Menanjaknya popularitas paylater itu tidak menyurutkan minat perbankan untuk meluncurkan produk kartu kredit baru atau memperbarui produk yang telah ada. [798] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Perbankan masih gencar meluncurkan produk kartu kredit anyar di tengah peningkatan popularitas metode pembayaran lain, seperti buy now pay later (paylater).
Sebelumnya, OJK melaporkan produk paylater perbankan dan perusahaan pembiayaan per Juni 2024 masih terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan.
Meski porsi produk paylater perbankan masih mini yaitu hanya sebesar 0,24% dari total kredit perbankan, akan tetapi outstanding mengalami kenaikan sebesar 36,66% secara tahunan (yoy) menjadi Rp18,01 triliun.
Selain itu, OJK juga mencatat total jumlah rekening paylater perbankan telah mencapai 17,90 juta, naik dari 17,48 juta pada Juni 2024.
Pada periode yang sama, tingkat risiko kredit untuk produk BNPL perbankan juga terus mengalami perbaikan, tecermin dari adanya penurunan ke level 2,24% per Juli 2024, dari 2,5% pada Juni 2024.
Sementara, outstanding pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) oleh perusahaan Pembiayaan per Juli 2024 mencatat pertumbuhan sebesar 73,55% yoy atau menjadi Rp7,81 triliun dengan NPF gross sebesar 2,82%.
Menanjaknya popularitas paylater itu tidak menyurutkan minat perbankan untuk meluncurkan produk kartu kredit baru atau memperbarui produk yang telah ada.
Kemarin, melalui keterangan resminya, Bank Mandiri mengumumkan kemitraan terbaru Bank Mandiri dengan Pertamina Patra Niaga dengan meluncurkan kembali Kartu Kredit Mandiri MyPertamina Card.
Nasabah melakukan transaksi melalui mesin anjungan tunai mandiri (ATM) milik Bank Mandiri di Jakarta, Rabu (4/1/2023). /Bisnis-Eusebio Chrysnamurti
SEVP Micro & Consumer Finance Bank Mandiri Saptari mengungkapkan bahwa pihaknya terus berupaya mendorong inovasi melalui perluasan ekosistem untuk mempermudah transaksi nasabah.
“Peluncuran ulang ini merupakan hasil dari penyempurnaan produk sebelumnya dengan tujuan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi nasabah,” katanya dalam keterangan resmi, Minggu (29/9/2024).
Selain berupaya menghadirkan solusi keuangan sebagaimana kebutuhan nasabah, Bank Mandiri juga menawarkan beragam keuntungan mulai dari welcome bonus e-voucher MyPertamina senilai Rp 200 ribu, bebas iuran tahunan di tahun pertama hingga akses eksklusif ke airport lounges dan airport merchants, dan lainnya.
Menurut Saptari, kartu ini juga memberikan akses lebih ke berbagai fitur di aplikasi Livin' by Mandiri, seperti virtual card, kemudahan transaksi QRIS dengan sumber dana dari kartu kredit, serta fitur unggulan Power Installment yang memungkinkan cicilan hingga 36 bulan. Terdapat pula Power Cash untuk penarikan dana instan dengan bunga mulai dari 0%.
Bank Mandiri mencatat, nasabah kartu kredit telah menembus 2 juta pada Agustus 2024, atau naik sebesar 8% secara tahunan.
Bank dengan nilai aset konsolidasi terbesar di Tanah Air itu juga membukukan kenaikan realisasi volume transaksi kartu kredit sebesar Rp41,3 triliun, meningkat 29% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Sejumlah bank masih gencar merilis beragam produk kartu kredit. Misalnya saja, PT Bank DBS Indonesia yang merilis Kartu Kredit digibank Z Visa Platinum yang terbuat dari bahan yang didaur ulang. DBS Indonesia pun menargetkan 50.000 kartu bisa terbit hingga akhir 2024.
