#30 tag 24jam
Berkaca dari BUKA, OJK dan BEI Mesti Tegas Awasi Realisasi Dana IPO
Penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO) menjadi perhatian publik [766] url asal
#bursa-efek-indonesia-bei #otoritas-jasa-keuangan-ojk #ojk #penyerapan-dana-ipo #penggunaan-dana-ipo #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan) 11/09/24 18:58
v/14963189/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO) menjadi perhatian publik. Ini buntut dari sorotan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap realisasi dana IPO PT Bukalapak.com Tbk (BUKA).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengatakan, pihaknya telah mengirimkan beberapa kali surat kepada BUKA, untuk mengingatkan agar dana hasil IPO segera digunakan.
"Bukalapak menyampaikan bahwa seluruh dana akan direalisasikan sebagaimana rencana dalam prospektus, selambat-lambatnya pada 31 Desember 2025," ungkap Inarno.
Pasalnya, sampai dengan 30 Juni 2024 BUKA masih menyisakan dana IPO dengan jumlah yang jumbo, yakni sebesar Rp 9,82 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 900 miliar ditempatkan pada deposito dan giro, sedangkan Rp 8,9 triliun ditempatkan pada obligasi pemerintah.
BUKA resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 6 Agustus 2021 dengan menghimpun dana Rp 21,9 triliun. Setelah dikurangi biaya penawaran umum, jumlah bersih dana IPO sebesar Rp 21,32 triliun. Artinya, sisa dana IPO BUKA masih sebesar 46,06% dari total dana bersih yang diraih.
Merujuk laporan rencana dan realisasi penggunaan dana IPO per 30 Juni 2024, BUKA masih akan menggelontorkan dana untuk modal kerja perusahaan, modal kerja di enam entitas anak, serta untuk keperluan pengembangan usaha perusahaan dan entitas anak selain yang sudah disebutkan.
Founder & CEO Finvesol Consulting Fendi Susiyanto menyoroti, bisa jadi ada sederet emiten lain yang masih mengendapkan dana hasil IPO dalam waktu yang cukup lama. Di sisi lain, wajar BUKA paling menjadi sorotan lantaran dana yang mengendap masih dalam jumlah jumbo.
"Mungkin ada banyak emiten lain, hanya saja size is really matter, jadi BUKA kelihatan signifikan. Sehingga perlu menjelaskan kepada regulator dan investor (mengapa dana IPO yang belum terpakai masih besar)," kata Fendi kepada Kontan.co.id, Rabu (11/9).
Laporan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum sudah diatur dalam Peraturan OJK (POJK) No. 30/POJK.04/2015. Fendi mengatakan, hal yang wajar jika di tengah jalan terjadi perubahan penggunaan dana dari prospektus awal.
Tapi, emiten mesti menjelaskan secara rinci perubahan rencana penggunaan dana hingga penyesuaian strategi bisnisnya. "Intinya bagaimana itu tetap dilakukan secara governance, karena monitoring penggunaan dana sangat penting," imbuh Fendi.
Regulasi yang Lebih Tegas
Pengamat Pasar Modal & Direktur Avere Investama Teguh Hidayat menekankan perlunya regulasi yang lebih tegas serta penyaringan lebih ketat sejak IPO. Prospektus mesti lebih rinci menjelaskan tentang peruntukan rencana penggunaan dana, tidak cukup hanya dengan keterangan untuk modal kerja.
Jika perlu, ada penegasan mengenai jangka waktu dana tersebut harus sudah terserap. Hal ini penting untuk mempersempit peluang calon emiten menggelar IPO hanya sebagai exit liquidity.
"Misalnya, cukup masuk akal lima tahun sejak IPO dana itu mesti habis. Harus lebih tegas dan ketat sejak awal, agar yang tersaring masuk IPO hanya perusahaan yang memang berniat untuk mengembangkan usahanya saja," tegas Teguh.
