#30 tag 24jam
Peran Besar APBN dalam Penanganan Pandemi Covid-19 - kumparan.com
Peran APBN dalam menjaga ekonomi dan kesehatan masyarakat Indonesia dampak Pandemi Covid-19. [780] url asal
#covid-19 #pandemi #lockdown #apbn
(Kumparan.com - Bisnis) 08/10/24 17:04
v/16159993/
Pandemi Covid-19 merupakan kejadian luar biasa yang terjadi pada tahun 2020 yang tidak terprediksi sebelumnya. Berawal dari krisis kesehatan, pandemi dengan cepat meluas menjadi krisis ekonomi yang cukup serius.
Pembatasan sosial yang diberlakukan untuk mengurangi dan menghambat penyebaran virus secara tidak langsung mendisrupsi aktivitas ekonomi sebagai akibat dari berkurangnya mobilitas masyarakat.
Tidak hanya di Indonesia, kebijakan ini juga diberlakukan di berbagai penjuru dunia, bahkan sebagian besar di antaranya melakukan lockdown guna mengurangi peningkatan kasus.
Sebagai respons untuk menghadapi kondisi darurat akibat Covid-19, Pemerintah Indonesia, mengeluarkan Perppu Nomor 1 tahun 2020 untuk penanganan pandemi Covid-19 dan/atau dalam rangka menghadapi ancaman ekonomi/stabilitas sistem keuangan pada akhir Maret 2020.
Perppu ini kemudian ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 2 tahun 2020 yang dalam implementasinya Pemerintah kemudian mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2020 sebagai landasan aturan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Program ini merupakan bagian dari kebijakan keuangan negara yang dilaksanakan oleh Pemerintah untuk mempercepat penanganan pandemi Covid-19 serta melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat.
Pada tahun 2020, melalui program PEN, Pemerintah telah merealisasikan anggaran sebesar Rp 575,8 triliun yang peruntukannya dikelompokkan menjadi 6 klaster/subprogram, yaitu (i) Kesehatan, (ii) Perlindungan sosial, (iii) Sektoral K/L dan Pemda, (iv) Dukungan UMKM, (v) Pembiayaan korporasi, dan (vi) Insentif usaha.
Melalui program PEN tahun 2020, Pemerintah telah berhasil menahan laju kontraksi perekonomian yang lebih dalam sehingga pertumbuhan ekonomi pada level-2,1% (YoY) tercatat relatif lebih moderat dibandingkan dengan negara-negara lainnya.
Memasuki tahun 2021, Pandemi Covid-19 dan dampaknya masih terus berlanjut. Pada tahun ini, Pemerintah telah merealisasikan anggaran sebesar Rp 655,1 triliun dengan fokus kebijakan fiskal yang sama seperti tahun 2020, yaitu penanganan sisi kesehatan serta pemulihan ekonomi nasional.
Peningkatan realisasi anggaran, salah satunya akibat terjadinya eskalasi pandemi Covid-19 yang dipicu oleh varian Delta. Program PEN tahun 2021 dikelompokkan menjadi 5 klaster/subprogram yaitu (i) Kesehatan, (ii) Perlindungan sosial, (iii) Program Prioritas, (iv) Dukungan UMKM dan Korporasi, (v) Insentif Usaha.
Melalui program PEN ini, Pemerintah juga melakukan realokasi dan refocusing belanja negara serta memanfaatkan SAL dengan tetap menjaga defisit APBN tahun 2021 dalam batas aman sebagai langkah konsolidasi defisit kembali di bawah 3% pada tahun 2023. Berbagai upaya yang telah dilakukan Pemerintah pada tahun 2021, telah berkontribusi bagi capaian positif pada pertumbuhan ekonomi yang mampu pulih lebih yaitu tercatat 3,7% (YoY).
Masih berlanjut pada tahun 2022, program PEN tetap berfokus pada penciptaan lapangan kerja dengan tetap melanjutkan penanganan kesehatan dan perlindungan masyarakat. Akselerasi penanganan Covid-19 tetap dijadikan sebagai kunci recovery ekonomi melalui vaksinasi.
Dengan semakin terkendalinya pandemi pada tahun 2022, Pemerintah merealisasikan anggaran sebesar Rp 396,2 triliun yang dikelompokkan ke dalam 3 klaster/subprogram yaitu (i) Kesehatan, (ii) Perlindungan Sosial, dan (iii) Penguatan Pemulihan Ekonomi.
