#30 tag 24jam
Bapak, Pamali, dan Demistifikasi - kumparan.com
Di satu sisi, saya ingin bersepakat dengan Al Ghazali: manusia perlu ragu demi menambah keyakinan. Di sisi lain, Bapak berpendapat kebalikannya: manusia perlu yakin demi mengurangi ragu. [1,016] url asal
#pendapat #keluarga #bapak #pamali #filsafat #logika
(Kumparan.com - News) 02/10/24 07:48
v/15849920/
‘Pamali’ adalah kata paling membekas di ingatan masa kecil saya. Sejak kecil, Bapak yang alim agama, membesarkan saya dengan ‘pamali’: paribasa Sunda untuk larangan, sesuatu yang tabu atau restriksi—dan bila dilanggar konon mendatangkan celaka. Sependek pengetahuan saya, bisa dibilang, ‘pamali’ sama dengan al-Aadah (bahasa Arab: adat atau kebiasaan masyarakat); dalam ilmu fikih, istilahnya ‘'urf’.
Secara lebih luas, saya menerjemahkan ‘pamali’ sebagai “in the name of Sundanese norms and Islamic morality, please don't do it, Son”. Masalahnya, ‘pamali’ tidak pernah menjadi rem yang cukup pakem bagi pikiran racing dan liar saya. Sepiring wallahu a'lam bishawab nyaris selalu gagal memuaskan rasa lapar saya terhadap jawaban dari pertanyaan random di benak saya. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin di ujung langit ke-7 pun tiada jawabannya.
Saya dan Bapak adalah dua kutub yang bersebrangan. Ibarat karakter Ivan dan Alyosha dalam novel Rusia—The Brothers Karamazov (1880)—karangan Dostoevsky. Ivan merepresentasikan keraguan-intelektual yang memasang skeptisisme di hadapan semua hal. Sebaliknya, Aloysha menyimbolkan keimanan dan ortodoksi seseorang yang mematuhi rambu-rambu agama—leap of faith (lompatan iman Kierkedian) yang buta.
Di satu sisi, saya ingin bersepakat dengan Al Ghazali: manusia perlu ragu demi menambah keyakinan. Di sisi lain, Bapak berpendapat kebalikannya: manusia perlu yakin demi mengurangi ragu. Praktis, nyaris tidak ada titik temu antara kami berdua. Saya menduga Bapak batu. Sedang ia menatap saya seolah-olah dirinya adalah Ibu dan saya perwujudan Malin Kundang yang kelak berakhir menjadi batu sebab durhaka; tak mempan dinasihati dengan cara ini-itu.
Lambat laun, kondisi “perang dingin” itu niscaya memicu pencarian panjang untuk lebih memahami isi kepala Bapak. Kemudian saya menemukan benang merah antara landasan berpikir Bapak dan apa yang telah dipetuahkan Tan Malaka dalam Madilog (1943) berpuluh tahun lalu, khususnya mengenai Logika Mistika.
Tan mendedahkan bahwa logika mistika adalah cara berpikir yang mengandalkan kepercayaan pada hal-hal gaib dan mistis untuk menjelaskan kejadian sehari-hari. Segala bentuk pemikiran yang tidak rasional dan tidak berdasarkan fakta, sehingga mesti digantikan dengan pemikiran yang lebih ilmiah dan logis demi kemajuan bangsa—tambahnya.
Kalau boleh jujur, saya tidak peduli soal kemajuan bangsa, tapi pamali bisa dianggap sebagai bentuk dari logika mistika. Pamali sangat karib kaitannya dengan hal-hal mistis atau supranatural. Katakanlah, larangan untuk tidak duduk di depan pintu karena dipercaya akan menghalangi rezeki dan jodoh.
Kenyataannya, tentu Anda tidak akan kesulitan rezeki hanya karena duduk di depan pintu. Volume rezeki dipengaruhi mobilitas sosial dan mobilitas sosial dimungkinkan modal sosial. Ini belum termasuk faktor-faktor yang lebih dominan, seperti kemiskinan struktural. Juga tidak ada hubungannya dengan jodoh. Jodoh berhubungan dengan fisik, ekonomi, karier, sirkel pertemanan, fesyen, dan kemampuan untuk mendayagunakan aplikasi semacam Bumble atau Tinder.
Dengan demikian, pamali termasuk ke dalam logika mistika sebab tidak memiliki dasar rasional atau ilmiah, melainkan hanya didasarkan pada kepercayaan tradisional dan mitos.
Kemudian saya tersadar bahwa yang saya lakukan adalah Demistifikasi: suatu proses menyingkap tabir kemistikan dengan menggunakan tangan bernama rasionalitas. Secara etimologi, istilah ‘Demistifikasi’ berasal dari kata “mystify’ yang berarti membingungkan atau mengaburkan dengan misteri. Prefiks “de-” menandakan penghilangan atau pembalikan keadaan ini.
