#30 tag 24jam
Pertanyaan Besar kepada Mereka yang Meragukan Nasab Ba Alawi Muara Para Habib
Ulama disebut bersepakat tentang ketersambungan nasab Ba Alawi [751] url asal
#nasab-ba-alawi #keabsahan-ba-alawi #kebenaran-ba-alawi #nasab-habib #nasab-habaib #nasab-habib-indonesia #nasah-habib-indonesia-terputus #nasab-dalam-islam
(Republika - Khazanah) 29/07/24 15:27
v/12533668/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Polemik ketersambungan nasab Ba Alawi kepada Rasulullah SAW masih munai pro dan kontra. Bagi mereka yang meragukan nasab Ba Alawi, sebuah pertanyaan dilontarkan para kubu pendukung Ba Alawi. Jika nasab sadah (tuan-tuan) Ba Alawi itu diragukan, berarti semua ulama salah?
Pertanyaan ini dilontarkan pegiat keislaman sekaligus alumnus Pesantren Sidogiri Jawa Timur M Fuad Abdul Wafi (Gus Wafi), murid KH Idrus Romli.
Dia menggarisbawahi beberapa hal. Pertama kalau kajian tersebut benar, berarti semua gurunya salah. "Apa iya guru-guru yang dahulu mendidik saya, sekaligus ulama yang arif yang allamah, salah semua?"
“Baik yang di Sidogiri atau yang lain, berarti salah semua dong,” kata Gus Wafi dikutip dari wawancara di NabawyTV, Senin (29/7/2024).
Kedua, Nahdlatul ulama yang di dalamnya banyak kiai yang sangat mengagumi Ba Alawi
Ini ada banyak orang. Contohnya almaghfur lahu KH Maimoen Zubair, KH Ahmad Nawawi bin Abdul Jalil dan KH Abdul Alim bin Abdul Jalil pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, atau Syaikhuna Kholil Bangkalan, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.
Kalau mau menggunakan ulama di Nusantara, ada Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, Syekh Muhammad Mahfud bin Abdul Manan at-Tarmasi, Syekh Nawawi al-Bantani, yang alim bahkan allamah (menguasai sejumlah ilmu).
Salah satu kitab yang ditulisnya kemudian dipelajari di seluruh pesantren adalah Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadi’in, itu mengakui saadah Ba Alawi.
“Kalau kajian yang membatalkan nasab Ba Alawi diakui, maka konsekuensinya sangat berat, mereka dianggap salah selama ini,” kata dia.
Sementara itu, mantan mufti Mesir, Syekh Ali Jumah, menyatakan nasab para sadah Balawi sudah menjadi kesepakatan para ulama,
“Sah dengan ijma (konsensus) para ulama. Jika ada satu orang fasiq muncul lalu mempertanyakan nasab yang mulia ini, terserah saja itu urusan dia dengan Tuhannya dan dia bebas dengan pendapatnya. Tapi Ba Alawi sah nasabnya, menurut kita sesuai dengan ijma ulama. Kami belum menemukan ada yang meragukan nasab Ba Alawi sepanjang sejarah. Kalau dikatakan kakek moyang mereka tidak ditemukan di kitab fulan, atau kakek mereka tidak ditemukan di kitab fulan yang lain, kami katakan urus saja hidupmu. Dan teruslah duduk dengan selalu merasa ragu. Hasbunallah wa ni’mal wakil. Maka ucapan seperti ini yang meragukan nasab yang sudah jelas, suatu kebodohan. Dan hanya Allah yang lebih mengetahui,” ujar Syekh Ali Jumah.
Pro kontra...
Riset ini pun menuai pro kontra di media sosial bahkan sampai di akar rumput, hingga jajaran elite Pengurus Besar Nahdlatul harus angkat bicara.
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar turut angkat bicara menyoal polemik nasab habib di Indonesia. Menurut Kiai Miftakhul, isu yang gaduh ini cuma diembuskan segelintir orang. Masalah ini sudah bukan soal dzurriyah Ba'alawi melawan dzurriyah Wali Songo, melainkan arahnya sudah ke jamaah NU.