Dalam penanganan kesehatan, Pemerintah merealisasikan Rp 68,3 triliun yang digunakan perluasan/lanjutan vaksinasi Covid-19, klaim perawatan Covid-19, insentif tenaga kesehatan, peningkatan kesiapsiagaan menghadapi varian of concern (Omicron) dan mendorong kemandirian farmasi, serta implementasi kembali sistem jaminan kesehatan.
Pada perlindungan masyarakat, Pemerintah merealisasikan Rp 153,4 triliun untuk menjaga konsumsi masyarakat miskin dan rentan, serta penanganan kemiskinan ekstrem dan mendukung reformasi perlinsos menuju pemberdayaan masyarakat.
Sementara pada program penguatan pemulihan ekonomi, Pemerintah merealisasikan Rp 174,5 triliun yang diperuntukkan untuk mendukung penciptaan lapangan kerja serta mendorong pemulihan ekonomi pada tingkat daerah dan nasional.
Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah ini telah berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi pada level 5,31% (YoY) di tengah penurunan pertumbuhan rata-rata global.
Pandemi Covid-19 telah membawa dampak luar biasa terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia, dan APBN menjadi instrumen kunci dalam menanggulangi dampak tersebut melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Pada tahun 2024, meskipun pandemi sudah mereda, APBN masih berperan penting dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi. Pemerintah tetap fokus pada konsolidasi fiskal untuk mengembalikan defisit di bawah 3%, sebagaimana diupayakan sejak tahun 2023.
Anggaran diarahkan pada penguatan infrastruktur dan reformasi sektor-sektor strategis seperti kesehatan dan pendidikan, sekaligus menjaga keseimbangan antara kebutuhan pemulihan ekonomi dan stabilitas fiskal.
Menjelang 2025, relevansi kebijakan APBN menjadi semakin krusial. Pemerintah berkomitmen untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dengan APBN yang inklusif dan berkelanjutan. Tantangan ekonomi global dan domestik akan membutuhkan kebijakan yang mampu menjaga daya saing dan memperkuat ketahanan ekonomi.
Di tengah dinamika global yang masih tinggi, APBN 2025 akan diarahkan untuk optimalisasi penerimaan negara dengan tetap menjaga iklim investasi dan keberlanjutan dunia usaha, kebijakan belanja negara diarahkan untuk penguatan spending better sehingga menghasilkan multiplier efek yang kuat bagi kesejahteraan masyarakat dan perekonomian nasional, dan disisi pembiayaan difokuskan untuk mendorong pembiayaan yang fleksibel dengan kehati-hatian.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan pertumbuhan ekonomi dapat stabil di kisaran 5%, sambil menjaga kesejahteraan masyarakat dan penciptaan lapangan kerja yang inklusif.
Artikel ini dibuat oleh kumparan Studio
Studi: Lockdown Covid-19 Berdampak pada Permukaan Bulan - kumparan.com
Studi menemukan bahwa Covid-19 secara tidak langsung berdampak pada permukaan Bulan. [385] url asal
#covid #covid-19 #lockdown #bulan
(Kumparan.com - Tekno & Sains) 04/10/24 10:03
v/15954192/
Studi menemukan bahwa Covid-19 bukan hanya mendatangkan malapetaka bagi penduduk di Bumi, tapi secara tidak langsung berdampak pada permukaan Bulan.
Pada awal pandemi Covid, sebelum vaksin ditemukan, berbagai upaya dilakukan oleh seluruh dunia untuk memutus dan memperlambat mata rantai penularan, salah satunya dengan menerapkan karantina wilayah alias lockdown. Di awal April 2020, sekitar setengah populasi dunia diminta untuk tinggal di rumah, dan memberlakukan jam malam.
Perubahan besar pada pola hidup manusia ini berdampak langsung pada satwa liar dan tentu saja, emisi CO2. Kini, analisis yang dilakukan para peneliti menemukan bahwa lockdown kemungkinan telah memengaruhi suhu permukaan Bulan di malam hari.
Bulan memiliki gravitasi yang memberikan pengaruh pasang surut di Bumi. Waktu rotasi dan revolusi Bulan terhadap Bumi hampir sama sehingga membuat permukaan Bulan (disebut sisi dekat Bulan) yang menghadap Bumi selalu sama.
