JAKARTA, KOMPAS.com - Warga Cipayung, Jakarta Timur, Panji Lambang Suharto mengakui, membawa sepeda motor di jalanan Ibu Kota membuatnya emosi. Apalagi bertemu dengan pengendara lain yang memakai knalpot brong.
Selain suaranya yang berisik, knalpot brong dari pengendara lain justru membuatnya naik darah karena angin yang keluar dari moncong knalpotnya begitu kencang.
“Sebenarnya naik motor ada enggak enaknya. Saya naik motor malah sering kesal di jalan gara-gara knalpot yang tembak-tembak ke muka,” keluh Panji saat dihubungi Kompas.com, Selasa (8/7/2024).
“Belum lagi pada saat kondisi macet, itu bisa bikin emosi,” ucap Panji lagi.
Meski begitu, Pria berusia 27 tahun ini tidak pernah menegur langsung pengendara sepeda motor nakal tersebut.
Dia hanya bisa mengelus dada sampai tiba di kantornya yang berlokasi di wilayah Kebon Jeruk, Jakarta Timur.
“Kalau sampai berantem sama pengendara nakal itu si enggak pernah ya. Paling saya berusaha salip dia, terus saya halangi jalan dia biar enggak salip lagi. Habis kan enggak enak kondisi begitu,” tutur Panji.
Meski begitu, Panji lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi untuk berangkat ke kantor setiap harinya. Menurut dia, menggunakan kendaraan umum lebih merepotkan.
“Ya ribet saja sih sebenarnya. Harus bangun lebih pagi dan lebih effort saja. Karena kan kalau mau naik KRL, yang paling terdekat Stasiun Duren Kalibata. Jaraknya ya lumayan,” ungkap pria yang akrab disapa Obet.
Alasan kedua, menurut Panji, memakai kendaraan pribadi lebih menghemat waktu dan lebih cepat sampai tujuan.
“Kan kalau naik Transjakarta harus transit dulu. Nah, naik motor tinggal lurus, lebih enak, meskipun jaraknya ya lumayan,” ujar Panji.
Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mencatat pengguna transportasi publik di Jakarta hanya sekitar 4 juta orang atau dipresentasikan mencapai 18,86 persen pada 2023.
Pemprov DKI berencana meningkatkan jumlah pengguna transportasi umum hingga mencapai 30 persen di 2030.
Salah satu permasalahan klasik di Jakarta adalah soal kemacetan yang berdampak pada polusi udara.
"Ini fakta yang saat ini kita lihat dalam keseharian. Mudah-mudahan Pemprov DKI terus melakukan upaya-upaya perbaikannya," kata Wakil Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Syaripudin dalam diskusi Publik Institut Studi Transportasi (INSTRAN) yang diikuti Kompas.com melalui Zoom, Kamis (4/7/2024).
Syaripudin berujar, fokus Pemprov DKI saat ini tertuju pada pejalan kaki dan pesepeda, angkutan umum, kendaraan ramah lingkungan dan disinsentif kendaraan pribadi.
Upaya transportasi terintegrasi juga tengah digencarkan guna meningkatkan jumlah penumpang angkutan umum di Jakarta baik itu TransJakarta, LRT, MRT, KRL, dan lainnya.