#30 tag 24jam
Menengok Arah Bursa Saham di Musim Laporan Keuangan, Sektor Apa yang Menarik?
Meski ada sektor-sektor yang berkinerja baik, arah pasar saham domestik tetap penuh tantangan, terutama dengan valuasi saham yang mulai mahal. [919] url asal
#ihsg #saham-sektor-keuangan #rekomendasi-saham #saham-sektor-teknologi #saham-sektor-farmasi #saham-sektor-kesehatan #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 31/10/24 21:35
v/17274019/
Reporter: Rashif Usman | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten telah melaporkan hasil kinerjanya hingga kuartal III-2024. Hasilnya pun bervariasi.
Dari sektor perbankan, bank KBMI 4 masih mencatatkan pertumbuhan laba. Misalnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mampu membukukan laba paling tinggi hingga 12,91% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 41,1 triliun.
Tiga bank lainnya seperti PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) belum mampu mencatatkan pertumbuhan laba hingga 10% di kuartal III-2024.
Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan bank KBMI 4 yang mencakup bank-bank besar berhasil mencatatkan pertumbuhan laba yang moderat. Ini menunjukkan ketahanan meskipun adanya tekanan eksternal dan suku bunga yang tinggi.
Laba emiten perbankan lainnya seperti PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) juga meningkat signifikan sebesar 21,6%, mencapai Rp 5,11 triliun hingga kuartal III-2024. Peningkatan ini mencerminkan keberhasilan strategi ekspansi kredit dan efisiensi operasional yang kuat di tengah tantangan ekonomi global.
Kinerja BRIS juga menjadi daya tarik bagi investor asing yang melihat prospek perbankan syariah di Indonesia sangat potensial.
Selain itu, sektor yang menunjukkan kinerja bagus hingga kuartal III-2024 ialah properti, pertumbuhan laba signifikan dicatatkan oleh PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) yang melonjak 92%, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) tumbuh 52,37%, dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) naik 11,79%.
Sektor properti diuntungkan oleh stabilitas permintaan dan pulihnya daya beli konsumen, terutama di kawasan perkotaan.
"Sejauh ini, rilis kinerja kuartal III-2024 dari berbagai emiten besar di Indonesia menunjukkan hasil yang beragam dan secara umum sesuai ekspektasi analis di sektor tertentu, terutama di perbankan dan sektor properti," kata Hendra kepada Kontan, Kamis (31/11).
Tak hanya itu, sektor kesehatan juga menunjukkan pertumbuhan solid dengan laba PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) yang tumbuh masing-masing 15% dan 11,25% berkat peningkatan kebutuhan produk kesehatan.
Adapun sektor infrastruktur, dengan laba PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) yang naik 29% dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) tumbuh 7,1%, juga mempertahankan kinerja positif akibat peningkatan penggunaan layanan telekomunikasi.
Namun, kinerja sektor energi lebih bervariasi, di mana beberapa perusahaan seperti PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) dengan kenaikan laba 32,96%, berhasil unggul di tengah penurunan harga komoditas.
Sementara perusahaan lain seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat penurunan laba yang signifikan akibat fluktuasi harga batu bara dan logam, serta biaya produksi yang meningkat.
Hendra bilang sektor energi, terutama logam dan batu bara mengalami penurunan yang cukup drastis dan berada di luar ekspektasi beberapa analis yang memprediksi stabilitas laba. Penyebab utama penurunan ini ialah harga komoditas yang mengalami volatilitas serta naiknya biaya operasional.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat laba moderat yang dihasilkan oleh kinerja bank KBMI 4 disebabkan oleh pertumbuhan kredit yang secara umum mengalami penurunan.
Untuk sektor energi, menurutnya wajar apabila laba emiten terkoreksi secara umum karena adanya penurunan average selling price seiring dengan dinamika pergerakan harga komunitas dunia.
Dirinya juga menyoroti untuk sektor teknologi mencatatkan kinerja top line yang positif, sementara bottom line mengalami penyusutan. Dengan kondisi seperti itu, ia melihat sektor teknologi potensial ke depannya seiring dengan tren kenaikan cross transaction value dan didukung tren penurunan suku bunga acuan ke depan.
"Ini potensial untuk teknologi mencapai profitability tapi harus prudent," ucap Nafan kepada Kontan, Kamis (31/11).