Consumer Banking Director DBS Indonesia Melfrida Gultom menyampaikan peluncuran ini juga menjadi upaya menjaga daya saing DBS Indonesia di pasar di tengah layanan paylater yang makin populer.
Dia juga menyebut milenial dan Gen Z yang berumur 25—30 tahun ini berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan kredit. Pasalnya, segmen ini berada dalam kelompok usia produktif dan sering kali aktif dalam transaksi digital dan konsumsi produk keuangan seperti kartu kredit.
"Untuk Z Card ini 2024 ini kami targetkan 50.000 [kartu]. Adapun, dengan target yang cukup ambisius ini, saya rasa jelas kita menyikapi penurunan tingkat suku bunga dengan positif lewat pilihan produk," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (20/9/2024).
UOB Indonesia
Tak hanya DBS Indonesia, PT Bank UOB Indonesia bersama PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) juga misalnya, yang meluncurkan produk kartu kredit co-branded anyar yakni UOB Telkomsel.
Consumer Banking Director UOB Indonesia Cristina Teh Tan menjelaskan bahwa kerja sama dengan penyedia layanan telekomunikasi pelat merah tersebut dijalin atas kebutuhan gaya hidup digital nasabah, tak terkecuali segmen Gen Z.
Menurutnya, gaya hidup digital Tanah Air telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir, misalnya dalam hal penetrasi internet dan opsi berbelanja secara daring melalui lokapasar alias e-commerce.
Cristina memaparkan, pengguna internet dalam negeri saat ini telah mencapai 185,3 juta orang, yang mana 11,7% segmen Gen Y dan Gen Z tercatat memiliki pengeluaran rutin untuk hiburan dan rekreasi. Sementara itu, pihaknya juga mencatat bahwa 59,3% pengguna internet melakukan pembelian secara online tiap minggunya.
Pada saat yang sama, Cards & Payment Head UOB Indonesia Herman Soesetyo menyebut bahwa geliat bisnis paylater itu tak serta-merta berujung pada masalah kompetisi dengan produk konvensional perbankan, dalam hal ini kartu kredit. Pasalnya, dia menilai ada kesempatan yang bisa dieksplorasi dari situasi tersebut.
"Jadi, kita lihat ke depannya pasti ada jalan paylater bisa berkolaborasi dengan kartu kredit," katanya.
Dia menjelaskan, secara prinsip, banyak fitur dari BNPL yang telah ada dalam installment kartu kredit sejak waktu yang lama. Hal ini menandakan bahwasanya terdapat banyak kerja sama yang bisa dicapai antara kedua produk tersebut, mengingat hal serupa juga telah berjalan di industri keuangan.
Direktur Wholesale Banking UOB Indonesia Harapman Kasan menyiratkan bahwa target tersebut menjadi cerminan optimisme kinerja bank sepanjang paruh kedua 2024. [370] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank UOB Indonesia menargetkan pertumbuhan kredit perseroan dapat mencapai angka 20% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada akhir 2024.
Direktur Wholesale Banking UOB Indonesia Harapman Kasan menyiratkan bahwa target tersebut menjadi cerminan optimisme kinerja bank sepanjang paruh kedua tahun ini.
“Jadi kita akan record akhir tahun ini [pertumbuhan kredit]year-on-yearitu mungkin di sekitar 20%,” katanya dalam konferensi pers UOB Economic Outlook 2024 di Jakarta Pusat, Rabu (25/9/2024).
Dia melanjutkan bahwa angka itu terbilang tinggi apabila dibandingkan dengan kondisi industri. Bank Indonesia (BI) mencatat kredit perbankan tumbuh sebesar 11,40% secara tahunan pada Agustus 2024.
Terkait proyeksi kinerja penyaluran kredit pada 2025, UOB Indonesia juga membidik angka pertumbuhan pada kisaran 20%. Kendati mengakui bahwa tak mudah untuk mencapai rencana tersebut, Harapman membeberkan sejumlah strategi yang akan diterapkan perseroan.
