BOGOTA, investor.id – Nicolas Maduro dinyatakan menang dalam pemilihan presiden Venezuela oleh badan pemilihan umum setempat, usai meraih 51% suara. Pada akhir pekan lalu, ia mengalahkan calon presiden dari kubu oposisi, Edmundo Gonzales, yang mendapat hanya 44%.
Namun kritik muncul dari berbagai negara yang tidak menerima hasil pemilihan presiden Venezuela. Menyusul protes tersebut, Venezuela menangguhkan relasi dengan sejumlah negara Amerika Latin.
Sebelumnya, sejumlah negara enggan mengakui kemenangan Nicolas Maduro dalam pemilihan presiden Venezuela.
Ketegangan diplomatik terjadi saat pemimpin oposisi Venezuela yakni Maria Corina Machado mengatakan telah terjadi kecurangan masif dalam pemilu dan menolak mengakui hasilnya. Menurut mereka, Edmundo Gonzales yaitu calon dari kubu oposisi adalah pemenang pemilu sebenarnya dengan perolehan 70% suara.
Sebagai tanggapan, pemerintah Venezuela langsung mengumumkan penarikan semua staf diplomatik dari kedutaan besarnya di Argentina, Chile, Kosta Rika, Peru, Panama, Republik Dominika, dan Uruguay.
Otoritas Venezuela juga mendesak negara-negara yang mereka tuduh mengintervensi pemilihan presiden untuk menarik pulang dutanya masing-masing.
Adapun pemerintahan Venezuela bermusuhan dengan Amerika Serikat (AS) sejak Hugo Chavez memimpin negara itu pada 1999. Negara yang dijuluki The Land of Grace itu menuduh negara-negara tersebut mengekor kepentingan AS.
"Republik Bolivar Venezuela menolak keras intervensi dan pernyataan sekelompok pemerintahan sayap-kanan antek Washington yang secara terbuka mendukung dalil ideologi fasisme internasional," tulis pernyataan resmi pemerintah Venezuela, seperti dikutip kantor berita Turki Anadolu, Selasa (30/7/2024).
Begitu mengetahui hasil pilpres yang diumumkan otoritas Venezuela, Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Antony Blinken menyatakan pihaknya khawatir hasil pemilu tersebut tak mencerminkan kehendak rakyat.
Selain itu, pemerintah Argentina, Kosta Rika, Peru, Panama, Republik Dominika, Uruguay, Ekuador, Guatemala, dan Paraguay mendesak Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS) segera menggelar rapat darurat untuk membahas hasil pemilu di Venezuela.
Petanaha Sejak 2013
Dalam pernyataannya usai dinyatakan menang pemilu, Maduro, sang petahana sejak 2013, berjanji kemenangannya akan membawa perdamaian dan menegaskan bahwa fasisme "tak akan menang" di Venezuela.
"Suara rakyat menang hari ini, dan saya pastikan di Venezuela hanya akan ada perdamaian, perdamaian, dan perdamaian," paparnya.
Sementara itu, kubu oposisi Venezuela yang dipimpin Maria Corina Machado menyatakan menolak hasil pemilu tersebut. "Ini adalah penghinaan terhadap kebenaran," serunya.
Pihak oposisi mengeklaim hasil pemilu yang diumumkan CNE tak sesuai dengan jumlah suara yang diberikan. Mereka juga mengkritik penundaan pengumuman penghitungan suara yang terjadi selama enam jam.
"Kami mau seluruh dunia tahu bahwa kami menang di setiap bagian dan setiap negara bagian di negeri ini. Kami tahu apa yang terjadi saat ini," ungkap Machado. Pihaknya sedang mengumpulkan dan melaporkan semua informasi yang ada untuk menunjukkan hasil pemilu seharusnya yang "tak terbantahkan".
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News