BYD resmi menanamkan investasi di Turki dengan angka senilai USD 1 miliar (Rp16,3 triliun) yang digunakan untuk membangun pabrik produksi mobil listrik. [875] url asal
BYD resmi menanamkan investasi di Turki dengan angka senilai USD 1 miliar (Rp16,3 triliun) yang digunakan untuk membangun pabrik produksi mobil listrik, dan juga pusat riset dan pengembangan. Ini alasan BYD mendirikan pabrik di Turki.
Seperti dikutip dari Nikkei Asia, ada beberapa faktor yang membuat BYD menanamkan investasi besar-besaran di Turki. Faktor pertama adalah, Turki merupakan negara yang memiliki basis otomotif dan teknologi yang cukup kuat dan mapan. Turki bisa memproduksi mobil untuk memenuhi pasar domestik dan pasar ekspor.
"Keunggulan Turki seperti ekosistem teknologi yang berkembang, basis pemasok yang kuat, lokasi luar biasa (strategis), dan tenaga kerja yang terampil, investasi BYD dalam fasilitas produksi baru ini akan semakin mengembangkan kemampuan produksi lokal merek tersebut dan meningkatkan efisiensi logistik," tulis pernyataan BYD.
BYD Seal 06 DM-i Foto: Dok. BYD
"Kami (BYD) bertujuan untuk menjangkau konsumen di Eropa dengan memenuhi permintaan kendaraan energi baru yang terus meningkat di wilayah tersebut," sambungnya.
Dikatakan Menteri Perindustrian dan Teknologi Turki Mehmet Fatih Kacir, Turki adalah produsen mobil terbesar ketiga di Eropa. "Kami melihat transformasi menuju kendaraan listrik generasi baru dan ramah lingkungan sebagai tujuan utama sektor otomotif, yang merupakan sektor unggulan dalam ekspor dengan volume tahunan melebihi USD 35 miliar," jelas Kacir.
Sebagai informasi, Turki memproduksi lebih dari 1,4 juta mobil pada tahun 2023, di mana sekitar 70% di antaranya adalah mobil penumpang. Turki sebagai jembatan antara Asia dan Eropa memiliki perjanjian serikat pabean dengan Uni Eropa dan perjanjian perdagangan bebas dengan lebih dari 20 negara, termasuk negara tetangga Mesir dan Georgia, Korea Selatan, Malaysia, dan Singapura.
Sebelumnya di Turki juga terdapat beberapa merek mobil global yang sudah mendirikan pabrik, seperti Toyota, Ford, Renault, dan Hyundai. Mereka mendirikan pabrik untuk memenuhi permintaan domestik dan kebutuhan ekspor.
BYD juga jadi pabrik mobil asing terbaru di Turki setelah sekian lama tak ada merek baru yang mendirikan pabrik di negara ini. Merek mobil asing terakhir yang mendirikan pabrik di Turki adalah Honda pada tahun 1997. Pabrik ini ditutup pada 2021 setelah merek Jepang tersebut memutuskan menarik diri dari produksi mobil Eropa sepenuhnya.
Mobil sedan listrik Turki Togg T10F Foto: Dok. Togg
Industri Mobil Listrik di Turki
Alasan lain mengapa BYD mau berinvestasi di Turki adalah lantaran negara ini mengalami tren peningkatan penjualan kendaraan listrik. Sekitar 65.000 mobil listrik terjual di Turki tahun lalu, yang mencakup sekitar 7% dari total penjualan mobil penumpang di negara tersebut.
Merek mobil listrik lokal Turki, Togg, yang didirikan lima tahun lalu menjadi tuan rumah di negara sendiri dengan menguasai hampir 30% pasar kendaraan listrik Turki tahun 2023, diikuti oleh Tesla sebesar 18,5%. BYD baru masuk pada Oktober 2023 dan menjual kurang dari 1.000 unit model Atto 3 dan meraih pangsa pasar 1%.
Pemerintah Turki sadar bahwa penetrasi merek-merek mobil China ke negaranya bisa membuat merek lokal mereka kalah saing. Maka itu, pemerintahan Turki yang dipimpin Presiden Recep Tayyip Erdoğan berusaha melakukan proteksi merek lokal dengan memberlakukan tarif impor sebesar 40% untuk mobil listrik buatan China di atas tarif yang sudah ada sebesar 10%. Kebijakan ini diberlakukan sejak Maret 2023.