Demistifikasi, sebagai proses menghilangkan elemen mistis atau mitos dari suatu konsep juga fenomena, tidak terjadi dalam satu tahun tertentu. Proses ini berlangsung secara bertahap dan terjadi di berbagai bidang seperti sains, agama, dan budaya.
Sebagai contoh, dalam konteks Islamisasi pengetahuan, Kuntowijoyo memperkenalkan konsep demistifikasi pada pertengahan tahun 1970-an. Nama demistifikator lain adalah Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Ia memainkan peran penting dalam proses demistifikasi melalui konsep Islamisasi ilmu pengetahuan. Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai agama dan harus memiliki landasan yang sesuai dengan ajaran Islam.
Namun, proses demistifikasi dalam sains dan budaya telah dimulai sejak era Pencerahan di Eropa, ketika banyak pemikiran rasional dan ilmiah mulai menggantikan kepercayaan mistis dan tradisional. Akarnya dapat ditelusuri kembali ke era Pencerahan, yang menekankan akal dan ilmu pengetahuan di atas takhayul dan dogma.
Selama Abad Pencerahan, para pemikir berusaha untuk menantang kepercayaan dan takhayul yang sudah mapan dengan mempromosikan penalaran ilmiah dan pemikiran rasional. Periode ini menandai dimulainya demistifikasi sebagai pendekatan sistematis untuk memahami dunia. Mendorong masyarakat untuk beralih dari kepercayaan yang berbasis takhayul dan menuju pemahaman yang lebih rasional tentang dunia.
Misalnya, Gunung Tangkuban Parahu, bahwa ia terbentuk melalui serangkaian proses geologis yang kompleks: berasal dari Kaldera Sunda, terbentuk akibat letusan besar sekitar 105.000 tahun yang lalu, dan terciptalah kaldera besar yang menjadi cikal bakal Gunung Tangkuban Parahu. Bukan karena Sangkuriang ngamuk lalu menendang perahu karena gagal menyelesaikan tugas yang diberi Dayang Sumbi. Alias sudah oedipus complex, anger issue pula.
Suatu pagi, saya terbangun dengan keringat membasahi sekujur tubuh saya. Saya bermimpi dirukiah bapak saya. Dalam mimpi itu, mulutnya komat-kamit baca mantra berupaya mengeluarkan arwah-filsuf-saintis: Nietzsche, Epicurus, dan Hawking yang bersemayam dalam diri saya. Selang beberapa menit, tubuh saya ujug-ujug terpental seperti dalam novel realisme magis. Bapak saya menghampiri, mencoba memeluk, tetapi terhalang semacam kubah tak kasat mata. Seiring berjalannya waktu, saya menyadari sesuatu: kubah itu bolehjadi Ateisme.
Pertanyaannya kemudian, apakah saya menyesal mempelajari pemikiran arwah-arwah itu?
Saya hampir tidak mempunyai penyesalan apapun dalam hidup. Kalaupun diingat-ingat, paling banter cuma dua. Yang pertama, tentu saja seusai memakan nugget rebus, mual tak karuan, dan hampir memuntahkan usus dua belas jari dari dalam perut saya. Dan yang kedua, adalah ketika mendebat Bapak pakai dalil-dalil Filsafat Barat dan membuatnya tidak mau berkomunikasi dengan saya selama kira-kira dua minggu; setelahnya, saya cuma bisa bercermin dan menemukan Lusifer yang dengan pongah telah mendebat bapaknya sendiri.
Dengan kata lain, saya hanya menyesal telah mendebat bukan menyesal telah belajar.
Pada gilirannya, saya mulai memahami mengapa sewaktu saya bocah ‘pamali’ melesat keluar dari mulut Bapak setidaknya tiga kali dalam sehari. Sebab, adalah wajar dan rasional bagi seorang ayah (Bapak saya) untuk melontarkan kata tersebut ketika dihadapkan dengan bocah ADHD yang sering bertanya hal aneh-aneh (saya).
Terakhir, otak kecil saya mafhum bahwa sekalipun Budiono Siregar yang mengarang folklor Malin Kundang dan mengutuk Malin menjadi kapal laut, maka bukan itu inti dari folklor tersebut. Yang mesti digarisbawahi bukan tentang “apa yang rasional-ilmiah di balik kisah perubahan seorang anak menjadi kapal laut”, tetapi “aduh! yang bener aja brou melawan orang tua—apa nggak takut?”.
Asafi Dorong Filsafat Islam Masuk Kurikulum Sekolah
Asafi mendorong mata pelajaran Filsafat perlu menjadi mata pelajaran dan masuk kurikulum di tingkat sekolah menengah. [370] url asal
#asafi #prodi #program-studi #filsafat-islam-filsafat #islam #sekolah-menengah #sekolah #kurikulum
(MedCom) 20/09/24 13:44
v/15287927/
Jakarta: Program Studi (Prodi) Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) masih minim peminat di perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia. Untuk itu, Asafi mendorong mata pelajaran Filsafat perlu menjadi mata pelajaran dan masuk kurikulum di tingkat sekolah menengah.Hal ini disampaikan oleh Ketua Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam (Asafi), Kholid Al Walid dalam Simposium Nasional Prodi AFI se-Indonesia di Bandung, Jawa Barat, pada Kamis, 19 September 2024. "Prodi ini masih kurang peminat kecuali pada beberapa kampus seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan UIN Sunan Kalijaga Jogja," kata Kholid dalam Simposium Tahunan yang dihadiri 75 ketua dan sekretaris Prodi AFI se-Indonesia, dalam siaran persnya, Jumat, 20 September 2024.