“Sebagairegional bank, kita ini memang punya misi untuk membantu dari segitrade exportingIndonesia dan juga bagaimana membawaforeign direct investment[FDI] ke Indonesia,” lanjutnya.
Oleh karena itu, pihaknya melihat adanya kesempatan untuk berkolaborasi dengan bank-bank lokal Tanah Air demi mengakomodasi investasi asing yang lazimnya dilakukan dengan nominal jumbo.
Selain itu, dia juga menyebutkan sektor-sektor potensial dalam mengerek naik angka investasi asing, seperti sumber daya mineral, agribisnis, hingga sektor konsumer.
“Saya rasa beberapa sektor itu menjadi sektor unggulan yang kita akan terus fokus ke depan,” pungkas Harapman.
Sebelumnya, Presiden Direktur UOB Indonesia Hendra Gunawan mengungkapkan tantangan perekonomian yang akan dihadapi Indonesia pada 2025 mendatang. Dia mengatakan bahwa Indonesia saat ini memiliki fondasi ekonomi yang kuat, ditopang oleh stabilitas politik dan reformasi kebijaksanaan yang meningkatkan daya saing global.
"Namun, tantangan seperti ketidakpastian ekonomi global, dinamika geopolitik, dan perubahan iklim perlu kita antisipasi," katanya dalam sambutan UOB Economic Outlook 2025.
Dia melanjutkan, saat ini tren positif tengah berlangsung terkait pertumbuhan ekspor, terutama dalam sektor sumber daya alam, produk pertanian, dan manufaktur. Menurut Hendra, hal ini selaras dengan komitmen UOB Indonesia dalam investasi asing dan mendukung sektor-sektor utama seperti infrastruktur, manufaktur, hingga teknologi hijau.
Dirinya berpendapat, dengan memperkuat jaringan perdagangan dan kolaborasi antar negara, maka bangsa ini dapat membuka lebih banyak peluang pertumbuhan.
"Penting bagi kita semua, baik pemerintah, regulator, pelaku industri, dan sektor perbankan untuk bersatu menghadapi masa depan dengan keyakinan dan strategi yang matang," tuturnya.
Berdasarkan data BI, jumlah kartu kredit yang beredar per Juni 2024 mencapai 18 juta unit, dengan volume transaksi naik menjadi menjadi 37,07 juta transaksi. [372] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank UOB Indonesia menargetkan bisnis kartu kredit dapat bertumbuh melampaui industri hingga akhir tahun 2024.
Cards & Payment Head UOB Indonesia Herman Soesetyo menjelaskan bahwa target tersebut dipatok baik dari segi jumlah pertumbuhan nasabah maupun dari pemakaian atau transaksi, meskipun tidak memberikan penjelasan terperinci.
"Jadi angkanya itu mungkin selaras dengan market, kita enggak mau ketinggalan. Intinya begitu," ujar Herman dalam konferensi pers peluncuran kartu kredit UOB Telkomsel di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (10/9/2024).
Bank Indonesia (BI) melalui Statistik Sistem Pembayaran dan Infrastruktur Pasar Keuangan mencatat bahwa jumlah kartu kredit yang beredar per Juni 2024 mencapai 18 juta unit, lebih tinggi dibandingkan periode sama sebelumnya dengan jumlah 17,59 juta unit.
Perkembangan itu diiringi dengan meningkatnya volume transaksi kartu kredit dari 31,87 juta transaksi menjadi menjadi 37,07 juta transaksi, naik 16,33% dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Alhasil, nilai transaksi kartu kredit pun tumbuh 4,18% (YoY) dari level Rp33,67 triliun menjadi Rp35,08 triliun per Juni 2024.
Itu sebabnya, PT Bank UOB Indonesia bersama PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) resmi meluncurkan produk kartu kredit co-branded anyar yakni UOB Telkomsel.
Consumer Banking Director UOB Indonesia Cristina Teh Tan menjelaskan bahwa kerja sama dengan penyedia layanan telekomunikasi pelat merah tersebut dijalin atas kebutuhan gaya hidup digital nasabah, tak terkecuali segmen Gen Z.
