JAKARTA, investor.id – Stimulus ekonomi yang melimpah, seperti pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve AS dan Bank Sentral Tiongkok (PBoC), menjadi katalis untuk permintaan minyak jangka panjang. Risiko geopolitik juga memberikan dorongan pada harga minyak. Lantas, saham migas apa yang paling recommended?
Menurut RHB Sekuritas, stimulus China akan mendukung permintaan minyak ke depan, dimana 44% dari total permintaan minyak China untuk rumah tangga. Untuk mencapai pertumbuhan PDB 5%, Bank Sentral China, PBoC mengurangi persyaratan cadangan bank sebesar 50 bps dan suku bunga pinjaman utama satu tahun diturunkan menjadi 3,1%.
“Kami perkirakan langkah tersebut bakal mendorong permintaan minyak. Ekonom kami memprediksi bisnis di China dapat menyerap tambahan likuiditas dalam 3-6 bulan ke depan. Selain itu, ekonomi China yang secara tradisional dipimpin oleh konsumsi diperkirakan mengalami peningkatan belanja konsumen pada kuartal IV-2024, terutama dengan penurunan tingkat pengangguran menjadi 5,1% pada September 2024,” tulis RHB Sekuritas dalam risetnya.
Sementara itu, berdasarkan laporan OPEC pada Agustus, sekitar 44% dari permintaan minyak China terkait dengan pengeluaran rumah tangga, seperti LPG, bensin, dan bahan bakar jet/minyak tanah. “Kami juga terus mengamati risiko geopolitik di Timur Tengah, dengan Israel yang belum melakukan serangan balasan terhadap serangan rudal Iran di awal Oktober,” jelas RHB.
Di Indonesia, transisi pemerintahan ke Presiden Prabowo Subianto membawa kabar baik, dengan komitmennya untuk mewujudkan swasembada energi dengan mempertahankan produksi minyak sebesar 1 juta barel/hari dan target produksi gas sebanyak 12 bcf/hari pada 2030.
Dalam pidato pelantikannya, Prabowo berkomitmen untuk mencapai swasembada energi dalam 4-5 tahun. Menurut BPS, per September 2024, nilai impor minyak dan gas (migas) Indonesia mencapai US$ 26,7 miliar, naik 19% yoy.
Sedangkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan bahwa Indonesia masih mengimpor minyak sekitar 1 juta barel/hari untuk memenuhi permintaan minyak sebesar 1,6 juta barel/hari.
Akibatnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berencana meningkatkan produksi minyak Indonesia dengan memetakan sumur strategis Indonesia, memperkenalkan teknologi baru untuk mengoptimalkan produksi minyak, mengurangi izin eksplorasi dari 320 menjadi 140 izin, dan menyederhanakan kontrak produksi untuk menarik investasi migas.
Tahun ini, Kementerian ESDM menargetkan produksi minyak sebanyak 600 ribu barel/hari. Hingga semester I-2024, produksi minyak mencapai 575 ribu barel/hari.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Dengan berbagai faktor yang ada, RHB mempertahankan peringkat overweight untuk sektor migas. Pilihan utamanya yaitu PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Elnusa Tbk (ELSA). Rekomendasinya adalah buy. Target harga saham MEDC sebesar Rp 1.900 dan ELSA Rp 650.
Khusus PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN, kinerjanya pada kuartal III-2024 ditaksir melampaui perkiraan. PGAS diyakini bakal mempertahankan spread distribusi gas sebesar US$ 2/mmbtu pada kuartal III-2024.
Di lain sisi, secara historis, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) cenderung melaporkan kenaikan margin kotor di tengah pelemahan harga minyak. Dengan produksi batu bara nasional yang tumbuh 5% qoq menjadi 211,7 juta ton, pendapatan AKRA akan menarik untuk dicermati.
RHB juga merekomendasikan buy saham AKRA, meski bukan pilihan utama. Target harga saham AKRA sebesar Rp 1.950. Sedangkan rekomendasi saham PGAS adalah netral dengan target harga Rp 1.440.
Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News