#30 tag 24jam
Sektor Pertanian RI Disebut Kian Menjanjikan, Ini Buktinya
Para petani binaan KTNA merasakan peran pemerintah dalam melakukan transformasi terhadap sektor pertanian. [1,158] url asal
#pertanian #kementan #embung-pertanian #sensus-pertanian-2023 #indonesia #prabowo-subianto #modernisasi-pertanian #petani-binaan-ktna #pengembangan-irigasi #jembatan-usaha-tani #sl-penerapan-teknologi-climate
(detikFinance - Ekonomi dan Bisnis) 08/10/24 18:01
v/16160914/
Jakarta - Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Yadi Sofyan Noor mengatakan masa depan sektor pertanian sangat menjanjikan. Menurutnya, Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman sukses melakukan transformasi besar-besaran untuk mengangkat sektor pertanian sebagai sektor strategis nasional.
Yadi mengungkapkan para petani binaan KTNA merasakan peran pemerintah dalam melakukan transformasi terhadap sektor pertanian. Bahkan, petani secara umum menilai pemerintah telah memberikan bantuan yang berkelanjutan kepada petani.
"Bagi petani, kehadiran pemerintah sangat nyata saat ini," ujar Yadi dalam keterangan tertulis, Selasa (8/10/2024).
Ia menjelaskan kebijakan pemerintah yang berpihak kepada petani tampak dari kenaikan signifikan atas Nilai Tukar Petani (NTP). Terbaru, NTP September 2024 mencapai 120,30, meningkat pesat 17,53 % bila dibandingkan dengan 10 tahun lalu ketika September 2014 NTP mencapai 102,36. Kenaikan indeks ini menjadi indikator kesejahteraan petani di Indonesia yang terus meningkat dengan sangat baik.
Yadi mengatakan sejak awal kepemimpinan Mentan Amran memberikan perhatian besar untuk mentransformasi pertanian dari paradigma tradisional ke modern. Kementan memberikan berbagai insentif dan bantuan berupa subsidi pupuk dan benih, bantuan alat dan mesin pertanian, serta perbaikan prasarana pertanian, seperti pengembangan jalan usaha tani, rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan embung dan long storage, maupun yang terkini bantuan pompa dan irigasi perpompaan untuk mengatasi dampak el nino.
"Selama kepemimpinan Mentan Amran, petani mendapatkan bantuan alat dan mesin pertanian, seperti traktor, rice transplanter, cultivator, hingga hand sprayer. Bantuan-bantuan tersebut telah meningkatkan efisiensi petani dalam produksi sekaligus menjadi komponen penting modernisasi pertanian," ungkapnya.
Dalam kurun waktu 2014-2023, Kementan juga telah melakukan rehabilitasi jaringan irigasi seluas 4.321.918 hektare, pengembangan embung pertanian sebanyak 2.502 unit, pengembangan irigasi perpompaan 3.716 unit, dan pengembangan irigasi perpipaan 606 unit.
Kementan pun memberikan bantuan kepada petani berupa traktor roda 2 sebanyak 170.954 unit, traktor roda 4 sebanyak 14.884 unit, pompa air 131.322 unit, rice transplanter 21.033 unit, cultivator 24.488 unit, hand sprayer 197.221 unit, dan lain sebagainya.
Yadi menambahkan keterlibatan anak muda dalam pertanian saat ini juga terbilang besar. Berdasarkan hasil sensus pertanian 2023, tercatat ada 16,78 juta orang petani milenial. Adapun petani milenial yang berumur lebih dari 39 tahun dan menggunakan teknologi digital sebanyak 10,59 juta orang (37,58%) dan petani milenial 19 - 39 tahun yang menggunakan teknologi digital sebanyak 2,6 juta orang.
Ia menilai tingginya utilisasi teknologi digital oleh para petani milenial merupakan potensi yang bisa terus digarap dan dikembangkan. Hal ini sejalan dengan program pemerintah yang ingin mengubah paradigma pertanian dari tradisional menjadi modern.
"Karena itu saya melihat masa depan pertanian Indonesia sangat menjanjikan selama kita bisa terus mengembangkan potensi yang ada dan pendampingan pemerintah terhadap petani dilakukan secara intensif," terangnya.