Diterbitkan di jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society: Letters, tim peneliti memilih enam lokasi di permukaan sisi dekat Bulan dan menganalisis Diviner Reduced Data Record dari PDS Geosciences Note milik NASA selama enam tahun. Mereka menemukan sebuah anomali.
“Suhu permukaan malam hari di enam lokasi berbeda di sisi dekat Bulan dianalisis selama periode 2017-2023. Hasil penelitian menunjukkan penurunan suhu permukaan malam hari yang tidak normal di semua lokasi selama April - Mei 2020, periode karantina global akibat Covid-19, jika dibandingkan dengan nilai periode yang sama selama tahun-tahun sebelumnya dan tahun-tahun berikutnya,” papar peneliti.
“Karena radiasi terestrial juga menunjukkan penurunan yang signifikan selama kurun waktu tersebut, penurunan suhu permukaan Bulan yang tidak normal disebabkan oleh efek karantina wilayah global akibat COVID-19. Bulan mungkin mengalami dampak karantina wilayah akibat COVID-19, yang divisualisasikan sebagai penurunan suhu permukaan Bulan pada malam hari yang tidak normal selama periode tersebut.”
Secara keseluruhan, perbedaan suhu malam lunar (saat permukaan Bulan tidak terkena Matahari) sekitar 8 - 10 Kelvin. Tim membandingkan perbedaan suhu ini dengan aktivitas bintik Matahari yang bisa menyebabkan penurunan tersebut, tapi tidak menemukan korelasi.
Menurut tim, penyebab penurunan suhu adalah radiasi yang diterima dari Bumi. Selama malam lunar di sisi dekat, Bulan menerima radiasinya saat dipantulkan dari permukaan Bumi. Seiring dengan perubahan aktivitas manusia dan berkurangnya polutan yang masuk ke atmosfer, hal ini berdampak buruk dengan berkurangnya radiasi yang dipantulkan ke Bulan.
Jadi, pembatasan wilayah akibat COVID-19 tampaknya secara tidak sengaja membuat permukaan Bulan menjadi lebih dingin untuk sementara waktu.
Studi: Lockdown Akibat Covid Bikin Otak Remaja Rusak dan Menua Lebih Awal
Studi menemukan bahwa secara tidak langsung lockdown telah membuat otak remaja menua lebih dini. [638] url asal
#otak #remaja #lockdown #pandemi #covid #studi
(Kumparan.com - Tekno & Sains) 25/09/24 12:26
v/15531576/
Kebijakan lockdown, atau kalau di Indonesia disebut Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dinilai berhasil mengurangi penularan dan kematian akibat virus corona. Studi yang terbit di jurnal PLOS ONE, misalnya, menyebut lockdown telah menyelamatkan 1 juta nyawa masyarakat AS pada paruh waktu 2020.
Meski begitu, pembatasan itu telah mengubah kehidupan banyak orang, dan malah lebih buruk. Selain menimbulkan malapetaka bagi perekonomian, lockdown memaksa orang-orang untuk diam di dalam rumah, siswa dilarang pergi ke sekolah pembelajaran dilakukan secara daring, sektor perkantoran memberlakukan WFH, dan pusat perbelanjaan ditutup hingga bangkrut.
Anak-anak menjadi kelompok paling rentan terkena dampak ini, dan baru-baru ini sebuah studi yang terbit di jurnal Proceedings of the National Academy of Science, menemukan secara tidak langsung lockdown telah membuat otak remaja menua lebih dini, mempercepat penipisan alami korteks serebral yang terjadi seiring bertambahnya usia manusia. Efek ini lebih besar dialami oleh anak perempuan.
“Kita menganggap pandemi COVID-19 sebagai krisis kesehatan, tapi kita tahu bahwa pandemi ini juga menghasilkan perubahan besar lainnya dalam kehidupan kita, terutama bagi para remaja,” tulis Patricia Kuhl, penulis senior salah satu direktur di Institute for Learning & Brain Sciences (I-LABS) University of Washington.
Korteks serebral secara alami menipis seiring bertambahnya usia, bahkan pada masa remaja, dan ketebalannya berfungsi sebagai indikator otak yang matang.
Para peneliti mengumpulkan data MRI pada 2018 dari 160 anak, yang semuanya berusia 9 hingga 17 tahun. Awalnya mereka ingin meneliti perubahan umum dalam perkembangan otak remaja.
