JAKARTA, investor.id – PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencetak laba bersih konsolidasian mencapai Rp 26,55 triliun atau tumbuh 5,23% secara tahuan (year on year/yoy) pada semester I-2024. Kinerja kredit yang tumbuh tinggi masih jadi penopang, mengimbangi margin bunga perseroan yang terus tergerus dalam kurun setahun belakangan.
Mengacu laporan keuangan yang dipublikasikan pada Rabu (31/7/2024), bank dengan logo pita emas ini menutup paruh pertama tahun 2024 dengan pertumbuhan kredit sampai dengan 20,46% (yoy), naik dari 1.272,07 triliun menjadi Rp 1.532,35 triliun.
Jika dirinci, kredit yang disalurkan mencapai Rp 1.487,43 triliun atau naik 20,07%. (yoy). Selanjutnya pembiayaan konsumen dari lini multifinance mencapai Rp 39,38 triliun atau melesat 41,93% (yoy). Serta bisnis sewa pembiayaan sebesar Rp 5.53 triliun, yang hanya naik 0,20% (yoy) pada semester I-2024.
Dari kinerja kredit tersebut, Bank Mandiri Group mencetak pendapatan bunga mencapai Rp 72,22 triliun pada semester 2024. Angka ini tumbuh 12,51% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 64,19 triliun.
Meski begitu, di rezim bunga tinggi saat ini beban bunga BMRI juga ikut tumbuh tinggi yakni sebesar 37,07% (yoy) pada enam bulan tahun 2024. Sebagai perbandingan, beban bunga meningkat dari Rp 16,88 triliun menjadi Rp 23,14 triliun.
Dengan demikian, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) hanya bisa bergerak sedikit yaitu 3,75% (yoy) menjadi Rp 49,08 triliun.
Tantangan Bank Mandiri perihal bisnis intermediasi itu ikut tercermin pada indikator margin bunga bersih (net interest margin/NIM) secara individual bank yang dalam kurun setahun belakangan. Jika pada Juni 2023 tercatat sebesar 5,30%, NIM kemudian terus menyusut menjadi 5,25% pada Desember 2023, kembali turun menjadi 5,11% pada Maret 2024, dan ditutup sebesar 4,92% pada Juni 2024.
Biaya Provisi dan NPL Turun
Di samping itu, salah satu catatan positif lainnya dari emiten bersandi BMRI adalah keberhasilan menekan biaya provisi. Ini tercermin pada pos kerugian penurunan nilai aset (impairment) sebesar 8,53% (yoy) menjadi Rp 6,91 triliun, menandao pencapaian perusahaan kala biaya pencadangan bank besar lain tengah terkerek.
Ini pula yang selanjutnya ikut serta mendongkrak laba operasional perusahaan dapat meningkat 6,36% (yoy) menjadi Rp 36,60 triliun.
Dengan hasil tersebut, laba bersih periode berjalan BMRI mencapai Rp 29,27 triliun atau tumbuh 5,66% (yoy). Kemudian mengalir sebagai laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp 26,55 triliun atau meningkat 5,23% (yoy) pada semester I-2024.
Sejalan laju kredit dan pembiayaan, total aset Bank Mandiri ikut terbang 14,96% (yoy) menjadi Rp 2.257,80 triliun. Berikut liabilitas dan ekuitas, masing-masing menyentuh Rp 2.003,44 triliun dan Rp 254.35 triliun.
BMRI mencatat rasio imbal hasil terhadap aset (return on asset/ROA) sebesar 3,58% pada semester I-2024, lebih rendah dari periode sama sebelumnya yang sebesar 3,72%. Begitu juga rasio imbal hasil terhadap ekuitas (return on equity/ROE) dari 25,78% menjadi 24,39%.
Sedangkan dari sisi kualitas, kredit bermasalah (non performing loan/NPL) secara gross dapat ditekan secara signifikan dari 1,53% ke posisi 1,01%. Sedangkan NPL neto bergerak sedikit naik dari 0,29% menjadi 0,35%. Adapun NPL konsolidasian Bank Mandiri tercatat sebesar 1,16%.
Editor: Prisma Ardianto (redaksi@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News