Jakarta: Apple telah merambah ke bidang kesehatan dan kebugaran melalui Apple Watch dan perangkat lain karyanya, dan kini, perusahaan teknologi raksasa ini dilaporkan tengah bersiap menghadirkan fitur baru untuk penderita prediabetes.
Setelah ECG dan ritme detak jantung tidak teratur, Apple memperkenalkan fitur pelacak apnea tidur pada tahun ini, serta fitur bantu pendengaran atau Hearing Aid di AirPods Pro 2. Kini, Apple berupaya untuk menghadirkan cara non invasif untuk melacak kadar gula dalam darah.
Menurut laporan Bloomberg, Apple tengah mengembangkan sensor berkemampuan melacak kadar gula dalam darah tanpa perlu menusukkan jarum di tubuh penderita, dan telah menguji aplikasi terkait secara internal. Pada awal tahun ini, sekelompok pegawai Apple telah menyelesaikan pengujian fitur tersebut, sehingga fitur itu diperkirakan akan dirilis pada tahun 2025 mendatang. Fitur ini dirancang untuk pengguna yang didiagnosa dengan prediabetes dan beresiko menderita diabetes Type 2.
Selain melakukan pelacak kadar gula dalam darah, aplikasi ini akan memungkinkan pengguna mencatat makanan. Berdasarkan informasi ini, aplikasi akan merekomendasikan makanan selanjutnya untuk menjaga kadar gula dalam darah tetap stabil dan menghindari lonjakan.
Sebelumnya, Apple dilaporkan secara tidak langsung mengonfirmasi bahwa iOS 18.1 akan dirilis pekan depan, bersamaan dengan firmware baru untuk AirPods Pro 2 yang berbekal fitur untuk pengguna dengan gangguan pendengaran.
Informasi ini berasal dari penguji yang mendapatkan akses ke fitur AirPods Pro 2 baru. Penguji tersebut mengungkap Apple telah mengindikasikan bahwa update iOS dan firmware AirPods Pro 2 baru akan tersedia pada pekan depan, diperkirakan pada tanggal 28 Oktober.
Sementara itu, beberapa pejabat tinggi Apple meninggalkan perusahaan tersebut, termasuk Chief People Officer Carol Surface, petinggi bagian rekrutmen Sjoerd Gehring, dan CFO Luca Maestri. Hal ini diperkirakan mengindikasikan strategi Tim Cook untuk mempertahankan investor setelah Steve Job meninggal dunia akan berakhir.
Prediksi menimbulkan spekulasi lain bahwa Tim Cook akan menjadi petinggi selanjutnya yang kan meninggalkan Apple, yang kemudian dibantah oleh Mark Gurman. Kondisi yang melibatkan peluncuran visionOS 2 yang belum selesai, iPhone 16 hadir tanpa dukungan Apple Intelligence, iOS 18 dan iPadOS 18 yang menyebabkan masalah pada masing-masing perangkat menahan kepergian Cook.
JAKARTA, investor.id – Teknologi sensor telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, bahkan salah satunya adalah pada penggunaan keran dapur. Didesain untuk menyempurnakan pengalaman memasak, perpaduan antara estetika modern dengan teknologi canggih ada di produk keran dapur generasi baru, Culina-S II.
Culina-S II hadir dengan teknologi sensor yang memungkinkan pengaktifan air secara otomatis, tanpa sentuhan, memberikan kemudahan dan kebersihan ekstra saat memasak. Desain ergonomisnya yang elegan juga mempermudah penggunaan sehari-hari. Terbuat dari material berkualitas tinggi, keran ini tidak hanya tahan lama tetapi juga mudah dibersihkan.
"Kami sangat antusias memperkenalkan Culina-S II kepada pasar Indonesia," ujar Marcel Moritz, Head of Design and Innovation dari BLANCO Germany. "Keran ini adalah hasil dari dedikasi kami untuk menciptakan produk yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memperkaya gaya hidup modern.”
Dilengkapi dengan dua buah sensor, keran Culina-S II dapat diaktifkan cukup melambaikan tangan di depan sensor. Air akan mengalir dalam volume lebih kecil, dirancang khusus untuk mencuci tangan dan menyiapkan makanan guna menghemat air. Untuk menghentikan air, Anda dapat melambaikan tangan didepan sensor atau secara otomatis keran akan berhenti mengalirkan air setelah 90 detik.
