Eurofa Capital Investment Inc. dan Silvery Moon Investment Ltd. atau SMIL akan menjadi pemegang saham minoritas PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR). Cek profilnya. [579] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) akan menjalankan konversi utang di Eurofa Capital Investment Inc. dan Silvery Moon Investment Ltd. atau SMIL menjadi saham. Baik Eurofa dan SMIL pun kemudian akan menggenggam kepemilikan saham minoritas di BNBR.
Berdasarkan prospektus, Eurofa merupakan perusahaan di bidang investasi yang berkantor di British Virgin Island. Tercatat, Eurofa dikendalikan oleh Sansi Investment Holding Ltd.
BNBR sendiri awalnya memiliki utang di Eurofa setelah menerbitkan equity linked notes sejumlah US$109,0 juta pada Desember 2010 lalu. Utang tersebut sebenarnya telah jatuh tempo pada 16 Desember 2015. BNBR kemudian membayar biaya di muka sebesar US$6,4 juta.
Kemudian, pada 25 Juni 2014, Eurofa mengalihkan sebagian utang kepada Ecoline Investment Limited sebesar US$6 juta. Lalu, pada 22 Agustus 2022, Eurofa mengalihkan sebagian utang kepada Golden Glades Limited sebesar US$53 juta. Namun, BNBR masih memiliki utang kepada Eurofa sebesar US$50 juta.
Sementara, SMIL juga merupakan perusahaan investasi. SMIL tercatat berkantor di Republik Marshall Island. SMIL dikendalikan oleh Lee Chi Kuen alias Li Zijuan.
SMIL juga tercatat menjadi pemegang saham anak usaha BNBR yakni PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) dengan porsi kepemilikan mencapai 6,24%.
Di SMIL, awalnya BNBR memiliki utang kepada Golden Glades Limited. Kemudian, pada 30 September 2022, Golden Glades Limited mengalihkan utangnya kepada SMIL sebesar US$30,5 juta atau setara dengan Rp465,1 miliar.
Sehubungan dengan pengalihan tersebut, pada 30 September 2022 BNBR menandatangani perjanjian pengakuan utang kepada SMIL yang telah jatuh tempo pada 30 September 2023.
Per 29 September 2023, BNBR dan SMIL juga menandatangani perubahan perjanjian pengakuan piutang di mana utang BNBR kepada SMIL itu menjadi mata uang rupiah sebesar Rp465,1 miliar.
Baik di Eurofa dan SMIL, kini BNBR memiliki total utang mencapai Rp855 miliar. BNBR kemudian akan menyelesaikan utang kedua krediturnya itu lewat jalan konversi menjadi saham.
Berdasarkan keterbukaan informasi, konversi utang menjadi saham dilakukan dengan cara penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) alias private placement.
Pelaksanaan PMTHMETD untuk menjalankan konversi saham itu akan dilakukan setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada bulan depan, 28 November 2024.
Dengan harga konversi Rp64 per saham, maka kreditur akan memiliki saham biasa Seri E total sebesar 7,7% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh setelah dilakukannya PMTHMETD.
Eurofa akan menggenggam 11,71 miliar (11.718.750.000) lembar saham BNBR atau 6,76%. Sementara, SMIL menggenggam 1,64 miliar (1.640.625.000) lembar saham BNBR atau 0,94%.
Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Roy Hendrajanto M. Sakti mengatakan private placement untuk konversi utang BNBR itu akan menjadi tahap akhir penyehatan kondisi keuangan perseroan.
“Saat ini, private placement konversi utang ini adalah yang terakhir dalam agenda perseroan, karena dengan selesainya restrukturisasi utang ini, BNBR tidak lagi memiliki kewajiban jangka panjang material yang overdue,” kata Roy dalam keterangan tertulis pada beberapa waktu lalu.
Ia mengatakan BNBR telah menjalankan proses restrukturisasi dalam sekian tahun. Sebelumnya, BNBR juga menjalankan aksi korporasi kuasi reorganisasi yang telah efektif pada 22 Agustus 2024 lalu.