Arah Pasar Saham
Hendra menerangkan, secara keseluruhan, meski ada sektor-sektor yang berkinerja baik, arah pasar saham domestik tetap penuh tantangan, terutama dengan valuasi saham yang mulai mahal di beberapa sektor.
Ia menuturkan fundamental bursa secara umum masih solid, namun volatilitas dari sektor energi dan teknologi memberikan ketidakpastian.
"Hal ini membuat investor tetap selektif dalam memilih saham dengan fundamental kuat dan potensi pertumbuhan yang jelas," tutur Hendra.
Nafan mencermati bahwa emiten big caps secara mayoritas tidak membukukan pertumbuhan bottom line yang triple digit.
"Kalau misalnya mengalami triple digit growth, ini akan membuat potensi PE-nya bisa tereduksi seoptimal mungkin, sehingga nanti secara valuasi dianggap menarik," terang Nafan.
Nafan juga menekankan untuk para investor selektif menetapkan saham-saham pilihan. "Cermati atau carilah emiten yang memiliki valuasi yang di bawah fairly valued," tegasnya.
Adapun Nafan juga memproyeksikan target jangka menengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa mencapai pada level 7.806-7.492 bila situasi market kondusif.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy menilai sejumlah kinerja emiten memang tidak semua sesuai dengan prediksi karena ada beberapa faktor penyebab, antara lain nilai tukar rupiah, harga komoditas yang fluktuatif serta tergerusnya kelas menengah.
Budi menilai IHSG tahun ini bisa naik 8%-10%. Sebab, bursa regional pada umumnya juga masih positif. "Valuasi beberapa saham masih menarik tentunya," papar Budi kepada Kontan, Kamis (31/11).
Ia juga menyoroti adanya fenomena window dressing di akhir tahun. "Pada penutupan akhir tahun tentunya ada (window dressing) dari investor institusi terutama asset management," ungkapnya.
Rekomendasi Saham
Hendra merekomendasikan untuk buy saham PGAS, KLBF dan BRIS dengan target harga masing-masing Rp 1.655, Rp 1.700 dan Rp 3.200 per saham. Ia juga merekomendasikan untuk buy on weakness saham PGEO di harga Rp 1.050 per saham dengan target harga Rp 1.200 per saham.
Nafan merekomendasikan untuk accumulative buy saham BBCA dengan target harga Rp 10.750 per saham, buy on weakness ISAT di target harga Rp 2.370 per saham, buy on weakness PGAS pada target harga Rp 1.535 per saham dan BSDE dengan target harga Rp 1.630 per saham.
Begini Rekomendasi Saham Emiten Teknologi yang Kembali Bergairah
para analis memberikan rekomendasi saham untuk saham sektor teknologi yang kembali naik [417] url asal
#rekomendasi-saham #sektor-teknologi #saham-sektor-teknologi #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 24/09/24 07:39
v/15472161/
Reporter: Yuliana Hema | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham emiten teknologi mulai merangkak naik. Ini tercermin dari pergerakan indeks IDX sektor teknologi yang sudah menguat 15,1% dalam satu bulan terakhir hingga akhir perdagangan Senin (23/9).
Namun indeks IDX sektor teknologi masih tertekan sebesar 13,71% secara year to date per Senin (23/9). Ini menjadikan indeks sektor teknologi menjadi yang terburuk sepanjang 2024.
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi salah satu saham yang mengalami lonjakan tertinggi. Dalam sebulan terakhir, GOTO telah melesat 22,64% ke posisi Rp 65 per saham.
Penguatan saham-saham teknologi di Indonesia juga mendapat angin segar dari sentimen penurunan suku bunga Bank Indonesia dan The Fed. Pasalnya, para emiten bakal mendapat pendanaan yang lebih murah.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Vicky Rosalinda mengatakan, beberapa dampak positifnya yaitu biaya modal atau pendanaan perusahaan teknologi menjadi lebih murah.
Dengan pendanaan yang lebih murah, para emiten teknologi bisa melakukan strategi bisnis yang lebih baik dan inovatif. Selain itu, tren suku bunga yang lebih rendah akan mendorong daya beli masyarakat.
"Dan dengan suku bunga yang rendah akan mengurangi biaya pinjaman dan meningkatkan valuasi saham emiten teknologi," jelasnya kepada Kontan akhir pekan lalu.
Vicky bilang selain sentimen suku bunga, saham sektor teknologi akan dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik dan perkembangan teknologi yang menjadi peluang dan tantangan bagi para emiten.
