#30 tag 24jam
Intip Proyek Ekspansi Prajogo Pangestu Lewat Grup Barito (BRPT) dan Petrindo (CUAN)
Konglomerat Prajogo Pangestu terus tancap gas menggelar ekspansi melalui dua mesin utamanya, Grup Barito dan Petrindo. [1,102] url asal
#prajogo-pangestu #pt-barito-pacific-tbk-brpt #pt-barito-pacific-tbk #brpt #grup-barito #pt-petrindo-jaya-kreasi-tbk-cuan #saham-cuan #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #bren #pt-chandra-asri
(Kontan - Terbaru) 26/10/24 16:06
v/17020877/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konglomerat Prajogo Pangestu terus tancap gas menggelar ekspansi melalui dua mesin utamanya, Grup Barito dan Petrindo. Lewat konglomerasi ini, Prajogo membentangkan sayap bisnisnya di sektor petrokimia, infrastruktur, energi, properti hingga tambang.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi induk Grup Barito, yang memiliki tiga pilar bisnis utama. Pertama, petrokimia dan infrastruktur melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Kedua, pilar energi. BRPT mengembangkan segmen Energi Baru & Terbarukan (EBT) melalui PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Selain itu, BRPT menggarap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ultra super critical lewat Indo Raya Tenaga yang memiliki 34% saham di PLTU Jawa 9 & 10. Ketiga, bisnis properti melalui Griya Idola.
Head of Investor Relations Barito Pacific, Pandu Anugrah membeberkan proyek dan pipeline ekspansi dari masing-masing pilar bisnis Grup Barito. Dari bisnis petrokimia, ekspansi yang sedang berlangsung adalah pembangunan Pabrik Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) yang diperkirakan akan rampung pada tahun 2026.
Selain itu, TPIA sedang mengejar penyelesaian proses akuisisi Shell Energy and Chemicals Park (SECP) di Singapura, yang ditargetkan tuntas akhir tahun ini. Di bisnis infrastruktur, BRPT melebarkan sayap melalui anak usaha TPIA, PT Chandra Daya Investasi (CDI).
Pipeline proyek di bisnis infrastruktur adalah gas power plant berkapasitas 200 megawatt (MW) yang sedang dalam Final Investment Decision (FID) serta pembangkit listrik tenaga surya terapung berkapasitas 30 MWpeak yang masih feasibility study. "Kami terus melakukan diversifikasi usaha pada segmen yang lebih stabil dan memberikan return yang berkelanjutan," kata Pandu dalam paparan publik, Jumat (25/10).
Pada pilar energi segmen EBT, BREN mengembangkan pembangkit tenaga panas bumi dan angin. Fokus BREN tiga tahun ke depan adalah menambah kapasitas panas bumi hingga 104,6 MW dari aset Wayang Windu, Salak dan Darajat. Selain itu, BREN menggarap proyek di area baru Hamiding dan Souh Sekincau.
BREN juga ekspansi di listrik tenaga angin pada proyek Sidrap II, Sukabumi dan Lombok dengan target tambahan kapasitas 318 MW. Di luar segmen EBT, BRPT siap mengoperasikan PLTU 2 x 1.000 MW secara bertahap pada tahun 2024 dan 2025.
Bergeser ke pilar properti, Griya Idola memiliki portofolio di segmen residensial, industrial, perkantoran dan hospitality. Strategi pertumbuhan Griya Idola akan fokus pada segmen residensial dan industrial.
Di segmen residensial, Griya Idola menggarap lahan sekitar 50 hektare (ha). Sedangkan di segmen industrial, Griya Idola menggarap Patimban Industrial Estate serta Griya Idola Industrial Park di Cikupa seluas 110 ha.
"Kami memiliki beberapa rencana pengembangan dalam beberapa tahun ke depan. Secara geografis proyek kami berada di beberapa kawasan yang cukup strategis, dimana permintaan ke depan akan terus tumbuh," tandas Pandu.
Direktur & Corporate Secretary Barito Pacific, David Kosasih menegaskan bahwa Grup Barito akan terus menggelar ekspansi, termasuk melalui akuisisi dengan fokus pada sektor inti petrokimia dan energi. "Tapi tidak menutup kemungkinan kami melihat peluang di sektor usaha lain," kata David.
David memberikan gambaran, strategi ekspansi yang dilakukan Grup Barito bakal mendongkrak prospek kinerja BRPT. Dia mencontohkan saat pabrik CA-EDC dan akuisisi aset SECP tuntas, maka kapasitas TPIA akan melonjak dari 4,2 juta ton menjadi sekitar 9,5 juta ton.
Kemudian tambahan yang cukup signifikan pada kapasitas pembangkit BREN saat proyek ekspansi panas bumi dan angin telah membuahkan hasil. "Jadi itu bisa memberikan gambaran bagaimana nanti kontribusi ke depan," ungkap David.
Tak hanya dari Grup Barito, Prajogo Pangestu melebarkan sayap bisnisnya di sektor pertambangan melalui PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Direktur Utama Petrindo Jaya Kreasi, Michael mengungkapkan ekspansi CUAN telah membuahkan hasil. Tampak dari sumber pendapatan yang telah terdiversifikasi.
Michael membandingkan, sepanjang tahun 2023 pendapatan 100% bersumber dari penjualan batubara. Sedangkan pada semester I-2024, CUAN telah meraup pendapatan dari bisnis lain, yakni rekayasa konstruksi, kontraktor pertambangan dan jasa.
Dus, top line dan bottom line CUAN pun kompak menanjak. Faktor pendorongnya adalah akuisisi PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Multi Tambangjaya Utama yang telah terkonsolidasi. Proyek pengembangan CUAN ke depan adalah batubara metalurgi, tambang emas dan pasir silika.
Capex Jumbo Grup Barito & Petrindo
Ekspansi Grup Barito maupun Petrindo ditopang oleh belanja modal alias capital expenditure (capex) yang jumbo. Pandhu membeberkan, BRPT telah menggelontorkan capex sebesar US$ 5,1 miliar dalam kurun 2015 - 2024.
BRPT pun siap mengucurkan capex sebesar US$ 4,4 miliar hingga tahun 2027 untuk turut membiayai ekspansi BREN, TPIA dan Indo Raya Tenaga. Khusus untuk tahun ini, David menjelaskan BRPT mengalokasikan capex sebesar US$ 650 juta.
Dana tersebut mayoritas ditujukan untuk kebutuhan ekspansi TPIA dan BREN. Realisasi hingga semester pertama masih tergolong mini, yakni sebesar US$ 180 juta. "Jadi sisanya akan dilakukan pada semester kedua," ungkap David.
Sementara dari Grup Petrindo, Direktur CUAN Kartika Hendrawan mengungkapkan saat ini posisi CUAN lebih fokus sebagai pemilik tambang. Sedangkan PTRO sebagai kontraktor tambang.
Dengan pembagian fungsi tersebut, alokasi capex lebih banyak ditempatkan kepada PTRO sebagai kontraktor. PTRO mengalokasikan capex sekitar US$ 400 juta pada tahun 2024-2025.