"Gangguan sudah sudah nyata, bukan dzon lagi, tapi jelas dialamatkan kepada NU dan bertubi-tubi. Hati-hati, itu pola Wahabi," ujar Kiai Miftachul.
Kiai Miftakhul mengingatkan bahwa NU memuliakan orang bukan karena nasab atau garis keturunan, suku dan etnis, tetapi keilmuan, kebaikan dan ketakwaan seseorang.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf yang akrab disapa Gus Yahya dalam channel Youtube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama pada Juli 2023, mengatakan bahwa yang namanya catatan kalau dicari tidak mungkin lengkap.
Dalam diskusi dan bantah-bantahan yang terjadi, ada yang berpendapat tidak ada catatan 700 tahun. Ternyata setelah diteliti tidak ada catatan hanya 100 tahun dan seterusnya.
"Tapi yang namanya catatan tidak mungkin lengkap, tidak mungkin bisa betul-betul lengkap dan berurutan, pencatatan itu membutuhkan tradisi tersendiri dan tradisi mencatat di lingkungan Islam itu baru, apalagi di lingkungan Arab," kata Gus Yahya.
Maksud Gus Yahya menjawab penjelasan Kiai Imaduddin bahwa tidak ada catatan yang menjelaskan habib atau Ba’alawi nasabnya sampai ke Nabi Muhammad SAW.
Gus Yahya menjelaskan, meski catatannya tidak ada, tapi riwayat secara lisan atau oral dari mulut ke mulut itu ada. Kalau merujuknya hanya ke catatan, nanti nasabnya Nabi Muhammad SAW sampai ke Nabi Ibrahim, sumbernya dari mana, nanti repot.
Kalau nutfah nubuwwah, dijelaskan Gus Yahya, dari laki-laki maupun perempuan martabatnya sama saja. Kalau yang pegang nasab dari laki-laki halus dimuliakan, maka nasab yang turun dari perempuan juga harus dimuliakan.
Gus Yahya mengatakan, sebaiknya husnuzan (berprasangka baik) saja. "Jadi soal nasab, menurut saya yang ribut-ribut itu kurang kerjaan," ujar Gus Yahya.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Fahrur Rozi yang akrab disapa Gus Fahrur menyampaikan bahwa meyakini habib nasabnya tersambung kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi percaya terhadap habib keturunan Nabi Muhammad SAW tentu tidak masalah.
Gus Fahrur mengatakan, kalau Kiai Imaduddin tidak percaya bahwa habib keturunan Nabi Muhammad SAW maka silahkan, tapi jangan mengatasnamakan NU.
Ditanya Soal Nasab Ba Alawi Muara Habib Indonesia, Begini Jawaban Mantan Mufti Mesir
Polemik keabsahan nasab Ba Alawi masih menghangat di media sosial [597] url asal
#ba-alawi #nasab-ba-alawi #keabsahan-ba-alawi #kebenaran-ba-alawi #nasab-habib #nasab-habaib #nasab-habib-indonesia #nasah-habib-indonesia-terputus
(Republika - Khazanah) 29/07/24 07:42
v/12496651/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Beredar secara viral, saat mantan Mufti Agung Mesir, Syekh Ali Jum’ah, ditanya perihal keabsahan nasab Baalawi yang menjadi muara nasab para habib di Indonesia. Apa jawabannya?
Syekh Ali Jum’ah mengatakan, “Sah dengan ijma (konsensus) para ulama. Jika ada satu orang fasiq muncul lalu mempertanyakan nasab yang mulia ini, terserah saja itu urusan dia dengan Tuhannya dan dia bebas dengan pendapatnya. Tapi Ba Alawi sah nasabnya, menurut kita sesuai dengan ijma ulama. Kami belum menemukan ada yang meragukan nasab Ba Alawi sepanjang sejarah. Kalau dikatakan kakek moyang mereka tidak ditemukan di kitab fulan, atau kakek mereka tidak ditemukan di kitab fulan yang lain, kami katakan urus saja hidupmu. Dan teruslah duduk dengan selalu merasa ragu. Hasbunallah wa ni’mal wakil. Maka ucapan seperti ini yang meragukan nasab yang sudah jelas, suatu kebodohan. Dan hanya Allah yang lebih mengetahui.”