Menurut Kholid, perlu sebuah strategi khusus untuk menangani hal ini. Adapun masalah internal selanjutnya ialah peluang kerja yang sering dirasakan oleh alumni Prodi AFI.
Terkait masalah ini, lanjut Kholid, mata pelajaran Filsafat perlu menjadi mata pelajaran dan masuk kurikulum di tingkat sekolah menengah. Dengan demikian, siswa mengetahui arti penting filsafat dan meningkatkan kesadaran dan minat akan prodi tersebut.
"Juga sekaligus memberi peluang kepada alumni AFI untuk dapat mengajar di sekolah menengah," kata dia.
Selain tantangan internal, Prodi AFI juga menghadapi tantangan eksternal, yaitu bangsa Indonesia yang mulai terjebak pada pola politik pragmatis dan politik praktis. Kholid menyebut isu yang banyak menjadi pembicaraan masyarakat kini bukan hal-hal substantif, melainkan untuk proses politik praktis.
Padahal, negara memiliki masalah substansial bangsa yang belum terselesaikan. "Misalnya membangun nilai moderasi, penanaman nilai-nilai Pancasila dan pendidikan, dan sebagainya," kata dia.
Simposium ini berlangsung pada 18-20 September membahas internasionalisasi Prodi AFI mengingat saat ini seluruh prodi dituntut berkembangkan dan terhubung dengan kampus-kampus internasional dalam rumpun keilmuan yang sama.
Acara dibuka oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik UIN Bandung, Dadan Rusmana. Dalam sambutannya, Dadan mengapresiasi pertemuan ini karena dihadiri para pemikir dari seluruh kampus Islam negeri dan swasta.
"Saat ini para pemikir ke-Islaman dituntut kiprahnya agar dapat memberikan tawaran pemikiran yang mendalam dan substansial bagi negeri ini," ujar Dadan.
"Demikian juga para pemikir muslim Indonesia mampu memberikan tawaran pemikiran Islam Indonesia yang moderat ke dunia Internasional sebagai Upaya menciptakan perdamaian dunia," pungkasnya.
| Baca juga: Angka Harapan Lama Sekolah Anak Usia 7 Tahun di Indonesia Naik |
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(CEU)
Peran Xenophon dalam Sejarah dan Budaya Yunani - kumparan.com
Xenophon bukan hanya seorang penulis, tetapi juga seorang pendidik dan seorang pengamat tajam dan cerdas, yang karyanya menawarkan wawasan yang tak lekang oleh waktu. [854] url asal
#sejarah #budaya #yunani #filsafat #manusia #waktu #tokoh #pendidikan
(Kumparan.com - News) 10/08/24 15:48
v/14060463/
Xenophon (lahir sekitar 430 SM, Attika, Yunani—meninggal sebelum 350 SM, Attika) adalah seorang sejarawan dan filsuf Yunani yang karya-karyanya sangat berharga untuk penggambaran Yunani Klasik akhir. Karya yang paling terkenal, Anabasis ("Perjalanan ke Pedalaman"), sangat dihargai pada zaman kuno dan berpengaruh besar pada sastra Latin.
Xenophon (dalam britannica.com) meninggalkan Athena pascaperang pada 401 SM, bergabung dengan tentara bayaran Yunani di bawah pangeran Achaemenia, Cyrus Muda, dalam pemberontakannya melawan saudara laki-lakinya, Raja Persia Artaxerxes II.
Setelah kekalahan Cyrus di Cunaxa, Xenophon menjadi salah satu pemimpin yang memimpin tentara bayaran Yunani, yang dikenal sebagai "Ten Thousand" "Sepuluh Ribu", kembali ke Byzantium melalui Mesopotamia, Armenia, dan Anatolia utara. Xenophon kemudian terlibat dalam pertempuran untuk Sparta melawan Persia dan berpartisipasi dalam pertempuran di Coronea pada 394 SM, mendukung Sparta.
Xenophon (dalam Jaeger, 1971), satu-satunya penulis dari lingkaran Socrates selain Platon yang karyanya bertahan dalam jumlah cukup besar, sering kali dipandang sebagai representasi klasik dari keanggunan dan pesona Attika.
Ia bukan sekadar imitator ajaran moral Socrates seperti Antisthenes, Aeschines, atau Aristippus, yang hanya dikenal melalui nama mereka. Popularitas Xenophon yang bertahan lama di kalangan pembaca mencerminkan keanekaragaman minat, variasi gaya tulisan, serta kepribadiannya tetap hidup dan simpatik, meskipun dengan segala keterbatasan.