Turki kemudian mengambil langkah-langkah tambahan, seperti mewajibkan produsen kendaraan listrik dari negara-negara yang tidak memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Turki, untuk mendirikan setidaknya 20 pusat layanan perawatan dan perbaikan di seluruh negeri yang harus dimiliki oleh mereka sendiri atau distributor mereka. Hal ini pun berdampak pada merek-merek China dan Jepang.
Selanjutnya pada Juni 2023, pemerintahan Turki kemudian memperluas kebijakan tarif impor sebesar 40% tersebut untuk mendorong investasi perusahaan-perusahaan China di negaranya. Turki akan menghapus tarif impor tambahan sebesar 40% tersebut jika produsen mobil listrik asal China mau berinvestasi dan membangun pabrik di negaranya.
Di sisi lain, BYD akan memanfaatkan posisi strategis Turki yang dekat dengan wilayah Eropa. Seperti diketahui, baru-baru ini organisasi Uni Eropa telah memberlakukan tarif sementara sebesar 17,4% pada kendaraan listrik BYD yang dibuat di China di atas pungutan sebesar 10% yang berlaku pada mobil standar. Tarif sementara Uni Eropa ini berlaku setelah Amerika Serikat menaikkan bea masuk empat kali lipat pada kendaraan listrik buatan China menjadi lebih dari 100%.
Dengan membangun pabrik di Turki, maka mobil-mobil BYD produksi Turki yang bakal dipasarkan di Eropa, bisa menghindari regulasi pajak tersebut. Sebab Turki dan juga Uni Eropa memiliki perjanjian serikat pabean.
Pabrik BYD di Turki direncanakan beroperasi pada akhir 2026. Pabrik ini bakal menjadi pabrik kendaraan listrik pertama yang dimiliki oleh produsen asing di Turki. Fasilitas ini diperkirakan akan mempekerjakan 5.000 orang dan memproduksi sebanyak 150.000 unit mobil listrik per tahun.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pejabat Turki menyebut Pemerintah akan segera mengumumkan perjanjian dengan pembuat mobil listrik asal Tiongkok, BYD, untuk pembangunan pabrik senilai 1 miliar dolar AS (Rp 16,24 triliun) di bagian barat negara itu. Informasi ini disampaikan oleh para pejabat Turki yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena mereka tidak berwenang untuk berbicara secara terbuka.
Dikutip dari, autonews.com, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, diperkirakan akan mengumumkan kesepakatan tersebut dalam sebuah upacara di provinsi Manisa, tempat pabrik tersebut akan dibangun. Baik BYD maupun kepresidenan Turki menolak memberikan komentar lebih lanjut mengenai hal ini.
Bloomberg melaporkan Pabrik baru ini memberikan BYD akses yang lebih mudah ke Uni Eropa, di mana Turki memiliki perjanjian pabean. Uni Eropa telah menaikkan tarif impor kendaraan listrik dari Tiongkok, yang membuat BYD dikenai tarif tambahan sebesar 17,4 persen di atas tarif 10 persen yang berlaku saat ini.
Selain pasar Eropa, BYD juga menargetkan pasar domestik Turki, di mana kendaraan listrik menyumbang 7,5 persen dari penjualan mobil tahun lalu di negara dengan populasi hampir 90 juta jiwa ini.
Pada tanggal 5 Juli, Turki mengumumkan pembatalan rencana untuk mengenakan tarif tambahan sebesar 40 persen pada semua kendaraan dari Tiongkok. Keputusan ini datang setelah pembicaraan antara Erdogan dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, pada pertemuan Organisasi Kerjasama Shanghai di Astana, Kazakhstan.
BYD, yang berbasis di Shenzhen, telah mengalami kemajuan pesat dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi merek mobil terlaris di Tiongkok. Perusahaan ini juga berencana untuk membawa kendaraan listrik dengan harga lebih rendah ke Eropa dalam beberapa tahun mendatang, termasuk hatchback Seagull yang diperkirakan akan dijual dengan harga kurang dari €20.000 ($21.700).