Kementan pun menggunakan berbagai instrumen untuk mendekatkan petani kepada teknologi, seperti kegiatan pengawalan dan pendampingan serta diseminasi teknologi pertanian oleh penyuluh pertanian yang difasilitasi Biaya Operasional Penyuluh Pertanian (BOP), kegiatan Percontohan Penerapan Teknologi Pertanian melalui Metode Sekolah Lapang Tematik Pertanian Organik, serta Sekolah Lapang (SL) Penerapan Teknologi Climate Smart Agriculture (CSA).
Ia mengingatkan pekerjaan pemerintah dalam membangun pertanian tidak bisa dipandang dari satu sisi. Sebab perlu kolaborasi semua pihak.
Selain itu, kebijakan kementerian lembaga lain juga harus linier dengan kebijakan makro pangan nasional. Dia mencontohkan salah satu yang patut diapresiasi adalah kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi lahan pertanian yang masif dilakukan.
Yadi menyebut persoalan lahan memang menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintah di sektor pertanian. Alih fungsi lahan pertanian menjadi sesuatu yang sulit dibendung, padahal kebutuhan masyarakat akan pangan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,25% per tahun.
"Keduanya berjalan sesuai kebijakan. Kalau kita lihat optimasi lahan rawa di berbagai daerah berjalan dengan baik. Begitu juga dengan persiapan cetak sawah di berbagai daerah yang disambut baik masyarakat dan petani," katanya.
Menurut Yadi, saat ini pemerintah berupaya ketat menahan laju konversi lahan pertanian. Mengacu pada Keputusan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional RI nomor 446.1/SK-PG.03.03/V/2024, disebutkan luas lahan baku sawah nasional tahun 2024 mencapai 7.384.341 hektare.
Sementara berdasarkan data kementerian/lembaga yang sama, luas lahan baku sawah nasional tahun 2019 mencapai 7.463.948 hektare, seperti yang tertera pada Keputusan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional RI nomor 686/SK-PG.03.03/XII/2019. Dalam kurun waktu lima tahun, penyusutan lahan sawah eksisting adalah 79.607 hektare.
"Capaian yang luar biasa karena banyak pihak yang memperkirakan bahwa alih fungsi lahan bisa mencapai 500 ribu hektare selama lima tahun terakhir. Faktanya tidak demikian masif seperti pengamatan banyak pihak," tambahnya.
Selanjutnya, kata Yadi, kebijakan membangun klaster pertanian modern perlahan tapi pasti mulai membetot mata generasi muda untuk kembali bertani. Mereka berbondong-bondong turun ke sawah melakukan akselerasi modernisasi sekaligus menjajal berbagai kecanggihan teknologi.
"Di Kalimantan Tengah mahasiswa dan anak muda turun langsung menggarap pertanian modern. Mereka memainkan traktor, drone untuk penebar benih dan pupuk, lalu menjajal remote control yang bisa melakukan produksi secara cepat dan tepat. Anak muda tidak akan turun ke pertanian saat ini bila modernisasi tidak muncul," katanya.
Sementara itu, program optimasi lahan rawa pemerintah telah berhasil menggarap 40.000 hektare di Merauke dari 6 wilayah distrik. Detail optimasi ini dilakukan di Distrik Tanah Miring seluas 10.540 Ha, Distrik Kurik seluas 10.674 Ha, Distrik Semangga seluas 6.000 Ha, Distrik Malindo seluas 6.629, Distrik Merauke seluas 1.609, dan Distrik Jagebob seluas 4.549 Ha, dengan dukungan pengerjaan konstruksi jaringan irigasi, jembatan usaha tani dan pompa air. Untuk jaringan irigasi terealisasi 732.716 meter (100%), jembatan usaha tani terealisasi 178 unit (100%) dan pompa air 49 unit (100%).
Pada kesempatan terpisah, Ekonom Senior Indef, Tauhid Ahmad mengapresiasi Presiden terpilih Prabowo Subianto yang telah menempatkan sektor pertanian sebagai prioritas pemerintahannya kelak.
"Pada Asta Cita yang telah disusun oleh tim presiden terpilih, kebijakan pertanian ditempatkan sebagai prioritas," ungkap Tauhid.
Menurut Tauhid, ada 3 agenda yang akan menjadi program prioritas di sektor pertanian. Pertama menargetkan capaian swasembada pangan, energi, dan air. Kedua, menjamin ketersediaan pupuk, benih, dan pestisida langsung ke petani. Selain itu, ada juga program memberi makan siang dan susu gratis di sekolah dan pesantren serta bantuan gizi untuk anak balita dan ibu hamil.
