#30 tag 24jam
Utusan Tiongkok Sarankan Indonesia Segera ‘Tobat’ agar Kualitas Udara Membaik
Utusan Tiongkok untuk perubahan iklim Liu Zhenmin menyarankan Indonesia untuk menggunakan lebih banyak kendaraan listrik. [500] url asal
#polusi-udara-jakarta #utusan-tiongkok #perubahan-iklim #indonesia-net-zero-summit #inzs #pengurangan-emisi #liu-zhenmin
(MedCom - Internasional) 25/08/24 07:17
v/14684388/
Jakarta: Utusan Khusus untuk Perubahan Iklim Tiongkok, Liu Zhenmin, menilai tingkat polusi udara di Indonesia, terutama di Jakarta, belum membaik. Menurutnya, setelah tujuh tahun lalu, Liu merasa polusi udara di Jakarta tak ada perubahan alias tetap buruk.
Liu pun menyarankan Indonesia segera 'tobat' agar masalah polusi udara ini dapat segera teratasi dengan baik.
“Saya rasa, setelah tujuh tahun, bagi saya, setelah kembali dari Jakarta, saya menemukan bahwa polusi udara di Jakarta sama seperti tujuh tahun lalu,” kata Liu dalam diskusi di Indonesia Net Zero Summit (INZS) 2024 di Jakarta, Sabtu, 24 Agustus 2024.
Menurutnya, perlu segera adanya perubahan. Salah satunya dengan menggalakkan penggunaan kendaraan listrik untuk mengurangi emisi karbon.
“Saya rasa pemerintah Indonesia, pemerintah daerah, sebaiknya menggunakan kesempatan ini untuk transisi apa pun. Gunakan lebih banyak mobil listrik ramah lingkungan, dorong orang untuk menggunakan lebih banyak sepeda motor listrik,” terangnya.
Belajar dari pengalaman Tiongkok, kata Liu, dalam waktu beberapa bulan hingga setahun, kualitas udara akan berubah.
“Itu akan baik untuk kota-kota, menurut saya. Jadi, gabungkan pengendalian polusi dengan pengurangan emisi di kota-kota,” ucap Liu.
Kolaborasi Indonesia-Tiongkok
Namun, kata dia, hal tersebut hanya dapat terwujud jika ada dukungan dari masyarakat, khususnya kaum muda. Meskipun agak lama, kata Liu, namun demi kualitas udara yang lebih baik di kota, ia merasa Indonesia akan mencapai banyak hal jika segera memasifkan penggunaan kendaraan listrik.
“Jadi, kita perlu dimobilisasi dengan dukungan masyarakat,” tegasnya.
Ia mengatakan, Tiongkok tahun lalu memiliki kombinasi empat kebijakan udara, seperti mengurangi pengendalian polusi, mengurangi emisi, memperluas cakupan hijau, dan memajukan pertumbuhan.
“Tiongkok dan Indonesia memiliki potensi besar untuk berkolaborasi dalam beberapa dekade mendatang, tetapi kita adalah tetangga dekat. Kita memiliki situasi yang sama untuk transisi energi,” ucap Liu.
Menurutnya, dengan berkolaborasi dalam memperluas kapasitas energi terbarukan, dapat memperluas kerja sama kedua negara dalam pembuatan banyak produk energi terbarukan.
“Jadi saya yakin jika kita memulai kerja sama ini, sudah ada beberapa kerja sama proyek yang bagus. Saya rasa Tiongkok benar-benar dapat berbagi banyak hal dengan Indonesia dan membantu Indonesia memulai proses transisi energi terbarukan,” imbuhnya.
Iklim Jahat
Liu mengagumi keputusan pemerintah Indonesia untuk target nol bersih ini sekitar tahun 2050. Meski demikian, ia menyarankan dan mengusulkan agar Indonesia benar-benar ingin memulai suatu proses, rencana nasional untuk mencapai target nol bersih ini.