Rekomendasi Saham
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Dimas Krisna Ramadhani mengamati aksi korporasi yang dilakukan oleh konglomerasi Prajogo Pangestu akan membawa dampak signifikan bagi kinerja para emitennya. Sebab, ekspansi dilakukan untuk pengembangan dan integrasi bisnis di dalam grup. Contohnya akuisisi PTRO oleh CUAN.
Sederet ekspansi dan akuisisi tersebut telah menjadi sentimen yang mendongkrak harga saham milik Prajogo Pangestu. Setelah aksi korporasi, Dimas melihat sentimen lain yang akan menjadi penggerak adalah kiprah saham Prajogo dalam indeks global seperti FTSE dan MSCI.
Catatan Dimas, secara historis emiten Prajogo Pangestu punya valuasi yang terbilang tinggi dibandingkan industri sejenisnya (peers).
"Namun pergerakan emiten grup ini cenderung lebih kepada sentimen yang ada untuk masing-masing saham, bukan hanya kepada faktor valuasi," terang Dimas kepada Kontan.co.id, Jumat (25/10).
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menambahkan, sentimen ekspansi dan akuisisi cenderung telah terealisasi pada penguatan harga saham sebelumnya. Dus, William mengamini saat ini pelaku pasar perlu mencermati sentimen pada masing-masing sahamnya.
William mengingatkan, seringkali ada faktor spekulasi yang menggerakkan harga saham di grup ini. Jika ada kenaikan harga pada beberapa saham, maka bisa menjadi sentimen yang mengangkat harga saham emiten Prajogo Pangestu lainnya.
"Spekulasi, kebetulan belum semuanya patah tren jadi pelaku pasar masih optimis beberapa saham masih bisa menguat. Biarpun ada beberapa yang downtrend, tetap bisa mengambil momentum technical rebound," terang William.
Sebagai pilihan jangka pendek, William melihat saham TPIA, CUAN dan BREN menarik dilirik. Sedangkan Dimas merekomendasikan buy on weakness CUAN pada level Rp 7.200 - Rp 7.300 untuk target harga Rp 10.200, buy BREN dengan target Rp 8.800, dan hold PTRO untuk target harga di level Rp 22.000 per saham.
Deretan Proyek Ekspansi Prajogo Pangestu Lewat Grup Barito (BRPT) & Petrindo (CUAN)
Konglomerat Prajogo Pangestu terus tancap gas menggelar ekspansi melalui dua mesin utamanya, Grup Barito dan Petrindo. [334] url asal
#prajogo-pangestu #pt-barito-pacific-tbk-brpt #pt-barito-pacific-tbk #brpt #grup-barito #pt-petrindo-jaya-kreasi-tbk-cuan #saham-cuan #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #bren #pt-chandra-asri
(Kontan-Investasi) 25/10/24 21:18
v/16991622/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
David memberikan gambaran, strategi ekspansi yang dilakukan Grup Barito bakal mendongkrak prospek kinerja BRPT. Dia mencontohkan saat pabrik CA-EDC dan akuisisi aset SECP tuntas, maka kapasitas TPIA akan melonjak dari 4,2 juta ton menjadi sekitar 9,5 juta ton.
Kemudian tambahan yang cukup signifikan pada kapasitas pembangkit BREN saat proyek ekspansi panas bumi dan angin telah membuahkan hasil. "Jadi itu bisa memberikan gambaran bagaimana nanti kontribusi ke depan," ungkap David.
Tak hanya dari Grup Barito, Prajogo Pangestu melebarkan sayap bisnisnya di sektor pertambangan melalui PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Direktur Utama Petrindo Jaya Kreasi, Michael mengungkapkan ekspansi CUAN telah membuahkan hasil. Tampak dari sumber pendapatan yang telah terdiversifikasi.
Michael membandingkan, sepanjang tahun 2023 pendapatan 100% bersumber dari penjualan batubara. Sedangkan pada semester I-2024, CUAN telah meraup pendapatan dari bisnis lain, yakni rekayasa konstruksi, kontraktor pertambangan dan jasa.
Dus, top line dan bottom line CUAN pun kompak menanjak. Faktor pendorongnya adalah akuisisi PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Multi Tambangjaya Utama yang telah terkonsolidasi. Proyek pengembangan CUAN ke depan adalah batubara metalurgi, tambang emas dan pasir silika.
Capex Jumbo Grup Barito & Petrindo
Ekspansi Grup Barito maupun Petrindo ditopang oleh belanja modal alias capital expenditure (capex) yang jumbo. Pandhu membeberkan, BRPT telah menggelontorkan capex sebesar US$ 5,1 miliar dalam kurun 2015 - 2024.
BRPT pun siap mengucurkan capex sebesar US$ 4,4 miliar hingga tahun 2027 untuk turut membiayai ekspansi BREN, TPIA dan Indo Raya Tenaga. Khusus untuk tahun ini, David menjelaskan BRPT mengalokasikan capex sebesar US$ 650 juta.
Dana tersebut mayoritas ditujukan untuk kebutuhan ekspansi TPIA dan BREN. Realisasi hingga semester pertama masih tergolong mini, yakni sebesar US$ 180 juta. "Jadi sisanya akan dilakukan pada semester kedua," ungkap David.
Sementara dari Grup Petrindo, Direktur CUAN Kartika Hendrawan mengungkapkan saat ini posisi CUAN lebih fokus sebagai pemilik tambang. Sedangkan PTRO sebagai kontraktor tambang.
Dengan pembagian fungsi tersebut, alokasi capex lebih banyak ditempatkan kepada PTRO sebagai kontraktor. PTRO mengalokasikan capex sekitar US$ 400 juta pada tahun 2024-2025.
Deretan Proyek Ekspansi Prajogo Pangestu Lewat Grup Barito (BRPT) & Petrindo (CUAN)
Konglomerat Prajogo Pangestu terus tancap gas menggelar ekspansi melalui dua mesin utamanya, Grup Barito dan Petrindo. [1,102] url asal
#prajogo-pangestu #pt-barito-pacific-tbk-brpt #pt-barito-pacific-tbk #brpt #grup-barito #pt-petrindo-jaya-kreasi-tbk-cuan #saham-cuan #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #bren #pt-chandra-asri
(Kontan-Investasi) 25/10/24 21:18
v/16983264/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konglomerat Prajogo Pangestu terus tancap gas menggelar ekspansi melalui dua mesin utamanya, Grup Barito dan Petrindo. Lewat konglomerasi ini, Prajogo membentangkan sayap bisnisnya di sektor petrokimia, infrastruktur, energi, properti hingga tambang.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi induk Grup Barito, yang memiliki tiga pilar bisnis utama. Pertama, petrokimia dan infrastruktur melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Kedua, pilar energi. BRPT mengembangkan segmen Energi Baru & Terbarukan (EBT) melalui PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Selain itu, BRPT menggarap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ultra super critical lewat Indo Raya Tenaga yang memiliki 34% saham di PLTU Jawa 9 & 10. Ketiga, bisnis properti melalui Griya Idola.
Head of Investor Relations Barito Pacific, Pandu Anugrah membeberkan proyek dan pipeline ekspansi dari masing-masing pilar bisnis Grup Barito. Dari bisnis petrokimia, ekspansi yang sedang berlangsung adalah pembangunan Pabrik Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) yang diperkirakan akan rampung pada tahun 2026.
