#30 tag 24jam
Update IPO Adaro Andalan: Dampak ke Kinerja Hingga Harga Saham ADRO
Divestasi AAI menyebabkan penurunan pendapatan dan laba bersih usaha konsolidasian ADRO. [732] url asal
#pt-adaro-energy-tbk #pt-adaro-minerals-indonesia-tbk-admr #pt-adaro-energi-indonesia-tbk #adaro-andalan-indonesia #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #emiten
(Kontan-Investasi) 17/10/24 15:46
v/16605453/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) memperbarui informasi mengenai rencana penjualan anak usahanya, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI). Keterbukaan informasi kali ini memuat lebih rinci mengenai dampak pelepasan AAI kepada kinerja ADRO, serta harga per saham AAI dalam proses penjualan.
Keterbukaan informasi ini ditandatangani oleh Wakil Presiden Direktur ADRO Christian Ariano Rachmat dan Direktur ADRO Michael William P. Soeryadjaya. Dalam keterbukaan ini ini, Manajemen ADRO membeberkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024 untuk memberikan gambaran terkait dampak dari pelepasan AAI.
Persentase pendapatan dan laba bersih AAI masing-masing mencapai 89,4% dan 104,8% terhadap pendapatan dan laba bersih ADRO secara konsolidasi. Berdasarkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024, divestasi AAI menyebabkan penurunan pendapatan dan laba bersih usaha konsolidasian ADRO, masing-masing sebesar 65% dan 64%.
Gambaran dalam proforma ini, pendapatan usaha konsolidasi ADRO per 30 Juni 2024 menurun 65% dari US$ 2,97 miliar menjadi US$ 1,05 miliar. Sedangkan laba periode berjalan konsolidasian menurun 64% dari US$ 880,18 juta menjadi US$ 321,01 juta. Dengan kata lain, ADRO secara terkonsolidasi masih memiliki laba bersih dan pendapatan sekitar 35% dari pendapatan sebelum divestasi AAI.
"Perseroan secara terkonsolidasi masih tetap memiliki investasi di bidang pertambangan batubara metalurgi dan batuan, pengolahan mineral, energi, utilitas dan infrastruktur pendukung yang ditopang oleh sumber daya dan potensi yang dimilikinya," ungkap Manajemen ADRO dalam keterbukaan informasi Rabu (16/10).
Berdasarkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024, ketika AAI dilepas, ADRO secara konsolidasi masih memiliki total aset, pendapatan dan laba bersih masing-masing sebesar US$ 8,47 miliar, US$ 1,05 miliar dan US$ 321,01 juta, yang berasal dari bisnis ADRO di luar AAI.
"Ke depannya, ADRO akan lebih mengembangkan proyek-proyek yang ada saat ini dalam bidang energi yang mendukung program ekonomi hijau pemerintah Indonesia. Dengan demikian, bilamana Rencana Transaksi dilaksanakan, kelangsungan usaha Adaro Energy tidak akan terganggu," sebut Manajemen ADRO.
Sebagai informasi, total cadangan batubara termal yang dimiliki oleh ADRO melalui anak perusahaan yang dikonsolidasi dalam grup AAI mencapai 917,4 juta ton. Dengan divestasi AAI, ADRO tidak lagi memiliki cadangan batubara termal.
Emiten milik taipan Garibaldi "Boy" Thohir ini tetap masih memiliki cadangan batubara metalurgi sebagai bahan baku utama pembuatan baja, yang dimiliki melalui anak perusahaan yang dikonsolidasi yaitu grup PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) sebesar 173 juta ton.
Rencana Transaksi
AAI merupakan perusahaan yang 99,9999% dimiliki oleh ADRO. Dalam transaksi ini, ADRO menawarkan sebanyak-banyaknya seluruh saham yang dimiliki pada AAI, yakni sejumlah 7.008.202.240 saham. Transaksi ini akan dilakukan melalui Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS).
PUPS akan dilaksanakan secara bersamaan atau berkesinambungan dengan proses penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO) AAI. Segera setelah IPO tersebut, kepemilikan saham ADRO pada AAI diperkirakan akan terdilusi menjadi sebesar 90% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor AAI.
Harga penawaran PUPS adalah sebesar Volume Weighted Average Price (Harga Rata-Rata Tertimbang) yang terbentuk setelah penutupan perdagangan di hari pencatatan saham AAI di bursa, dengan ketentuan bahwa harga penawaran final:
(1) serendah-rendahnya akan menggunakan harga pasar wajar saham AAI berdasarkan hasil penilaian dari Penilai Independen; dan
(2) setinggi-tingginya sebesar 107,5% dari hasil penilaian dari Penilai Independen, sesuai dengan batasan kewajaran yang diatur POJK 35/2020.
Sehingga, nilai rencana transaksi secara keseluruhan serendah-rendahnya sebesar US$ 2,44 miliar atau setara dengan 31,8% dari total ekuitas ADRO. Sedangkan setinggi-tingginya adalah sebesar US$ 2,62 miliar, yang setara dengan 34,1% dari total ekuitas ADRO.
Dengan memperhitungkan jumlah saham setelah pemecahan nilai nominal saham AAI sebanyak 7.008.202.240 saham, maka harga per saham adalah sebesar US$ 0,35. Hal ini terungkap dalam kesimpulan nilai pada ringkasan laporan objek rencana transaksi.
ADRO akan menawarkan saham AAI kepada seluruh pemegang saham ADRO yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada tanggal yang saat ini direncanakan jatuh pada 27 November 2024, atau tanggal lainnya yang akan diumumkan pada Prospektus PUPS.