Pada 2020, peneliti kemudian ingin mengumpulkan lebih banyak data, namun terganjal pandemi Covid. Pandemi menunda riset mereka, hingga berlanjut ke tahun 2021 dan mengakhiri penelitian awal ini–tapi meninggalkan data sebelum pandemi terjadi sehingga memungkinkan ilmuwan melihat bagaimana karantina memengaruhi anak-anak ini.
“Begitu pandemi berlangsung, kami mulai memikirkan pengukuran otak mana yang memungkinkan kami memperkirakan dampak pembatasan sosial pandemi terhadap anak,” kata Neva Corrigan, penulis utama studi dan ilmuwan di I-LABS. “Apa artinya bagi remaja untuk lebih banyak berada di rumah daripada berada di lingkungan sosial.”
Penelitian telah menunjukkan bahwa stres dan kesulitan kronis dapat mempercepat penipisan korteks serebral. Menurut Corrigan, proses ini dikaitkan dengan risiko lebih tinggi dalam mengembangkan gangguan neuropsikiatri dan perilaku, termasuk kecemasan dan depresi.
Studi baru ini mengulangi temuan dari dua penelitian sebelumnya, di mana keduanya melaporkan penipisan kortikal yang lebih cepat di kalangan remaja setelah tahun 2020.
Dalam studi baru, penelitian menemukan fakta lain yang menunjukkan bahwa penipisan kortikal (korteks) selama pandemi lebih terasa pada anak perempuan. Untuk mengungkap hal ini, peneliti menggunakan data 2018 mereka untuk membuat model penipisan korteks yang terjadi pada remaja dalam beberapa tahun sejak MRI pertama dilakukan. Peneliti kemudian melakukan pemeriksaan MRI baru dengan subjek yang sama.
MRI terbaru menunjukkan penipisan korteks yang cepat sepanjang masa remaja, terutama pada subjek perempuan yang otaknya tampak lebih terpengaruh secara luas. Efek penipisan pada perempuan muncul di semua lobus dan kedua belahan otak.
Bagi pria, percepatan penipisan korteks antara tahun 2018 hingga 2021 rata-rata setara dengan tambahan 1,4 tahun. Jumlah ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan remaja perempuan yang percepatan penipisan korteks-nya rata-rata bertambah 4,2 tahun penuaan otak.
“Remaja benar-benar berjalan di atas tali, mencoba menata kembali hidup mereka,” kata Kuhl sebagaimana dikutip Science Alert.
Selain kehilangan banyak sarana stres-rilief pada 2020, Kuhl mengatakan remaja masih terbebani oleh tekanan sosial dan perundungan di media sosial. Masih belum jelas kenapa lockdown memengaruhi pria dan wanita secara berbeda, tapi Kuhl dan rekannya menduga ini kemungkinan cerminan prioritas sosial yang berbeda.
“Bagi perempuan, hubungan dengan teman sebaya sangat penting untuk pengembangan identitas diri, dan perempuan lebih mengandalkan hubungan ini untuk mendapatkan dukungan emosional daripada laki-laki,” tulis para peneliti.
Bagi laki-laki, hubungan pertemanan lebih diekspresikan oleh persahabatan dan main bersama ketimbang dukungan emosional.
“Pandemi tampaknya benar-benar mengisolasi anak perempuan,” kata Kuhl. “Semua remaja terisolasi, tapi anak perempuan lebih menderita. Pandemi memengaruhi otak mereka secara lebih parah.”
WHO Anjurkan ‘Vaksinasi Tertarget’ untuk Mpox, Bukan Vaksinasi Massal
WHO mengatakan Mpox lebih mudah dikendalikan dibandingkan dengan virus lain seperti Covid-19. [595] url asal
#mpox #who #vaksinasi-mpox #cacar-monyet #lockdown #vaksinasi-massal-mpox #margaret-harris
(MedCom - Internasional) 21/08/24 15:20
v/14519951/
Jenewa: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan "vaksinasi tertarget” untuk mengatasi penyebaran virus Mpox atau cacar monyet, bukan vaksinasi massal. Langkah seperti itu dinilai lebih efektif karena Mpox disebut WHO relatif mudah dikendalikan jika dibanding virus lain seperti Covid-19.
“Vaksinasi massal tidak direkomendasikan; itu sangat penting. Vaksinasi harus ditargetkan pada daerah-daerah di mana virus tersebut menyebar,” ujar juru bicara WHO, Margaret Harris, dalam wawancara dengan Anadolu Agency, Selasa, 20 Agustus 2024.