"Perubahan perilaku konsumen serta kinerja keuangan perusahaan dapat menentukan arah pergerakan harga saham dan kepercayaan investor," kata wanita yang akrab dipanggil Ocha.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Adityo Nugroho menambahkan, sektor teknologi mungkin tidak akan berdampak langsung oleh pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia.
"Namun efeknya akan terlihat dampaknya ke sektor teknologi, apabila perekonomian semakin tumbuh pesat dan daya beli masyarakat mengalami peningkatan," jelas dia.
Ke depannya, investor bisa mencermati rilis hasil kinerja keuangan para emiten pada kuartal III-2024. Misalnya, apakah GOTO berhasil meneruskan tren perbaikan kinerja atau justru sebaliknya.
Dari beberapa saham yang masuk ke dalam indeks IDX sektor teknologi, Vicky menilai investor bisa mencermati GOTO, WIFI dan MTDL. Namun dalam jangka dia merekomendasikan wait and see untuk GOTO dan WIFI.
Sementara itu, dia merekomendasikan trading buy untuk MTDL dengan target harga di kisaran Rp 640–Rp 645. Adapun MTDL menutup perdagangan Senin (23/9) dengan menguat 0,81% ke level Rp 625 per saham.
Kinerja Membaik, Intip Prospek Emiten Teknologi di Semester II-2024
Meski masih menderita kerugian, tetapi mayoritas emiten teknologi menunjukkan perbaikan dan pertumbuhan kinerja keuangan. [671] url asal
#rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #saham-sektor-teknologi #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan) 01/08/24 19:59
v/12908129/
Reporter: Yuliana Hema | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten teknologi kakap telah merilis kinerja di semester I-2024. Meski masih menderita kerugian, tetapi mayoritas menunjukkan perbaikan dan pertumbuhan kinerja keuangan.
Misalnya, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang berhasil mengantongi pendapatan bersih sebesar Rp 7,73 triliun per Juni 2024. Pendapatan GOTO meningkat 12,40% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp 6,88 triliun.
Sejalan dengan itu, beban dan biaya yang harus dipikul GOTO mengalami efisiensi. Per Juni 2023, jumlah beban GOTO hanya sebesar Rp 9,46 triliun atau turun 27,15% YoY dari Rp 12,99 triliun.
Dari sisi bottom line, rugi diatribusikan kepada pemilik entitas induk GOTO mencapai Rp 2,69 triliun per Juni 2024. Ini menyusut 62,30% secara dari Rp 7,16 triliun per Juni 2024.
Presiden Direktur Grup GoTo Patrick Walujo mengatakan pertumbuhan tersebut merupakan hasil dari strategi pasar massal GOTO, inovasi produk, dan pendekatan kepada pelanggan.
Dia bilang Grup GOTO telah memperluas dan memperdalam jangkauan pelanggan dengan produk-produk baru yang menarik lebih banyak orang, sambil menurunkan biaya pelayanan.
"Untuk di paruh kedua tahun ini, kami akan semakin mempercepat laju pertumbuhan, membangun fondasi kuat yang telah dikembangkan," kata Patrick dalam earning calls baru-baru ini.
Penurunan rugi bersih juga terjadi dialami oleh perusahaan besutan Grup Djarum, yakni PT Global Digital Niaga Tbk (BELI). Rugi tahun berjalan BELI per 30 Juni 2024 mencapai Rp 1,18 triliun atau menyusut 32,7% secara tahunan.
Dari sisi top line, pendapatan bersih emiten pengelola e-commerce Blibli ini mencapai Rp 7,85 triliun di sepanjang semester I-2024. Raihan ini naik 0,98% YoY dari Rp 7,77 triliun dari posisi semester I-2023
Ronald Winardi, Chief Financial Officer Global Digital Niaga bilang strategi pertumbuhan omnichannel yang selektif, meningkatkan laba bruto, dan pengendalian biaya yang disiplin telah efektif dalam meningkatkan kinerja.
"Kami akan terus menjalankan strategi omnichannel, yang mencakup perluasan titik kontak konsumen melalui kemitraan dengan pemegang merek global terkemuka," kata Ronald.
Berbeda dari dua emiten sebelumnya, rugi bersih PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) justru semakin membengkak. Sebenarnya, BUKA masih mencetak pertumbuhan pendapatan, tapi harus tertekan oleh kerugian investasi.
Adapun BUKA membukukan pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 10,61% YoY menjadi Rp 2,41 triliun di semester I-2024. Pada periode yang sama di 2023, pendapatan bersih BUKA mencapai RP 2,18 triliun.