“Bagi Tiongkok, kita akan mencapai puncak karbon sebelum tahun 2030. Saya rasa sebagai negara berkembang, pendekatan dua langkah ini mungkin lebih penting. Namun untuk meyakinkan pemerintah dan perusahaan kita bahwa kita harus mencapai puncak karbon terlebih dahulu, maka kita harus memulai proses netralitas karbon,” tegasnya.
“Saya pikir secara bertahap, kita harus mengurangi komponen batu bara dalam energi menjadi persentase yang sangat kecil,” pungkas Liu.
Konferensi perubahan iklim terbesar di Asia, Indonesia Net Zero Summit (INZS) digelar hari ini, Sabtu, 24 Agustus 2024. Dengan tema ‘S.O.S Neraka Bocor: Climate Avengers Assemble!’ konferensi garapan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) ini mengajak anak muda Indonesia melawan musuh bersama, yaitu “Ik-Lim Ja’Hat.”
Baca juga: Wamenlu RI Sebut Perubahan Iklim Ancaman Nyata, Bukan Seperti Cerita di Film
(WIL)
Rencana Tutup PLTU Suralaya, PLN Belum Buka Suara
Luhut ingin dorong pengembangan mobil dan sepeda motor listrik. [697] url asal
#penutupan-pltu-suralaya #pln #pltu-suralaya-sebabkan-polusi #polusi-udara-jakarta #penyebab-polusi-udara-jakarta
(Republika - Ekonomi) 24/08/24 09:00
v/14621752/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT PLN (Persero) belum mau memberikan tanggapan mengenai rencana pemerintah menutup Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya, di Cilegon, Banten. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan akan mengumumkan secara resmi terkait hal itu.
Menurut Luhut, penutupan PLTU Suralaya dapat mengurangi polusi udara di Jakarta. "(Menutup Suralaya) Penting untuk polusi udara di Jakarta. Kami sedang mengupayakan hal tersebut dan kami akan segera mengumumkannya," kata Luhut saat menghadiri kegiatan Indonesia Solar Summit 2024, di Jakarta, Rabu (21/8/2024) lalu.
Republika.co.id menghubungi PLN. Dimulai dari Vice President Komunikasi Korporat, Grahita Muhammad, dan Gregorius Adi Trianto, Executive Vice President Komunikasi Korporat & TJSL. Keduanya belum merespon apa yang ditanyakan.
PLN mengoperasikan delapan unit pembangkit listrik di kompleks pembangkit listrik Suralaya, dengan unit tertua yang telah beroperasi sejak tahun 1980-an. Pembangkit Suralaya merupakan salah satu sumber listrik utama Jakarta. Namun juga dituding sebagai penyebab tingginya polusi udara di kota berpenduduk 10 juta jiwa ini.
Dengan total kapasitas terpasang sebesar 3.400 MW, PLTU batu bara Suralaya PGU menjadi unit terbesar di Indonesia yang dimiliki PT PLN Indonesia Power. Batu bara merupakan sumber energi dominan di Indonesia.
Kelimpahan dan biayanya yang relatif rendah telah menjadikannya pilihan populer untuk pembangkit listrik. Namun, pembakaran batu bara melepaskan sejumlah besar polutan ke atmosfer.
Partikel-partikel kecil dari batu bara dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan menyebabkan masalah pernapasan. Gas-gas hasil batu bara juga berkontribusi pada hujan asam, yang dapat merusak bangunan, hutan, dan ekosistem perairan. Oksida nitrogen dari pembakaran batu bara berkontribusi pada pembentukan ozon, polutan udara yang berbahaya.
Tingginya tingkat polusi udara di Jakarta juga berdampak buruk pada kesehatan masyarakat. Penduduk lebih rentan terhadap penyakit pernapasan, seperti asma, bronkitis, dan kanker paru-paru. Anak-anak sangat rentan, karena paru-paru mereka yang sedang berkembang lebih sensitif terhadap polutan.
Menyadari konsekuensi kesehatan dan lingkungan yang serius dari polusi batu bara, pemerintah Indonesia mengambil langkah-langkah untuk mengurangi ketergantungannya pada batu bara. Langkah itu, antara lain, mendorong energi terbarukan dengan berinvestasi dalam proyek-proyek energi surya, angin, dan panas bumi untuk mendiversifikasi bauran energi negara.