Xenophon adalah seorang individu yang memiliki takdir unik, yang berkembang secara logis dari sifatnya dan hubungannya dengan lingkungan sekitarnya. Walaupun bukan murid langsung Socrates, Xenophon dipengaruhi secara mendalam oleh filsuf tersebut, seperti yang terlihat dalam beberapa karyanya, termasuk "Memorabilia."
Pengalamannya sebagai tentara bayaran dalam ekspedisi Persia, yang diceritakan dalam karyanya yang paling terkenal, "Anabasis," menempatkannya dekat dengan pengaruh politik Sparta dan mengakibatkan pengasingan dari Athena.
Dalam analisis Jaeger (1971) keberhasilan Xenophon dalam mempertahankan posisi dalam literatur klasik Yunani, meskipun dia bukan sosok terkemuka seperti Platon, mencerminkan dua hal penting: kemampuannya dalam menulis yang menarik dan relevan serta kontribusinya dalam memadukan berbagai pengalaman hidupnya ke dalam tulisannya.
"Anabasis," misalnya, bukan hanya sebuah catatan perjalanan militer tetapi juga sebuah karya yang menawarkan pelajaran dalam kepemimpinan, strategi, dan nilai-nilai moral. Pengalaman Xenophon dengan Persia juga mengilhami dirinya untuk menulis "Cyropaedia," sebuah karya yang mencerminkan kekaguman terhadap kebajikan kalokagathia Persia—gambaran pria ideal, yang disandingkan dengan pahlawan Yunani.
Sebagai penulis, Xenophon memiliki kepekaan tajam terhadap kondisi politik dan sosial zamannya. Dia menulis dengan tujuan mendidik, seperti yang terlihat dalam hampir semua karyanya. Hal tersebut bukan sekadar menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman, tetapi merupakan ekspresi alami dari karakternya.
Bahkan menurut Jaeger (1971) dalam narasi yang paling mendebarkan, seperti kisah pelarian 10.000 tentara Yunani dalam "Anabasis," Xenophon tidak hanya menceritakan kisah petualangan tetapi juga memberikan contoh bagaimana seseorang harus bersikap dan bertindak dalam situasi-situasi tertentu.
Meskipun begitu, penting dalam melihat Xenophon tidak hanya sebagai seorang penulis yang mencerminkan nilai-nilai masanya tetapi juga sebagai individu yang memiliki pandangan luas dan wawasan mendalam tentang dunia sekitarnya.
Pengalamannya dengan bangsa-bangsa asing, seperti Persia, memberi perspektif lebih luas tentang kebajikan manusia dan pendidikan (paideia). Xenophon menyadari bahwa kebudayaan dan kebajikan tertinggi bukanlah milik eksklusif bangsa Yunani, tetapi bisa ditemukan di mana saja, dalam bentuk langka dan mulia.
Dalam Oeconomicus, Xenophon (dalam Jaeger, 1971) memberikan pandangan mendalam tentang konsep paideia (pendidikan) dalam konteks pertanian, menekankan bahwa kesuksesan dalam bertani tidak hanya bergantung pada pengetahuan teknis, tetapi juga pada pendidikan yang tepat bagi seluruh anggota rumah tangga, termasuk petani, istri, dan para pekerja.
Xenophon percaya bahwa salah satu tugas utama seorang petani adalah mendidik keluarganya, terutama istri, yang dianggap sebagai "ratu lebah" dalam rumah tangga. Istri ini, yang sering kali adalah seorang gadis muda berusia lima belas tahun yang baru saja meninggalkan rumah ibunya, memerlukan pendidikan intensif dari suami dalam mempersiapkan dirinya menjalani peran penting di bidang pertanian.
Ischomachus, tokoh utama dalam Oeconomicus, merasa bangga dengan kurikulum pendidikan yang dirancang bagi istrinya. Pendidikan ini mencakup berbagai aspek kehidupan rumah tangga dan pertanian, mulai dari tugas-tugas domestik hingga manajemen lahan.
Dengan memberikan pendidikan komprehensif, Ischomachus tidak hanya memastikan keberhasilan pertanian, tetapi juga menciptakan lingkungan di mana istrinya dapat berkembang dan memiliki peran penting dalam kehidupan mereka.
Xenophon menghadirkan gambaran ideal tentang wanita Yunani, yang berpikir dan bertindak mandiri serta memiliki pengaruh luas dalam rumah tangga dan pertanian. Hal tersebut kontras dengan stereotip wanita Athena yang pasif dan terbatas pada urusan rumah tangga sehari-hari.
Gambaran Xenophon ini menambah dimensi baru pada pemahaman kita tentang peran wanita dalam masyarakat Yunani kuno, memperlihatkan bahwa, setidaknya dalam konteks pedesaan, wanita memiliki peran yang jauh lebih dinamis dan penting dibandingkan dengan apa yang sering digambarkan dalam tragedi Euripides atau dalam kehidupan perkotaan.