Apabila emiten masih mengendapkan dana IPO dengan jumlah jumbo dan dalam waktu yang lama, Teguh menyarankan agar regulator memberikan teguran hingga sanksi. Contohnya dengan menggunakan dana tersebut untuk buyback saham atau dengan membayarkan dividen.
Mengenai penguatan regulasi terkait realisasi dana IPO, pihak OJK dan BEI belum memberikan tanggapan. Inarno hanya menegaskan bahwa OJK terus melakukan pengawasan. "Kami selalu awasi use of proceed dana IPO," kata Inarno.
Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan dana IPO idealnya digunakan sesuai dengan prospektus. Sebab, asumsi dalam prospektus menjadi acuan investor ketika membeli saham emiten, khususnya saat penawaran perdana.
Emiten memang bisa mengubah penggunaan dana IPO untuk menyesuaikan dengan perkembangan ekonomi atau prospek dan strategi bisnisnya. Hanya saja, Wawan mengingatkan realisasi penggunaan dana oleh emiten akan mempengaruhi kepercayaan dan minat investor terhadap sahamnya.
"Investor non-pengendali memang tidak memiliki kuasa untuk menentukan arah emiten, yang dilakukan umumnya melakukan transaksi. Bila memang emiten dipercaya, harga akan naik. Sebaliknya bila perubahan ini tidak sesuai, harga cenderung turun," terang Wawan.
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menambahkan, penyerapan dana IPO memang tergantung dari strategi masing-masing emiten. Namun, serapan dana IPO bisa memberikan pengaruh atau sentimen terhadap minat pelaku pasar terhadap saham emiten.
"Selama hanya menjadi dana yang diam saja, enggak ada pengaruh apa-apa terhadap harga saham maupun minat pasar. Tanpa ada rencana penggunaan, ya nggak akan jadi sentimen atau prospek apa-apa," kata William.
Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengamini, rencana penggunaan dana adalah salah satu faktor yang membawa ketertarikan investor saat membeli saham IPO. Penggunaan dana akan terkait dengan prospek kinerja dan pengembangan bisnis emiten ke depan.
Prospek dan kinerja bisnis tersebut kemudian akan berkorelasi positif terhadap performa saham emiten. "Penyerapan dana memang bisa disesuaikan. Namun jika emiten gagal, maka akan berdampak pada menurunnya kepercayaan publik," tandas Audi.
Menilik Realisasi Sisa Dana IPO Sejumlah Emiten Hingga Pertengahan Tahun 2024
Sejumlah emiten merilis laporan realisasi dana dari hasil initial public offering (IPO). [690] url asal
#pt-bukalapak-com-buka #pt-trimegah-bangun-persada-tbk #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #penyerapan-dana-ipo #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendas
(Kontan-Investasi) 15/07/24 21:14
v/10883142/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten merilis laporan realisasi dana dari hasil initial public offering (IPO). Beberapa di antaranya masih memiliki sisa dana IPO yang cukup besar.
PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) misalnya. BUKA masih menyisakan dana hasil penawaran umum saham perdana Rp 11,49 triliun per Juni 2024.
Jadi, sisa dana IPO BUKA hingga akhir Juni 2024 sebesar Rp 9,82 triliun. Sebagai catatan, pada 6 Agustus 2021, Bukalapak mengoleksi dana IPO bersih Rp 21,32 triliun.
Per 30 Juni 2024, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menggunakan dana IPO sebesar Rp 7,95 triliun. Jadi, sisa dana IPO NCKL sebesar Rp 1,75 triliun.
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) juga masih memiliki sisa dana hasil penawaran umum Rp 2,81 triliun per Juni 2024.
Sementara, itu per 30 Juni 2024, PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ) telah merealisasikan dana IPO sebanyak Rp 36,9 miliar. Sehingga, sisa dana IPO NAYZ sebanyak Rp 11,2 miliar.
Di sisi lain, ada sejumlah emiten yang per 30 Juni 2024 kemarin sudah berhasil menyerap seluruh dana IPO mereka.