Pendapat Syekh Ali Jum’ah ini sejalan dengan apa yang disampaikan Imam an-Nabhani dalam kitab Riyadh al Jannah. Dia menyebutkan sebagai berikut:
«إن سادتنا آل باعلوي، قد أجمعت الأمة المحمدية في سائر الأعصار و الأقطارِ، على أنهم من أصح أهل بيتِ النبوة نسباً، وأثبتهم حسباً، و أكثرهم علماً و عملاً و فضلاً و أدباً. وهم كلهم من أهل السنة والجماعة، على مذهب إمامنا الشافعي رضي الله عنه
“Sesungguhnya para sadat kita Ba Alawi telah berijma umat Nabi Muhammad SAW di seluruh masa dan daerah bahwa sesungguhnya mereka termasuk dari paling sahihnya nasab ahli bait Nabi, dan paling tetap pangkatnya, dan paling banyak ilmu, amal, keutamaan, dan akhlaknya. Dan mereka semuanya dari Ahlussunnah Wal Jamaah Mazhab Imam Sayfi’i.”
Riset ini pun menuai pro kontra di media sosial bahkan sampai di akar rumput, hingga jajaran elite Pengurus Besar Nahdlatul harus angkat bicara.
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar turut angkat bicara menyoal polemik nasab habib di Indonesia. Menurut Kiai Miftakhul, isu yang gaduh ini cuma diembuskan segelintir orang. Masalah ini sudah bukan soal dzurriyah Ba'alawi melawan dzurriyah Wali Songo, melainkan arahnya sudah ke jamaah NU.
"Gangguan sudah sudah nyata, bukan dzon lagi, tapi jelas dialamatkan kepada NU dan bertubi-tubi. Hati-hati, itu pola Wahabi," ujar Kiai Miftachul.
Kiai Miftakhul mengingatkan bahwa NU memuliakan orang bukan karena nasab atau garis keturunan, suku dan etnis, tetapi keilmuan, kebaikan dan ketakwaan seseorang.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf yang akrab disapa Gus Yahya dalam channel Youtube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama pada Juli 2023, mengatakan bahwa yang namanya catatan kalau dicari tidak mungkin lengkap.
Dalam diskusi dan bantah-bantahan yang terjadi, ada yang berpendapat tidak ada catatan 700 tahun. Ternyata setelah diteliti tidak ada catatan hanya 100 tahun dan seterusnya.
"Tapi yang namanya catatan tidak mungkin lengkap, tidak mungkin bisa betul-betul lengkap dan berurutan, pencatatan itu membutuhkan tradisi tersendiri dan tradisi mencatat di lingkungan Islam itu baru, apalagi di lingkungan Arab," kata Gus Yahya.
Maksud Gus Yahya menjawab penjelasan Kiai Imaduddin bahwa tidak ada catatan yang menjelaskan habib atau Ba’alawi nasabnya sampai ke Nabi Muhammad SAW.
Gus Yahya menjelaskan, meski catatannya tidak ada, tapi riwayat secara lisan atau oral dari mulut ke mulut itu ada. Kalau merujuknya hanya ke catatan, nanti nasabnya Nabi Muhammad SAW sampai ke Nabi Ibrahim, sumbernya dari mana, nanti repot.
Kalau nutfah nubuwwah, dijelaskan Gus Yahya, dari laki-laki maupun perempuan martabatnya sama saja. Kalau yang pegang nasab dari laki-laki halus dimuliakan, maka nasab yang turun dari perempuan juga harus dimuliakan.
Gus Yahya mengatakan, sebaiknya husnuzan (berprasangka baik) saja. "Jadi soal nasab, menurut saya yang ribut-ribut itu kurang kerjaan," ujar Gus Yahya.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Fahrur Rozi yang akrab disapa Gus Fahrur menyampaikan bahwa meyakini habib nasabnya tersambung kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi percaya terhadap habib keturunan Nabi Muhammad SAW tentu tidak masalah.