(prf/ega)
Pilih Bertani Organik, Poktan Fajar di Sergai Nikmati Harga Beras Premium
Poktan Fajar merupakan klaster pertanian organik yang ditetapkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumut sejak tahun 2011. [651] url asal
#poktan-fajar #sumut #beras-organik #petani-binaan #bank-indonesia
(Bisnis.Com) 05/09/24 21:12
v/14901744/
Bisnis.com, MEDAN – Kelompok Tani Fajar di Desa Pematang Setrak Kecamatan Teluk Mengkudu Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) Sumatra Utara menikmati harga istimewa dari penjualan beras organik produksi mereka.
Pegiat pertanian organik Poktan Fajar Parlan Sibarani mengatakan beras organik yang dikemas dalam merek dagang “Sri Wangi” tersebut mampu menembus angka Rp20.000 per kilogram (kg).
Harga itu jauh melampaui beras biasa kualitas super atau premium sekalipun di Sumut yang menurut laman Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) rata-rata saat ini di jual berkisar Rp15.250 per kg.
“Perlakuan organik dalam pertanian kami tentu bikin beras ini jauh lebih sehat, bebas dari bahan-bahan kimia berbahaya bagi tubuh karena seluruh proses bertaninya menggunakan bahan alami,” tutur Parlan beberapa waktu lalu.
Poktan Fajar merupakan klaster pertanian organik yang ditetapkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumut sejak tahun 2011.
Kelompok ini tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sri Karya Sergai dan merupakan satu-satunya Poktan yang aktif mengembangkan cara-cara bertani ramah lingkungan, termasuk membuat pupuk organik sendiri.
Parlan mengatakan, dari segi hasil hampir tak ada beda antara bertani organik dengan metode pertanian pada umumnya. Dia menyebut kelompoknya bisa menghasilkan rata-rata 7-8 ton per hektare padi dalam sekali panen.
“Justru cara yang organik ini bikin tanah kembali subur. Mikroba akan semakin banyak, cacing pengurai tanah juga nggak akan mati jika dibanding dengan penggunaan bahan-bahan kimia yang malah bikin tanah jenuh sampai akhirnya produksi stagnan bahkan cenderung turun,” jelasnya.
Sawah yang menghasilkan padi organik harus memenuhi sejumlah persyaratan teknis dan serangkaian prosedur. Parlan menyebut semua jenis bibit bisa menghasilkan beras organik selama diberi perlakuan yang semestinya.
Sebelum ditanam ke sawah atau lahan yang lebih luas, lanjutnya, benih akan terlebih dahulu dikarantina di pot-pot kecil. Butuh waktu sekitar 2 tahun dengan perlakuan terukur sampai hasil uji kadar menunjukkan benih layak disertifikasi organik.
“Kalau nggak [dibudidayakan dulu], kami juga nggak berani tanam karena khawatir masih ada residu [bahan kimia] yang tersisa di dalam bulir berasnya,” tambah pria yang sudah bertani sejak tahun 2021 ini.
Beternak sapi menjadi jalan yang dipilih Parlan untuk mendukung pertanian organik yang digalakkannya. Dengan beternak, Parlan mampu menyediakan bahan baku pupuk organiknya sendiri.
“Saya selalu ingat pesan mbah saya agar sekaligus beternak kalau bertani. Supaya, kotoran ternak dimanfaatkan untuk pupuk. Sedangkan jerami dan dedak bekas penggilingan bisa untuk makan ternak. Urin sapi juga bisa jadi penyubur tanaman sekaligus pengendali hama,” jelas lulusan Fakultas Hukum dari salah satu universitas di Medan ini.
Sementara itu, Ketua Poktan Fajar, Wagimin mengungkapkan bahwa total luas lahan milik Gapoktan Sri Karya mencapai 262 Ha. Sebanyak 23 Ha diantaranya ialah milik anggota Poktan Fajar. Namun, baru 19 Ha lahan yang bisa dikembangkan poktan menjadi lahan pertanian organik.
“Kalau total lahan Poktan Fajar sebagai klaster organik itu sekitar 23 hektare. Jadi masih ada 5 hektare lahan lagi yang perlu dikembangkan jadi sawah organik,” ujar Wagimin.
Wagimin menyebut keorganikan beras produksi Poktan Fajar telah melalui penilaian dan pengujian dari Sucofindo.