Selain itu, TPIA sedang mengejar penyelesaian proses akuisisi Shell Energy and Chemicals Park (SECP) di Singapura, yang ditargetkan tuntas akhir tahun ini. Di bisnis infrastruktur, BRPT melebarkan sayap melalui anak usaha TPIA, PT Chandra Daya Investasi (CDI).
Pipeline proyek di bisnis infrastruktur adalah gas power plant berkapasitas 200 megawatt (MW) yang sedang dalam Final Investment Decision (FID) serta pembangkit listrik tenaga surya terapung berkapasitas 30 MWpeak yang masih feasibility study. "Kami terus melakukan diversifikasi usaha pada segmen yang lebih stabil dan memberikan return yang berkelanjutan," kata Pandu dalam paparan publik, Jumat (25/10).
Pada pilar energi segmen EBT, BREN mengembangkan pembangkit tenaga panas bumi dan angin. Fokus BREN tiga tahun ke depan adalah menambah kapasitas panas bumi hingga 104,6 MW dari aset Wayang Windu, Salak dan Darajat. Selain itu, BREN menggarap proyek di area baru Hamiding dan Souh Sekincau.
BREN juga ekspansi di listrik tenaga angin pada proyek Sidrap II, Sukabumi dan Lombok dengan target tambahan kapasitas 318 MW. Di luar segmen EBT, BRPT siap mengoperasikan PLTU 2 x 1.000 MW secara bertahap pada tahun 2024 dan 2025.
Bergeser ke pilar properti, Griya Idola memiliki portofolio di segmen residensial, industrial, perkantoran dan hospitality. Strategi pertumbuhan Griya Idola akan fokus pada segmen residensial dan industrial.
Di segmen residensial, Griya Idola menggarap lahan sekitar 50 hektare (ha). Sedangkan di segmen industrial, Griya Idola menggarap Patimban Industrial Estate serta Griya Idola Industrial Park di Cikupa seluas 110 ha.
"Kami memiliki beberapa rencana pengembangan dalam beberapa tahun ke depan. Secara geografis proyek kami berada di beberapa kawasan yang cukup strategis, dimana permintaan ke depan akan terus tumbuh," tandas Pandu.
Direktur & Corporate Secretary Barito Pacific, David Kosasih menegaskan bahwa Grup Barito akan terus menggelar ekspansi, termasuk melalui akuisisi dengan fokus pada sektor inti petrokimia dan energi. "Tapi tidak menutup kemungkinan kami melihat peluang di sektor usaha lain," kata David.
David memberikan gambaran, strategi ekspansi yang dilakukan Grup Barito bakal mendongkrak prospek kinerja BRPT. Dia mencontohkan saat pabrik CA-EDC dan akuisisi aset SECP tuntas, maka kapasitas TPIA akan melonjak dari 4,2 juta ton menjadi sekitar 9,5 juta ton.
Kemudian tambahan yang cukup signifikan pada kapasitas pembangkit BREN saat proyek ekspansi panas bumi dan angin telah membuahkan hasil. "Jadi itu bisa memberikan gambaran bagaimana nanti kontribusi ke depan," ungkap David.
Tak hanya dari Grup Barito, Prajogo Pangestu melebarkan sayap bisnisnya di sektor pertambangan melalui PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Direktur Utama Petrindo Jaya Kreasi, Michael mengungkapkan ekspansi CUAN telah membuahkan hasil. Tampak dari sumber pendapatan yang telah terdiversifikasi.
Michael membandingkan, sepanjang tahun 2023 pendapatan 100% bersumber dari penjualan batubara. Sedangkan pada semester I-2024, CUAN telah meraup pendapatan dari bisnis lain, yakni rekayasa konstruksi, kontraktor pertambangan dan jasa.
Dus, top line dan bottom line CUAN pun kompak menanjak. Faktor pendorongnya adalah akuisisi PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Multi Tambangjaya Utama yang telah terkonsolidasi. Proyek pengembangan CUAN ke depan adalah batubara metalurgi, tambang emas dan pasir silika.
Capex Jumbo Grup Barito & Petrindo
Ekspansi Grup Barito maupun Petrindo ditopang oleh belanja modal alias capital expenditure (capex) yang jumbo. Pandhu membeberkan, BRPT telah menggelontorkan capex sebesar US$ 5,1 miliar dalam kurun 2015 - 2024.
BRPT pun siap mengucurkan capex sebesar US$ 4,4 miliar hingga tahun 2027 untuk turut membiayai ekspansi BREN, TPIA dan Indo Raya Tenaga. Khusus untuk tahun ini, David menjelaskan BRPT mengalokasikan capex sebesar US$ 650 juta.
Dana tersebut mayoritas ditujukan untuk kebutuhan ekspansi TPIA dan BREN. Realisasi hingga semester pertama masih tergolong mini, yakni sebesar US$ 180 juta. "Jadi sisanya akan dilakukan pada semester kedua," ungkap David.
Sementara dari Grup Petrindo, Direktur CUAN Kartika Hendrawan mengungkapkan saat ini posisi CUAN lebih fokus sebagai pemilik tambang. Sedangkan PTRO sebagai kontraktor tambang.
Dengan pembagian fungsi tersebut, alokasi capex lebih banyak ditempatkan kepada PTRO sebagai kontraktor. PTRO mengalokasikan capex sekitar US$ 400 juta pada tahun 2024-2025.
Rekomendasi Saham
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Dimas Krisna Ramadhani mengamati aksi korporasi yang dilakukan oleh konglomerasi Prajogo Pangestu akan membawa dampak signifikan bagi kinerja para emitennya. Sebab, ekspansi dilakukan untuk pengembangan dan integrasi bisnis di dalam grup. Contohnya akuisisi PTRO oleh CUAN.
Sederet ekspansi dan akuisisi tersebut telah menjadi sentimen yang mendongkrak harga saham milik Prajogo Pangestu. Setelah aksi korporasi, Dimas melihat sentimen lain yang akan menjadi penggerak adalah kiprah saham Prajogo dalam indeks global seperti FTSE dan MSCI.
Catatan Dimas, secara historis emiten Prajogo Pangestu punya valuasi yang terbilang tinggi dibandingkan industri sejenisnya (peers). "Namun pergerakan emiten grup ini cenderung lebih kepada sentimen yang ada untuk masing-masing saham, bukan hanya kepada faktor valuasi," terang Dimas kepada Kontan.co.id, Jumat (25/10).
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menambahkan, sentimen ekspansi dan akuisisi cenderung telah terealisasi pada penguatan harga saham sebelumnya. Dus, William mengamini saat ini pelaku pasar perlu mencermati sentimen pada masing-masing sahamnya.
William mengingatkan, seringkali ada faktor spekulasi yang menggerakkan harga saham di grup ini. Jika ada kenaikan harga pada beberapa saham, maka bisa menjadi sentimen yang mengangkat harga saham emiten Prajogo Pangestu lainnya.
"Spekulasi, kebetulan belum semuanya patah tren jadi pelaku pasar masih optimis beberapa saham masih bisa menguat. Biarpun ada beberapa yang downtrend, tetap bisa mengambil momentum technical rebound," terang William.
Sebagai pilihan jangka pendek, William melihat saham TPIA, CUAN dan BREN menarik dilirik. Sedangkan Dimas merekomendasikan buy on weakness CUAN pada level Rp 7.200 - Rp 7.300 untuk target harga Rp 10.200, buy BREN dengan target Rp 8.800, dan hold PTRO untuk target harga di level Rp 22.000 per saham.