Gus Fahrur mengatakan, kalau Kiai Imaduddin tidak percaya bahwa habib keturunan Nabi Muhammad SAW maka silahkan, tapi jangan mengatasnamakan NU.
Gus Wafi Tantang Sebutkan Ulama Besar yang Batalkan Nasab Ba Alawi
Gus Wafi menunggu hal itu sampai Dajjal keluar dua kali. [578] url asal
#gus-wafi #nasab-ba-alawi #nasab-habaib #begal-nasab-habaib #habaib
(Republika - Khazanah) 13/07/24 17:32
v/10656651/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Gus Wafi mengidentifikasi 12 hal yang dipermasalahkan penuduh nasab Ba Alawi tak tersambung kepada Nabi Muhammad SAW. Namun itu semua dapat dirangkum menjadi dua hal besar, sebagaimana terurai berikut ini.
Pertama, klaim tak tertulis
Maksudnya adalah pada abad ke-4, 5, 6, 7, 8, 9, nama Ubaidillah tak tercatat sebagai anak Ahmad bin Isa al-Muhajir.
Jauh sebelum klaim tersebut menyebar luas, mayoritas riwayat nasab, dan ini merupakan kaidah ilmu nasab yang diterapkan sejak lama, bahwa Ahmad al-Muhajir memiliki anak yang bernama Abdullah. Kemudian karena Abdullah ini tawadhu sekali, dia merasa tidak pantas menyandang nama itu, sehingga dia menyebut dirinya sebagai hamba Allah yang kecil atau Ubaidillah. Hal ini sudah berkali-kali disampaikan ulama Ba Alawi dari berbagai zaman.
Di Indonesia, Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Taufiq bin Abdulqodir Assegaf berkali-kali menyampaikan hal yang sama. Dia menjelasakan nasab tersebut agar orang-orang mengetahui silsilah Ba Alawi sekaligus mengajarkan kepada banyak orang untuk selalu tawadhu, seperti yang dilakukan Ubaidillah.
Kedua, para penuduh nasab Ba Alawi tak tersambung kepada Rasulullah mengeklaim bahwa Imam Ahmad bin Isa tidak memiliki gelar al-muhajir
Padahal, mayoritas sejarawan yang membahas riwayatnya menyebut bahwa sang imam memang melakukan hijrah bersama anaknya yang bernama Abdullah alias Ubaidillah ke Hadhramaut.
Gus Wafi kemudian menyebut sebuah kaidah, kalau ingin menjawab pertanyaan, maka harus diketahui apa maksud pertanyaan tersebut sekaligus apa tujuannya. Kalau tujuannya ingin mengetahui ilmu nasab, maka kita sampaikan, tak ada satupun ulama nasab di dunia, dari dulu hingga sekarang, bahkan zamannya al-imam al Ubaidili dalam Tahdzibul Ansab, sampai pada sekarang Sayid Murtadha az-Zabidi atau al Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam tsabatnya, yang mengharuskan ada kitab sezaman. “Kita tidak akan menemukan hal itu,” kata Gus Wafi.
Kalaupun kitab semacam itu, maksudnya yang menerangkan orang-orang dalam rantai nasab yang dibahas, hal itu adalah syawahid mutaabi’, atau dalam ilmu hadits disebut pendukung, bukan referensi utama.
Gus Wafi menyebutkan 4 cara menetapkan nasab (kaifiyatu itsbatin nasab). “Apakah tertulis kitab sezaman? Tidak ada,” tegas pendakwah jebolan Pesantren Sidogiri tersebut.
Bahkan yang metodenya diambil oleh si penuduh dalam Kitab al-Mu’qibu karangan Sayid Mahdi ar-Rajai, atau dalam kitab Umdatut Thalib karangan Ibnu Inabah, atau at-Thathaqi dalam kitab al-Ashili, atau al-Muntaqilah at-Thalibiyah, atau Tahdzibul Ansab lil Ubaidili, atau Sirru Silsilatil Alawiyah li Abi Nashr al-Bukhari, “Apakah ada (harus menyebut kitab sezaman) mana kitab sezaman? Tidak ada yang menyebutkan itu” kata Gus Wafi.
