JAKARTA, investor.id – Saham PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) melesat 6,7% ke level Rp 1.025 pada penutupan perdagangan sesi I di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (24/9/2024). Kenaikan itu lebih tinggi dibandingkan saham emiten rokok lainnya.
Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) menguat 5,4% ke level Rp 16.475 dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) naik 4,7% ke posisi Rp 770.
Peningkatan signifikan harga saham emiten rokok tersulut kabar bahwa cukai rokok batal naik pada 2025. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, Askolani mengatakan, tarif cukai hasil tembakau (CHT) pada 2025 tidak akan berubah. Namun, pemerintah kemungkinan akan menyesuaikan harga jual eceran (HJE) produk tembakau tahun depan.
Askolani juga menegaskan bahwa dalam menyusun kebijakan cukai 2025, pemerintah mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk fenomena downtrading – konsumen beralih ke rokok dengan harga lebih murah – yang berdampak pada penerimaan cukai tahun ini.
Sementara itu, menurut tim riset Stockbit Sekuritas, keputusan untuk mempertahankan tarif CHT pada 2025 merupakan katalis positif bagi emiten rokok seperti HM Sampoerna (HMSP), Gudang Garam (GGRM), dan Wismilak (WIIM) mengingat tantangan yang terus berlanjut dari downtrading dan penurunan margin akibat kenaikan cukai yang konsisten selama beberapa tahun terakhir.
Pada 2023 dan 2024, rata-rata kenaikan cukai rokok berkisar 10% per tahun. Dengan tidak adanya tekanan tambahan dari kenaikan cukai, pendapatan dan profitabilitas perusahaan rokok diperkirakan meningkat.
“Namun, kami memprediksi tren downtrading tetap berlanjut meski tidak ada kenaikan cukai, karena pemerintah berencana menaikkan HJE. Selisih HJE saat ini antara rokok SKM tier 1 dan tier 2 cukup besar hingga mencapai 64%, sehingga membuat produk yang lebih murah lebih menarik bagi konsumen,” tutur tim riset Stockbit.
Jika penyesuaian HJE tidak dapat mempersempit kesenjangan harga, fenomena downtrading diperkirakan tetap berlangsung. Perlu dicatat, produsen rokok harus memastikan harga pasar setidaknya 85% dari HJE yang diatur.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Sementara itu, RHB Sekuritas menilai bahwa Wismilak (WIIM) diuntungkan oleh tren downtrading. Sebagai pemain tier 2 dengan tarif cukai lebih rendah memungkinkan WIIM mencatatkan margin laba kotor (gross profit margin/GPM) yang lebih baik. WIIM layak mendapat valuasi premium.
“Dengan memanfaatkan tren downtrading, pemain tier 2 lainnya memperluas pangsa pasarnya, sedangkan WIIM meningkatkan kapasitas filter-nya sebesar 20% pada 2024 untuk memenuhi kenaikan permintaan di segmen rokok kretek mesin (SKM) tier 2,” tulis RHB Sekuritas dalam risetnya.
RHB memperkirakan, WIIM memasok 23,6% dari total volume tier 2 yang terjual di industri. Dengan volume penjualan industri rokok yang ditaksir tumbuh 2% yoy – ada tambahan 6,1 miliar batang yang terjual – pada 2025 dan pangsa pasar tier 2 naik menjadi 25,1%, pendapatan penjualan filter WIIM pada 2025 bisa tumbuh 14,7% yoy.
Saat ini, saham WIIM tergolong undervalued alias murah. Saham WIIM diperdagangkan pada P/E 2025 sebesar 4 kali, dengan diskon 46,8% dari rata-rata industrinya.
Sebab itu, RHB merekomendasikan buy saham WIIM dengan target harga Rp 1.380. Target harga tersebut berdasarkan P/E 2025 sebesar 6 kali – diskon 24,1% dari rata-rata industrinya karena pangsa pasar WIIM yang lebih kecil. Adapun potensi yield dividen tahun 2024 sebesar 5%.
Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News