Begini Rencana Ekspansi Petrindo Jaya Kreasi (CUAN)
Saat ini sumber pendapatan Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) sudah terdiversifikasi [672] url asal
#prajogo-pangestu #petrindo-jaya-kreasi #pt-petrindo-jaya-kreasi-tbk-cuan #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #komoditas
(Kontan-Industri) 24/10/24 06:50
v/16916774/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten tambang milik taipan Prajogo Pangestu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) masih membentangkan rencana ekspansi di bisnis batubara maupun non-batubara. CUAN juga mulai memetik hasil dari akuisisi yang dilakukan pada tahun ini.
Direktur Utama Petrindo Jaya Kreasi Michael mengungkapkan, sumber pendapatan CUAN telah terdiversifikasi.
Dia membandingkan, sepanjang tahun 2023 pendapatan 100% bersumber dari penjualan batubara. Sedangkan pada semester I-2024, CUAN telah meraup pendapatan dari bisnis lain, yakni rekayasa konstruksi (30%), kontraktor pertambangan (28%) dan jasa (4%). Penjualan batubara masih dominan dengan porsi 38%.
Secara komoditas, pada tahun lalu CUAN hanya mengandalkan batubara termal. Sementara pada semester I-2024 bauran komoditas CUAN sudah beragam, yakni 56% dari batubara termal, 27% emas dan tembaga, 11% batubara metalurgi, serta 7% minyak dan gas.
"Melalui strategi bisnis, kami telah mendiversifikasi pendapatan," kata Michael dalam paparan publik, Rabu (23/10).
Pada semester I-2024, pendapatan dan laba bersih CUAN melonjak signifikan. Pendapatan melejit 348,43% secara tahunan (YoY) dari US$ 69,09 juta menjadi US$ 309,69 juta. Sementara laba bersih mendaki setinggi 163,31% (YoY) dari US$ 11,23 juta menjadi US$ 29,57 juta.
Direktur Petrindo Jaya Kreasi Kartika Hendrawan menambahkan, lonjakan kinerja CUAN terutama didorong oleh dua faktor.
Pertama, PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Multi Tambangjaya Utama (MUTU) yang telah terkonsolidasi. Kedua, total volume penjualan batubara secara konsolidasi naik sekitar 314% (YoY) dari 375.000 ton menjadi 1,5 juta ton.
Kartika bilang, bisnis batubara masih prospektif dengan permintaan yang masih terjaga. Apalagi, level harga batubara masih terbilang tinggi dibandingkan rata-rata harga pada tahun 2014-2021.
"(Harga batubara) saat ini new normal setelah 2022 terjadi anomali karena situasi geopolitik. Ke depannya dari lini bisnis pertambangan batubara kami cukup optimistis," kata Kartika.
Dus, CUAN pun akan terus menggali potensi cuan dari bisnis batubara. Tidak hanya batubara jenis termal, CUAN juga menggenjot kontribusi batubara metalurgi (coking coal) melalui dua anak usahanya, yakni MUTU dan PT Daya Bumindo Karunia (DBK).
Produksi batubara metalurgi MUTU telah mulai dilakukan pada Agustus lalu, dengan pengiriman pertama kepada pembeli pada bulan September 2024. Sedangkan DBK akan memulai proses first cut di tahun ini, dengan proyeksi produksi komersial pada tahun 2025.
Sementara Direktur Petrindo Jaya Kreasi Daniel Laurente bilang, produksi DBK menjadi salah satu proyek strategis CUAN. Selain batubara, CUAN juga ekspansi ke tambang emas melalui PT Intam, yang akan terlebih dulu menyelesaikan proses eksplorasi.
PT Intam memegang izin pertambangan hingga tahun 2035 yang berlokasi di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Di samping emas, proyek CUAN berikutnya adalah pasir silika melalui Silika Salut Jaya (SSJ).
"Saat ini progres tambang SSJ ada dalam feasibility study (FS). Proses produksi akan dimulai sejalan dengan hasil FS tersebut," kata Daniel.
Michael menambahkan, CUAN terus melakukan optimalisasi sinergi dengan PTRO dan MUTU pasca akuisisi. Michael bilang, CUAN terbuka untuk melakukan ekspansi lanjutan secara anorganik. Namun, dia belum membeberkan rencana akuisisi tersebut.
"Sampai saat ini kami masih menjalankan proses due dilligence atau proses identifikasi potensi yang ada. Tentu (rencana akuisisi) tidak mengurangi target dan rencana kami untuk mengembangkan proyek-proyek yang sudah ada," tandas Michael.
Dalam pemberitaan sebelumnya, CUAN dikabarkan sedang mengkaji peluang akuisisi aset di dalam maupun ke luar negeri. Soal ini, Kartika mengatakan saat ini CUAN masih dalam tahapan penjajakan dan assessment lebih lanjut terkait potensi untuk ke luar negeri.
"Setiap potensi yang ada kami teliti dan garap dengan saksama," kata Kartika.
Mengenai alokasi investasi dan belanja modal (capex), manajemen CUAN juga belum memberikan rincian. Kartika hanya menjelaskan saat ini posisi CUAN lebih fokus sebagai pemilik tambang. Sedangkan PTRO sebagai kontraktor tambang.
Dengan pembagian fungsi tersebut, alokasi capex lebih banyak ditempatkan kepada PTRO sebagai kontraktor. PTRO mengalokasikan capex sekitar US$ 400 juta pada tahun 2024-2025. Sumber dana antara lain telah didapat dari fasilitas pinjaman perbankan.
Strategi Ekspansi Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) di Bisnis Batubara dan Non-Batubara
Emiten tambang taipan Prajogo Pangestu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) membentangkan rencana ekspansi di bisnis [661] url asal
#prajogo-pangestu #coking-coal #petrindo-jaya-kreasi #pt-petrindo-jaya-kreasi-tbk-cuan #saham-cuan #michael #kartika-hendrawan #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #emiten
(Kontan-Investasi) 23/10/24 20:19
v/16893586/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten tambang milik taipan Prajogo Pangestu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) masih membentangkan rencana ekspansi di bisnis batubara maupun non-batubara. CUAN juga mulai memetik hasil dari akuisisi yang dilakukan pada tahun ini.
Direktur Utama Petrindo Jaya Kreasi, Michael mengungkapkan sumber pendapatan CUAN telah terdiversifikasi. Dia membandingkan, sepanjang tahun 2023 pendapatan 100% bersumber dari penjualan batubara.
Sedangkan pada semester I-2024, CUAN telah meraup pendapatan dari bisnis lain, yakni rekayasa konstruksi (30%), kontraktor pertambangan (28%) dan jasa (4%). Penjualan batubara masih dominan dengan porsi 38%.
Secara komoditas, pada tahun lalu CUAN hanya mengandalkan batubara termal. Sementara pada semester I-2024 bauran komoditas CUAN sudah beragam, yakni 56% dari batubara termal, 27% emas dan tembaga, 11% batubara metalurgi, serta 7% minyak dan gas.
"Melalui strategi bisnis, kami telah mendiversifikasi pendapatan," kata Michael dalam paparan publik, Rabu (23/10).