BYD sedang membangun pabrik mobil penumpang pertamanya di Eropa yang berlokasi di Hongaria, yang dijadwalkan akan dibuka sebelum tahun 2026. Produsen mobil tersebut juga baru saja membuka pabrik kendaraan listrik pertamanya di Asia Tenggara pada tanggal 4 Juli di Thailand dan telah mengakuisisi bekas pabrik Ford Motor di Brazil, serta sedang mencari lokasi pabrik di Meksiko.
Penjualan BYD melonjak ke rekor 982.747 kendaraan pada kuartal kedua tahun ini, naik lebih dari 40 persen dibandingkan tahun lalu. Meskipun penjualan BYD di Eropa masih relatif rendah, perusahaan tersebut mengalami peningkatan yang cepat dan telah melakukan dorongan pemasaran besar-besaran di wilayah tersebut, termasuk menggantikan Volkswagen sebagai sponsor utama turnamen sepak bola Kejuaraan Eropa.
BYD menjual 12.944 mobil di pasar Uni Eropa, EFTA, dan Inggris dalam lima bulan pertama tahun ini, naik dari 2.120 pada periode yang sama tahun 2023, menurut peneliti pasar Dataforce.
BYD resmi menanamkan investasi di Turki dengan angka senilai 1 miliar USD (Rp 16,3 triliun). Investasi tersebut digunakan untuk membangun pabrik baru yang rencananya beroperasi pada 2026 mendatang dengan kapasitas produksi hingga 150 ribu unit per tahun.
Seperti dikutip dari Carnewschina, BYD berusaha membangun pabrik di Turki sebagai siasat buat menghindari bea masuk tambahan dan bisa lebih mudah mengekspor mobil mereka ke negara-negara Eropa. Diketahui Uni Eropa berusaha menjegal ekspor mobil BYD ke wilayah mereka dengan bea masuk tambahan yang tinggi.
Wajar jika perusahaan asal China itu ngebet ekspansi ke benua biru. Sebab negara-negara Eropa merupakan pasar utama bagi ekspansi BYD di luar negeri. Ini lantaran laba perusahaan di Eropa sepuluh kali lebih tinggi daripada di China.
Namun sama seperti Amerika Serikat, Uni Eropa sebagai wadah perserikatan negara-negara Eropa, juga berusaha menjegal masuknya mobil-mobil listrik BYD dengan pajak yang tinggi. Pada saat yang sama, Turki juga mengenakan bea masuk tambahan sebesar 40% untuk mobil yang diimpor dari negeri Tirai Bambu.
BYD pun langsung melakukan keputusan strategis untuk menyiasati upaya penjegalan itu, yakni dengan membangun pabrik di Turki. Pabrik ini akan memungkinkan produsen mobil China tersebut terhindar dari tarif bea masuk tambahan sebesar 40%. Selain itu, mobil BYD buatan Turki akan terhindar dari tarif tambahan Uni Eropa karena Perjanjian Perdagangan Bebas.
Pada 8 Juli 2024, Menteri Perindustrian dan Teknologi Turki, Mehmet Fatih Kacir, berbagi kabar di media sosial, bahwa Presiden Turki Tayyip Erdogan menandatangani proyek pembangunan pabrik dengan Ketua dan CEO BYD, Wang Chuanfu. Menteri Mehmet Fatih mengatakan bahwa fasilitas tersebut akan mulai berproduksi pada tahun 2026, dan akan mempekerjakan hingga 5.000 orang.
Pabrik BYD di Turki akan memiliki kapasitas produksi tahunan sebesar 150.000 mobil. Tak hanya itu, BYD juga akan meluncurkan pusat R&D di Turki. Total nilai investasi BYD dalam proyek ini mencapai 1 miliar USD. Tampaknya fasilitas BYD di Turki tidak hanya dapat memenuhi permintaan pembeli lokal tetapi juga mengirim mobil ke pasar Eropa.
Selain Turki, BYD juga mengumumkan pendirian pabrik produksi mobil penumpang di Szeged, Hungaria. Pabrik tersebut akan mulai beroperasi pada akhir tahun 2025 atau awal tahun 2026 dengan volume produksi tahunan sebesar 100.000 unit.