Saat ini, menurutnya postur neraca perseroan jauh lebih ramping dan sehat. BNBR mencatatkan penyusutan liabilitas 84,46% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp2,75 triliun pada kuartal III/2024.
Adapun, BNBR mampu membukukan laba bersih sebesar Rp636,27 miliar pada kuartal III/2024, melesat 416,76% yoy, dibandingkan laba bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya Rp123,12 miliar.
Meskipun, BNBR sebenarnya mencatatkan penurunan pendapatan neto 11,58% yoy menjadi Rp2,72 triliun pada kuartal III/2024.
Tak hanya BNBR, sederet emiten Grup Bakrie lainnya seperti BUMI, DEWA hingga BRMS juga telah menjalankan konversi utang untuk meringankan beban keuangannya. [823] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten konglomerasi Grup Bakrie, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) masih akan menjalankan konversi utang dengan saham melalui jalan private placement kepada krediturnya. Sebelumnya, sederet emiten di Grup Bakrie memang telah menjalankan strategi serupa untuk meringankan beban keuangannya.
Berdasarkan keterbukaan informasi, Manajemen BNBR menjelaskan rencana konversi utangnya kepada dua kreditur yakni Eurofa Capital Investment Inc. dan Silvery Moon Investment Ltd. atau SMIL menjadi saham lewat cara penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) alias private placement.
Secara rinci, utang jangka panjang BNBR di Europa mencapai US$50 juta atau setara Rp770,8 miliar. Lalu, pos pinjaman jangka pendek BNBR kepada SMIL dengan jumlah tagihan sebesar Rp465,11 miliar.
Adapun, total utang BNBR di Eurofa dan SMIL yang akan dikonversi mencapai Rp855 miliar. Dengan harga konversi Rp64 per saham, maka kreditur akan memiliki saham biasa Seri E total sebesar 7,7% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh setelah dilakukannya PMTHMETD.
Pelaksanaan PMTHMETD untuk menjalankan konversi saham itu akan dilakukan setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada bulan depan, 28 November 2024.
Manajemen BNBR menjelaskan bahwa dengan dilakukannya transaksi konversi utang menjadi saham-saham baru melalui mekanisme PMTHMETD, perseroan dapat memperbaiki posisi keuangannya.
"Perseroan akan memiliki rasio utang yang lebih sehat, beban keuangan yang berkurang, dan arus kas yang lebih kuat di masa yang akan datang," tulis Manajemen BNBR di keterbukaan informasi pada Selasa (22/10/2024).
Setelah PMTHMETD, total liabilitas perseroan diproyeksikan akan menurun menjadi Rp3,62 triliun, dari posisi liabilitas per semester I/2024 sebesar Rp3,73 triliun.
Pada tahun lalu, BNBR pun menjalankan konversi utang melalui private placement dengan nilai Rp6,36 triliun. Pihak yang mengambil saham hasil dari konversi utang itu yakni Levoca Enterprise Ltd., Port Fraser International Ltd., PT Prima Elok Makmur.
Berdasarkan catatan Bisnis, pada November 2018, BNBR juga mengumumkan aksi konversi utang secara bertahap melalui private placement dengan nilai konversi Rp9,38 triliun.
Secara total, BNBR menerbitkan hingga 146,63 miliar saham atau setara 92,37% dari modal ditempatkan dan disetor. Utang yang dikonversi menjadi saham ialah kepada tiga kreditur, yakni Fountain City Investment sebesar Rp2,91 triliun, Levoca Enterprise senilai Rp6,37 triliun, dan Daley Capital Ltd. sejumlah Rp100,39 miliar.
Selain mengonversi utang melalui private placement kepada krediturnya, BNBR pun melepas kepemilikan saham di anak usaha. Pada pertengahan tahun ini, BNBR melepas 6,62 miliar lembar saham PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR).
Seiring dengan penjualan saham yang dijalankan BNBR di VKTR, masuk investor baru di VKTR. Tercatat, kreditur BNBR yakni Silvery Moon Investment menjalankan transaksi pembelian saham sebanyak 4,65 miliar lembar VKTR pada 31 Juli 2024. Silvery Moon Investment kemudian menggenggam 10,63% saham di VKTR dengan status kepemilikan saham langsung.