Pada semester I-2024, pendapatan dan laba bersih CUAN melonjak signifikan. Pendapatan melejit 348,43% secara tahunan (YoY) dari US$ 69,09 juta menjadi US$ 309,69 juta. Sementara laba bersih mendaki setinggi 163,31% (YoY) dari US$ 11,23 juta menjadi US$ 29,57 juta.
Direktur Petrindo Jaya Kreasi, Kartika Hendrawan mengungkapkan lonjakan kinerja CUAN terutama didorong oleh dua faktor.
Pertama, PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Multi Tambangjaya Utama (MUTU) yang telah terkonsolidasi. Kedua, total volume penjualan batubara secara konsolidasi naik sekitar 314% (YoY) dari 375.000 ton menjadi 1,5 juta ton.
Kartika bilang, bisnis batubara masih prospektif dengan permintaan yang masih terjaga. Apalagi, level harga batubara masih terbilang tinggi dibandingkan rata-rata harga pada tahun 2014-2021.
"(Harga batubara) saat ini new normal setelah 2022 terjadi anomali karena situasi geopolitik. Ke depannya dari lini bisnis pertambangan batubara kami cukup optimistis," kata Kartika.
Dus, CUAN pun akan terus menggali potensi cuan dari bisnis batubara. Tidak hanya batubara jenis termal, CUAN juga menggenjot kontribusi batubara metalurgi (coking coal) melalui dua anak usahanya, yakni MUTU dan PT Daya Bumindo Karunia (DBK).
Produksi batubara metalurgi MUTU telah mulai dilakukan pada Agustus lalu, dengan pengiriman pertama kepada pembeli pada bulan September 2024. Sedangkan DBK akan memulai proses first cut di tahun ini, dengan proyeksi produksi komersial pada tahun 2025.
Direktur Petrindo Jaya Kreasi, Daniel Laurente mengatakan bahwa produksi DBK menjadi salah satu proyek strategis CUAN. Selain batubara, CUAN juga ekspansi ke tambang emas melalui PT Intam, yang akan terlebih dulu menyelesaikan proses eksplorasi.
PT Intam memegang izin pertambangan hingga tahun 2035 yang berlokasi di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Di samping emas, proyek CUAN berikutnya adalah pasir silika melalui Silika Salut Jaya (SSJ).
"Saat ini progres tambang SSJ ada dalam feasibility study (FS). Proses produksi akan dimulai sejalan dengan hasil FS tersebut," kata Daniel.
Michael menambahkan, CUAN terus melakukan optimalisasi sinergi dengan PTRO dan MUTU pasca akuisisi. Michael bilang, CUAN terbuka untuk melakukan ekspansi lanjutan secara anorganik. Namun, dia belum membeberkan rencana akuisisi tersebut.
"Sampai saat ini kami masih menjalankan proses due dilligence atau proses identifikasi potensi yang ada. Tentu (rencana akuisisi) tidak mengurangi target dan rencana kami untuk mengembangkan proyek-proyek yang sudah ada," tandas Michael.
Dalam pemberitaan sebelumnya, CUAN dikabarkan sedang mengkaji peluang akuisisi aset di dalam maupun ke luar negeri. Soal ini, Kartika mengatakan saat ini CUAN masih dalam tahapan penjajakan dan assessment lebih lanjut terkait potensi untuk ke luar negeri.
"Setiap potensi yang ada kami teliti dan garap dengan seksama," kata Kartika.
Mengenai alokasi investasi dan belanja modal (capex), manajemen CUAN juga belum memberikan rincian. Kartika hanya menjelaskan saat ini posisi CUAN lebih fokus sebagai pemilik tambang. Sedangkan PTRO sebagai kontraktor tambang.
Dengan pembagian fungsi tersebut, alokasi capex lebih banyak ditempatkan kepada PTRO sebagai kontraktor. PTRO mengalokasikan capex sekitar US$ 400 juta pada tahun 2024-2025. Sumber dana antara lain telah didapat dari fasilitas pinjaman perbankan.
Sinergi dengan CUAN, Petrosea (PTRO) Beberkan Rencana Ekspansi dan Peluang Akuisisi
PTRO bisa menjadi kontraktor utama untuk pengembangan portofolio aset pertambangan yang dimiliki oleh CUAN. [794] url asal
#ekspansi #pt-petrosea-tbk #pt-petrindo-jaya-kreasi-tbk-cuan #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #emiten
(Kontan) 23/10/24 15:55
v/16885023/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Petrosea Tbk (PTRO) ingin mengoptimalkan sinergi dengan Grup Barito, konglomerasi bisnis milik taipan Prajogo Pangestu melalui PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Perseroan membeberkan manfaat, rencana ekspansi hingga peluang akuisisi.
Direktur Utama Petrosea, Michael membeberkan tiga potensi sinergi antara PTRO dengan CUAN. Pertama, kerja sama usaha dan proyek kolaboratif, sehingga bisa meningkatkan penawaran layanan dan jangkauan pasar.
Michael bilang, PTRO bisa menjadi kontraktor utama untuk pengembangan portofolio aset pertambangan yang dimiliki oleh CUAN maupun proyek kolaboratif dengan Barito Grup.
"Berkolaborasi dengan Grup Barito, untuk menjajaki peluang-peluang pasar baru di berbagai sektor. Termasuk energi, petrokimia dan infrastruktur yang dapat menjadi sumber pertumbuhan baru ke depannya," ungkap Michael yang juga menjabat sebagai Direktur Utama CUAN, dalam paparan publik PTRO, Rabu (23/10).
Kedua, sinergi operasional dan upaya digitalisasi. Termasuk dalam integrasi pengadaan, logistik, infrastruktur dan manajemen rantai posokan. Ketiga, berbagi sumber daya dan kemampuan, sehingga bisa melakukan optimalisasi aset untuk menambah kapabilitas dan mengurangi biaya operasional.
Direktur Petrosea, Iman Darus Hikhman menambahkan, PTRO dan CUAN saat ini melakukan ekspansi yang cukup agresif di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng). CUAN memiliki beberapa aset tambang dan aset infrastruktur di daerah tersebut, sehingga PTRO bisa ikut melakukan pendekatan untuk menjajaki proyek-proyek baru di sekitar aset CUAN.
"Aset pertambangan tidak bisa dilepaskan dari infrastruktur, logistik dan juga marketing. Posisi Petrindo dan PTRO akan saling menguatkan dalam memberikan layanan terintegrasi," ungkap Iman.
Meski begitu, Iman menegaskan pencarian kontrak baru PTRO tidak akan terbatas pada CUAN. Secara volume dari segmen kontraktor pertambangan, porsi dari CUAN berkisar antara 20%-30%, sedangkan mayoritas masih di luar Grup Petrindo.
PTRO menargetkan volume overburden removal dapat meningkat sekitar 85% pada tahun depan, hingga bisa mencapai level 200 juta bank cubic meter (bcm). Sedangkan pada tahun ini target PTRO di sekitar 112 juta bcm.
"(Kenaikan volume) akan diperoleh dari berbagai kontrak baru dan kontrak eksisting yang kami perpanjang," imbuh Iman.
