JAKARTA, KOMPAS.com - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatatkan pendapatan usaha secara konsolidasi sebesar 2,56 miliar dollar AS atau sekitar Rp Rp 40,19 triliun (asumsi kurs Rp 15.700 per dollar AS) hingga kuartal III-2024 (unaudited).
Kinerja pendapatan usaha tersebut naik 15 persen dibandingkan dengan periode sama di tahun 2023 yang sebesar 2,23 miliar dollar AS.
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, pertumbuhan pendapatan usaha itu salah satunya ditopang peningkatan pendapatan penerbangan berjadwal sebesar 17 persen (year on year/yoy) mencapai 2,01 miliar dollar AS.
KOMPAS.com/Isna Rifka Sri Rahayu Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra saat ditemui di Menara Danareksa (21/6/2024).Lalu untuk pendapatan penerbangan tidak berjadwal mencatatkan kenaikan sebesar 6 persen dan pendapatan lainnya juga naik 8 persen dibandingkan dengan kinerja di periode sama tahun sebelumnya.
"Pertumbuhan pendapatan usaha sampai dengan kuartal III-2024 turut merefleksikan angkutan penumpang Garuda Indonesia secara grup," ujar Irfan dalam keterangan tertulis, Kamis (31/10/2024).
Hingga September 2024, angkutan penumpang tercatat mencapai 17,73 juta penumpang atau naik 24 persen (yoy).
Jumlah itu terdiri dari angkutan Garuda Indonesia (mainbrand) sebesar 8,34 juta penumpang, atau meningkat 45 persen, sementara Citilink sebanyak 9,39 juta penumpang atau naik 10 persen (yoy).
Secara rinci, kata Irfan, jumlah penumpang Garuda Indonesia (mainbrand) itu mencakup angkutan penumpang internasional sebesar 1,87 juta penumpang atau naik 59 persen (yoy), dan penumpang domestik sebanyak 6,47 juta penumpang atau naik 41 persen (yoy).
Dok. Garuda Indonesia Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia."Optimisme capaian kinerja operasional juga tercatat pada pertumbuhan kargo yang naik 36 persen (yoy) dari 122.420 ton menjadi 166.500 ton angkutan kargo," kata dia.
Pada kinerja angkutan kargo Garuda Indonesia (mainbrand) tercatat sebesar 102.550 ton hingga kuartal III-2024, atau naik 36 persen (yoy) dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar 75.320 ton.
Capaian kinerja kargo tersebut berasal dari angkutan kargo rute internasional sebanyak 43.710 ton atau naik 55 persen (yoy), dan angkutan kargo rute domestik sebanyak 58.830 ton kargo atau naik 25 persen (yoy).
Meski mencatatkan peningkatan pendapatan dan jumlah penumpang, Irfan mengakui perusahaan mengalami tekanan kinerja atas beban usaha yang meningkat hingga 20 persen.
Kenaikan beban usaha dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya beban pemeliharaan dan perbaikan, beban pelayanan penumpang, beban kebandaraan, hingga beban operasional penerbangan.
"Hal ini (kenaikan beban usaha) berdampak terhadap perlambatan pertumbuhan kinerja yang diyakini dapat berangsur membaik hingga akhir 2024," ucap Irfan.
Kendati terjadi tren penurunan profitabilitas transportasi udara, Garuda Indonesia tetap menjaga penguatan indikator kesehatan, tercermin pada kinerja EBITDA (pendapatan sebelum bunga, pajak dan amortisasi) yang meningkat 11 persen (yoy) menjadi sebesar 685,81 juta dollar AS di kuartal III-2024.
Selain itu kondisi perusahaan turut diperkuat dengan membaiknya posisi ekuitas meskipun masih dalam kondisi negatif.
"Peningkatan positif kondisi EBITDA tersebut juga turut menjadi indikator penting kondisi solvabilitas perusahaan yang semakin menguat," kata dia.
Lebih lanjut, Irfan mengungkapkan, memasuki periode kuartal terakhir di 2024, Garuda Indonesia terus mengoptimalkan berbagai peluang untuk meningkatkan pendapatan usaha.
Salah satunya, melalui penguatan alat produksi di mana pada November dan Desember 2024 Garuda Indonesia akan kembali menerima 2 pesawat narrow body Boeing B737-800NG.
Selain itu, ada potensi penambahan 2 pesawat narrow body lainnya (dalam tahap negosiasi) yang merupakan bagian dari rencana penambahan armada di tahun 2023 dan 2024.
"Dengan kedatangan armada tersebut, kiranya akselerasi kinerja operasional penerbangan Garuda Indonesia dapat terlaksana secara maksimal, terutama dalam memanfaatkan periode peak season libur Natal dan Tahun Baru, sehingga tren positif pendapatan usaha dapat terus terjaga di sepanjang 2024 maupun sejumlah inisiatif strategis perusahaan," pungkas Irfan.