PT Visi Media Asia Tbk. (VIVA)
Jejak Penyelesaian Utang
Tak hanya di BNBR, penyelesaian utang dilakukan emiten Grup Bakrie lainnya. PT Visi Media Asia Tbk. (VIVA) dan PT Intermedia Capital Tbk. (MDIA) misalnya sedang menjalankan skema penyelesaian kewajiban penundaan utang (PKPU) terhadap 12 kreditur.
Di keterbukaan informasi pada awal bulan ini, baik VIVA dan MDIA menjelaskan dua cara dalam penyelesaian utangnya itu. Kedua cara yang dimaksud adalah secara tunai bertahap dan konversi utang menjadi ekuitas atau debt to equity swap.
Selain itu, pada tahun lalu PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) berencana menjalankan private placement dengan menerbitkan 18,26 miliar lembar saham biasa Seri B untuk penyelesaian kewajiban DEWA kepada para kreditur.
Mengacu prospektusnya, harga pelaksanaan dari private placement DEWA itu adalah Rp50 per saham, sehingga nilai seluruhnya adalah Rp913,40 miliar.
Adapun, dengan private placement, konversi utang dijalankan dengan nilai Rp554,48 miliar terhadap kreditur DEWA yakni PT Madhani Talatah Nusantara. Selain itu, konversi utang sebesar Rp358,92 miliar dilakukan kepada PT Andhesti Tungkas Pratama.
Emiten pertambangan batu bara Grup Bakrie dan Grup Salim PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) pada 2022 juga menjalankan private placement sebanyak 200 miliar lembar saham dengan harga Rp120 per saham atau setara dengan Rp24 triliun untuk perbaikan posisi keuangannya.
Pada 2020, anak usaha BUMI yakni PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) pun melakukan private placement untuk melunasi kewajiban hutangnya. Saat itu, BRMS menerbitkan 14,5 miliar saham.
Seluruh saham itu diambil oleh salah satu kreditur BRMS, yaitu Wexler Capital Pte. Ltd. (Wexler) melalui transaksi konversi hutang menjadi saham dalam rangka pelunasan pinjaman sebesar US$52 juta atau sekitar Rp729 miliar.
Pada 2016, PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY) menjalankan penyelesaian pembayaran utang dengan menyerahkan saham anak usaha saat itu, PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk. (JGLE).
Selain itu, emiten telekomunikasi milik Grup Bakrie, PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL) telah menempuh PKPU sejak 2014 untuk menyelesaikan total utang yang mencapai Rp11,4 triliun yang dikuasai total 580 kreditur domestik dan luar negeri. BTEL pun menjalankan proses restrukturisasi utang melalui skema obligasi wajib konversi (OWK) dan cicilan tunai.
__________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Saham BNBR melejit 9,76% pada perdagangan hari ini, Rabu (23/10/2024), seiring rencana perseroan yang akan melakukan konversi utang melalui Private Placement. [484] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Saham PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) melejit 9,76% pada perdagangan hari ini, Rabu (23/10/2024), seiring rencana perseroan yang akan melakukan konversi utang menjadi saham melalui skema private placement.
Berdasarkan data RTI, saham BNBR naik 9,76% atau 4 poin ke level Rp45 pada penutupan perdagangan sesi I hari ini. Sejak awal sesi, saham BNBR langsung tancap gas ke level Rp45 yang merupakan level harga tertinggi untuk hari ini. Dalam sebulan terakhir, saham Grup Bakrie tersebut telah melonjak 25%. Meski begitu, sepanjang tahun berjalan 2024, saham BNBR masih terkoreksi 10%.
Pada perdagangan hari ini, tercatat 23,86 juta saham BNBR ditransaksikan dengan nilai Rp1,07 miliar dan frekuensi transaksi 190 kali. Price to earnings ratio (PER) BUMI berada di 25,75 kali, sedangkan price to book value (PBVR) 2,36 kali. Kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp7,20 triliun.
Lompatan saham BNBR terjadi seiring rencana perseroan yang akan menjalankan konversi utang menjadi saham kepada Eurofa Capital Investment Inc. dan Silvery Moon Investment Ltd. atau SMIL melalui skema private placement Rp855 miliar.