"Pembeli adalah para pemegang saham Perseroan yang terdaftar pada Tanggal Pencatatan dan memilih untuk membeli saham AAI dari Perseroan," ungkap Manajemen ADRO.
Dalam melaksanakan aksi korporasi ini, ADRO akan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 18 Oktober 2024. Dari sisi pergerakan saham, hingga pukul 15:29 WIB perdagangan Kamis (17/10), harga ADRO menguat 1,04% ke level Rp 3.890 per saham. Secara year to date, harga saham ADRO telah melonjak 63,45%.
Adaro Energy (ADRO) Menanti Keputusan MIP Batubara
Kementerian ESDM menargetkan implementasi Mitra Instansi Pengelola (MIP) batubara pada tahun ini. [218] url asal
#pt-adaro-energy-tbk #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #energi
(Kontan-Industri) 20/09/24 20:37
v/15302942/
Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten tambang PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) menanti keputusan pemerintah terkait Mitra Instansi Pengelola (MIP) batubara.
Head of Corporate Communication PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), Febriati Nadira mengatakan, sebagai perusahaan yang senantiasa menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik, Adaro selalu taat dan siap mengikuti peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang ditetapkan.
“Saat ini kami masih menunggu keputusan pemerintah terkait MIP,” kata Nadira kepada Kontan.co.id, Jumat (20/9).
Nadira mengungkapkan, para pelaku industri menginginkan diterapkannya harga yang kompetitif demi konservasi cadangan batu bara dan ketahanan energi nasional.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan implementasi MIP batubara pada tahun ini.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Ing Tri Winarno mengatakan, saat ini proses untuk rencana implementasi MIP Batubara masih berjalan.
"Sedikit lagi, satu Kementerian/Lembaga yang belum paraf," kata Tri Winarno di Kementerian ESDM, Jumat (20/9).
Tri Winarno menjelaskan, saat ini hampir sudah tidak ada kendala dalam rencana implementasi MIP Batubara ini. Pihaknya pun mengharapkan regulasi ini bisa segera dijalankan.
"Mudah-mudahan tahun ini," jelas Tri.
Rencana pemerintah dalam menerapkan skema MIP Batubara telah berlangsung untuk waktu yang lama. Skema ini pertama kali diusulkan pada awal 2022 silam untuk mengamankan pasokan batubara domestik. Dua tahun berselang, implementasinya tak kunjung terealisasi.
Adaro (ADRO) Masuk TIME World's Best Companies 2024, Simak Prospek Bisnisnya
Transformasi Adaro telah mempertahankan pertumbuhan berkelanjutan di tengah berbagai tantangan. [544] url asal
#pt-adaro-energy-tbk #adaro-energy-indonesia #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #emiten
(Kontan-Investasi) 17/09/24 08:44
v/15122853/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) masuk dalam daftar “TIME World’s Best Companies 2024” sebagai salah satu perusahaan terbaik global. ADRO menempati urutan ke-3 dari 5 perusahaan di Indonesia yang masuk daftar bergengsi ini.
Daftar yang diterbitkan oleh TIME bekerja sama dengan Statista ini memberikan penilaian atas pencapaian dalam tiga aspek. Meliputi kepuasan karyawan, pertumbuhan pendapatan, dan keberlanjutan.
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro, Garibaldi Thohir menyampaikan transformasi Adaro telah mempertahankan pertumbuhan berkelanjutan di tengah berbagai tantangan.
Sembari terus melaksanakan komitmen terhadap penerapan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau Environmental, Social and Governance (ESG) maupun mendukung perkembangan karyawan.
Pada tahun 2022, ADRO bertransformasi menjadi tiga pilar baru: Adaro Energy, Adaro Minerals, dan Adaro Green.
"Kami merasa bangga dan bersyukur atas pengakuan yang diberikan sebagai salah satu perusahaan yang masuk daftar TIME World’s Best Companies 2024. Kami terus memperkuat komitmen terhadap ESG serta memberikan ruang bagi karyawan untuk mengembangkan potensi terbaiknya seiring pertumbuhan perusahaan," ungkap Boy Thohir, sapaan akrab Garibaldi Thohir dalam rilis yang diterima Kontan.co.id, Senin (16/9).
“TIME World’s Best Companies 2024” mencakup perusahaan-perusahaan global dengan minimum pendapatan sebesar US$ 100 juta pada tahun fiskal 2023. Dalam penilaian ini, Statista melakukan evaluasi kepuasan karyawan melalui survei global secara anonim terhadap 170.000 karyawan dari 50 negara, diikuti dengan analisis pertumbuhan pendapatan selama tiga tahun terakhir.
Perusahaan yang unggul dalam kepuasan karyawan dan pertumbuhan pendapatan kemudian dinilai berdasarkan KPI (Key Performance Indicator) di bidang ESG.
"Perusahaan-perusahaan besar ini telah memberikan dampak sosial yang positif, serta menghasilkan keuntungan dan tetap menjaga kesejahteraan karyawan mereka; kenyataan bahwa mereka melakukannya adalah yang membedakan dari perusahaan lain," kata Alana Semuels Economic Correspondent Majalah TIME.
ADRO merupakan satu-satunya perusahaan di sektor energi dan infrastruktur di Indonesia yang masuk dalam daftar ini. Pada tahun 2023, selain mencatatkan pendapatan yang cukup memuaskan, Adaro Group membayarkan sekitar total US$3 miliar termasuk kewajiban royalti dan pajak dari tahun sebelumnya.
Prospek ADRO ke depan
Aksi terbaru ADRO telah diumumkan pada pekan lalu, yang berencana melepas kepemilikannya di PT Adaro Andalan Indonesia (AAI), dengan estimasi nilai transaksi sekitar US$ 2,45 miliar. Mekanisme transaksi akan dilakukan melalui Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS) berdasarkan POJK 76/2017.