Paideia yang dijelaskan oleh Xenophon adalah inti dari keberhasilan pertanian dan kesejahteraan rumah tangga, serta menunjukkan pentingnya pendidikan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pertanian.
Sebagai catatan akhir, karya-karya Xenophon, dengan segala kepelbagaian dan kedalamannya, tetap relevan hingga hari ini karena kemampuan dirinya untuk memadukan narasi menarik dengan pelajaran moral dan filosofis.
Melalui berbagai karya, Xenophon menunjukkan bahwa kebudayaan dan kebajikan manusia bersifat universal dan dapat ditemukan di berbagai bangsa, asalkan kita mau membuka mata dan memahami dunia dengan hati terbuka. Xenophon bukan hanya seorang penulis, tetapi juga seorang pendidik dan seorang pengamat tajam dan cerdas, yang karyanya menawarkan wawasan yang tak lekang oleh waktu tentang kondisi manusia dan kebudayaan.
Bruno Latour dan Solusi Krisis Lingkungan - kumparan.com
Bruno Latour adalah seorang filsuf dan antropolog asal Prancis yang dikenal karena karyanya di bidang sosiologi sains dan teorinya tentang Actor-Network Theory (ANT) sebagai solusi lingkungan. [620] url asal
#bruno-latour #lingkungan #filsafat #opinion
(Kumparan.com) 02/08/24 06:37
v/12971547/
Bruno Latour adalah seorang filsuf, sosiolog, dan antropolog asal Prancis yang dikenal karena karyanya di bidang sosiologi sains serta teorinya tentang Actor-Network Theory atau yang biasa disingkat dengan ANT (teori semut atau teori aktor-jaringan) sebagai solusi lingkungan. Latour berkontribusi secara signifikan dalam diskusi tentang filsafat sains, terutama seputar sosiologi pengetahuan dan interaksi antara sains, teknologi, dan masyarakat.
Dalam filsafat Bruno Latour, ekologi dilihat bukan hanya soal lingkungan atau studi tentang ekosistem, tetapi, ekologi dilihat lebih dari sekadar itu, yakni lensa yang melaluinya kita dapat memahami hubungan yang rumit antara manusia, teknologi, dan alam. Latour menantang pemisahan unsur-unsur tersebut, dan kemudian menegaskan bahwa semua unsur-unsur ini sangat berhubungan dan tak terpisahkan.
Konsep ekologi Bruno Latour terkait dengan filsafatnya tentang Actor-Network Theory (ANT) atau teori aktor-jaringan yang menekankan bahwa semua entitas, baik manusia maupun non-manusia, berkontribusi dalam membentuk realitas atau dunia ini. Latour berpendapat bahwa masalah ekologi atau lingkungan, bukanlah masalah yang terisolasi yang disebabkan oleh tindakan manusia semata, tapi oleh banyak aktor yang kompleks.
Oleh karena itu, Bruno Latour mengkritik perspektif tradisional yang menganggap alam sebagai latar belakang pasif dari aktivitas manusia. Latour berargumen bahwa alam memiliki haknya sendiri dan secara aktif berpartisipasi dalam membentuk lingkungan kita, dunia kita. Perspektif Latour ini menantang anggapan bahwa manusia adalah satu-satunya agen atau aktor yang bertanggung jawab atas kerusakan ekologis.
Sederhananya, Bruno Latour mengajak kita untuk melihat dunia sebagai jaringan aktor yang saling berhubungan, di mana manusia, non-manusia, teknologi, dan alam menyatu dalam menciptakan jaringan yang kompleks. Latour mengajak kita melampaui solusi yang sederhana terhadap krisis lingkungan dan terlibat dalam upaya kolektif untuk memahami dan mengatasi tantangan ekologis dalam berbagai dimensinya.
Berangkat dari kerangka filsafatnya yang kompleks, Bruno Latour menawarkan perspektif berbeda dalam mengatasi krisis lingkungan. Alih-alih memberikan solusi sederhana, Latour mendorong kita untuk mengevaluasi ulang (dan ulang, secara terus-menerus) hubungan kita dengan alam, serta, Latour juga menawarkan pendekatan yang lebih kolaboratif untuk menemukan resolusi yang berkelanjutan.
Inti dari pendekatan solutif Bruno Latour ini adalah pengakuan bahwa masalah lingkungan tidak semata-mata hasil dari tindakan manusia tetapi muncul dari kegagalan kerja seluruh jaringan aktor yang saling berhubungan. Tanggung jawab bersama ini menggarisbawahi perlunya kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, termasuk manusia, non-manusia, teknologi, dan alam, untuk terlibat dalam upaya kerja sama memitigasi dampak krisis lingkungan (saya menggunakan kata memitigasi karena beberapa ilmuwan menyebutkan bahwa krisis lingkungan tidak dapat dicegah).
Dengan kata lain, Bruno Latour mengajak kita melihat masalah lingkungan sebagai masalah yang kompleks dan, oleh karena itu, diperlukan upaya terbuka untuk merangkul berbagai aktor. Semakin banyak aktor yang dirangkul, semakin besar peluang mengatasinya. Artinya, dengan mempertimbangkan perspektif berbagai aktor, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang kompleksitas masalah yang sedang kita hadapi. Cara ini akan menghasilkan solusi inovatif dengan memperhitungkan kebutuhan dan agensi semua aktor-dalam-jaringan.
