JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki menilai teknologi di Indonesia sudah mampu untuk memproduksi susu ikan dengan harga yang tidak terlalu mahal.
"Secara teknologi di dalam negeri sudah mampu membuatnya dengan biaya yang tidak terlalu mahal," ucap Teten saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (10/9/2024).
Kemenkop bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sudah melakukan pembinaan kepada pabrik yang memproduksi susu ikan.
Teten mengatakan, pabrik tersebut tinggal meningkatkan produktivitasnya saja.
Dengan stok ikan yang melimpah, Teten yakin pabrik-pabrik di Indonesia bisa memproduksi susu ikan dengan jumlah yang banyak setiap harinya.
"Sementara kita punya potensi ikan laut yang sangat besar. Susu ikan diproduksi dari ekstrak atau hidrolisat protein ikan, yang diolah dari ikan-ikan murah yang tersedia melimpah," terang Teten.
Stok susu ikan yang melimpah juga berpotensi untuk mengurangi jumlah susu sapi impor dari luar negeri.
Pasalnya, kata Teten, kebutuhan susu sapi nasional mencapai 80 persen. Di sisi lain, produksi susu sapi di Indonesia tidak bisa memenuhinya.
Hal itu disebabkan karena rata-rata satu ekor sapi di Indonesia hanya mampu menghasilkan 15 liter susu per hari.
Sedangkan sapi di luar negeri rata-rata bisa memproduksi susu sebanyak 36 liter per hari.
Rendahnya hasil perahan susu sapi disebabkan karena di Indonesia keterbatasan lahan untuk sumber pakan hijau.
Selain bisa diproduksi banyak, susu ikan juga dinilai memiliki gizi yang sama seperti susu sapi.
"Kandungan gizi susu ikan sama dengan susu sapi. Kelebihannya tidak ada maslah dengan alergi seperti susu sapi untuk sebagian orang indonesia," ucap Teten.
Untuk diketahui, susu ikan ramai dibicarakan usai adanya wacana akan digunakan di program makan bergizi gratis (MBG).
MBG merupakan program yang diusung oleh presiden terpilih Prabowo Subianto bersama wakilnya Gibran Rakabuming Raka.
MBG sendiri untuk anak-anak sekolah agar kecukupan gizi dan terhindar dari stunting.
Selain makanan sehat, Prabowo dan Gibran juga ingin melengkapinya dengan susu gratis.
Namun, karena produksi susu sapi di Indonesia rendah, di sisi lain banyak anak yang alergi susu sapi maka terdengar lah wacana penggunaan susu ikan sebagai alternatif.