya oleh Haniyeh pada 2017.
Setelah percobaan pembunuhan tersebut, Yordania menutup kantor Hamas di Amman dan mengusir Meshaal, yang kemudian pindah ke Qatar lalu berpindah lagi ke Suriah pada 2001.
Sementara itu, Meshaal mengunjungi Jalur Gaza untuk pertama kalinya pada Desember 2012, sejak meninggalkan Tepi Barat saat masih anak-anak dan menyampaikan pidato penting pada perayaan ulang tahun Hamas yang ke-25.
Adapun bagi para pendukung Palestina, Meshaal dan pimpinan Hamas lainnya adalah pejuang pembebasan dari pendudukan Israel, yang tetap menjaga perjuangan untuk tetap hidup ketika diplomasi internasional telah mengecewakan mereka.