Koalisi partai pendukungBobbyitu terdiri dari Partai Golkar, Partai Gerindra, PAN, Partai Hanura, Partai Demokrat, Partai NasDem, PPP dan terakhir PKB.
Alhasil, hanya tersisaPDIPdanPKSyang berada di luar koalisi dan dapat mempersiapkan calon penantang bagiBobbydiPilgub Sumut 2024.
Namun, hingga saat ini baikPDIPmaupunPKSbelum memutuskan untuk memberikan rekomendasi kepada calon gubenur potensial diPilgub Sumut 2024.PDIPsejauh ini mempertimbangkan nama eks Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnamaalias Ahok, kendati belum ada kejelasan akan penunjukannya.
Di sisi lain,PKSjustru sempat menyatakan dukungan partai kepadaBobby Nasutionmeski kemudian pernyataan tersebut ditarik.PKSkemudian berbalik dan mengambil ancang-ancang untuk bergabung denganPDIPdan mencari lawan seimbang bagiBobby Nasution.
Suami dari Kahiyang Ayu, putri Jokowi, itu bersaing ketat denganEdy Rahmayadisebagai kandidat potensial diPilkada Sumut 2024. Itu menjadi salah satu kesimpulan dari survei LSI terhadap 800 responden denganmargin of error3,5% pada tingkat kepercayaan 95% di wilayah Sumut.
Hasil survei menunjukkan muncul 26 nama yang berpotensi mencalonkan diri sebagai calon gubernur dan tidak mencalonkan diri. Dari sederet sosok potensial tersebut,Bobby Nasutionpaling banyak dipilih oleh responden yakni sebesar 34,2%.
Gubernur Sumut petahana Edy Rahmayadi menyusul di posisi kedua. Mantan Ketua PSSI itu memiliki elektabilitas sebesar 15,1%.
"Nomor urut ketiga adalah Musa Rajekshah atau Ijeck dengan angka 4,0% dan Ahok 3,3%," jelas Direktur EksekutifLSIDjayadi Hanan di Jakarta, Minggu (28/7/2024).
Kemudian, menurut Djayadi, nama lainnya adalah Darma Wijaya dengan angka 1,1% dan Nikson Nababan satu persen. Nama kandidat lain hanya meraih elektabilitas di bawah satu persen.
Survei itu juga menunjukkan masih ada 34,7% responden yang belum menentukan sikap untuk memilih atau tidak tahu.
"Jadi nama-nama lainnya masih jauh lebih rendah dan responden yang belum juga menentukan pilihan ada sebanyak 34,7%, cukup banyak ya," katanya.
Bobby Nasution mendapatkan rekomendasi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk berkontestasi di Pilgub Sumut 2024/Dok
Djayadi membeberkan alasan responden memilihBobby NasutiondanEdy Rahmayadiadalah karena sudah ada bukti nyata hasil kerjanya sebanyak 19,3%, kemudian 15,8% responden menjawab keduanya tegas berwibawa, lalu 15,5% menjawab keduanya perhatian ke rakyatnya.
"Responden menjawab bahwa keduanya sudah ada bukti nyata hasil kerja, tegas berwibawa dan juga memperhatikan rakyat," ujarnya.
Kendati begitu, hasil survei itu juga menunjukkan bahwa sebagian besar warga di Sumut tidak inginEdy Rahmayadimenjadi pemimpinnya lagi.
Djayadi mengatakan sebanyak 48,8% dari 800 responden tersebut tidak mau lagi dipimpinEdy Rahmayadipada periode berikutnya. Hanya 35% yang masih menginginkan Edy Rahmayadi menjadi Gubernur berikutnya di provinsi tersebut.
"Jadi cukup banyak masyarakat yang menjawab tidak menginginkanEdy Rahmayadikembali menjadi Gubernur Sumatra Utara, ada sekitar 48,4% dan tidak tahu atau tidak menjawab ada 16,6 persen," tuturnya.
Padahal, menurut Djayadi, sebanyak 61,6% responden telah menyebutkan bahwa mereka puas selama ini dengan kinerja Edy Rahmayadi.
"52,5% cukup puas dan 9,1% sangat puas dengan kinerjanya," katanya.
Sementara itu, kata Djayadi, masyarakat yang tidak puas ada 30,2% dengan perincian 26,2% kurang puas dan 4,0% tidak puas sama sekali. "Sisanya 8,2% tidak menjawab puas atau tidak," ujarnya.
KANDIDAT LAWAN BOBBY
LSIdalam survei tersebut juga melaporkan bahwaBobby Nasutionakan meraih suara tertinggi jika berpasangan dengan kader Golkar, Musa Rajekshah atau Ijeck.