Perlu dicatat pula bahwa filsafat Bruno Latour menantang gagasan konvensional tentang kemajuan dan pembangunan yang lebih memprioritaskan pertumbuhan ekonomi daripada kesejahteraan lingkungan. Hal itu bermasalah karena tidak mengakomodasi aspek lain yang juga tak kalah penting. Dalam konteks semacam inilah, Latour mendorong kita untuk mempertimbangkan kembali hubungan kita dengan alam, mengajak kita untuk mengakui peran aktif alam sebagai aktor dalam membentuk lingkungan kita, dunia kita. Artinya, alam atau non-manusia dilihat sebagai subjek atau aktor aktif yang terlibat. Dengan begitu, kita dapat membina koeksistensi yang lebih harmonis dengan alam.
Alhasil, pendekatan Bruno Latour terhadap krisis lingkungan sebetulnya mengantarkan kita pada solusi kolaboratif yang bermula dari penerjemahan ulang aktor-jaringan. Perspektif ini, pertama-tema, mengundang kita untuk memikirkan kembali hubungan kita dengan lingkungan, lalu, mendorong kita mempertimbangkan agensi aktor non-manusia, serta memengaruhi kita untuk terlibat aktif dalam dialog holistik yang melampaui perbedaan. Gagasan Latour ini, singkatnya, memandu kita menuju solusi krisis lingkungan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.(*)
Pidato Benjamin Netanyahu dan Narasi Post-Truth: Distorsi Kebenaran Israel-Hamas - kumparan.com
Artikel ini membahas pidato Benyamin Netanyahu di Kongres AS, mengupas bias dan strategi narasi post-truth, serta hubungan diplomatik antara AS dan Israel. [1,586] url asal
#israel #palestina #filsafat #hamas
(Kumparan.com - News) 28/07/24 08:54
v/12403867/
Tiga kutipan tersebut adalah kutipan yang berasal dari pidato Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, saat dia memberikan pidato di Kongres Amerika Serikat pada tanggal 24 Juli 2024.
Pidato tersebut sungguh menarik, seorang Benjamin Netanyahu yang sudah jelas divonis sebagai penjahat perang oleh International Criminal Court dapat dengan bebas menyampaikan pidato provokatif di hadapan dewan legislatif Amerika Serikat.
Pidato Netanyahu berisi banyak ungkapan-ungkapan provokatif yang berupaya menarik simpati. Pidato tersebut juga semakin memperjelas bahwasannya Israel sama sekali tidak merasa bersalah dengan tindakan kejamnya terhadap warga Palestina selama ini. Israel seolah ingin membelokkan kebenaran dengan mengatakan bahwa Hamas adalah teroris dan Israel adalah korban.
Lantas, bagaimana kemudian implikasi dari pidato yang disampaikan oleh Netanyahu, terutama terhadap penyebaran informasi di era post-truth.
Sebelum mulai membahas pidato Netanyahu, mari coba kita lihat konteks hubungan Amerika Serikat dan Israel. Jika dilihat dari sejarahnya, Amerika Serikat dan Israel memang mempunyai hubungan diplomatik yang sangat kuat.
Pada peristiwa-peristiwa momentual, Amerika Serikat sering muncul sebagai pihak yang memberikan bantuan kepada Israel. Seperti pada peristiwa perang Yom Kippur, Israel banyak mendapat bantuan senjata dari Amerika Serikat (Rodman, 2013).
Pola hubungan diplomatik tersebut nyatanya masih sangat kuat sampai sekarang. Meskipun belakangan ini Israel sering melakukan tindakan yang mendapat kecaman dunia, Amerika Serikat tetap setia memberikan sokongannya. Hal tersebut dapat dilihat dari semakin meningkatnya bantuan militer yang diberikan oleh Amerika Serikat kepada Israel.
Melansir dari laman Council on Foreign Relation, Amerika Serikat sudah mulai memberikan bantuan ekonomi yang signifikan kepada Israel dari tahun 1971 hingga 2024.
Bahkan, sejak peristiwa penyerangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, Amerika Serikat telah memberlakukan undang-undang yang menyediakan setidaknya $12,5 miliar dalam bentuk bantuan militer untuk Israel, yang mencakup $3,8 miliar dari undang-undang pada bulan Maret 2024 (sesuai dengan MOU saat ini) dan $8,7 miliar dari undang-undang tambahan pada bulan April 2024.
Data tersebut secara gamblang menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Israel memang adalah dua negara yang mempunyai hubungan diplomatik yang sangat erat. Lantas mengapa kemudian Amerika Serikat sangat gencar untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel ?
