#30 tag 24jam
Kelas Menengah Terpuruk: Fondasi Ekonomi di Ambang Runtuh? - kumparan.com
Data BPS menunjukkan jumlah kelas menengah di Indonesia terus menyusut. Pada 2019, kelas menengah mencapai 57,33 juta orang. Pada 2024, jumlahnya menurun menjadi 47,85 juta oran [651] url asal
(Kumparan.com - Bisnis) 22/09/24 09:20
v/15386568/
Kelas menengah Indonesia sedang terancam. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kelas menengah di Indonesia terus menyusut. Pada 2019, kelas menengah mencapai 57,33 juta orang. Pada 2024, jumlahnya menurun menjadi 47,85 juta orang. Pada saat yang sama, kelompok menuju kelas menengah justru bertambah.
Sebagaimana publik mengetahui, kelas menengah yang kini menghadapi krisis serius justru selama ini jadi penopang ekonomi,. Lalu, apa yang membuat kelas menengah begitu rapuh di tengah turbulensi ekonomi?
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa kelas menengah berkontribusi lebih dari 80% terhadap pengeluaran nasional. Meski demikian, sebagian besar dari mereka berada di ambang "turun kelas." Mereka tergolong dalam kelompok yang mudah terhempas oleh guncangan ekonomi. Rentang pendapatan kelas menengah pada 2024 adalah Rp 2.040.262 hingga Rp 9.909.844, tetapi modus pengeluaran mereka hanya Rp 2.056.494, yang sangat dekat dengan batas bawah.
Mengapa kelas menengah kita begitu rentan? Ada banyak faktor yang saling terkait, tapi satu yang jelas: kelas menengah tidak cukup kuat menghadapi tekanan ekonomi global yang kian ganas. Krisis ini bukan hanya soal angka, tapi juga soal bagaimana negara mengelola dan melindungi kelompok ini.
Ibarat kelas menengah sebagai tulang punggung ekonomi. Ketika tulang punggung ini melemah, tubuh ekonomi akan lumpuh. Ini bukan hanya persoalan kelas sosial, melainkan juga ancaman serius terhadap stabilitas nasional.
Kegagalan mempertahankan kelas menengah dapat menyebabkan ketidakstabilan sosial dan ekonomi yang jauh lebih besar.
Pertanyaannya, apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Sektor manufaktur, yang selama ini menjadi tumpuan banyak pekerja kelas menengah, mengalami kontraksi serius. Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 48,9 pada Agustus 2024, yang menunjukkan penurunan aktivitas produksi. Kondisi ini menyebabkan banyak perusahaan terpaksa melakukan efisiensi besar-besaran.
Efisiensi berarti PHK. Pada Agustus 2024, 45.762 pekerja kehilangan pekerjaan. Banyak dari mereka adalah pekerja kelas menengah. PHK ini berdampak langsung pada penurunan pendapatan, yang pada akhirnya membuat mereka jatuh ke dalam kemiskinan.
Selain itu, pergeseran besar dalam struktur ketenagakerjaan juga memengaruhi stabilitas kelas menengah. Semakin banyak orang berpindah dari sektor formal ke sektor informal. Sektor informal cenderung memberikan pendapatan yang lebih rendah dan kurang stabil. Data BPS menunjukkan bahwa pada 2024, 40,64% dari tenaga kerja Indonesia berada di sektor informal, naik dari 38,29% pada 2019.
Kondisi ini menciptakan dilema. Di satu sisi, kelas menengah masih menjadi motor penggerak konsumsi. Namun di sisi lain, mereka semakin terpuruk dalam ketidakpastian ekonomi. Pekerjaan informal memang menyediakan peluang, tetapi tidak menawarkan kepastian jangka panjang. Sebagian besar dari mereka juga tidak memiliki jaminan sosial yang layak.