Sensor kedua yang terletak di bawah pemegang tuas keran berfungsi untuk mendeteksi objek, seperti pot ataupun panci yang diletakkan di bawahnya. Sensor ini sangat berguna untuk mengisi wadah besar tanpa perlu repot mengatur aliran air. Keran akan mengeluarkan air secara otomatis dan berhenti begitu Anda memindahkan wadah tersebut.
Dengan sensor tanpa sentuh ini, tidak ada noda jari, kuman, atau kotoran yang tertinggal di keran membuat dapur jadi lebih bersih dan higienis.
Selain dari fitur sensor, BLANCO CULINA-S II juga menyajikan estetika modern dengan desainnya yang detail. Aksen pada tuas dan bodi keran memberikan sentuhan mewah, sementara dudukan kepala keran yang dilengkapi dengan magnet memastikan posisi keran selalu presisi dan tidak mudah bergeser. BLANCO CULINA-S II hadir dalam tiga warna premium: PVD Steel, Hitam Matte, dan PVD Satin Dark Steel
Komitmen BLANCO terhadap inovasi tidak hanya mencakup keran mixer BLANCOCULINA-S II. Fokus perusahaan pada desain, keberlanjutan, dan pengalaman pengguna telah mengarah pada pengembangan serangkaian solusi dapur inovatif.
Marcel Moritz melanjutkan: "Di BLANCO, kami percaya bahwa dapur harus menjadi ruang yang fungsional dan menyenangkan. Dengan Culina-S II, kami telah menyempurnakan desain klasik Culina, memberikan sentuhan modern dan teknologi terkini tanpa mengorbankan kualitas dan keandalan. Fokus kami pada desain, keberlanjutan, dan pengalaman pengguna mendorong kami untuk menciptakan standar baru dalam industri perlengkapan dapur.”
Menjelang perayaan ulang tahun ke-100, BLANCO tetap berkomitmen untuk menginspirasi dan memuaskan konsumen di seluruh dunia. Dengan fokus pada inovasi, keberlanjutan, dan pengalaman pengguna, BLANCO bertujuan untuk mendefinisikan kembali pengalaman dapur dan menciptakan produk yang awet dan bertahan dalam jangka waktu yang lama.
Sebagai merek asal Jerman dengan sejarah panjang, BLANCO telah lama dikenal dengan komitmennya terhadap kualitas dan keandalan produk. Setiap produk BLANCO, termasuk Culina-S II, dirancang dan diproduksi dengan menggunakan teknologi canggih dan material terbaik. Hal ini memastikan bahwa setiap produk BLANCO mampu memberikan performa optimal dan tahan lama. Dengan Culina-S II, BLANCO sekali lagi membuktikan posisinya sebagai pemimpin dalam inovasi dan kualitas di industri perlengkapan dapur.
Editor: Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Teknologi sensor stacked CMOS dari Sony mendongkrak kapasitas fotodioda dan ukuran transistor piksel sehingga ikut menaikkan kualitas gambar. Halaman all [477] url asal
Sesuai dengan namanya, sensor 2-Layer Transistor Pixel tidak menempatkan fotodioda dan transistor piksel secara berdampingan di substrat yang sama seperti di stacked CMOS sensor konvensional, melainkan di dua substrat berbeda secara bertumpuk.
Konstruksi sensor seperti itu diklaim menaikkan kepasitas fotodioda sekaligus memperbesar ukuran transistor sehingga berujung menaikkan kualitas gambar secara keseluruhan.
Menurut Sony, sensor 2-Layer Transistor Pixel mampu menghasilkan saturasi warna lebih tinggi, sekaligus menangkap dynamic range lebih luas dibandingkan stacked CMOS konvensional.
Sony Ilustrasi konstruksi sensor 2-Layer Transistor Pixel dari Sony (kanan) dibanding sensor stacked CMOS konvensional
"Ini memungkinkan sensor menghasilkan gambar yang mengurangi overexposure dan underexposure di kondisi yang menggabungkan area terang dan gelap (misalnya, kondisi backlit) tanpa harus memperbesar ukuran sensor," tulis Sony di situsnya.
Menurut Sony, kemampuan menangkap dynamic range yang lebih luas membuat sensor berteknologi 2-Layer Transistor Pixel bisa menghasilkan gambar yang mirip dengan kualitas pengelihatan mata manusia.
Selain itu, teknologi sensor 2-Layer Transistor Pixel juga diklaim menghasilkan peningkatan kualitas gambar dalam situasi low-light dengan memperbesar area untuk amp transistor.