Adapun, AAI merupakan pilar ADRO dalam pertambangan batubara termal. Manajemen ADRO menegaskan rencana strategis melakukan ekspansi dan diversifikasi pada pilar non pertambangan batubara.
ADRO telah menyampaikan komitmen untuk memiliki sekitar 50% total pendapatan dari bisnis non-batubara termal pada tahun 2030. Target ini akan dicapai dengan mengembangkan bisnis di bidang-bidang yang mendukung ekosistem hijau.
Guna mendukung komitmen tersebut, ADRO berencana untuk memisahkan bisnis pilar pertambangan dan beberapa bisnis pendukung di bawah AAI dengan pilar bisnis Adaro Minerals dan Adaro Green. Rencana transaksi ini diharapkan membantu AAI dan pilar bisnis non batubara termal untuk meningkatkan fokus pengembangan dan kinerja.
Pemisahan ini juga akan membantu bisnis hijau ADRO untuk mendapatkan akses terhadap sumber pembiayaan yang lebih banyak, biaya pendanaan yang lebih kompetitif, memberikan akses lebih baik pada proyek-proyek ramah lingkungan dengan partner bisnis potensial peringkat atas.
Hingga perdagangan pekan lalu, Jumat (13/9), saham ADRO berada di level harga Rp 3.670 per saham. Secara year to date, harga saham ADRO telah mengakumulasi penguatan 54,20%.
Spin off Bisnis Batubara, Cermati Rekomendasi Saham & Proyeksi Kinerja Adaro (ADRO)
PT Adaro Energy Indonesia Tbk melepas anak usahanya PT Adaro Andalan Indonesia (AAI). [1,252] url asal
#batubara #pt-adaro-energy-tbk #rekomendasi-saham #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 17/09/24 04:57
v/15004184/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) melepas di PT Adaro Andalan Indonesia (AAI) menarik perhatian pelaku pasar. Langkah tersebut jadi strategi ADRO untuk memisahkan (spin-off) pilar bisnis pertambangan dengan pilar bisnis Adaro Minerals dan Adaro Green.
ADRO berencana menjual sebanyak-banyak seluruh kepemilikan atau 99,9999% saham di AAI. Nilai transaksi akan mempertimbangkan hasil penilaian saham dari penilai independen, yaitu sebesar US$ 2,45 miliar, atau setara dengan 31,8% dari total ekuitas ADRO.
Hanya sebagai gambaran, jika dikonversi memakai kurs Rp 15.430 per dolar Amerika Serikat (AS), jumlah itu setara dengan Rp 37,80 triliun. Adapun, mekanisme transaksi akan dilakukan melalui Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS) berdasarkan POJK 76/2017.
Pembeli adalah para pemegang saham ADRO yang terdaftar pada tanggal pencatatan dan memilih untuk membeli saham AAI. "Perseroan akan menawarkan Saham Yang Ditawarkan kepada seluruh pemegang saham Perseroan yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham Perseroan pada tanggal tertentu yang akan diumumkan pada Prospektus PUPS," ungkap manajemen ADRO dalam keterbukaan informasi, Rabu (11/9).
ADRO akan meminta persetujuan atas aksi ini dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan diselenggarakan pada Jumat, 18 Oktober 2024. ADRO pun mempertimbangkan untuk membagikan dividen tunai kepada seluruh pemegang sahamnya, yang tercatat pada tanggal pencatatan.
"Para pemegang saham Perseroan atas pilihannya, dapat menggunakan dividen tunai tersebut untuk membantu mendanai partisipasi para pemegang saham Perseroan dalam Rencana Transaksi," ungkap manajemen ADRO.
Sebagai informasi, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI) dahulu bernama PT Alam Tri Abadi. Melalui AAI, ADRO memiliki saham pada beberapa perusahaan pertambangan batubara termal, yaitu PT Adaro Indonesia, PT Paramitha Cipta Sarana, PT Semesta Centramas, PT Laskar Semesta Alam, dan PT Mustika Indah Permai.
AAI juga memiliki saham-saham pada dua perusahaan pertambangan batubara termal yang saat ini sedang dikembangkan, yaitu PT Pari Coal dan PT Ratah Coal. Selain itu, AAI memiliki bisnis jasa logistik, antara lain meliputi angkutan tongkang dan pemuatan kapal batubara.
AAI juga memiliki bisnis-bisnis pendukung melalui perusahaan anaknya yang bergerak di bisnis pertanahan, air, investasi, dan ketenagalistrikan sebagai pendukung operasi bisnis pertambangan. Manajemen ADRO menegaskan rencana strategis melakukan ekspansi dan diversifikasi pada pilar non pertambangan batubara.
ADRO telah menyampaikan komitmen untuk memiliki sekitar 50% total pendapatan dari bisnis non-batubara termal pada tahun 2030. Target ini akan dicapai dengan mengembangkan bisnis di bidang-bidang yang mendukung ekosistem hijau.
Guna mendukung komitmen tersebut, ADRO berencana untuk memisahkan bisnis pilar pertambangan dan beberapa bisnis pendukung di bawah AAI dengan pilar bisnis Adaro Minerals dan Adaro Green. Rencana transaksi ini diharapkan membantu AAI dan pilar bisnis non batubara termal untuk meningkatkan fokus pengembangan dan kinerja.
Pemisahan ini juga akan membantu bisnis hijau ADRO untuk mendapatkan akses terhadap sumber pembiayaan yang lebih banyak, biaya pendanaan yang lebih kompetitif, memberikan akses lebih baik pada proyek-proyek ramah lingkungan dengan partner bisnis potensial peringkat atas.