Jika diamati secara saksama, terdapat banyak faktor yang menjadi alasan mengapa Amerika Serikat sangat gencar dalam membangun hubungan yang erat dengan Israel. Namun, terdapat salah satu faktor yang dapat menjadi alasan utama, yaitu Amerika Serikat memandang Israel sebagai proxy untuk kawasan Timur Tengah.
Proxy sendiri dapat dipahami sebagai sebuah negara yang menjalankan kepentingan negara lain. Dalam hal ini, Israel mempunyai peran yang sangat strategis untuk menjadi proxy Amerika Serikat dalam menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah (Wunderle & Briere, 2008).
Hal tersebut juga ditambah dengan kepentingan Amerika Serikat dalam urusan minyak di kawasan Timur Tengah, dalam hal ini Israel dapat berperan sebagai proxy yang dapat secara langsung mengawal arus sumber daya minyak di kawasan Timur Tengah (Roth, A. 2009)
Selain karena adanya kepentingan strategis seperti sumber daya dan stabilitas kawasan, terdapat faktor lain berupa lobby Israel terhadap para birokrat di Amerika Serikat. Lobby dapat diartikan sebagai sebuah upaya yang dilakukan oleh kelompok tertentu untuk mempengaruhi proses pembuatan kebijakan pada suatu pemerintahan (Mearsheimer & Walt, 2008).
Di Amerika Serikat, lobby Israel terhadap para birokrat dilakukan secara gamblang melalui sebuah organisasi bernama American Israel Public Affairs Committee (AIPAC). Hal ini yang kemudian semakin memperkuat hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Israel, terutamanya dalam aspek kebijakan luar negeri.
Serta, hal ini pula yang kiranya memungkinkan seorang Benjamin Netanyahu dapat diundang untuk berbicara ke-4 kalinya di Kongres Amerika Serikat pada tanggal 24 Juli 2024 sebagai seorang perdana menteri Israel.
Pada tanggal 24 Juli 2024 waktu setempat, di Amerika Serikat, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu diundang untuk memberikan pidato di Kongres Amerika Serikat.
Pidato Benjamin Netanyahu memuat beberapa poin menarik. Secara umum, pidato tersebut berisi tentang pembelaan Netanyahu atas serangan Israel di Gaza. Ia berdalih bahwa serangan tersebut merupakan upaya memberantas Hamas sebagai sebuah organisasi teroris yang sudah menyerang Israel pada 7 Oktober 2023. Serta, Netanyahu juga mengajak Amerika Serikat untuk turut membantu Israel dalam memberantas Hamas.
Netanyahu bahkan sempat mengusulkan pembuatan aliansi pertahanan baru, yaitu “Abraham Alliance”; bagi Netanyahu, aliansi tersebut merupakan aliansi negara-negara Arab di Timur Tengah untuk menghadapi musuh bersama mereka, yaitu Iran.
Dalam pidato tersebut, Netanyahu juga intens menuduh Iran sebagai ancaman utama dalam konflik di Timur Tengah yang sedang terjadi sekarang ini. Bahkan, ia sempat mengatakan bahwa para demonstran Pro-Palestina yang sedang berdemo saat dia berpidato adalah pendemo yang didanai oleh Iran. Netanyahu juga mengatakan para pendemo tersebut sebagai seorang idiot.
Secara keseluruhan, pidato Netanyahu semakin menunjukkan bahwa memang pihak Israel sama sekali tidak merasa bersalah atas tindakan yang sudah mereka lakukan terhadap Palestina. Seolah pemberitaan yang selama ini beredar di media tidak digubris begitu saja. Bahkan, Netanyahu seolah ingin membelokkan narasi yang selama ini beredar agar opini publik dapat berubah mendukung Israel.
Permainan pembelokkan narasi seperti ini memang hal yang lumrah terjadi di era post-truth sekarang ini. Semakin berkembangnya teknologi informasi membuat kecepatan penyebaran informasi itu sendiri meningkat pesat.
Namun, informasi yang beredar itu tidak pandang bulu, apakah itu merupakan informasi yang benar atau salah, semua bisa menyebar secara bersamaan. Sehingga, hal tersebut bisa menyebabkan kebohongan lebih cepat tersebar daripada kebenaran.
Istilah "post-truth" mengacu pada konteks sosial-politik di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan daya tarik emosi dan keyakinan pribadi (Higgins, 2016). Dalam konteks ini, batas antara kebenaran dan kebohongan menjadi kabur, dan wacana politik serta publik sering kali bergantung pada perasaan dan interpretasi subjektif daripada akurasi faktual.
Istilah post-truth sendiri mulai populer digunakan sejak tahun 2016, hal tersebut ditunjukkan dengan kata post-truth yang menjadi Oxford Dictionaries Word of the Year 2016 (Hendricks, 2018).
Kepopuleran post-truth juga disokong oleh konteks pemilu di Amerika Serikat, di mana pada saat itu Donald Trump yang sedang berkampanye banyak menggunakan strategi pembelokkan narasi dan penyebaran kebohongan sehingga fakta objektif menjadi semakin tidak jelas, dan masyarakat lebih percaya kepada narasi yang disampaikan secara menggebu-gebu atau dengan gaya provokatif.