Kontrak Baru & Ekspansi
Direktur Petrosea, Ruddy Santoso mengungkapkan, PTRO terus mengejar perolehan kontrak baru. PTRO pun sudah mengamankan kontrak baru lebih dari US$ 1 miliar pada tahun ini.
"Akan terus bertambah di tahun 2025. Itu bagian dari komitmen perusahaan untuk terus berkembang mencari proyek-proyek baru," kata Ruddy.
Setidaknya sudah ada tujuh kontrak baru dan tambahan kontrak yang didapat PTRO di tahun ini, terutama dari segmen kontrak pertambangan serta segmen rekayasa & konstruksi. Kontrak tersebut berasal dari BP Berau, Freeport Indonesia, Triasih Nawasena Bumi Sejahtera, Global Bara Mandiri, Daya Bumindo Karunia, Vale Indonesia, dan Pasir Bara Prima.
Dari seluruh proyek yang dimiliki, total backlog nilai kontrak PTRO hingga bulan Agustus 2024 mencapai US$ 4,16 miliar. Jumlah ini tumbuh sekitar 55% dari posisi semester I-2024, dimana PTRO memiliki total backlog kontrak dari komoditas batubara termal (71%), batubara kalori tinggi (8%), mineral (12%) serta minyak dan gas (9%).
Masih dalam rangkaian strategi ekspansi, PTRO pun belum lama ini mendirikan anak perusahaan baru, PT Petrosea Infrastruktur Nusantara (PT PIN). PTRO mendirikan PT PIN sebagai sub-holding untuk menunjang aktivitas holding dan konsultasi manajemen di bidang infrastruktur.
Iman menjelaskan, pendirian PT PIN ditujukan untuk memberikan solusi terintegrasi, terutama pada proyek-proyek yang sedang dalam pembangunan di area-area yang tengah dijajaki untuk ekspansi. Khususnya di daerah Kalteng dan ke area Indonesia Timur dalam ekspansi ke proyek mineral.
Direktur Petrosea, Kartika Hendrawan menambahkan, ke depan PTRO melalui PT PIN melakukan beberapa due diligence atas aset-aset yang potensial untuk diakuisisi. Termasuk pada sejumlah aset organik milik PTRO yang akan dibangun.
"Intinya kami berharap positioning PTRO semakin lengkap. Bukan hanya kontraktor yang membangun aset infrastruktur, tapi juga pemilik aset tersebut," kata Kartika.
Michael menekankan, PTRO terbuka untuk melakukan ekspansi secara anorganik. Tapi dia belum membeberkan detail rencana akuisisi tersebut. Yang terang, Michael optimistis terhadap prospek PTRO seiring dengan perolehan kontrak baru dan pembiayaan dari perbankan yang telah diraih pada tahun 2024.
"Hal ini menjadi sebuah pondasi untuk mengembangkan operasional di 2025 dan seterusnya. Ini merupakan strategi operasional yang berjalan di PTRO," tandas Michael.
Guna memuluskan berbagai strategi tersebut, PTRO mengalokasikan belanja modal (capex) sekitar US$ 400 juta untuk tahun 2024 dan 2025. Ruddy bilang, alokasi capex yang cukup besar akan dikucurkan pada kuartal keempat ini sekitar US$ 134 juta.
Kemudian PTRO akan menggelontorkan sekitar US$ 250 juta pada kuartal I dan kuartal II-2025.
"Capex ini untuk proyek-proyek baru, dan beberapa proyek yang berpotensi didapatkan pada tahun depan," tutup Ruddy.
Prajogo Pangestu Jual Saham 12,41 Juta Saham CUAN, Segini Duit yang Didapat
Prajogo Pangestu mendapatkan dana segar sebesar Rp 118.47 miliar setelah melepas 12,41 juta saham Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) [372] url asal
#prajogo-pangestu #petrindo-jaya-kreasi #pt-petrindo-jaya-kreasi-tbk-cuan #kekayaan-prajogo-pangestu #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #emiten
(Kontan-Investasi) 06/09/24 09:58
v/14904837/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prajogo Pangestu menjual 12.417.700 (12,41 juta) saham atau setara 0,11% kepemilikan di PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Konglomerat terkaya di Indonesia ini merupakan pemegang saham pengendali dari perusahaan tambang batubara tersebut.
Sekretaris Perusahaan Petrindo Jaya Kreasi, Robertus Maylando Siahaya mengungkapkan penjualan saham CUAN ini bukan merupakan transaksi repurchase agreement. Aksi ini membuat kepemilikan Prajogo Pangestu pada CUAN berkurang, dari sebelumnya 9,56 miliar (85,07%) menjadi 9,55 miliar (84,96%) setelah transaksi.
Sehingga Robertus menegaskan bahwa Prajogo tetap mempertahankan posisinya sebagai pengendali CUAN. "(Tujuan dari transaksi) menambah free float saham yang beredar di pasar," ungkap Robertus dalam keterbukaan informasi, Kamis (5/9).
Sebagai informasi, hingga 31 Agustus 2024 jumlah saham free float CUAN sebesar 1.675.681.600 (1,67 miliar) saham atau setara 14,90%. Adapun, penjualan saham CUAN oleh Prajogo Pangestu dilakuakn dalam beberapa kali transaksi pada 29 Agustus 2024.
Penjualan dilakukan dalam beberapa harga di tanggal tersebut, yakni:
- 8.417.700 lembar saham dengan harga Rp 9.450 per lembar saham.
- 297.400 lembar saham dengan harga Rp 9.900 per lembar saham.
- 169.200 lembar saham dengan harga Rp 9.925 per lembar saham.
- 25.500 lembar saham dengan harga Rp 9.950 per lembar saham.
- 7.900 lembar saham dengan harga Rp 9.975 per lembar saham.
- 2.892.300 lembar saham dengan harga Rp 10.000 per lembar saham.
- 557.200 lembar saham dengan harga Rp 10.025 per lembar saham, dan
- 50.500 lembar saham dengan harga Rp 10.050 per lembar saham.
Dalam hitungan Kontan.co.id dari jumlah saham dan harga penjualan tersebut, total dana yang didapat Prajogo Pangestu dari penjualan saham CUAN tersebut mencapai sebesar Rp 119,47 miliar.
Dari sisi pergerakan saham, CUAN mengalami kenaikan harga sebanyak 2,55% ke level Rp 9.050 per saham hingga pukul 09.45 WIB perdagangan Jum'at (6/9). Sedangkan jika diukur secara year to date, harga saham CUAN mengakumulasi pelemahan 32,59%.
Rekomendasi Saham BRPT, TPIA, BREN, CUAN Pasca Rilis Kinerja Grup Barito Semester I
Emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu membukukan kinerja yang beragam dalam periode setengah tahun ini. [890] url asal
#pt-barito-pacific-tbk-brpt #grup-barito #barito #rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #pt-petrindo-jaya-kreasi-tbk-cuan #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #pt-chandra-asri-pacific-tb
(Kontan - Terbaru) 01/08/24 20:35
v/12910249/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu membukukan kinerja yang beragam dalam periode setengah tahun ini. Kinerja tiga emiten dari Grup Barito tidak terlalu mentereng, sedangkan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) tumbuh signifikan.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebagai induk Grup Barito meraih laba bersih senilai US$ 34,49 juta pada semester I-2024. Meningkat 13,60% dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau Year onYear (YoY), yang kala itu sebesar US$ 30,36 juta.