ADRO Chart by TradingView
Head of Corporate Communication Adaro Energy Indonesia Febriati Nadira belum memberikan komentar lebih detail selain yang telah disampaikan dalam keterbukaan informasi. Nadira hanya menegaskan bahwa dana dari penjualan AAI akan digunakan untuk pengembangan bisnis ADRO ke depan.
Mengenai waktu transaksi, Nadira menekankan pelaksanaannya akan tergantung pada pihak regulator dan pemenuhan persyaratan, serta persetujuan di dalam RUPSLB.
"Sebagaimana lazimnya rencana transaksi di pasar modal, bisa disetujui, bisa ditunda, atau bahkan tidak dilaksanakan karena tidak disetujui.," kata Nadira kepada Kontan.co.id, Kamis (12/9).
Aksi ini mendapat sambutan positif dari pelaku pasar. Tampak dari laju harga saham ADRO yang bergerak dalam rentang Rp 3.800 - Rp 4.050 pada perdagangan Kamis (12/9). ADRO ditutup menguat 9,38% ke level Rp 3.850 per saham.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rizkia Darmawan melihat respons positif pasar terutama disebabkan oleh ekspektasi dividen tunai yang lebih tinggi dari ADRO. Apalagi potensi dividen khusus akan memberikan dukungan tambahan bagi investor untuk berpartisipasi dalam penawaran saham AAI.
Hingga semester I-2024, AAI diestimasikan memiliki Price to Earning Ratio (P/E) tahunan sebesar 1,3 - 1,4 kali. Lebih rendah dari rata-rata peer saat ini di level 4 - 6 kali. Rizkia memprediksi harga penawaran AAI akan dinilai tidak terlalu tinggi oleh pasar.
"Terutama jika dikombinasikan dengan pandangan pasar yang menguntungkan terhadap bisnis batubara ADRO, yang memiliki pangsa pasar solid, kehadiran ekspor kuat, dan manajemen biaya yang efisien," kata Rizkia.
Baca Juga:ADRO Pisahkan Bisnis Batubara, Jual Adaro Andalan Indonesia US$ 2,45 miliar
Analis Stocknow.id Dinda Resty Angira menambahkan, lonjakan harga ADRO mencerminkan optimisme pasar bahwa ADRO akan memanfaatkan hasil dari penjualan AAI untuk mendanai ekspansi lebih lanjut. Termasuk ekspektasi pembagian dividen tunai, di mana ADRO merupakan salah saru saham dengan pembagi imbal hasil tertinggi.
Dinda menilai, ADRO memiliki outlook jangka panjang yang stabil dengan target untuk mengurangi ketergantungan pada batubara dan meningkatkan kontribusi dari sektor hijau.
"Investor dapat mempertimbangkan strategi investasi jangka panjang, sejalan dengan diversifikasi bisnis," kata Dinda.
Investment Advisor Phintraco Sekuritas Nauval Maulana mengamini antusiasme pasar terhadap aksi ADRO ini mempertimbangkan pembagian dividen dan skema penawaran umum AAI. Sehingga memungkinkan pemegang saham ADRO menebus saham AAI memakai dividen yang diterima.
Dengan target pendapatan 50% dari non-batubara termal pada tahun 2030, aksi ini membuka potensi bagi ADRO untuk menjadi perusahaan berbasis pada bisnis green energy. Hal ini dapat memberikan keuntungan seperti kemudahan akses pembiayaan dan peningkatan minat investor asing untuk berinvestasi.
Hanya saja, Nauval memberikan catatan bahwa penjualan AAI bisa berdampak pada penurunan pendapatan secara signifikan. Rizkia punya sorotan serupa, di mana AAI berkontribusi signifikan pada kinerja keuangan konsolidasi ADRO, yakni sekitar 89% dari pendapatan dan sekitar 105% dari laba bersih.
Dus, prospek kinerja ADRO akan tergantung pada pembaruan transaksi yang akan datang dan seberapa banyak saham AAI yang akan dipertahankan ADRO.
"Kami melihat potensi bagi investor untuk menilai kembali harga saham ADRO dalam waktu dekat," terang Rizkia.
Secara fundamental, investor bisa jadi mulai menganggap ADRO sebagai perusahaan energi terbarukan, yang dapat menjamin kelipatan valuasi lebih tinggi. Meski terjadi pemisahan pendapatan utama dan penghasil laba bersih.
Selain itu, ADRO dapat dilihat lebih sebagai perusahaan induk atau investasi, yang dapat mendorong revisi ke bawah dari P/E tersiratnya saat ini di sekitar 4,9 kali. "Kami melihat potensi revisi ke bawah harga saham ADRO dalam jangka pendek, yang dapat terwujud setelah pengumuman dividen berikutnya," tandas Rizkia.
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto mengingatkan agar pelaku pasar tetap waspada dalam euforia pada saham ADRO. Kondisi ini berpotensi mendatangkan koreksi.
William lantas menyarankan untuk membeli kembali dengan strategi buy on weakness saat terjadi koreksi. Hitungan William, support ADRO berada di harga Rp 3.600 dan resistance pada Rp 4.200.
Analis RHB Sekuritas Indonesia Fauzan Djamal dan Muhammad Wafi dalam riset 9 September 2024 menyematkan rekomendasi buy saham ADRO dengan target harga Rp 3.900. "ADRO disukai oleh investor yang ingin memanfaatkan likuiditas dan margin kompetitifnya dibandingkan dengan emiten batubara lainnya," ungkap Fauzan dan Wafi.