Dorongan transisi energi
Sebelumnya Luhut mengatakan PLTU Suralaya menjadi salah satu penyebab polusi udara di Jakarta. Ia menerangkan saat ini indeks kualitas udara di Jakarta berada di angka 170 sampai 200. Menurutnya, keadaan demikian harus segera dicarikan solusinya. Pasalnya bisa mengakitkan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
"Kita pengen exercise, kita pengen kaji. Kalau bisa kita tutup, supaya mengurangi polusi Jakarta. Samping tadi mobil EV kita dorong dengan sepeda motor EV untuk lebih banyak area jadi seperti ganjil genap mungkin kita lagi exercise juga. Supaya itu nanti boleh motor EV dengan mobil EV secara bertahap," kata Luhut saat ditemui di acara Supply Chain & National Capacity Summit 2024 di Jakarta Convention Center, Senayan, beberapa waktu lalu.
PLTU Suralaya, kata dia, sudah beroperasi lebih dari 40 tahun. Pemerintah dan berbagai stakeholder terkait bakal mengkaji rencana suntik mati PLTU yang menjadi tulang punggung listrik di Jawa ini. Ia menegaskan itu semata-mata demi udara yang lebih bersih.
Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS) Ali Ahmudi Achyak turut berbicara. PLTU Suralaya, jelas Ali, masih menjadi tulang punggung (backbone) kelistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali). PLTU Suralaya memiliki kapasitas pembangkit sebesar 3.400 Megawatt (MW) yang terdiri dari Unit 1-7. Unit 1-4 memiliki kapasitas total sebesar 1.600 MW, dan Unit 5-7 memiliki kapasitas total sebesar 1.800 MW.
Ia melanjutkan, transisi energi ini penting dan harus dijalankan secara adil, berimbang dan berkelanjutan. Transisi energi seiring sejalan dengan upaya mewujudkan ketahanan energi nasional, termasuk sektor ketenagalistrikan.
"Bahwa, dalam jangka panjang, pemanfaatan batubara untuk listrik harus diminimalkan, itu betul dan saya setuju. Namun itu dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan negara (pemerintah, PLN dan swasta) untuk menyediakan substitusinya dan menjamin kehandalan pasukan listrik nasional. Terkait itu, saya kira co-firing biomassa di PLTU batubara menjadi salah satu opsi yang harus dioptimalkan, termasuk di PLTU Suralaya," kata Direktur Eksekutif CESS kepada Republika.co.id, belum lama ini.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebut 13 PLTU masuk daftar pensiun dini. Agar segalanya berjalan sesuai aturan, KESDM bakal meminta pendampingan Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) saat membuat roadmap-nya.
Mengenal Sick Building Syndrome Akibat Polusi Udara dan Bahayanya
Polusi udara disebut bisa masuk ke dalam ruangan sehingga berisiko menimbulkan Sick Building Syndrome. [561] url asal
#polusi-udara #polusi-udara-jakarta #sick-building-syndrome #bahaya-polusi-udara #dampak-polusi-udara
(Bisnis.Com) 10/07/24 15:57
v/10316593/
Bisnis.com, JAKARTA - Peneliti dari Universitas Indonesia menyebut paparan polusi udara di Jakarta berisiko masuk ke dalam ruangan kantor atau rumah yang menyebabkan sick building syndrome, sehingga bisa merugikan perusahaan dan kesehatan pekerja.
Kepala Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC-UI), Budi Haryanto mengatakan, polusi udara yang terbawa ke dalam ruangan berasal dari pergerakan pekerja dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Dalam perjalanan, pencemar dari emisi kendaraan dan kondisi sekitar dapat menempel di pakaian pekerja dan menyebar di dalam ruangan tertutup.