Misalnya, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang per 30 Juni 2024 sudah berhasil menyerap seluruh dana IPO yang sebesar Rp 3,08 triliun.
Lalu, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang per Juni 2024 sudah berhasil menyerap seluruh dana hasil penawaran umum yang sebesar Rp 10,47 triliun.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas melihat, daya serap dana IPO pasti akan berbeda-beda tiap emiten. Hal ini bergantung pada tingkat urgensi dan strategi perusahaan.
“Selain itu, serapan dana IPO juga menyesuaikan kondisi ekonomi serta masih melihat peluang bisnis ke depannya,” ujarnya kepada Kontan, Senin (15/7).
Menurut Sukarno, prospek kinerja para emiten tersebut juga akan bergantung pada strategi mereka dalam memaksimalkan penggunaan dana IPO.
Namun, emiten dengan penyerapan dana IPO yang tinggi juga tidak selalu berkinerja lebih baik dibandingkan dengan yang penyerapannya rendah,
“Ini karena tergantung faktor yang mempengaruhi kinerja mereka, seperti kondisi ekonomi, persaingan, inovasi, dan efisiensi,” paparnya.
Sukarno pun masih merekomendasikan wait and see untuk para emiten di atas.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat, sisa dana IPO yang sangat besar kemungkinan tidak akan terserap seluruhnya di tahun ini. Sehingga, sentimennya kemungkinan tidak akan baik untuk meningkatkan kinerja pada emiten.
“Jika dalam prospektus sudah dituliskan tujuan penggunaan dana IPO tersebut untuk apa dan kapan akan digunakan, para emiten tentu bisa dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya kepada Kontan, Senin (15/7).
Budi melihat, tidak ada jaminan bahwa emiten yang penyerapan dana IPO-nya tinggi akan memiliki kinerja yang lebih bagus. Bisa saja ternyata investasi yang dilakukan emiten dengan dana itu ternyata tidak memberikan hasil sesuai yang diharapkan.
“Contohnya, BUKA yang tahun lalu menggunakannya untuk tujuan investasi di bank digital yang ternyata justru memberikan kerugian, bukan keuntungan,” ungkapnya.
Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee melihat, penggunaan dana IPO akan bergantung pada kondisi sektor dan masing-masing perusahaan.
“Jika ada peluang investasi dan kondisi sektornya bagus, maka emiten dapat menggunakan semua dana IPO. Kinerja emiten dan harga sahamnya juga bergantung pada kinerja sektor emiten,” ujarnya kepada Kontan, Senin (15/7).
Hans melihat, kinerja sektor teknologi secara umum masih jelek. Hal ini membuat dana IPO emiten teknologi belum terserap dengan maksimal.
“Secara umum, kinerja sektor teknologi masih jelek. Properti juga, karena ada di era suku bunga tinggi. Di luar itu masih relatif membaik,” ungkapnya.
Director Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada mengatakan, penggunaan dana IPO seharusnya memang untuk menopang peningkatan kinerja.
Di sisi lain, kinerja industri masing-masing emiten juga harus bisa dilihat apakah memang sedang baik atau tidak.
“Sebab, bisa juga mereka melakukan perubahan penggunaan dana IPO melalui mekanisme persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS) jika dirasa ada hal-hal yang lebih penting dari tujuan semula penggunaan dana IPO tersebut,” ujarnya kepada Kontan, Senin (15/7).
Reza pun merekomendasikan beli untuk BUKA, AMMN, dan NCKL dengan target harga masing-masing Rp 140 per saham, Rp 13.450 per saham, dan Rp 1.025 per saham.
“GOTO masih not rated. Seharusnya, pergerakan GOTO bisa lebih baik dengan sejumlah sentimen positif yang mulai ada. Namun, ini tetap tergantung dari pelaku pasar apakah ada yang mau melakukan transaksi atau tidak,” paparnya.