Fauzan dan Wafi memperkirakan risiko penurunan harga relatif terbatas, dan pasar sudah mempertimbangkan kekhawatiran akan penurunan laba bersih akibat normalisasi harga batubara. Apalagi tingkat harga batubara tetap lebih tinggi daripada puncak sebelumnya (> US$ 100-120 per ton).
Sementara itu, Dinda menyoroti prospek jangka panjang ADRO dari aksi korporasi saat ini dan strategi diversifikasi ke bisnis sektor energi hijau. Dinda menaksir target harga ADRO ada di level Rp 4.250 sebagai resistance.
Harga ADRO berpotensi naik ke level Rp 4.500 jika resistance itu tertembus, dimana posisi support ada di Rp 3.560. Sedangkan Nauval menghitung support ADRO ada di Rp 3.800 dan resistance di Rp 4.000, dengan target ke level harga Rp 4.500 per saham.
Intip Rekomendasi Saham Adaro (ADRO) yang Genjot Kinerja di Paruh Kedua 2024
para analis memberikan rekomendasi saham Adaro Energy (ADRO) [741] url asal
#pt-adaro-energy-tbk #adro #saham-adro #adaro-energy-indonesia #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan) 29/08/24 07:57
v/14805499/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) kejar target produksi dan penjualan batubara pada semester II-2024. ADRO menempuh strategi ini usai mengalami penurunan kinerja pada periode paruh pertama.
Pendapatan usaha ADRO tergerus 14,40% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari US$ 3,47 miliar menjadi US$ 2,97 miliar. Sedangkan laba bersih ADRO menyusut 10,87% (YoY) dari US$ 873,83 juta menjadi US$ 778,77 juta hingga Juni 2024.
Presiden Direktur & Chief Executive Officer Adaro Energy Garibaldi "Boy" Thohir mengklaim, kinerja ADRO menunjukkan daya tahan di tengah tantangan kondisi harga batubara termal maupun metalurgi.
"Grup Adaro mampu menunjukkan resiliensi kinerja keuangan berkat keunggulan operasional dan efisiensi," ungkapnya dalam keterbukaan informasi, Selasa (27/8).
ADRO memproduksi batubara sebanyak 35,74 juta ton, dengan volume penjualan sebesar 34,94 juta ton pada semester I-2024. Masing-masing mencerminkan kenaikan sekitar 7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pasar dalam negeri mendominasi penjualan ADRO dengan porsi 26%. Sedangkan pasar ekspor ditujukan ke Asia Timur Laut (24%), Asia Tenggara (18%), China (18%), India (11%) dan lainnya (3%). Meski secara volume menanjak, namun terjadi koreksi pada harga jual rata-rata sekitar 19%.
Head of Corporate Communication Adaro Energy Indonesia Febriati Nadira masih optimis dengan prospek pertumbuhan ADRO. Terutama didukung oleh kenaikan permintaan di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia, serta Asia Selatan.
"Sebagian pelanggan kami telah memiliki kontrak jangka panjang dan kami fokus untuk memenuhi permintaan pelanggan," kata Nadira, kepada Kontan.co.id, Rabu (28/8).
Dus, ADRO fokus untuk mencapai target penjualan batubara sekitar 65 juta - 67 juta ton. Meliputi 61 juta - 62 juta ton batubara termal, dan 4,9 juta - 5,4 juta ton batubara metalurgi dari anak usahanya, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR).
Nadira bilang, harga batubara tidak dapat diprediksi dan akan selalu berfluktuasi. Sehingga ADRO tetap menjalankan kegiatan operasional sesuai rencana dengan fokus untuk mempertahankan marjin yang sehat dan kontinuitas pasokan ke pelanggan.
"Selain itu kami akan tetap fokus pada segala sesuatu yang dapat kami kontrol seperti kontrol operasional untuk memastikan pencapaian target perusahaan dan efisiensi biaya," imbuh Nadira.
Berbarengan dengan itu, ADRO melanjutkan langkah diversifikasi bisnis untuk meningkatkan kontribusi dari bidang non-batubara termal. ADRO menggarap sejumlah proyek mineral dan energi terbarukan.
ADRO menganggarkan belanja modal atawa capital expenditure (capex) jumbo dengan estimasi US$ 600 juta - US$ 700 juta pada tahun 2024. Capex ini termasuk investasi ekuitas pada proyek-proyek terkait kawasan industri di Kalimantan Utara.
Pada semester pertama, ADRO menyerap capex sebesar US$ 394 juta atau meningkat 46% (YoY). Capex ADRO terutama digunakan untuk pembelian dan penggantian alat berat dan kapal, investasi awal pada smelter aluminium dan fasilitas pendukungnya, serta investasi pada infrastruktur.
Investment Analyst Stockbit Hendriko Gani melihat capaian laba bersih ADRO melampaui ekspektasi, sedangkan pendapatan sejalan dengan perkiraan. Hendriko mengamati margin laba kotor yang lebih tinggi seiring penurunan biaya royalti, biaya pemrosesan batubara serta hilangnya biaya mining service.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer memperkirakan emiten batubara masih memiliki ruang untuk memperbaiki kinerja. Dia menaksir indeks harga batubara global masih akan bergerak di kisaran US$ 135 - US$ 150 per ton pada semester II-2024.
"Oleh karena itu, emiten-emiten batubara kami kira punya potensi lebih baik pada semester kedua, terutama pada kuartal III-2024 ini," kata Miftahul kepada Kontan.co.id, Rabu (28/8).
Founder Stocknow.id Hendra Wardana sepakat, prospek emiten batubara masih menarik di tengah tantangan fluktuasi harga komoditas. Secara valuasi, Hendra menilai ADRO masih relatif murah dengan fundamental yang kuat, meski mengalami penurunan laba.