“Pekerja keluar-masuk dari rumah, naik sepeda motor, kemudian di jalan tertempel pencemar kimia dari kendaraan lain atau virus dan bakteri dari jalan, sehingga saat di kantor pencemar yang menempel di sepatu atau pakaiannya bisa menyebar,” kata Budi dalam keterangannya, Rabu (10/7/2024).
Dia menuturkan pencemar biologis atau kimiawi dapat menempel pada orang yang ada di dalam ruangan tertutup. Ada juga pencemar dari kegiatan perkantoran, seperti penggunaan mesin cetak dan fotokopi, membuat polusi udara di dalam ruangan makin parah.
Apa Itu Sick Building Syndrome?
Budi menyebut adanya sick building syndrome, yakni fenomena gedung perkantoran yang memiliki tingkat konsentrasi polusi udara yang tinggi. Kondisi ini dapat diperparah oleh ketiadaan ventilasi yang baik.
Berdasarkan situs Nafas Indonesia, sistem pendingin terpusat di perkantoran memompa udara dari luar ke dalam bangunan. Polusi udara dalam bangunan terjadi ketika sistem penyaringan kurang baik dan diperparah oleh kualitas udara perkotaan yang buruk.
Menurutnya, sick building syndrome dapat mengganggu pekerja secara langsung dalam bentuk penyakit, seperti batuk dan pusing kepala. Pekerja yang menderita penyakit ini harus beristirahat satu-dua hari setiap bulannya.
“Pekerja yang mengalami gangguan di organnya bisa dirawat di rumah sakit selama berbulan-bulan. Kondisi ini jelas akan merugikan produktivitas pekerja dan perusahaan,” ujar Budi.
Bahaya Polusi Udara
Budi mengungkapkan, sebanyak 60 persen penyakit yang diidap seseorang pada umumnya berasal dari paparan polusi udara.
Menurut Budi, dampak polusi udara terhadap kesehatan fisik maupun mental dapat dibagi menjadi dua: jangka pendek dan panjang. Dalam jangka pendek, penyakit pada orang yang terpapar polusi udara berupa batuk, flu, dan radang tenggorokan.
Penyakit jangka panjang berisiko lebih kronis. Budi menjabarkan, pencemar kimia dapat tersimpan di dalam paru-paru dan organ lain, seperti otak, ginjal, dan jantung melalui saluran peredaran darah. Timbunan pencemar dapat menyebabkan gangguan jantung, ginjal, kanker paru-paru, bahkan stroke.
Selain penyakit fisik, polusi udara juga salah satu pemicu penyakit mental. Timbunan pencemar di otak dapat memicu gangguan kecemasan, demensia, dan depresi.
Sebelumnya, publikasi jurnal ilmiah PubMed Central melaporkan polusi udara berkaitan dengan berkurangnya tingkat kebahagiaan dan meningkatkan tingkat gejala depresi. Sementara, jurnal Environmental Pollution mencatat kaitan antara paparan jangka panjang pada particulate matter (PM) 2,5 terhadap peningkatan risiko depresi.
Adapun, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves) Rachmat Kaimuddin mengatakan, sektor transportasi menjadi salah satu penyebab polusi udara di Jabodetabek.
“Menkomarves Luhut Binsar Pandjaitan telah menyampaikan beberapa inisiatif, seperti perluasan rute baru armada transportasi publik sesuai Rencana Induk Transportasi Jabodetabek,” ujarnya dalam siaran pers.
Rachmat juga menyampaikan adanya rencana penyelesaian revisi Perpres 191/2014 agar penerima BBM bersubsidi lebih tepat sasaran, sembari mendorong penggunaan lebih banyak lagi truk, bus, mobil, serta motor listrik.
Dia menambahkan, Menkomarves juga meminta percepatan perizinan dan pengadaan fasilitas pembakaran atau incinerator berkapasitas kecil untuk menanggulangi polusi dari pembakaran sampah.
Dalam rapat terbatas perihal perbaikan kualitas udara, Menkomarves menginstruksikan agar industri segera menerapkan teknologi pengurang emisi. Misalnya, memasang scrubber pada PLTU di sektor industri.