JAKARTA,investor.id - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mencurigai ada ulah mafia yang melanggengkan praktik impor bahan baku obat, sehingga mengerek harga obat di Indonesia. Harga obat di Indonesia saat ini hampir 5 kali lipat lebih mahal dibandingkan negara lain.
Ketua YLKI Tulus Abadi mengatakan, salah satu penyebab mahalnya harga obat di Indonesia saat ini adalah karena hampir 100% bahan baku obat yang digunakan di tanah air masih bergantung pada produk impor.
Padahal, menurutnya, bahan baku obat yang dapat diolah di dalam negeri melimpah ruah. Hal ini karena belum ada upaya serius dari industri farmasi untuk menghentikan ketergantungan pada impor bahan baku obat.
"Mengapa masih impor? Karena di dalam sektor obat itu juga ada mafia impor bahan baku obat. Mafia ini artinya mereka mempertahankan untuk terus mengimpor karena mendapatkan keuntungan yang besar dari impor tersebut," ungkap Tulus, kepada B-Universe, Senin (15/7/2024).
Tulus menegaskan, Presiden Joko Widodo, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan kementerian lainnya harus turun tangan membongkar dugaan praktik mafia impor bahan baku obat ini.
Di samping itu, dari aspek investasi dan regulasi saat ini, belum kondusif dalam mendukung industri farmasi di Indonesia untuk mengembangkan bahan baku obat sendiri.
"Selama ini tidak pernah dikembangkan tidak pernah diformulasi bagaimana menghasilkan bahan baku obat yang ada di Indonesia yang sebenarnya itu sangat melimpah ruah," tukasnya.
Dikatakan Tulus, selama puluhan tahun, industri farmasi tanah air masih menilai produksi obat dalam negeri lebih efisien menggunakan bahan baku impor ketimbang mengembangkan bahan baku yang tersedia di tanah air.
"Akhirnya, kalau kita mengembangkan bahan baku obat akan lebih mahal ongkos produksinya dibandingkan impor sehingga itu menjadi alasan mengapa mereka lebih suka impor karena dianggap lebih efisien," pungkasnya.
Editor: Maswin (maswin.investorID@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News