"Meski tantangan makro ekonomi dan volatilitas harga komoditas bisa menjadi risiko, valuasi yang menarik dan potensi stabilitas di sektor batubara membuat saham ini tetap layak dipertimbangkan dalam portofolio. Terutama bagi investor yang memiliki profil risiko moderat hingga tinggi," terang Hendra.
Secara teknikal, ADRO menunjukkan sinyal positif sehingga layak dicermati untuk trading buy dengan target harga di Rp 3.990 per saham. Founder WH Project William Hartanto mengamini, pergerakan saham ADRO sedang uptrend secara teknikal.
William menyematkan rekomendasi buy ADRO dengan target harga Rp 3.700 - Rp 3.900 per saham. Sementara Miftahul menyarankan, wait and see terlebih dulu untuk ADRO yang sudah memasuki area resistance trendline-nya. Pada Rabu (28/8) saham ADRO menguat 0,28% ke Rp 3.530 per saham.
Laba Adaro (ADRO) Menyusut 10,87% Jadi US$ 778,77 Juta di Semester I-2024
Kinerja Adaro Energy (ADRO) kurang memuaskan dengan pendapatan dan laba bersih turun di semester I-2024 [486] url asal
#pt-adaro-energy-tbk #adro #saham-adro #kinerja-emiten #adaro-energy-indonesia #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #emiten
(Kontan) 28/08/24 07:13
v/14784109/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seperti mayoritas emiten batubara lainnya, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) turut mengalami penurunan kinerja pada semester I-2024. Meski begitu, tingkat keuntungan ADRO masih terbilang tebal.
Emiten milik taipan Garibaldi "Boy" Thohir ini meraih laba bersih senilai US$ 778,77 juta hingga Juni 2024. Sebagai gambaran saja, keuntungan ADRO setara dengan Rp 12,06 triliun jika dikonversi memakai kurs saat ini sebesar Rp 15.500 per dolar Amerika Serikat (AS).
Namun laba bersih ADRO mengalami penurunan 10,87% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (Year on Year/YoY). Pada semester I-2023, ADRO membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$ 873,83 juta.
Penurunan bottom line ini tak lepas dari melemahnya top line ADRO. Dalam periode enam bulan pertama 2024, ADRO membukukan pendapatan usaha sebesar US$ 2,97 miliar atau menyusut 14,40% (YoY) dari sebelumnya US$ 3,47 miliar pada periode Juni 2023.
Secara operasional, volume produksi dan penjualan batubara ADRO naik 7% hingga masing-masing mencapai 35,74 juta ton dan 34,94 juta ton. Namun pada periode yang sama terjadi koreksi harga batubara, dengan harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) yang turun 19%.
Sementara itu, beban pokok pendapatan ADRO ikut menyusut 13,30% (YoY) menjadi US$ 1,76 miliar. Terutama karena penurunan beban royalti untuk PT Adaro Indonesia (AI) dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya karena penurunan ASP.
Penurunan beban pokok ini membawa ADRO mengantongi laba bruto sebesar US$ 1,20 miliar atau turun 16,66% (YoY). Dalam separuh pertama tahun ini, ADRO mencatatkan laba usaha sebesar US$ 1 miliar atau turun 14,53% secara tahunan.
ADRO membukukan laba periode berjalan senilai US$ 880,18 juta hingga Juni 2024. Merosot 11,62% dibandingkan periode Juni 2023 yang kala itu menyentuh US$ 995,96 juta.
Boy Thohir, selaku Presiden Direktur & Chief Executive Officer ADRO mengamini perusahaan batubara menghadapi kondisi harga yang sulit baik untuk batubara termal maupun metalurgi. Meski begitu, Grup Adaro masih mampu menunjukkan resiliensi kinerja keuangan berkat keunggulan operasional dan efisiensi.
"Resiliensi tersebut merupakan cerminan dedikasi kolektif dari tim kami. Kami tetap berfokus pada eksekusi proyek dalam upaya untuk mengkonversikan visi jangka panjang menjadi nilai nyata bagi para pemegang saham," ungkap Boy dalam keterbukaan informasi, Selasa (27/8) malam.
Boy menegaskan komitmen untuk memberikan pengembalian bagi para pemegang saham dalam bentuk pembagian dividen tunai serta program pembelian kembali saham perusahaan. Sementara dari sisi pergerakan saham, ADRO masih mampu mengakumulasi kenaikan secara year to date.
Harga saham ADRO bergerak naik 47,90% sejak awal tahun 2024. Pada perdagangan Selasa (27/8), ADRO mengalami kenaikan 0,86% ke level harga Rp 3.520 per saham.
Marak Buyback Saham-Saham Blue Chip, Mana yang Layak Beli?
Analis merekomendasikan hold KLBF dengan ADRO dengan masing-masing target harga di Rp 1.650 dan Rp 3.320. [636] url asal
#buyback-saham #pt-adaro-energy #pt-adaro-energy-tbk #adro #buyback-saham #saham-adro #goto-group #harga-saham-goto #goto #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekome
(Kontan - Terbaru) 11/07/24 07:29
v/10391415/
Reporter: Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto
JAKARTA. Aksi pembelian kembali atau buyback saham di Bursa Efek Indonesia mulai terjadi. Beberapa saham blue chip pun ada yang dilakukan buyback. Dari saham blue chip yang dilakukan buyback, mana yang memiliki prospek bagus untuk investasi?
Salah satu pelaksanaan buyback adalah saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Berdasarkan dokumen laporan bulanan registrasi pemegang efek yang diterbitkan Selasa (9/7), jumlah saham treasuri GOTO mencapai 14,09 miliar atau setara dengan 1,17%.