Dapat dianalogikan kelas menengah sebagai sebuah kapal besar di tengah badai ekonomi. Kapal ini terus dihantam ombak, dan meski berusaha bertahan, lambung kapal mulai retak. Jika pemerintah tidak segera memperkuat struktur kapal ini, kapal tersebut bisa tenggelam, dan bersamanya, ekonomi nasional.
Oleh karenanya, pemerintah harus segera melindungi kelas menengah dengan kebijakan yang jelas dan tegas. Kelas menengah memerlukan jaring pengaman sosial yang kuat. Program-program bantuan harus dirancang bukan hanya untuk masyarakat miskin, tetapi juga untuk mencegah kelas menengah jatuh ke bawah garis kemiskinan.
Selain itu, pemerintah perlu mendorong revitalisasi sektor manufaktur. Industri ini adalah salah satu sumber utama pekerjaan bagi kelas menengah. Jika sektor ini terus terpuruk, jumlah PHK akan semakin meningkat, dan kelas menengah akan semakin terancam. Insentif untuk industri harus diberikan untuk menjaga agar roda ekonomi tetap berputar.
Tidak kalah penting, pemerintah perlu memfasilitasi pelatihan dan pendidikan ulang bagi pekerja yang terkena PHK. Banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan di sektor-sektor tradisional perlu beradaptasi dengan perubahan zaman. Pemerintah harus memastikan bahwa kelas menengah memiliki keterampilan yang relevan untuk bersaing di sektor-sektor baru.
Saat ini, kelas menengah Indonesia berada di ambang krisis besar. Mereka adalah fondasi ekonomi yang mulai retak di tengah ketidakpastian global. Pemerintah harus segera bertindak untuk melindungi kelas menengah. Kebijakan yang kuat, perlindungan sosial yang memadai, serta strategi revitalisasi industri adalah kunci untuk mencegah kehancuran kelas menengah. Apa yang dilakukan pemerintah selanjutnya akan menentukan masa depan kelas menengah dan ekonomi Indonesia.
Bruno Latour dan Solusi Krisis Lingkungan - kumparan.com
Bruno Latour adalah seorang filsuf dan antropolog asal Prancis yang dikenal karena karyanya di bidang sosiologi sains dan teorinya tentang Actor-Network Theory (ANT) sebagai solusi lingkungan. [620] url asal
#bruno-latour #lingkungan #filsafat #opinion
(Kumparan.com) 02/08/24 06:37
v/12971547/
Bruno Latour adalah seorang filsuf, sosiolog, dan antropolog asal Prancis yang dikenal karena karyanya di bidang sosiologi sains serta teorinya tentang Actor-Network Theory atau yang biasa disingkat dengan ANT (teori semut atau teori aktor-jaringan) sebagai solusi lingkungan. Latour berkontribusi secara signifikan dalam diskusi tentang filsafat sains, terutama seputar sosiologi pengetahuan dan interaksi antara sains, teknologi, dan masyarakat.
Dalam filsafat Bruno Latour, ekologi dilihat bukan hanya soal lingkungan atau studi tentang ekosistem, tetapi, ekologi dilihat lebih dari sekadar itu, yakni lensa yang melaluinya kita dapat memahami hubungan yang rumit antara manusia, teknologi, dan alam. Latour menantang pemisahan unsur-unsur tersebut, dan kemudian menegaskan bahwa semua unsur-unsur ini sangat berhubungan dan tak terpisahkan.
Konsep ekologi Bruno Latour terkait dengan filsafatnya tentang Actor-Network Theory (ANT) atau teori aktor-jaringan yang menekankan bahwa semua entitas, baik manusia maupun non-manusia, berkontribusi dalam membentuk realitas atau dunia ini. Latour berpendapat bahwa masalah ekologi atau lingkungan, bukanlah masalah yang terisolasi yang disebabkan oleh tindakan manusia semata, tapi oleh banyak aktor yang kompleks.