Dampak dari semakin berkembangnya narasi post-truth adalah pada bagaimana opini publik dapat dibentuk. Semakin memudarnya fakta objektif dan beredarnya kebohongan tentu akan membuat publik menjadi bingung.
Publik semakin tidak bisa memperoleh kepastian tentang siapa pihak yang benar dan siapa pihak yang salah. Karena setiap pihak selalu mempunyai narasi mereka masing-masing yang tentunya membela dirinya dan menganggap dirinya adalah pihak yang benar (Jones, 2023).
Sehingga, publik kemudian memberikan dukungan atau simpatinya bukan lagi berdasarkan pada suatu fakta objektif atau kebenaran objektif, melainkan didasarkan pada preferensi emosi mereka. Publik jadi lebih memilih untuk mendukung pihak yang bisa menarik simpatinya.
Hal ini yang juga rupanya dilakukan oleh Benjamin Netanyahu. Pidato yang disampaikan olehnya penuh dengan bias dan upaya pembelaan terhadap tindakan yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Ia berupaya untuk membelokkan fakta mengenai siapa pihak yang salah dan siapa pihak yang benar, siapa pelaku dan siapa korban.
Netanyahu berupaya membelokkan narasi bahwa pihak yang memang adalah musuh merupakan Hamas itu sendiri, dan Israel adalah korban dari serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Bahkan, ia juga memunculkan narasi bahwa Iran adalah biang kerok dari segala kericuhan yang terjadi di Timur Tengah. Ia juga memainkan narasi yang memposisikan Iran sebagai musuh bersama dari Amerika Serikat dan Israel. Tentu hal ini ditujukan untuk menggaet dukungan pemerintah Amerika Serikat agar mereka mau membantu Israel.
Pidato Netanyahu juga semakin mendistorsi opini publik yang ada. Ungkapan maupun kutipan dari pidatonya dapat dijadikan sebagai sumber oleh kelompok yang Pro-Israel untuk melakukan pembelaan. Hal ini tentu dapat berdampak pada opini publik di Amerika Serikat.
Melansir dari laman Pew Research Centre, publik Amerika Serikat sendiri masih mempunyai penilaian yang bervariatif terhadap konflik Israel dan Hamas.
Data tersebut menunjukkan bahwa opini publik Amerika Serikat masih sangat rentan untuk dibelokan agar mendukung salah satu pihak. Hal tersebut juga semakin dimungkinkan dengan adanya pidato Netanyahu pada 24 Juli lalu.
Serta, sejauh ini Amerika Serikat hanya memberikan ruang bagi pihak Israel untuk menyampaikan pesan mereka. Jika sampai beberapa waktu ke depan Amerika Serikat tidak berupaya memberikan ruang untuk pihak Hamas, maka informasi yang beredar di ruang publik tentu tidak akan berimbang. Informasi yang beredar akan condong mengarah kepada pihak Israel.
Hal ini tentu juga patut dipertanyakan, bukankah Amerika Serikat sebagai suatu negara demokrasi seharusnya memberikan ruang bagi semua pihak untuk berbicara guna menyampaikan pandangan dan pendapat mereka?
Lantas, mengapa kemudian sampai dengan saat ini Amerika Serikat selalu condong hanya memberikan ruang bagi pihak Israel saja. Tindakan tersebut tentu merupakan salah satu contoh kehipokritan Amerika Serikat mengenai nilai-nilai demokrasi yang selalu mereka promosikan.
Kebohongan tersebar lebih cepat daripada kebenaran merupakan masalah utama yang dihadapi di era post-truth sekarang ini. Pidato Netanyahu hanyalah salah satu contoh bagaimana para politisi global dapat dengan mudahnya menyebar kebohongan dan memutar balikan fakta.
Pada akhirnya, subjektivitas akan memenuhi ruang publik, objektivitas menjadi kabur. Semua akan dikendalikan oleh emosi, bukan rasio atau akal sehat. Bila kita semua tidak cermat dan cerdas dalam mengolah informasi yang beredar, tentu kita bisa saja menjadi korban penyebaran kebohongan selanjutnya.
Sebagai penutup, penulis hanya ingin menyampaikan kepada publik untuk bisa semakin melek literasi digital dan informasi. Hal ini penting karena seperti apa sudah disampaikan sebelumnya, bahwa di era post-truth sekarang ini kebenaran objektif semakin kabur karena terlalu banyaknya informasi yang beredar.
Orang seperti Netanyahu saja dapat dengan mudahnya menyampaikan pidato seolah ia bukanlah pihak yang salah dan menuduh Hamas dan Iran sebagai musuh utama.
Maka dari itu, penting sekali bagi kita semua untuk semakin melek literasi digital dan informasi. Sehingga, pikiran kita tidak dapat dengan mudah dikendalikan oleh para media ataupun pihak-pihak yang mencoba melakukan penggiringan opini melalui narasi post-truth yang penuh akan ungkapan sensasional guna menggaet simpati dan emosi pendengar.