Jumlah tersebut meningkat dari sebelumnya, yaitu 10,26 miliar saham. Ini setara dengan 0,85% dari total jumlah saham yang ditempatkan dan disetor.
Kenaikan itu mengindikasikan, GOTO telah membeli 3,83 miliar saham. Apabila mengacu rata-rata harga saham belakangan ini, emiten teknologi itu telah merobek kocek sebesar Rp 191,25 miliar.
Nilai tersebut setara 6% dari nilai yang sudah disetujui, yaitu Rp 3,2 triliun. Pasalnya, GOTO masih memiliki likuiditas melimpah untuk terus melakukan pembelian saham hingga setahun ke depan.
Selain GOTO, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) juga telah mengantongi persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk menggelar buyback dengan anggaran Rp 400 miliar.
Dari sektor farmasi, ada PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) juga berniat untuk melakukan buyback saham. Aksi korporasi ini dijadwalkan berlangsung pada 16 Mei 2024–15 Mei 2025.
Aksi buyback juga akan dilakukan oleh saham blue chip, yakni PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang menyiapkan anggaran Rp 4 triliun untuk periode 12 bulan sejak 16 Mei 2024.
Saham blue chip lain yang akan dilakukan buy back adalah PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP). Buy back saham INTP telah memperoleh restu RUPS pada 25 Mei 2023.
Buyback saham INTP akan dilakukan sampai 31 Desember 2024. Emiten semen ini menyiapkan dana hingga Rp 895 miliar.
Saham blue chip adalah saham lapis satu yang memiliki fundamental kuat dan nilai kapitalisasi pasar besar. Saham blue cip juga telah berpengalaman lama di pasar modal.
Saham blue chip biasanya jadi pilihan investor karena harganya tidak mudah dipermainkan oleh para spekulan.
Rekomendasi saham blue chip
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan buyback saham mengurangi saham beredar yang akan berdampak pada rasio keuangan perusahaan.
“Oleh sebab itu, biasanya buyback saham dapat meningkatkan harga saham secara jangka pendek,” jelasnya saat dihubungi Kontan, Rabu (10/7).
Setali tiga uang, Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengatakan aksi buyback emiten menunjukkan komitmen emiten dalam menjaga nilai perusahaan.
“Ini akan menjadikan sentimen positif untuk investor di tengah terkoreksinya harga saham dapat memberikan kepercayaan.” kata dia.
Memang kalau dicermati beberapa emiten yang berencana untuk buyback harga sahamnya terkoreksi. Ambil contoh, GOTO sudah anjlok 41,86% secara tahunan hingga penutupan Rabu (10/7).
Pada periode yang sama, INTP sudah ambles 22,07% secara year to date. Tekanan juga terjadi pada saham Kalbe Farma yang melemah 4,97%.
Namun Audi menilai ketika buyback dilakukan ketika harga saham dalam tren bullish, ada beberapa risiko yang berpotensi. Salah satunya, penggunaan dana tidak menjadi efisien.
“Pada akhirnya pengumuman buyback sebenarnya mungkin tidak memiliki dampak signifikan tambahan pada harga saham,” ucapnya.
Dari beberapa emiten yang telah mengantongi restu buyback, Audi merekomendasikan hold KLBF dengan ADRO dengan masing-masing target harga di Rp 1.650 dan Rp 3.320. Dia juga merekomendasikan beli INTP dengan target Rp 8.725.
Sementara itu, saham pilihan Nico jatuh pada ADRO dan KLBF. Namun untuk bisnis jangka panjang, dia menilai saham GOTO terlihat menarik.
Harga saham KLBF pada perdagangan Rabu 10 Juli 2024 ditutup di level 1.530, turun 20 poin atau 1,29% dibandingkan sehari sebelumnya. Sejak awal tahun 2024, harga saham KLBF terakumulasi melemah 90 poin atau 5,56%.
Gojek Tokopedia (GOTO) Mulai Eksekusi, Cek Rekomendasi Sejumlah Saham yang Buyback
Sejumlah emiten mulai mengeksekusi rencana pembelian kembali alias buyback saham, salah satunya GOTO. [324] url asal
#buyback-saham #pt-adaro-energy #pt-adaro-energy-tbk #adro #buyback-saham #saham-adro #goto-group #harga-saham-goto #goto #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 10/07/24 20:23
v/10338101/
Reporter: Yuliana Hema | Editor: Noverius Laoli
JAKARTA. Sejumlah emiten sudah mulai mengeksekusi rencana pembelian kembali alias buyback saham. Salah satunya, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
Berdasarkan dokumen laporan bulanan registrasi pemegang efek yang diterbitkan Selasa (9/7), jumlah saham treasuri GOTO mencapai 14,09 miliar atau setara dengan 1,17%.
Jumlah tersebut meningkat dari sebelumnya, yaitu 10,26 miliar saham. Ini setara dengan 0,85% dari total jumlah saham yang ditempatkan dan disetor.
Kenaikan itu mengindikasikan, GOTO telah membeli 3,83 miliar saham. Apabila mengacu rata-rata harga saham belakangan ini, emiten teknologi itu telah merobek kocek sebesar Rp 191,25 miliar.
Nilai tersebut setara 6% dari nilai yang sudah disetujui, yaitu Rp 3,2 triliun. Pasalnya, GOTO masih memiliki likuiditas melimpah untuk terus melakukan pembelian saham hingga setahun ke depan.
Selain GOTO, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) juga telah mengantongi persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk menggelar buyback dengan anggaran Rp 400 miliar.
Dari sektor farmasi, ada PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) juga berniat untuk melakukan buyback saham. Aksi korporasi ini dijadwalkan berlangsung pada 16 Mei 2024–15 Mei 2025.