"Kemitraan ini menegaskan ambisi kami menjadi the bank of choice bagi individu aspiratif di Indonesia," katanya dalam kesempatan yang sama.
Menurutnya, gaya hidup digital Tanah Air telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir, misalnya dalam hal penetrasi internet dan opsi berbelanja secara daring melalui lokapasar alias e-commerce.
Cristina memaparkan, pengguna internet dalam negeri saat ini telah mencapai 185,3 juta orang, yang mana 11,7% segmen Gen Y dan Gen Z tercatat memiliki pengeluaran rutin untuk hiburan dan rekreasi.
Sementara itu, pihaknya juga mencatat bahwa 59,3% pengguna internet melakukan pembelian secara online tiap minggunya.
"Peningkatan konektivitas ini telah menciptakan peluang bagi platform e-commerce untuk menjangkau basis nasabah yang lebih luas," sambungnya.
Melalui kartu kredit UOB Telkomsel, pihaknya menawarkan manfaat eksklusif seperti peningkatan tunjangan data, cashback pembelian online, serta rewards untuk pengeluaran sehari-hari. Hal ini menjadi bagian dari tujuan untuk menjadikan perbankan dan komunikasi lebih mudah dan menguntungkan.
Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank UOB Indonesia mengungkapkan alasan tetap merilis produk kartu kredit anyar di tengah penyusutan jumlah masyarakat Indonesia yang termasuk dalam kategori kelas menengah.
Cards & Payment Head UOB Indonesia Herman Soesetyo mengatakan fenomena tersebut secara umum berpengaruh terhadap berjalannya roda perbankan, meskipun kinerja bisnis kartu kredit UOB tak terganggu.
“Secara overall [penurunan kelas menengah] pasti berpengaruh, tetapi masing-masing bank kan mempunyai target market-nya sendiri. Kalau di UOB, kita enggak melihat itu [jumlah kelas menengah],” katanya kepada wartawan usai peluncuran kartu kredit UOB Telkomsel di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (10/9/2024).
Dia memerinci bahwa salah satu tolok ukur perusahaan terkait kinerja bisnis kartu kredit adalah jumlah peminat atau nasabah yang ada.
Di tengah penurunan jumlah kelas menengah tersebut, pihaknya melihat bahwa approval rate produk kartu kredit tetap sesuai dengan target yang ditetapkan, meskipun tak menjelaskan detailnya.
“Kita enggak melihat signifikan perubahannya ke kartu kredit,” tutur Herman.
UOB Indonesia tetap percaya diri untuk merilis produk kartu kredit baru. UOB menggandeng PT Telekomunikasi Selular alias Telkomsel resmi meluncurkan produk kartu kredit co-branded anyar, UOB Telkomsel pada hari ini.
Consumer Banking Director UOB Indonesia Cristina Teh Tan menjelaskan bahwa kerja sama dengan penyedia layanan telekomunikasi pelat merah tersebut dijalin atas kebutuhan gaya hidup digital nasabah, tak terkecuali segmen Gen Z.
“Kemitraan ini menegaskan ambisi kami menjadi the bank of choice bagi individu aspiratif di Indonesia,” katanya dalam kesempatan yang sama.
Berdasarkan catatan Bisnis, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan terdapat 57,33 juta warga kelas menengah atau 21,45% dari total penduduk Indonesia pada 2019. Jumlah tersebut menyusut menjadi 47,85 juta atau 17,13% dari total penduduk Indonesia pada 2024.
Pada periode yang sama, besaran kelompok penduduk rentan miskin dan menuju kelas menengah juga melesat. Jumlah penduduk rentan miskin naik dari 54,97 juta menjadi 67,69 juta orang, sementara jumlah penduduk menuju kelas menengah naik dari 128,85 juta menjadi 137,5 juta kepala.
Alih-alih naik kelas, 9,4 juta penduduk kelas menengah justru turun kasta sepanjang 2019 hingga 2024.