Namun pertumbuhan top line BUKA harus tertekan karena rugi nilai investasi yang belum dan sudah terealisasi bersih mencapai Rp 1,32 triliun di semester I-2024. Di periode yang sama pada 2023, pos ini hanya minus Rp 120,82 miliar.
Alhasil, rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Bukalapak mencapai Rp 751,9 miliar. Ini lebih buruk dari posisi per Juni 2023, sebesar minus Rp 389,27 miliar.
Presiden Direktur Bukalapak Teddy Oetomo menyampaikan meskipun kuartal II-2024 relatif lebih statis, tetapi pihaknya puas dengan kinerja BUKA di paruh pertama tahun ini.
Teddy menjelaskan mengulangi kesuksesan kinerja kuartal pertama merupakan sebuah tantangan dengan adanya bulan Ramadan yang secara khusus mempengaruhi pendapatan segmen offline to online (O2O).
Momen Ramadan yang jatuh pada Maret 2024 merupakan periode tertinggi dan sudah tercatat di kuartal I-2024. Namun perayaan Idul Fitri diikuti oleh musim liburan menunjukkan penurunan tingkat belanja.
"Meskipun begitu, secara keseluruhan pendapatan meningkat 11% di paruh pertama tahun ini dibandingkan tahun lalu dengan take rate lebih dari 3%," jelas Teddy.
Merespon rilis kinerja tersebut, beberapa saham teknologi berhasil bangkit. Terutama, GOTO yang berhasil bangkit dari level gocap. Hingga akhir perdagangan Kamis (1/8) GOTO parkir di level Rp 54 per saham.
Equity Analyst Mirae Asset Sekuritas Christopher Rusli menjelaskan saat ini perusahaan teknologi tengah berfokus pada profitabilitas karena biaya pendanaan yang meningkat dan investor memprioritaskan profitabilitas.
Dia mencermati para emiten teknologi telah beralih dari strategi pertumbuhan tanpa batas menjadi fokus pada EBITDA atau laba bersih disesuaikan, yang mengarah pada peningkatan monetisasi dan rasionalisasi biaya.
"Namun sentimen positif untuk sektor teknologi diperlukan agar mendorong harga saham naik, dengan potensi penurunan suku bunga pada paruh kedua tahun 2024 akan menjadi katalis utama," jelas Christopher.
Investor Cabut dari Saham Emiten Teknologi, Simak Prospek Kinerjanya
Prospek kinerja emiten teknologi di tengah rencana sejumlah investor yang keluar dari sejumlah emiten teknologi [1,069] url asal
#ihsg #saham-ihsg #industri-teknologi #rekomendasi-saham #sektor-teknologi #saham-sektor-teknologi #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan-Investasi) 16/07/24 20:37
v/10989185/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten teknologi kembali menghadapi tantangan, yaitu rencana investor untuk mencabut investasinya dari bisnis mereka.
Terbaru, GIC tengah menimbang opsi untuk menjual kepemilikan minoritas di portofolionya yang cukup menonjol, yaitu PT Bukalapak Tbk (BUKA) dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Asal tahu saja, GIC adalah sovereign wealth fund kelas kakap asal Singapura.
Saat ini, GIC mempunyai kepemilikan saham di EMTK dan BUKA lewat Archipelago Investment Pte. Ltd. Melansir RTI, Archipelago Investment saat ini menguasai 9,73 juta saham atau setara 9,45% modal setor di BUKA.
Selain lewat Archipelago Investment, GIC juga memiliki kepemilikan langsung di BUKA. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), GIC dan Archipelago Investment secara total memiliki 11,33 juta saham atau setara dengan 11,001% modal setor di BUKA.
Informasi ini seperti dikutip dari Dealstreet Asia pada 16 Juli 2024. Sayangnya, belum ada informasi terkait berapa total dana persis yang dikeluarkan GIC untuk memiliki saham tersebut.
Yang jelas, menurut catatan KONTAN, GIC sempat mengeluarkan dana ke Bukalapak sebesar US$ 234 juta pada April 2021. Saat itu, GIC berinvestasi ke BUKA bersama dengan Microsoft dan EMTK.
GIC juga memegang kepemilikan saham di EMTK lewat Archipelago Investment. Melansir RTI, Archipelago Investment memiliki 4,29 miliar saham atau setara 7% dari total saham EMTK.