Hasilnya, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari PetaPixel, Kamis (8/8/2024) adalah tingkat noise yang berkurang saat pengambilan di malam hari atau lokasi-lokasi gelap lainnya.
Sony Sony mengeklaim sensor berteknologi 2-Layer Transistor Pixel mampu menangkap rentang dynamic range (SDR) lebih luas (kanan) dibandingkan sensor stacked CMOS konvensional
Sony Teknologi 2-Layer Transistor Pixel juga disebut mampu meminimalisasi tingkat noise saat pemotretan di kondisi low light (kanan)
Sensor gambar smartphone selama ini dikenal sulit menyaingi sensor lain yang berukuran jauh lebih besar seperti di kamera mirrorless dan DLSR, terutama dalam hal rentang tangkapan dynamic range dan kinerja low light.
Namun, teknologi sensor 2-Layer Transistor Pixel dari Sony menjanjikan peningkatan di dua aspek tersebut tanpa memperbesar ukuran sensor secara keseluruhan.
Sony memiliki posisi dominan di pasaran sensor kamera dengan market share by revenue diperkirakan mencapai 60 persen pada 2025.
Sensor 2-Layer Transistor Pixel sendiri sudah mulai diwujudkan di smartphone Sony lewat Xperia 1V yang diperkenalkan pada Mei lalu. Namun, masih perlu waktu sebelum sensor dengan teknologi ini mulai diterapkan di ponsel-ponsel lain.
Tujuannya untuk mendapatkan data kecepatan dan arah angin.
Kemudian memberikan informasi kepada pengguna jembatan apabila kecepatan angin melebihi batas aman yang diperbolehkan untuk melintas.
2. GPS (Global Positioning)
GPS Rover digunakan untuk memonitor gerakan jembatan tiga dimensi (digunakan bersama dengan sensor accelerometer). Kemudian GPS reference digunakan untuk referensi (base station).
3. Electromagnetic Sensor
Sensor tersebut dipasang sebanyak 24 buah di cable stayed jembatan, atau 12 buah untuk setiap sisi jembatan.
Tujuannya memantau stress secara real time di kabel sesuai dengan dinamika beban jembatan yang selalu berubah.
4. Accelerometer
Tujuannya mendapatkan data getaran yang terjadi pada jembatan, khususnya pada elemen pylon dan deck jembatan.
Data yang diukur merupakan data reaksi terhadap beban jembatan.
5. Displacement Transducer
Sensor tersebut dipasang 4 buah di girder pada pertemuan main span dan approachspan, serta 4 buah dipasang pada pertemuan pylon dan girder.
Tujuannya mendapatkan pergerakan dari konstruksi pylon dan steel box girder jembatan.
6. Tiltmeter
Bi-axial tiltmeter yang sebanyak 12 buah dipasang di pylon jembatan.
Tujuannya mengetahui dan mengukur rotasi dari sebuah elemen jembatan berkenaan dengan suatu angka datum yang diwakili oleh gaya gravitasi.
Kemudian memonitor deviasi atau simpangan vertikal pada bangunan struktur vertikal (pylon dan pier).
Selain itu, mengukur secara real time defleksi dua bidang secara orthogonal (bidang vertikal dan bidang horizontal).
7. Air Temperature and Relative Humidity (ATRH)
Alat sensor ini digunakan untuk mengukur suhu dan kelembaban udara sekitar (ambient).
8. Fiber Optic Sensor - Sensor Temperatur
Steel Thermometer sebanyak 26 buah dipasang di steel main beam. Lalu, Concrete Thermometer sebanyak 10 buah dipasang di pylon, 12 buah di deck jembatan, dan 14 buah di approach bridge.
Tujuannya mengetahui perbedaan temperatur dari bagian yang diukur bagian beton (structure concrete temperature sensor) dan steel box girder (structural steel temperature sensor).
9. Fiber Optic Sensor - Sensor Strain Gauge
Alat tersebut digunakan untuk mengetahui ukuran dari jumlah deformasi dari sebuah elemen struktur yang berpengaruh akibat gaya-gaya (beban mati dan hidup).
Selain itu, mengukur pengaruh stress di permukaan, serta mengukur beban jembatan sebagai bagian dari verifikasi desain dan monitoring beban jembatan.
10. Weight in Motion (WIM)
WIM dipasang di jalan akses masuk dari arah Madura dan Surabaya.