Oleh karena itu, Bruno Latour mengkritik perspektif tradisional yang menganggap alam sebagai latar belakang pasif dari aktivitas manusia. Latour berargumen bahwa alam memiliki haknya sendiri dan secara aktif berpartisipasi dalam membentuk lingkungan kita, dunia kita. Perspektif Latour ini menantang anggapan bahwa manusia adalah satu-satunya agen atau aktor yang bertanggung jawab atas kerusakan ekologis.
Sederhananya, Bruno Latour mengajak kita untuk melihat dunia sebagai jaringan aktor yang saling berhubungan, di mana manusia, non-manusia, teknologi, dan alam menyatu dalam menciptakan jaringan yang kompleks. Latour mengajak kita melampaui solusi yang sederhana terhadap krisis lingkungan dan terlibat dalam upaya kolektif untuk memahami dan mengatasi tantangan ekologis dalam berbagai dimensinya.
Berangkat dari kerangka filsafatnya yang kompleks, Bruno Latour menawarkan perspektif berbeda dalam mengatasi krisis lingkungan. Alih-alih memberikan solusi sederhana, Latour mendorong kita untuk mengevaluasi ulang (dan ulang, secara terus-menerus) hubungan kita dengan alam, serta, Latour juga menawarkan pendekatan yang lebih kolaboratif untuk menemukan resolusi yang berkelanjutan.
Inti dari pendekatan solutif Bruno Latour ini adalah pengakuan bahwa masalah lingkungan tidak semata-mata hasil dari tindakan manusia tetapi muncul dari kegagalan kerja seluruh jaringan aktor yang saling berhubungan. Tanggung jawab bersama ini menggarisbawahi perlunya kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, termasuk manusia, non-manusia, teknologi, dan alam, untuk terlibat dalam upaya kerja sama memitigasi dampak krisis lingkungan (saya menggunakan kata memitigasi karena beberapa ilmuwan menyebutkan bahwa krisis lingkungan tidak dapat dicegah).
Dengan kata lain, Bruno Latour mengajak kita melihat masalah lingkungan sebagai masalah yang kompleks dan, oleh karena itu, diperlukan upaya terbuka untuk merangkul berbagai aktor. Semakin banyak aktor yang dirangkul, semakin besar peluang mengatasinya. Artinya, dengan mempertimbangkan perspektif berbagai aktor, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang kompleksitas masalah yang sedang kita hadapi. Cara ini akan menghasilkan solusi inovatif dengan memperhitungkan kebutuhan dan agensi semua aktor-dalam-jaringan.
Perlu dicatat pula bahwa filsafat Bruno Latour menantang gagasan konvensional tentang kemajuan dan pembangunan yang lebih memprioritaskan pertumbuhan ekonomi daripada kesejahteraan lingkungan. Hal itu bermasalah karena tidak mengakomodasi aspek lain yang juga tak kalah penting. Dalam konteks semacam inilah, Latour mendorong kita untuk mempertimbangkan kembali hubungan kita dengan alam, mengajak kita untuk mengakui peran aktif alam sebagai aktor dalam membentuk lingkungan kita, dunia kita. Artinya, alam atau non-manusia dilihat sebagai subjek atau aktor aktif yang terlibat. Dengan begitu, kita dapat membina koeksistensi yang lebih harmonis dengan alam.
Alhasil, pendekatan Bruno Latour terhadap krisis lingkungan sebetulnya mengantarkan kita pada solusi kolaboratif yang bermula dari penerjemahan ulang aktor-jaringan. Perspektif ini, pertama-tema, mengundang kita untuk memikirkan kembali hubungan kita dengan lingkungan, lalu, mendorong kita mempertimbangkan agensi aktor non-manusia, serta memengaruhi kita untuk terlibat aktif dalam dialog holistik yang melampaui perbedaan. Gagasan Latour ini, singkatnya, memandu kita menuju solusi krisis lingkungan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.(*)