Capaian ini didapat ketika pendapatan BRPT menyusut 16,05% YoY menjadi US$ 1,15 miliar. Pendapatan BRPT ditopang oleh segmen petrokimia senilai US$ 866 juta dan energi sebesar US$ 290 juta.
Pendapatan dari petrokimia dan energi masing-masing turun sekitar 19,4% dan 2,4%. Sedangkan pendapatan BRPT dari segmen lainnya stabil di level US$ 3 juta.
Direktur Utama Barito Pacific Agus Pangestu mengungkapkan penurunan pendapatan konsolidasi terutama didorong oleh volatilitas yang sedang berlangsung di sektor petrokimia global. Bersamaan dengan itu, ada turnaround maintenance (TAM) terjadwal yang mengakibatkan penurunan volume penjualan secara keseluruhan.
Kemudian, ada pemeliharaan di salah satu unit operasi panas bumi. Di sisi yang lain, kontribusi dari Sidrap I yang baru saja diakuisisi membantu mengurangi sebagian penurunan pendapatan. Pada periode ini berhasil mencapai rekor produksi tertinggi sejak pertama kali beroperasi.
"Meskipun terjadi gejolak, kami terus melanjutkan rencana ekspansi kami, yang terlihat dari progres pertumbuhan organik dan serangkaian akuisisi untuk mendukung pertumbuhan ke depan. Akuisisi dan kemitraan strategis akan terus memperkuat posisi pasar dan mendukung transisi kami menjadi pemain regional yang terkemuka," ungkap Agus dalam keterbukaan informasi, Rabu (31/7).
Tantangan di bisnis petrokimia tercermin dari penurunan kinerja top line dan bottom line anak usaha BRPT, yakni TPIA. Pendapatan TPIA anjlok 19,34% YoY dari US$ 1,07 miliar menjadi US$ 866,49 juta pada semester I-2024.
Secara bottom line, rugi bersih TPIA meroket 7.999,65% YoY menjadi US$ 47,46 juta pada semester I-2024. Sebagai perbandingan, rugi periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk TPIA di semester I-2023 masih sebesar US$ 586.000.
Direktur Chandra Asri Pacific, Suryandi, menjelaskan kinerja TPIA sebagian besar dipengaruhi oleh kondisi pasar global yang penuh tantangan dan pemeliharaan terjadwal (TAM) pada kuartal II-2024. Hal ini menyebabkan penurunan volume penjualan.
Volume penjualan pada semester I-2024 tercatat sebesar 91 kilo ton (KT), menurun dari 105 KT pada semester I-2023. Meski mengalami penurunan kinerja, Suryandi mengatakan TPIA melakukan strategi ekspansi untuk mencapai pertumbuhan eksponensial dan berkelanjutan.
Pada Mei 2024, TPIA dan Glencore Plc menandatangani Perjanjian untuk mengakuisisi seluruh kepemilikan Shell Singapore Pte. Ltd. di Shell Energy and Chemicals Park Singapore (SECP). Melalui CAPGC Pte. Ltd., perusahaan joint-venture yang mayoritas dimiliki oleh TPIA dan minoritas oleh Glencore.
Akuisisi tersebut mencakup kilang dengan kapasitas 237.000 barel per hari, ethylene cracker berkapasitas 1,1 juta metrik ton di Pulau Bukom, dan aset kimia hilir di Pulau Jurong. Transaksi ini diharapkan dapat diselesaikan pada akhir tahun 2024.
Beralih ke segmen energi terbarukan dari Grup Barito, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) hanya mencapai pertumbuhan laba bersih dengan level yang minimalis, yakni 0,53% (YoY) menjadi US$ 57,95 juta.
Keuntungan yang hanya naik tipis itu terjadi ketika pendapatan BREN merosot 2,32% (YoY). BREN mengantongi pendapatan US$ 290,07 juta hingga periode 30 Juni 2024, berbanding US$ 296,98 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Ketika kinerja BRPT, TPIA dan BREN dari Grup Barito cenderung tertekan, cuan emiten batubara Prajogo Pangestu tumbuh signifikan. CUAN membukukan pendapatan senilai US$ 309,69 juta atau terbang setinggi 348,43% secara tahunan, yang kala itu masih di level US$ 69,06 juta.
Secara bottom line, CUAN meraih laba bersih sebesar US$ 29,57 juta hingga 30 Juni 2024. Keuntungan CUAN melonjak 163,31% dibandingkan laba bersih semester I-2023 senilai US$ 11,23 juta.
Meski kinerja tidak terlalu mentereng, harga saham emiten Grup Barito kompak menanjak pada Kamis (1/8). BRPT menguat 2,75% ke level Rp 1.120, TPIA meningkat 1,81% menjadi Rp 9.825 dan BREN naik 0,29% ke posisi Rp 8.675.
Sementara harga CUAN justru stagnan di level Rp 8.475 per saham. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto mengamati bahwa laju pasar saham di awal Agustus ini, termasuk pada saham Grup Barito tidak semata-mata digerakkan oleh rilis kinerja semester I-2024.
William melihat ada faktor eksternal yang juga memiliki peran signifikan, terutama dari ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada September 2024. "Penguatan hari ini kemungkinan ada euforia pasar," ungkapnya kepada Kontan.co.id, Kamis (1/8).
William lantas mengingatkan pelaku pasar untuk berhati-hati, lantaran secara teknikal ada indikasi jenuh beli pada sejumlah saham milik Prajogo Pangestu. William menyarankan sell on strength pada saham BREN, TPIA dan CUAN. Sedangkan untuk BRPT masih layak buy dengan target harga di Rp 1.250.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menambahkan, secara teknikal ada potensi koreksi dalam jangka pendek untuk BRPT dan BREN. Namun di sisi lain keduanya berpeluang melaju pada awal fase uptrend.
Dus, Herditya menyarankan untuk mencermati peluang buy on weakness BRPT untuk target harga Rp 1.170-Rp 1.240 dan BREN dengan target Rp 9.525-Rp 10.025. Rekomendasi lainnya, speculative buy saham TPIA dan CUAN dengan target harga masing-masing Rp 9.875-Rp 9.975 dan Rp 8.925-Rp 9.100 per saham.
Ikhtisar Kinerja Semester I-2024 Emiten Prajogo Pangestu: BRPT, TPIA, BREN & CUAN
Empat emiten yang dikuasai konglomerat Prajogo Pangestu telah merilis laporan keuangan semester I 2024. [752] url asal
#prajogo-pangestu #pt-barito-pacific-tbk-brpt #brpt #grup-barito #ptro #pt-petrindo-jaya-kreasi-tbk-cuan #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #bren #pt-chandra-asri-pacific-tbk-tpia #berita-na
(Kontan - Terbaru) 01/08/24 13:36
v/12871592/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Empat emiten yang dikuasai konglomerat Prajogo Pangestu telah merilis laporan keuangan periode setengah tahun 2024. Mereka adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Hingga tulisan ini dibuat, tinggal PT Petrosea Tbk (PTRO) yang belum merilis laporan kinerja semester I-2024. Adapun, empat emiten milik Prajogo Pangestu membukukan kinerja yang beragam dalam enam bulan pertama tahun ini.