Tujuannya memantau beban kendaraan yang akan masuk ke jembatan.
Selain itu, untuk kepentingan traffic management, di mana kendaraan dengan berat yang melebihi batasnya tidak boleh memasuki jembatan.
11. Closed-circuit television (CCTV)
CCTV sebanyak 4 buah dipasang di pylon, 4 buah di deck jembatan, dan 2 buah di dekat WIM sensor.
Tujuannya untuk memantau kepadatan arus lalu lintas dan lingkungan di jembatan.
Jakarta: Samsung mengaku telah mendorong inovasi kesehatan digital untuk membantu menyederhanakan kesehatan dan kebugaran dengan menggabungkan pengetahuan dan metriks kesehatan untuk menawarkan pengalaman yang lebih berdampak, praktis, dan efisien.
Pendekatan ini dimulai dengan meningkatkan akses melacak kesehatan yang lebih sederhana dan akurat melalui BioActive Sensor, yang menyediakan data kesehatan yang lebih komprehensif, dipersonalisasi, dan akurat.
Melanjutkan misi ini, Samsung kembali meningkatkan standar dengan memperkenalkan teknologi terbaru dari BioActive Sensor. Disematkan di Galaxy Watch berikutnya, sensor baru ini akan memungkinkan fitur kesehatan yang bisa memprediksi dan memberikan saran pencegahan personal yang belum pernah ada di perangkat wearables lainnya, selain juga pengukuran kesehatan yang lebih akurat. Memperkenalkan BioActive Sensor BioActive Sensor terbaru ini diklaim memiliki peran penting dalam menghadirkan pengalaman kesehatan dan saran pencegahan yang lebih baik pada Galaxy Watch terbaru, dengan peningkatan desain yang memungkinkan informasi kesehatan yang lebih akurat.
Para teknisi di Samsung berfokus pada tiga peningkatan untuk sensor baru ini yaitu peningkatan kinerja fotodioda penerima cahaya, menambahkan warna tambahan pada dioda pemancar cahaya (LED), dan menatanya secara optimal di seluruh sensor.
Mereka meningkatkan kinerja setiap fotodioda lebih dari dua kali lipat, mengurangi jumlah yang dibutuhkan untuk mempertahankan kapasitas dari delapan menjadi empat. Pembaharuan terbaru ini memberikan ruang tambahan untuk integrasi jumlah dan variasi LED yang lebih banyak serta memastikan penempatannya optimal di seluruh sensor.
Sensor baru ini kini mencakup LED Biru, Kuning, Ungu, dan Ultraviolet dan juga peningkatan jumlah LED Hijau, Merah, dan Inframerah. Dengan integrasi dan penataan LED dan fotodioda yang dirancang khusus, Samsung mengambil langkah berinovasi yang lebih jauh dan kini mampu mengeksplorasi aspek-aspek pemantauan kesehatan yang belum pernah dijelajahi pada perangkat wearables.
Membawa Akurasi Tinggi dan Kemungkinan Baru untuk Kesehatan Preventif Penempatan LED Hijau, Merah, dan Inframerah yang optimal menetapkan standar baru dalam teknologi wearables dengan meningkatkan akurasi dan kinerja yang luar biasa di berbagai metriks kesehatan.
Memungkinkan BioActive Sensor baru untuk mengukur metrik kesehatan seperti detak jantung, kualitas tidur, tekanan darah, kadar oksigen darah, dan tingkat stres dengan lebih akurat. Tidak hanya itu, peningkatan juga tersedia pada saat pengukuran detak jantung selama latihan intensif yang 30% lebih akurat dibandingkan dengan pendahulunya.
Warna LED yang lebih beragam dan fotodioda rancangan terbaru membuka berbagai kemungkinan dan mendorong pengguna untuk memprediksi tren dan mengambil langkah aktif untuk solusi pencegahan. Salah satu fitur pertama adalah Indeks Advanced Glycation End Products (AGEs), indikator kesehatan metabolik dan penuaan biologis yang sangat dipengaruhi gaya hidup dan kebiasaan diet.
Digunakan sebagai biomarker yang informatif, indeks ini memberikan gambaran tentang usia biologis pengguna untuk membantu mereka membuat keputusan yang lebih tepat tentang perjalanan kesehatan Anda dan bekerja menuju masa depan yang lebih sehat. Penambahan Indeks AGEs hanyalah salah satu dari banyak fitur canggih baru yang direncanakan untuk Galaxy Watch berikutnya.