Perusahaan pengembang pembangkit listrik sektor Energi Baru Terbarukan (EBT), PT Hero Global Investment (HGI), terus mencari sumber-sumber potensial. [336] url asal
IDXChannel – Perusahaan pengembang pembangkit listrik sektor Energi Baru Terbarukan (EBT), PT Hero Global Investment (HGI), terus mencari sumber-sumber potensial aliran air atau sungai untuk dijadikan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM). Pembangkit jenis ini menjadi pilihan karena menghasilkan biaya pokok produksi (BPP) per kWh yang kompetitif dan mampu memproduksi listrik sepanjang tahun.
“Pembangkit minihidro yang dikembangkan oleh HGI, memanfaatkan sumber daya alam berupa aliran sungai dengan skema run-off river sehingga menghasilkan energi bersih untuk peningkatan kualitas kehidupan warga yang dijangkau oleh aliran listrik yang dihasilkan,” ujar Direktur Utama PT Hero Global Investment Robin Sunyoto di Jakarta, belum lama ini.
Potensi EBT dari hidro di Indonesia berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencapai 95 Gigawatt (GW), tetapi baru dimanfaatkan sekitar 6,7 GW atau 7,1 persen. Adapun berdasarkan data Dewan Energi Nasional (DEN), per 2022, total kapasitas pembangkit EBT 12.925 MW atau 13,36 persen dari total kapasitas pembangkit.
Sementara itu, jika melihat komposisi pembangkit EBT terdiri atas air saat ini baru sebesar 7,35 persen, panas bumi sebesar 5,48 persen dan EBT lain sebesar 0,48 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pembangkit hidro masih menjadi yang terbesar dan penopang pembangkit EBT pada saat ini.
Robin menambahkan, HGI akan terus mencari lokasi-lokasi potensial aliran air atau sungai di berbagai wilayah Indonesia untuk dimanfaatkan menjadi PLTM/PLTA.
"Kata kunci bagi para IPP energi baru terbarukan yang fokus di tenaga air seperti HGI dalam pengembangan PLTM/PLTA adalah daya serap listrik (demand) dan kesiapan gardu induk serta transmisi distribusi karena umumnya PLTM/PLTA berada di rural area," tutup Robin.
Sekadar informasi, HGI melalui anak perusahaannya PT Seluma Clean Energy (SCE) saat ini mengembangkan PLTM Parmonangan-1 dan PT Bina Godang Energi (BGE) yang mengelola PLTM Parmonangan-2. Proses konstruksi PLTM Parmonangan-1 berkapasitas 9 MW mulai awal 2015 dan beroperasi secara komersial (commercial operation date/COD) pada Juli 2017. Sementara itu, konstruksi PLTM Parmonangan-2 berkapasitas 10 MW mulai awal 2019 hingga beroperasi secara komersial pada Mei 2021. (Wahyu Dwi Anggoro)
Gamma menyebut ada banyak potensi yang didapat masyarakat dari menerangi desa adat dari PLTMH itu. Salah satunya, adalah dapat meningkatkan kualitas hidup. [561] url asal
Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro dari Desa Bumi mampu melistriki 100 rumah di Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi, Jawa Barat. Founder Desa Bumi Gamma Abdurahman Thohir bersyukur hal itu memberi multiplier effect bagi masyarakat.
"Alhamdulillah listriknya itu bisa disalurkan ke kurang lebih 100 rumah, dan dampaknya itu bisa bikin mereka (warga lokal) belajar tiap malam, mereka juga ada kegiatan ekonomi seperti penggilingan kopi, bahkan sekarang ada kopi instan yang mereka buat," ujar Gamma dalam perhelatan Festival LIKE 2 bertajuk 'Pemuda dan Tantangan Menciptakan Environmental Citizenship di Indonesia', di Jakarta Convention Center, Kamis (8/8/2024).
Gamma menyebut ada banyak potensi yang didapat masyarakat dari menerangi desa adat dari PLTMH itu. Salah satunya, adalah dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat lokal.
"Jadi di sana saya baru sadar, baru lihat potensinya proyek ini apa, itu untuk membuat meningkatkan kualitas hidup pada daerah-daerah terpencil itu melalui energi terbarukan. Jadi itulah esensinya dari proyek Desa Bumi itu," jelasnya.
Diketahui, Desa Bumi telah mengimplementasikan skema yang sama di tiga desa berbeda lainnya. Tak hanya mengembangkan PLTMH, Gamma juga memasang solar panel di dua desa lainnya sebagai sumber listrik alternatif.
Adapun Desa Liyu menjadi pilihan kedua untuk menyediakan akses listrik dari sumber energi terbarukan tenaga surya. Sumber energi itu pun telah digunakan untuk aktivitas sosial dan pariwisata di Desa Liyu dan menghadirkan energi bersih bagi masyarakat Suku Dayak.
Selain itu, Desa Bumi menyasar satu desa di wilayah Kabupaten Tabalong, yaitu Desa Bangkiling Raya, Kecamatan Banua Lawas, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Di desa yang tumbuh sebagai desa pesantren, Gamma mendukung kelistrikan dengan pemasangan panel surya.
"Per hari ini, kita sudah ada di 3 titik, 2 lagi di Kalimantan di Desa Bangkiling Raya dan Desa Liyu. Kedua desa itu kita bantu dengan PLTS yang digunakan untuk kegiatan ekonomi," tuturnya.
"Mungkin jadi salah satu concern kita juga di Desa Bumi untuk balancing dan economy, karena di desa desa adat terpencil ini, income merupakan salah satu hal yang mereka butuhkan, jadi bagaimana kita buat kolaborasi yang membuahkan ekonomi bagi masyarakat lokal," pungkasnya.
Untuk diketahui, Festival LIKE 2 merupakan agenda yang merangkum akumulasi kerja-kerja dan langkah korektif bidang Lingkungan Hidup, Iklim, Kehutanan dan Energi (khususnya energi terbarukan). Adapun tema yang diambil dalam festival yang digelar pada 8-11 Agustus 2024 dI Jakarta Convention Center Hall A & B, Senayan, Jakarta ini yaitu '10 Tahun Kerja untuk Sustainabilitas'
Acara ini akan diisi oleh berbagai kegiatan diantaranya I LIKE CONCERT, I LIKE WALK (Fun Walk), Talk Show, Exhibition, Coaching Clinic, Sellers Meet Buyer, Demo Inovasi, Competition, dan KLHK Appreciation Night.