Aksi buyback juga akan dilakukan oleh emiten blue chip, yakni PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang menyiapkan anggaran Rp 4 triliun untuk periode 12 bulan sejak 16 Mei 2024.
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) juga telah memperoleh restu RUPS pada 25 Mei 2023 untuk menggelar buyback sampai 31 Desember 2024. Emiten semen ini menyiapkan dana hingga Rp 895 miliar.
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan buyback saham mengurangi saham beredar yang akan berdampak pada rasio keuangan perusahaan.
“Oleh sebab itu, biasanya buyback saham dapat meningkatkan harga saham secara jangka pendek,” jelasnya saat dihubungi Kontan, Rabu (10/7).
Mulai Diversifikasi, Adaro Energy (ADRO) Incar 50% Pendapatan Non Batubara di 2030
Adaro Energy (ADRO) menargetkan 50% pendapatan dari sektor non batubara di tahun 2030 mendatang [587] url asal
#pt-adaro-energy-tbk #adro #saham-adro #adaro-energy-indonesia #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #komoditas
(Kontan-Industri) 05/07/24 06:19
v/9712025/
Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten tambang, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) terus mengembangkan diversifikasi bisnis non-batubara untuk menyeimbangkan pendapatan perusahaan. Emiten yang terafiliasi dengan Garibaldi 'Boy' Thohir ini menargetkan 50% dari total pendapatan disumbang oleh bisnis non-batubara pada tahun 2030 mendatang.
Head of Corporate Communication Adaro Energy Indonesia (ADRO), Febriati Nadira mengatakan, dalam peralihan menuju energi hijau, Adaro tetap berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan energi saat ini sambil terus mempersiapkan transisi menuju operasi yang lebih berkelanjutan.
"Untuk itu kami memastikan bahwa kegiatan operasional dapat berjalan dengan baik dengan terus fokus terhadap keunggulan operasional dan efisiensi biaya, sehingga dapat menghasilkan margin dan arus kas yang sehat," kata Febriati kepada Kontan, Kamis (4/7).
Menurut Febriati, prospek bisnis energi hijau ke depan luar biasa, namun tentunya investasi di bisnis hijau memerlukan waktu dan proses yang tidak sebentar.
"Harapannya, pada tahun 2030, 50% dari total pendapatan Adaro akan dihasilkan oleh bisnis non batubara termal, sejalan dengan komitmen kami dalam pernyataan NZE yang telah kami publikasikan di tahun 2023," tutur Febriati.
Febriati menambahkan, target ini akan dicapai dengan meningkatkan bisnis di bidang-bidang yang mendukung ekosistem ekonomi hijau di Indonesia, antara lain melalui pembangunan smelter aluminium, memperluas pasar batubara metalurgi, menjajaki peluang dalam berbagai produk mineral hijau, dan mengembangkan bisnis energi terbarukan.
Kalau berhasil dilakukan, lanjut Febriati, hal ini akan memungkinkan ADRO untuk mempercepat proses transformasi bisnis melalui inisiatif ramah lingkungan dalam jangka panjang, salah satunya melalui hilirisasi pengolahan mineral sejalan dengan rencana pemerintah RI.
Sejak tahun 2022, Adaro telah mulai melakukan pengembangan bisnis secara berkelanjutan dengan bertransformasi dari 8 pilar menjadi 3 pilar bisnis; Adaro Energy, Adaro Minerals, dan Adaro Green. Perseroan juga telah mulai menjalankan proyek bisnis nonbatubara.
Di tahun 2018, ADRO membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sistem rooftop atau atap dengan kapasitas 130 kWp di Kelanis, Kalimantan Tengah, untuk melayani kebutuhan listrik di area tambang Adaro.
"Setelah berhasil dalam pembangunan dan pengoperasian PLTS atap 130 kWp, kami melakukan pengembangan dengan menambahkan kapasitas 468 kWp PLTS dengan sistem terapung (floating)," ujar Febriati.
Selain itu, Adaro turut mendukung inisiatif hilirisasi pemerintah dalam industri hijau dengan membangun aluminium smelter di Kawasan Industri Hijau Indonesia yang terbesar di dunia.
Hingga saat ini konstruksi smelter aluminium dan infrastruktur terkait berjalan sesuai dengan yang diharapkan dan perseroan menargetkan untuk merampungkan tahap I sebesar 500.000 ton per tahun pada tahun 2025.
Berikutnya, Pilar Adaro Green melalui PT Adaro Clean Energy Indonesia menandatangani nota kesepahaman pengembangan energi terbarukan (EBT) serta rantai pasok Solar Photovoltaic (PV) dan Sistem Penyimpanan Energi Baterai (SPEB) di Indonesia dengan beberapa pabrikan manufaktur PV dan baterai (OEM/Original Equipment Manufacturer).
Untuk PLTA Mentarang Induk berkapasitas 1375 MW rencananya akan beroperasi di tahun 2030 dan menyediakan energi hijau untuk kawasan industri hijau di Kalimantan Utara.
"Konstruksi pembangkit listrik tenaga air yang sedang kami kerjakan berjalan dengan baik," tutur Febriati.
Terakhir, Adaro bersama Total Eren, dan PJBI, menandatangani perjanjian jual beli listrik untuk proyek PLTB Tanah Laut berkapasitas 70 MW yang dilengkapi dengan sistem penyimpanan energi baterai sebesar 10 MW / 10 MWh di Tanah Laut, Kalimantan Selatan dengan PT PLN Persero (PLN) demi mendukung program Pemerintah dalam mencapai target bauran sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia. Estimasi Commercial Operation Date (COD) PLTB Tanah Laut di tahun 2025.