Berdasarkan keterbukaan informasi, konversi utang menjadi saham dilakukan dengan cara penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) alias private placement. Manajemen BNBR menjelaskan Europa dan SMIL selaku kreditur telah menyetujui perjanjian penyelesaian utang BNBR dengan menerima saham-saham baru setelah dilakukannya private placement.
Secara rinci, utang jangka panjang BNBR di Europa mencapai US$50 juta atau setara Rp770,8 miliar. Lalu, pos pinjaman jangka pendek BNBR kepada SMIL dengan jumlah tagihan sebesar Rp465,11 miliar.
Adapun, total utang BNBR di Eurofa dan SMIL yang akan dikonversi mencapai Rp855 miliar. Dengan harga konversi Rp64 per saham, maka kreditur akan memiliki saham biasa Seri E total sebesar 7,7% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh setelah dilakukannya PMTHMETD.
Pelaksanaan PMTHMETD untuk menjalankan konversi saham itu akan dilakukan setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada bulan depan, 28 November 2024.
Manajemen BNBR menjelaskan bahwa dengan dilakukannya transaksi konversi utang menjadi saham-saham baru melalui mekanisme PMTHMETD, perseroan dapat memperbaiki posisi keuangannya.
"Perseroan akan memiliki rasio utang yang lebih sehat, beban keuangan yang berkurang, dan arus kas yang lebih kuat di masa yang akan datang," tulis Manajemen BNBR di keterbukaan informasi pada Selasa (22/10/2024).
Setelah rencana PMTHMETD, total liabilitas perseroan diproyeksikan akan menurun menjadi Rp3,62 triliun, dari posisi liabilitas per semester I/2024 sebesar Rp3,73 triliun.
Di sisi lain, dengan dilakukannya konversi utang melalui private placement, kepemilikan saham pemegang saham lama BNBR akan mengalami penurunan yaitu terdilusi sebesar 7,7%.
__________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Bisnis.com, JAKARTA —PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) akan menjalankan konversi utang menjadi saham kepada Eurofa Capital Investment Inc. dan Silvery Moon Investment Ltd. atau SMIL melalui skema private placement Rp855 miliar.
Berdasarkan keterbukaan informasi, konversi utang menjadi saham dilakukan dengan cara penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) alias private placement. Manajemen BNBR menjelaskan Europa dan SMIL selaku kreditur telah menyetujui perjanjian penyelesaian utang BNBR dengan menerima saham-saham baru setelah dilakukannya private placement.
Secara rinci, utang jangka panjang BNBR di Europa mencapai US$50 juta atau setara Rp770,8 miliar. Lalu, pos pinjaman jangka pendek BNBR kepada SMIL dengan jumlah tagihan sebesar Rp465,11 miliar.
Adapun, total utang BNBR di Eurofa dan SMIL yang akan dikonversi mencapai Rp855 miliar. Dengan harga konversi Rp64 per saham, maka kreditur akan memiliki saham biasa Seri E total sebesar 7,7% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh setelah dilakukannya PMTHMETD.
Pelaksanaan PMTHMETD untuk menjalankan konversi saham itu akan dilakukan setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada bulan depan, 28 November 2024.
Manajemen BNBR menjelaskan bahwa dengan dilakukannya transaksi konversi utang menjadi saham-saham baru melalui mekanisme PMTHMETD, perseroan dapat memperbaiki posisi keuangannya.
"Perseroan akan memiliki rasio utang yang lebih sehat, beban keuangan yang berkurang, dan arus kas yang lebih kuat di masa yang akan datang," tulis Manajemen BNBR di keterbukaan informasi pada Selasa (22/10/2024).
Setelah rencana PMTHMETD, total liabilitas perseroan diproyeksikan akan menurun menjadi Rp3,62 triliun, dari posisi liabilitas per semester I/2024 sebesar Rp3,73 triliun.
Di sisi lain, dengan dilakukannya konversi utang melalui private placement, kepemilikan saham pemegang saham lama BNBR akan mengalami penurunan yaitu terdilusi sebesar 7,7%.
_________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.