Lihat halaman berikutnya >>>
Kedua, ada bayyinah syar’iyyah ahli nasab
Maksudnya adalah penjelasan dan bukti dari orang paham nasab yang menjelaskan nasab orang tersebut.
Ketiga, pengakuan seorang ayah.
Si ayah menjelaskan, nak, kakek dahulu adalah si a, kemudian ke atasnya lagi siapa dan seterusnya.
Keempat syuhrah wal istifadhah
Mana saja dari cara yang tersebut di atas yang terpenuhi, maka selesai sudah nasabnya.
Karena nasab ini, ada yang menyangsikan bahwa Ibnu Hajar bukan ahli nasab. Buktinya tidak punya kitab nasab. Namun pertanyaanya, apakah ahli nasab harus punya kitab nasab? Kalau demikian, maka banyak ahli nasab yang dibatalkan juga. Nasab orang lain bisa juga dibatalkan. Bahkan ahli nasabnya dibatalkan. Tidak ada syarat ahli nasab harus punya kitab nasab.
Ibnu Hajar itu ahli fikih, sedangkan ilmu nasab itu secuil dari ilmu fikih. Jadi wajar kalau dia disebut ahli nasab.
Karena itu, banyak ahli nasab mengakui nasab Ba Alawi. Makanya saya selalu bilang (tantang, - red), sebutkan satu saja ulama ahlus sunnah wal jamaah yang banyak menjadi referensi di berbagai kawasan, yang membatalkan nasab Ba Alawi? “Saya tunggu sampai Dajjal keluar dua kali”
Kisah Gus Wafi Terlibat Debat Nasab Ba Alawi
Gus Wafi menjelaskan Nasab Ba Alawi jelas tersambung kepada Nabi Muhammad [693] url asal
#gus-wafi #habaib #nasab-ba-alawi #nasab-habaib #dzuriyah-nabi-muhammad #dzuriyat-rasulullah
(Republika - Khazanah) 13/07/24 14:16
v/10642983/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Beberapa waktu terakhir, konten digital diramaikan dengan sekelompok orang yang mempermasalahkan nasab Ba Alawi. Mereka menganggap habaib yang ada sekarang bukanlah keturunan Nabi Muhammad. Dasarnya adalah sebuah kajian yang diklaim ilmiah.
Dalam wawancara dengan Nabawi TV, pegiat kajian keislaman sekaligus alumnus Pesantren Sidogiri Jawa Timur M Fuad Abdul Wafi (Gus Wafi) menceritakan bagaimana kisahnya terlibat dalam perdebatan nasab Ba Alawi.
Suatu malam, pegiat kajian turos ini berdiskusi bersama orang-orang Kristen, Yahudi, atheis, dan sejumlah kelompok seputar isu-isu kemanusiaan. “Sama sekali belum terpikir mendiskusikan nasab,” kata Gus Wafi.
Kemudian datanglah beberapa teman kepadanya. “Niatnya bersilaturahmi,” ujar pendakwah tersebut. Setelah berdiskusi panjang teman tersebut mengeluarkan pernyataan, “Sekarang habaib sudah kalah, tidak ada yang berani berdebat dengan si penuduh (bahwa nasab Ba Alawi tak bersambung kepada Nabi Muhammad),” kata Wafi.
Alumnus Sidogiri tersebut kaget. Dia bertanya-tanya, apa masalahnya sehingga para habaib dianggap ‘kalah’. “Ya ini ustaz, tentang nasab Ba Alawi,” kata si teman yang datang ke rumah.
Si penuduh tadi sudah membuat karya yang diklaim ilmiah berbentuk buku. Kesimpulan karya tersebut adalah meragukan ketersambungan nasab para habaib kepada Rasulullah SAW.
Ulama hebat dahulu salah semua?
Ketika mengetahui hal tersebut, yang ada di benak Gus Wafi adalah sebagai berikut
Pertama kalau kajian tersebut benar, apa iya guru-guru yang dahulu mendidik saya, sekaligus ulama yang arif yang allamah, salah semua?