Berbeda dengan nasib GIC di BUKA, perusahaan investasi itu sempat melakukan aksi ambil untung alias profit taking pada EMTK.
Aksi ini dilakukan setelah jumlah saham EMTK dan kepemilikan GIC bertambah menjadi 10 kali lipat akibat aksi stock split dengan rasio 1:10 dilakukan EMTK pada 8 Januari 2021.
Tercatat, pada Mei 2021 hingga Juli 2021 GIC secara bertahap melego 207,88 juta saham EMTK. Belum ada informasi terkait berapa keuntungan yang dikantongi GIC dari aksi tersebut.
Lalu, pada 12 September 2022, GIC kembali melepas 8 juta saham EMTK. Sehari kemudian, GIC kembali melepas saham EMTK sebanyak 2,48 juta saham. Kedua transaksi itu tercatat di data Kustodian Efek Indonesia (KSEI).
Belum ada informasi juga terkait berapa keuntungan yang dikantongi GIC dari kedua transaksi di bulan September 2022 itu. Namun, pada 9 September 2022, tercatat ada transaksi crossing 5 juta saham di pasar negosiasi dengan harga Rp 9,21 miliar atau Rp 1.842 per saham.
Sementara, harga rata-rata saham EMTK pada 9-12 September 2022 sebesar Rp 1.827 per saham di pasar reguler. Artinya, GIC bisa meraup dana Rp 19,16 miliar di bulan September 2022. Keuntungannya mencapai 232,79% atau sekitar Rp 13,41 miliar.
Melansir RTI, harga saham EMTK saat ini berada di level Rp 440 per saham. Sementara, saham BUKA di level Rp 130 per saham.
Praktisi Pasar Modal Hans Kwee melihat, langkah melego saham emiten teknologi itu disebabkan karena para investor tidak melihat prospek pada emiten teknologi di masa depan.
Apalagi, persaingan di industri tekno masih sangat ketat. Sampai saat ini, Hans melihat tidak ada pemenang di industri ini alias tidak ada emiten teknologi yang punya kinerja baik, khususnya mereka yang punya segmen bisnis e-commerce.
Hal ini disebabkan para pengguna e-commerce masih sangat sensitif dengan harga. Alhasil, perubahan harga produk dan penurunan promo bakal memengaruhi pembelian para pengguna.
“Untuk tetap bersaing, para pelaku industri teknologi perlu tetap memasang promo. Artinya, para emiten akan tetap membakar uang. Hasilnya, investor pun cabut,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (16/7).
Terkait prospek ke depan, kinerja emiten teknologi masih relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Mereka masih harus bakar uang untuk mempertahankan pertumbuhan, bahkan juga untuk mempertahankan pangsa pasar,” paparnya.
Hans pun melihat kinerja emiten teknologi, khususnya dengan segmen bisnis utama e-commerce bakal masih lama untuk bisa meraih untung. Alhasil, investor pun lari.
“Kinerja emiten teknologi dengan segmen bisnis non e-commerce masih lebih baik kinerjanya,” tuturnya.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, alasan cabut atau tidaknya para investor di saham teknologi merupakan bagian dari langkah strategi investasi.
“Jika mereka memutuskan untuk pergi, itu berarti mereka telah mencapai target investasi atau justru rugi dan memilih investasi di sektor yang lebih menguntungkan,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (16/7).
Nico melihat, kinerja emiten teknologi yang fokus pada produk infrastruktur teknologi bisa lebih prospektif jika dibandingkan dengan segmen bisnis e-commerce.
”Sebab, infrastruktur teknologi akan selalu dibutuhkan untuk perkembangan dunia digital dalam jangka waktu panjang,” tuturnya.
Alhasil, Nico juga belum merekomendasikan saham emiten teknologi.
Director Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada mengatakan, peralihan investasi dari dan ke sektor teknologi dipengaruhi oleh term of investment para investor yang sudah berakhir.
Dengan cabutnya para investor dari saham teknologi, para emiten teknologi harus tetap bisa menjaga kinerja ke depan.
“Emiten-emiten tersebut harus dapat menjaga pangsa pasarnya dengan mencari sumber dana lain pada ekspansi bisnis, sehingga tidak tergantung dari dana para investor strategis,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (16/7).
Tantangan utama para emiten teknologi berasal dari sisi peningkatan layanan produk, sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan dapat memenuhi beban biaya mereka.