Poktan Fajar kini dikenal sebagai pionir pertanian organik di Sumatra Utara. Pertemuan dengan KPw Bank Indonesia Sumatra Utara pada tahun 2009 hingga menjadi klaster pertanian organik BI pada tahun 2013 silam semakin membuka jalan Poktan Fajar menularkan semangat bertani secara organik ke seluruh Indonesia.
Parlan Sibarani mengatakan, Bank Indonesia tak hanya mengukuhkan Poktan Fajar sebagai klaster pertanian organik, namun juga membantu sejumlah alat dan mesin pertanian hingga balai pertemuan bagi Gapoktan Sri Karya.
“Kalau saya pribadi lebih meminta didatangkan tenaga-tenaga ahli organik untuk kasih pelatihan ke petani,” ujar Parlan.
Saat ini ada 33 dari 59 petani anggota Poktan Fajar yang telah melakukan pertanian secara organik. Beras produksi mereka tak hanya dijual ke konsumen yang sebagian besar ada di Labuhanbatu Utara, tapi juga untuk konsumsi keluarga mereka sendiri.
Parlan juga menyebut masyarakat di desanya mulai ikut menerapkan pertanian yang ramah lingkungan. Dikatakannya, hampir tidak ada lagi petani yang membakar lahan usai panen.
“Justru orang mau mengangkat sampah sisa panen sekarang karena bisa untuk bikin pupuk organik,” katanya. (K68)
Hadiri Indo Agrotech 2024, Bank Sumut Kenalkan Gerakan Tanam Pisang Nias
Bank Sumut telah menggerakkan sejumlah program untuk mendorong pertumbuhan desa khususnya di Nias dengan meluncurkan Gerakan Tanam Pisang Nias (Getapin). [290] url asal
#bank-sumut #pisang-nias #petani-binaan #umkm-binaan
(Bisnis.Com - Terbaru) 22/07/24 13:52
v/11666612/
Bisnis.com, MEDAN - PT Bank Sumut turut serta memeriahkan Pameran "Indo Agrotech 2024, Expo & Forum" yang digelar di Jakarta beberapa waktu lalu.
Pada kesempatan itu, Direktur Utama PT Bank Sumut Babay Parid Wazdi yang jadi pembicara dalam salah satu sesi talkshow seputar inklusi keuangan memperkenalkan pisang Nias dan upaya yang dilakukan Bank Sumut untuk ikut mengembangkan produk pertanian khas Kabupaten Nias tersebut.
Babay mengatakan, Bank Sumut telah menggerakkan sejumlah program untuk mendorong pertumbuhan desa khususnya di Nias dengan meluncurkan Gerakan Tanam Pisang Nias (Getapin) yang merupakan bagian dari program Sumut Martabe (Mari Tingkatkan Aksi Bangun Desa).
Dia menyebut gerakan itu bertujuan memberi motivasi kepada masyarakat desa untuk menggali sektor pertanian. Apalagi di Nias terkenal dengan pisang kepok yang paling unggul.
"Pisang kepok menjadi komoditi bernilai jual tinggi yang sangat pantas untuk dikembangkan sebagai salah satu produk unggulan di Nias," kata Babay dalam keterangan tertulis, Minggu (21/7/2024).
Babay menyebut, Gerakan Tanam Pisang menjadi aksi nyata Bank Sumut untuk meningkatkan inklusi keuangan di Nias dengan meningkatkan pendapatan para petani pisang di pulau yang terletak di Barat Pulau Sumatra tersebut.
Dalam talkshow di agenda Indo Agrotech 2024, Expo & Forum tersebut Babay juga menyinggung Gerakan Ternak Ayam (Geram) yang digagas pihaknya di sektor peternakan.
"Dengan program ini diharapkan Bank Sumut dapat memotivasi dan mendorong para peternak untuk meningkatkan serta mengembangkan usaha di sektor peternakan," kata dia.
Adapun pameran industri pertanian Indo Agrotech 2024, Expo & Forum dilaksanakan pada Rabu hingga Jumat, 17-19 Juli 2024 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan Jakarta.
Rangkaian agenda tersebut antara lain terdiri dari talkshow serta bazar poduk pertanian segar dan olahan khususnya produk holtikultura oleh pelaku UMKM, kelompok tani dalam Rajutan Nutrisi Sehat dan Gelar Buah Nusantara (GBN) yang mengangkat tema Buah Nusantara untuk Anak Bangsa. (K68)