Djayadi menjelaskan, hal itu terungkap dalam simulasi tiga pasangan calon yaituBobby Nasution-Musa Rajekshah (Ijeck),Edy Rahmayadi-Prananda Surya Paloh dan Basuki Tjahaja Purnama(Ahok)-Mohammad Jafar Sukhairi.
Menurut Djayadi, dalam survei itu pasangan Bobby Afif Nasution-Musa Rajekshah meraih 55,1% dukungan responden, sedangkanEdy Rahmayadi-Prananda Surya Paloh meraih 23,9% dan Ahok-Mohammad Jafar Sukhairi meraih 8,0%.
"Jadi kalauBobby Nasutiondipasangkan ke Musa Rajekshah bisa meraih 55,1% suara. Cukup tinggi ya," ungkapnya.
Sementara itu, kata Djayadi, jika Muhammad Bobby Afif Nasution dipasangkan dengan Charles Bonar Sirait hanya akan meraih 44,6% suara. Tidak terpaut jauh jika Edy Rahmayadi dipasangkan ke Musa Rajekshah (Ijeck) yaitu 34,4%.
"KalauBobby Nasutiondipasangkan ke Charles Bonar Sirait, tentu akan menurun angkanya," katanya.
Bobby Nasution menjawab pertanyaan awak media/Dok
Dengan sederet data tersebut, Djayadi pun memperkirakanPDIPdanPKSakan berkoalisi untuk melawan Bobby Nasution. Namun, Djayadi mengatakan bahwa PDIP dan PKS harus mencari sosok yang kuat untuk bertarung melawan Bobby Nasution di Pilkada Serentak Sumatra Utara 2024.
"Jadi berarti kalau delapan partai tadi berkoalisi dan tidak berubah lagi, maka Bobby hanya akan ditantang oleh satu paslon saja," kata Djayadi.
Djayadi mengungkapkan bahwa sejauh ini kandidat dari PDIP yang sangat kuat hanyalahEdy Rahmayadi, sedangkan sosok lain yang kuat masih belum terlihat ke permukaan.
"Jadi tinggal kita tunggu apakahPDIPini tetap akan mencalonkan Edy Rahmayadi atau mencari calon lain yang lebih kuat," ujar Djayadi.
PDIP dan PKS diklaim harus bekerja lebih keras lagi untuk mencari sosok yang tepat melawan Bobby Nasution di Pilkada Serentak Sumatra Utara 2024. [312] url asal
Direktur EksekutifLembaga Survei Indonesia(LSI) Djayadi Hanan menjelaskan beberapa partai politik kini sudah bergabung untuk mengusung Bobby Nasution di Pilkada Sumatra Utara 2024. Koalisi partai itu terdiri dari Partai Golkar, Partai Gerindra, PAN, Partai Hanura, Partai Demokrat, Partai NasDem, PPP dan terakhir PKB.
"Jadi hanya tersisa PDI Perjuangan dan PKS di Pilkada Sumut ini," tuturnya di Jakarta, Minggu (28/7/2024).
Dia menjelaskan bahwa PDIP dan PKS diprediksi akan berkoalisi untuk melawan Bobby Nasution. Namun, Djayadi mengatakan bahwa PDIP dan PKS harus mencari sosok yang kuat untuk bertarung melawan Bobby Nasution di Pilkada Serentak Sumatra Utara 2024.
"Jadi berarti kalau delapan partai tadi berkoalisi dan tidak berubah lagi, maka Bobby hanya akan ditantang oleh satu paslon saja," kata Djayadi.
Djayadi mengungkapkan bahwa sejauh ini kandidat dari PDIP yang sangat kuat hanyalahEdy Rahmayadi, sedangkan sosok lain yang kuat masih belum terlihat ke permukaan.
"Jadi tinggal kita tunggu apakah PDIP ini tetap akan mencalonkan Edy Rahmayadi atau mencari calon lain yang lebih kuat," ujar Djayadi.
Hal itu terungkap dari hasil survei terbaru yang dilakukan LSI terhadap 800 responden denganmargin of error3,5 persen pada tingkat kepercayaan 95% di wilayah Sumatra Utara.
Dari hasil survei yang dilakukan secara semi terbuka terhadap 800 orang responden, nama yang muncul ada sebanyak 26 nama. Nama itu terdiri dari sosok yang berpotensi mencalonkan diri sebagai calon gubernur dan tidak mencalonkan diri.
Menurutnya, dari 26 nama yang muncul itu, namaBobby Nasutionbanyak dipilih oleh responden. Dia menjelaskan dari 800 orang responden yang disurvei, ada 34,2% responden yang memilih Bobby Nasution, sementara Edy Rahmayadi tertinggi kedua dengan angka 15,1%.