JAKARTA, investor.id – PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) atau BNI mencetak laba bersih tahun berjalan secara individual mencapai Rp 14,22 triliun hingga Agustus 2024. Laba itu tumbuh 4,30% atau lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 3,25%.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, laba BBNI khususnya didorong adanya perbaikan perolehan pendapatan bunga bersih (net interest margin/NII) yang mencapai Rp 25,56 triliun pada Agustus 2024.
Meski masih tumbuh negatif 6,83% year on year (yoy), tetapi pendapatan bunga bersih itu lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya yang sempat turun 8,12%.
Dalam hal ini BNI membukukan pendapatan bunga mencapai Rp 42,46 triliun atau meningkat 4,92% selama delapan bulan. Sedangkan beban bunga sebesar Rp 16,90 triliun atau naik 29,64% (yoy).
Dalam perkembangannya, peningkatan pendapatan bunga tersebut berhasil dikerek lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya. Begitu juga beban bunga, yang lajunya bisa ditahan lebih rendah, sehingga mendukung penguatan dari NII perseroan.
Selain itu, laju biaya provisi juga ditahan BNI lebih rendah sebesar 26,74% pada Agustus 2024 menjadi Rp 4,51 triliun, dibandingkan bulan sebelumnya yang naik sebesar 27,42%. Sementara pendapatan komisi ikut menopang kinerja dengan melanjutkan pertumbuhan 3,15% menjadi Rp 6,80 triliun.
Upaya perbaikan kinerja keuangan itu sayangnya punya konsekuensi bahwa kredit yang diberikan tumbuh melambat. Kredit BBNI secara individual tercatat mencapai Rp 710,48 triliun, angka ini tumbuh 8,97% (yoy) pada Agustus 2024, jauh lebih rendah dari bulan sebelumnya yang naik 11,12%.
DPK Tumbuh Positif
Mendukung penyaluran kredit dari BNI, yaitu dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh 3,58% (yoy) menjadi Rp 745,26 triliun. Semua instrumen DPK tumbuh positif sampai dengan Agustus 2024.
Secara rinci, tabungan memimpin pertumbuhan 7,31% menjadi Rp 239,56 triliun. Kemudian deposito naik 3,74% menjadi Rp 222,55 triliun. Sedangkan giro kembali ke jalur positif setelah sebelumnya tumbuh negatif, meski pertumbuhan masih tipis yakni 0,5% menjadi Rp 283,14 triliun.
Dari komposisi tersebut, rasio dana murah (current account saving account/CASA) dari emiten bersandi BBNI ini tercatat berada di level 70,14% pada Agustus 2024. Relatif stagnan dengan kecenderungan menurun 5 basis poin dari periode sama tahun lalu.
BNI mencatat nilai dana murah mencapai Rp 522,71 triliun atau naik 3,51%. Menandai bahwa dana murah masih jadi salah satu yang penopang perkembangan DPK dari BNI.
Di samping DPK, ada sejumlah instrumen pendanaan lain yang turut dimanfaatkan BBNI untuk tetap menjaga posisi likuiditasnya. Seperti surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo) yang naik signifikan 246,48% menjadi Rp 20,72 triliun.
Pada Agustus 2024, surat berharga yang diterbitkan naik 36,69% menjadi Rp 29,71 triliun. Adapun pinjaman yang diterima meningkat 33,38% menjadi Rp 33,38 triliun.
Peningkatan pada sejumlah pos pendanaan tersebut pada gilirannya ikut mengerek liabilitas naik 8,01% menjadi Rp 874,20 triliun. Sedangkan sejalan perkembangan kredit, aset BNI naik 8,20% menembus Rp 1.024,61 triliun. Sementara ekuitas terkerek 9,34% menjadi 150,40 triliun khususnya didorong perolehan laba.
Editor: Prisma Ardianto (ardiantoprisma@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News