Induk Grup Barito, BRPT, mengantongi pendapatan US$ 1,15 miliar di semester I 2024. Pendapatan BRPT terpangkas 16,05% dibandingkan periode sama tahun lalu (Year on Year/YoY), yang senilai US$ 1,37 miliar.
Sejalan dengan itu, beban pokok pendapatan dan beban langsung BRPT ikut menyusut 16,06% (YoY) ke level US$ 914,47 juta. Membuat laba kotor BRPT turun 14,06% (YoY) menjadi US$ 244,73 juta.
Dari pos pembukuan lainnya, salah satu yang paling signifikan adalah keuntungan kurs mata uang asing yang mencapai US$ 20,97 juta. Dibandingkan periode setengah tahun 2023 lalu, BRPT mencatatkan kerugian kurs mata uang asing sebesar US$ 10,80 juta.
Namun pada enam bulan 2024, keuntungan lain-lain BRPT turun 21,03% (YoY) menjadi US$ 67,86 juta. BRPT pun membukukan laba periode berjalan senilai US$ 50,34 juta pada semester I-2024, turun 38,36% dari posisi US$ 81,67 juta pada semester I-2023.
Namun secara bottom line, laba bersih BRPT tumbuh 13,60% (YoY) menjadi US$ 34,49 juta pada semester I-2024. Sebagai perbandingan, BRPT membukukan laba bersih periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$ 30,36 juta pada semester I-2023.
Sebagai informasi, pendapatan bersih BRPT pada semester I-2024 didominasi segmen petrokimia senilai US$ 866 juta dan energi US$ 290 juta. Masing-masing turun sekitar 19,4% dan 2,4% secara tahunan. Sedangkan pendapatan dari segmen lainnya relatif stabil di level US$ 3 juta.
Direktur Utama Barito Pacific Agus Pangestu mengungkapkan penurunan pendapatan konsolidasi BRPT terutama didorong volatilitas yang sedang berlangsung di sektor petrokimia global. Kemudian, ada turnaround maintenance (TAM) terjadwal di kompleks petrokimia kami yang mengakibatkan penurunan volume penjualan.
Selain itu, pemeliharaan juga dilakukan pada salah satu unit operasi panas bumi. Di sisi lain, kontribusi dari Sidrap I yang baru saja diakuisisi membantu mengurangi sebagian penurunan pendapatan, dimana pada periode ini berhasil mencapai rekor produksi tertinggi sejak pertama kali beroperasi.
“Meskipun terjadi gejolak, kami terus melanjutkan rencana ekspansi, yang terlihat dari progres pertumbuhan organik dan serangkaian akuisisi untuk mendukung pertumbuhan ke depan. Akuisisi yang terfokus dan kemitraan strategis akan terus memperkuat posisi pasar kami dan mendukung transisi menjadi pemain regional terkemuka.," terang Agus dalam keterbukaan informasi, Rabu (31/7).
Tantangan di bisnis petrokimia tercermin dari penurunan kinerja top line dan bottom line anak usaha BRPT, yakni TPIA. Pendapatan TPIA anjlok 19,34% (YoY) dari US$ 1,07 miliar menjadi US$ 866,49 juta pada semester I-2024.
Secara bottom line, rugi bersih TPIA meroket 7.999,65% (YoY) menjadi US$ 47,46 juta pada semester I-2024. Sebagai perbandingan, rugi periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk TPIA di semester I-2023 masih sebesar US$ 586.000.
Sedangkan dari segmen energi terbarukan, laba bersih BREN hanya tumbuh mini sebanyak 0,53% (YoY). Dari sebelumnya US$ 57,64 juta menjadi US$ 57,95 juta pada semester I-2024.
Keuntungan yang hanya naik tipis itu terjadi ketika pendapatan BREN mengalami penurunan 2,32% (YoY). BREN mengantongi pendapatan US$ 290,07 juta hingga periode 30 Juni 2024, berbanding US$ 296,98 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Ketika kinerja BRPT, TPIA dan BREN dari Grup Barito cenderung tertekan, cuan emiten batubara Prajogo Pangestu tumbuh signifikan. CUAN membukukan pendapatan senilai US$ 309,69 juta pada semester I-2024 atau terbang setinggi 348,43% ketimbang semester I-2023, yang kala itu masih di level US$ 69,06 juta.
Secara bottom line, CUAN meraih laba bersih sebesar US$ 29,57 juta hingga 30 Juni 2024. Keuntungan CUAN melonjak 163,31% dibandingkan laba bersih semester I-2023 senilai US$ 11,23 juta.
Meski membukukan kinerja yang beragam, namun pergerakan saham keempat emiten Prajogo Pangestu itu kompak naik hingga sesi I perdagangan Kamis (1/8). Harga BRPT menguat 2,29% ke level Rp 1.115 per saham.
Harga saham TPIA naik tipis 0,26% ke harga Rp 9.675 per saham. Harag BREN menanjak 1,45% ke level Rp 8.775 per saham. Sedangkan harga saham CUAN naik 0,59% ke posisi Rp 8.525 per saham.
Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) Raup Laba US$ 30 Juta pada Semester I 2024
Petrindo Jaya Kreasi Raup Laba US$ 30 Juta pada Semester I-2024 [251] url asal
#emiten #pt-petrindo-jaya-kreasi-tbk-cuan #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 30/07/24 22:06
v/12692711/
Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tendi Mahadi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) membukukan laba bersih sebesar US$ 30 juta pada semester I-2024. Angka itu mengalami peningkatan dari posisi laba pada semester I-2023 yang sebanyak US$ 11 juta.
Direktur Petrindo Jaya Kreasi, Kartika Hendrawan mengatakan, laba perusahaan yang meningkat didorong oleh pendapatan perusahaan yang juga mengalami kenaikan 79,2 persen secara year on year (YoY) menjadi US$ 310 juta di semester I-2024.
"Pendapatan diraih campuran pendapatan yang lebih terdiversifikasi. Pendapatan kami pada semester I-2024 dari lini bisnis rekayasa dan konstruksi, penambangan, dan jasa dengan kontribusi masing-masing sebesar 30%, 28%, dan 4%," kata dia dalam keterangan resminya, Selasa (30/7).
Posisi pendapatan yang meningkat juga membuat laba kotor dan laba operasi perseroan naik masing-masing menjadi US$ 66 juta dan US$ 51 juta.
Dengan baiknya kinerja bisnis, hal itu membuat total aset perusahaan naik menjadi US$ 1.157 juta per 30 Juni 2024 dari posisi US$ 230 juta per 31 Desember 2023.
Total aset itu meningkat sebagai hasil dari akuisisi saham di PT Multi Tambangjaya Utama (MUTU), PT Petrosea Tbk (PTRO) melalui anak perusahaan PT Kreasi Jasa Persada (KJP), PT Borneo Bangun Banua (B3), dan PT Borneo Bangun Banua Bestari (B4).
"Semua akuisisi saham ini telah dikonsolidasi ke dalam laporan keuangan Petrindo Jaya Kreasi per 30 Juni 2024," ungkap dia.
Jumlah aset yang dimiliki perusahaan hingga semester I-2024, terdiri dari total liabilitas (kewajiban) sebesar US$ 830 juta dan total ekuitas sebesar US$ 327 juta.