“Baik yang di Sidogiri atau yang lain, berarti salah semua dong,” kata Gus Wafi dalam wawancara tersebut.
Kedua, Nahdlatul ulama yang di dalamnya banyak kiai yang sangat mengagumi Ba ‘Alawi
Ini ada banyak orang. Contohnya almaghfur lahu KH Maimoen Zubair, KH Ahmad Nawawi bin Abdul Jalil dan KH Abdul Alim bin Abdul Jalil pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, atau Syaikhuna Kholil Bangkalan, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.
Lihat halaman berikutnya >>>
Kalau mau menggunakan ulama di Nusantara, ada Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, Syekh Muhammad Mahfud bin Abdul Manan at-Tarmasi, Syekh Nawawi al-Bantani, yang alim bahkan allamah (menguasai sejumlah ilmu). Salah satu kitab yang ditulisnya kemudian dipelajari di seluruh pesantren adalah Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadi’in, itu mengakui saadah Ba Alawi.
Kemudian Gus Wafi berpikir, kalau kajian yang membatalkan nasab Ba Alawi diakui, maka konsekuensinya sangat berat, mereka dianggap salah selama ini.
Ketika itu Gus Wafi curiga sekaligus penasaran. Maka dia meminta kitab tersebut. “Adakah yang bawa atau file PDF-nya. Ada teman yang hadir saat itu memberikan kitab yang dimaksud. Baik saya akan pelajari, kasih saya waktu satu pekan untuk mengkaji ini,” kata Gus Wafi.
Temuan yang mengejutkan
Setelah sepekan mengkaji buku hasil kajian yang katanya ilmiah itu, Gus Wafi mengaku mendapatkan banyak kesalahan. “Bahkan di halaman pertama, ketika membuat narasi, bahwa kajian yang dimaksud merupakan bagian dari amar maruf nahi munkar, karena menggali nasab yang bagi si penuduh masih bercampur dan syubhat, di situ penulis meyakini, kajian tersebut bukan pakai data ilmiah tapi nafsu pribadi si penuduh,” ujar Gus Wafi.
Alasannya, berdasarkan tradisi ulama yang ada, tidak ada tradisi mengkaji nasab, termasuk di dalamnya mengkaji ikhtilat nasab, termasuk amar maruf nahi munkar. “Kalau kita buka Kitab al-Hawi karya al-hafidz as-Suyuthi, al-imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawa al haditsiyah atau Fatawa al-kubro, dan ulama yang lain, ketika ada orang mengaku dzuriyah Rasulullah SAW, kemudian tidak bisa dibuktikan, apakah ulama langsung menghajar, memfitnah, merobohkan statemennya, lalu mengajak debat seluruh dunia? Tidak ada,” kata Gus Wafi.
Yang dilakukan ulama adalah berhenti atau tawakuf. “Misalkan antum bukan keturunan rasulullah, andaikan terus menarasikan bahwa dia keturunan Rasulullah, nanti amir yang memberikan semacam tahdzir, kepada si pengaku. Sedangkan ulama dia diam. Itulah kesepakatan para ulama,” kata Gus Wafi.
Al-Hafidz as-Suyuthi dan Imam Ibnu Hajar yang luar biasa alim menjelaskan, ketika menghadapi orang yang mengaku dzuriyat Nabi Muhammad, kemudian tidak bisa dibuktikan, maka masuk kepada masyhurun nasab.
Maksudnya, kalau ada orang yang terkenal di kalangan umum nasabnya tersambung kepada Rasulullah SAW, tapi tak diketahui secara syariat, berarti nasabnya masyhurun nasab wa mahjul fi ilmin nasab. Nasabnya populer, tapi belum diketahui dalam ilmu nasab.
“Tidak ada ulama yang mengatakan, ini nasabnya masyhur, tapi harus diteliti, harus dihujat, tidak ada seperti itu,” kata Gus Wafi.
“Jadi istilah amar maruf nabi munkar dalam membahas nasab adalah kebohongan yang nyata,” tambahnya.