JAKARTA, investor.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE mencetak laba bersih sepanjang sembilan bulan tahun ini sebesar US$ 133,99 juta atau ekuivalen Rp 2,09 triliun. Angka tersebut naik 0,36% dibanding periode serupa tahun lalu sebesar US$ 133,50 juta.
Kenaikan laba PGEO sampai kuartal III-2024 ini terjadi di tengah pendapatan perseroan yang justru terkoreksi sebesar 0,71% dari sebelumnya US$ 308,19 juta menjadi US$ 306,02 juta atau setara Rp 4,78 triliun.
Menurunnya pendapatan PGEO akibat dari terpangkasnya penjualan uap dan listrik kepada PT PLN (Persero) selaku pihak berelasi. Utamanya, penjualan uap dan listrik dari pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Kamojang, Ulubelu, Lahendong, dan PLTP area Karaha.
Padahal, penjualan uap dan listrik di area Kamojang pada periode kuartal III-2023 berhasil membukukan pendapatan sebesar US$ 59,45 juta. Namun, pada kuartal III-2024 pendapatannya terkikis menjadi US$ 59,29 juta.
Begitu juga dengan area Ulubelu yang sebelumnya mencatatkan pendapatan sebesar US$ 86,14 juta melorot menjadi US$ 53,63 juta, Lahendong dari US$ 60,71 juta, tergerus menjadi US$ 31,31 juta. Tak ketinggalan, pendapatan dari area Karaha yang terkikis menjadi US$ 6,71 juta daripada sebelumnya US$ 6,59 juta.
Penurunan juga terjadi pada pendapatan PGEO dari pihak ketiga. Pada kuartal III-2023, entitas usaha Grup Pertamina tersebut sukses membukukan pendapatan dari pihak ketiga sebesar US$ 15,57 juta. Tapi, pada kuartal III-2024 pendapatan PGEO dari pihak ketiga turun menjadi US$ 12,81 juta.
Sebaliknya, penjualan uap dan listrik di PLTP Lumut Balai kepada PLN tercatat naik dari US$ 29,65 juta menjadi US$ 30,10 juta. Diikuti kenaikan pendapatan dari penjualan uap dan listrik di area Kamojang kepada anak usaha PLN, PT PLN Indonesia Power, dari US$ 50,17 juta menjadi US$ 51,94 juta.
Menyusul area Ulubelu dan Lahendong yang masing-masing berkontribusi memberikan pendapatan sebesar US$ 31,59 juta dan US4 28,70 juta dari hasil penjualan uap dan listrik kepada PT PLN Indonesia Power.
Pengalihan
Menurut Manajemen PGEO, penjualan uap dan listrik kepada pelanggan dilakukan berdasarkan penanggung jawab badan usaha (PJBU) dan perjanjian jual beli tenaga listrik (PJBL).
“Terhitung mulai 1 Januari 2024, terdapat pengalihan penerimaan dan pembayaran penjualan uap area Ulubelu dan Lahendong dari PT PLN (Persero) ke anak usahanya yaitu PT PLN Indonesia Power,” papar Manajemen PGEO dikutip, Minggu (27/10/2024).
Dengan pengalihan tersebut, PGEO mengumumkan telah meraup pendapatan dari hasil penjualan uap dan listrik kepada PT PLN (Persero) sebesar US$ 181 juta atau 59,2% dari total pendapatan PGEO dan US$ 112 juta dari PT PLN Indonesia Power atau mencerminkan 36,6% dari total pendapatan.
Manajemen PGEO menyatakan, penjualan uap dan listrik kepada PLN hanya atas penjualan dari operasi sendiri grup yang mencapai US$ 293,20 juta atau merefleksikan 95,8% dari total pendapatan perusahaan. Angka US$ 293,20 juta tersebut tergolong meningkat ketimbang sebelumnya US$ 292,62 juta.
Beban pokok pendapatan dan beban langsung lainnya membengkak menjadi US$ 132,19 juta dibandingkan sebelumnyaUS$ 126,21 juta. Laba bruto turun melemah menjadi US$ 173,82 juta dari periode sama tahun sebelumnya sebesar US$ 181,98 juta. Diikuti lagi, dengan penurunan laba usaha menjadi US$ 210 juta. Padahal, pada kuartal yang sama tahun 2023, laba usaha PGEO sebesar US$ 181,98 juta.
Beban keuangan turun dari US$ 18,29 juta menjadi US$ 16,79 juta. Beban pajak penghasilan juga menciut dari sebelumnya US$ 64,21 juta, menjadi US$ 59,23 juta pada kuartal III-2024. Beban pajak penghasilan kini sebesar US$ 57,38 juta dari sebelumnya US$ 64,12 juta dan beban pajak tangguhan US$ 1,85 juta pada kuartal III-2024, lebih kecil dari sebelumnya US$ 90 ribu.
Dengan torehan laba yang hanya naik tipis, hal ini tidak mengubah laba per saham dasar PGEO yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk di posisi US$ 0,0032 per saham.
PGEO hingga kuartal III-2024 membukukan total aset sejumlah US$ 2,94 miliar, turun dari sebelumnya US$ 2,96 miliar. Total liabilitas sebesar US$ 964 juta, turun dari sebelumnya US$ 992 juta dan jumlah ekuitas menguat menjadi US$ 1,98 miliar dari sebelumnya US$ 1,97 miliar.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News