“Emiten teknologi itu sangat membutuhkan maintenance cost alias biaya pemeliharaan untuk tetap menjaga bisnis mereka,” paparnya.
Strategi para emiten teknologi pun berbeda-beda, sesuai dengan segmen bisnis utama mereka. Misalnya, emiten teknologi di bidang infrastruktur, seperti PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) dan PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) pasti punya strategi yang berbeda dengan emiten dengan segmen bisnis e-commerce, seperti soal kinerja PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan BUKA.
Sebagai catatan, MTDL mencatatkan laba bersih Rp 147,3 miliar pada periode Januari–Maret 2024, atau tumbuh 0,7% secara tahunan alias year on year (YoY). Sementara, ATIC mencatatkan laba Rp 49 miliar di kuartal I 2024, turun 19% yoy.
Di sisi lain, GOTO dan BUKA masih merugi hingga kuartal I 2024, meski mencatatkan pemulihan. GOTO yang per kuartal I-2024 membukukan rugi bersih Rp 862 miliar atau susut 78% yoy dari Rp 3,86 triliun di kuartal I-2023.
Lalu, BUKA masih mencatatkan rugi bersih Rp 41,96 miliar per kuartal I 2024, meskipun ini turun 95,83% yoy.
Reza pun merekomendasikan beli untuk MTDL, PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX), dan PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) dengan target harga masing-masing Rp 775 per saham, Rp 86 per saham, Rp 43.700 per saham, Rp 137 per saham, dan Rp 1.070 per saham.
Saham Teknologi Masih Lesu, Simak Prospeknya Sampai Akhir Tahun
Melihat bagaimana prospek saham teknologi yang kinerjanya terus melemah sejak awal tahun. [405] url asal
#rekomendasi-saham #saham-sektor-teknologi #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan-Investasi) 15/07/24 19:25
v/10874519/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten teknologi masih lesu. Kondisi ini diperkirakan membaik di akhir tahun, seiring dengan optimisme penurunan suku bunga bank sentral.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sektor teknologi sudah turun 25,76% sejak awal tahun alias year to date(ytd).
Di sisi lain, banyak isu yang menjadi awan gelap bagi sektor ini, baik itu datang dari industri dan kinerja emitennya. Misalnya, serangan siber yang menjadi kekhawatiran banyak orang akan keamanan data di dunia maya. Lalu, ada juga soal kinerja PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang betah di level Rp 50 per saham, padahal sempat aktif ditransaksikan.
Senior Investment InformationMirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, kinerja emiten teknologi sebenarnya relatif tumbuh. Meskipun masih mencetak rugi, tetapi beberapa emiten berhasil mengurangi kerugian mereka di kuartal I 2024.
Misalnya, GOTO yang per kuartal I-2024 membukukan rugi bersih Rp 862 miliar atau susut 78% secara tahunan atau year on year(YoY) dari Rp 3,86 triliun di kuartal I-2023.
Lalu, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) masih mencatatkan rugi bersih Rp 41,96 miliar per kuartal I 2024, meskipun ini turun 95,83% yoy.
“Yang paling penting adalah sektor teknologi ini harus terus menggenjot valuemenjadi gross merchandise value (GMV),” ujarnya kepada Kontan, Senin (15/7).
Di semester II 2024, kinerja emiten teknologi diproyeksikan masih bisa membaik. Hal itu didorong oleh konsumsi masyarakat yang masih kuat, sehingga jadi katalis positif untuk lini bisnis e-commerce. Di sisi lain, potensi penurunan suku bunga bank sentral juga akan menguntungkan emiten teknologi.
Kata Nafan, penurunan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) kemungkinan akan terjadi pada bulan September 2024. Hal itu tentu akan diikuti oleh bank sentral di negara-negara lain.
“Namun, untuk mencapai keuntuntungan, memang masih harus butuh kesabaran,” paparnya.
Nafan pun merekomendasikan accumulative buyuntuk BUKA dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dengan target harga terdekat masing-masing di Rp 143 per saham dan Rp 560 per saham.
Pengamat Pasar Modal dan Founder WH Project, William Hartanto melihat, pergerakan harga saham PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) ada di level supportRp 450 per saham danresistanceRp 470 per saham. William pun merekomendasikan beli untuk BELI dengan target harga Rp 470 per saham.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana melihat, pergerakan harga saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) ada di level support Rp 197 per saham dan resistance Rp 214 per saham. Herditya pun merekomendasikansell on strengthuntuk WIFI.