Harris menjelaskan keprihatinannya terhadap penyebaran virus yang cepat dan adanya jenis virus baru, Clade 1b. Ia juga menjelaskan bahwa virus mpox memiliki dua jenis genetik, yakni Clade 1 dan Clade 2, dengan Clade 1b yang muncul tahun lalu menjadi perhatian khusus karena penyebarannya yang cepat dan tingkat kematian yang tinggi, terutama di kalangan anak-anak.
“Virus inilah yang kami khawatirkan karena penularannya sangat cepat. Virus ini juga memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi, terutama di kalangan anak-anak,” ujar Harris.
WHO mencatat peningkatan kasus mpox di tahun 2024 lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya, selain di Republik Demokratik Kongo bagian timur, virus ini juga telah menyebar ke Burundi, Rwanda, Uganda, dan Kenya. Harris menyoroti bahwa anak-anak dan individu dengan infeksi cacar dan HIV lebih rentan mengalami kondisi parah akibat Mpox, bahkan memiliki risiko kematian yang lebih tinggi.
Stok Vaksin
Sang jubir WHO itu menjelaskan bahwa orang yang terinfeksi virus cacar air akan mengalami gejala seperti ruam kulit dan demam, sehingga memerlukan pengobatan antipiretik dan pereda nyeri untuk mengatasi gejala tersebut. Dia juga menekankan pentingnya perawatan medis yang tepat serta isolasi diri untuk mencegah penularan dan infeksi lain selama proses penyembuhan.
Vaksinasi yang dikembangkan untuk cacar terbukti efektif melawan mpox. Harris mengatakan bahwa vaksin ini direkomendasikan untuk diberikan kepada mereka yang terpapar virus dalam waktu empat hari setelah kontak, serta kepada petugas kesehatan di “daerah-daerah di mana ada pandemi yang sedang berlangsung” atau dengan wabah aktif.
Eropa Utara, Amerika Serikat, dan Jepang memiliki sumber daya yang baik untuk stok vaksin, ujarnya, seraya menambahkan bahwa saat ini mereka sedang bekerja sama dengan negara-negara yang memiliki stok dan produsen vaksin untuk meningkatkan produksi dan memastikan bahwa stok tersebut menjangkau daerah-daerah yang membutuhkan.
Juru bicara WHO menjelaskan bahwa meskipun virus cacar air adalah virus aktif yang dapat dihentikan dengan mudah, hal ini memerlukan identifikasi cepat terhadap penderita, kontak yang terjaga, serta penerapan langkah isolasi.
Dia menekankan bahwa lockdown tidak diperlukan dalam menghadapi wabah ini, tetapi diperlukan pengawasan ketat dan diagnosa laboratorium yang baik untuk mengontrol penyebarannya. Harris juga mengimbau masyarakat untuk tidak panik seperti saat menghadapi COVID-19, karena virus ini memiliki karakteristik dan cara penyebaran yang berbeda.
Kontak Fisik
Harris menjelaskan bahwa Mpox menyebar melalui kontak fisik dekat, bukan melalui udara seperti COVID-19, sehingga lebih mudah dihentikan.
“Namun, kami tidak ingin hal ini menyebar ke seluruh dunia dan menjadi pandemi, karena, sekali lagi, hal ini akan memberikan tekanan pada sistem kesehatan. Itulah alasan untuk menyebut keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional untuk mencegah pandemi," tuturnya.
“Tentu saja, itulah mengapa kita memiliki perjanjian pandemi yang sedang kita coba selesaikan dan sepakati kembali. Setiap kali kita mengalami situasi seperti itu, kita memiliki sistem yang dapat bekerja dengan sangat cepat dan menghentikan ancaman agar tidak menjadi pandemi,” tambah Harris, menjelaskan bahwa tantangan global adalah memastikan distribusi vaksin ke wilayah yang membutuhkan.
Harris menunjukkan bahwa Pakistan dan Swedia telah melaporkan kasus cacar air, menyoroti pentingnya kedua negara ini mendeteksi dan melaporkan kasus dengan cepat.
Ia juga menyoroti pentingnya negara-negara melaporkan kasus secara transparan, karena transparansi ini berkontribusi dalam memerangi penyakit ini. (Shofiy Nabilah)
Baca juga: Wabah Mpox Sebabkan Kematian Satu Warga di Pantai Gading
(WIL)