KOMPAS.com - Merdeka secara finansial merupakan impian yang didambakan oleh generasi sandwich.
Seperti namanya, yakni sandwich yang berarti roti lapis, istilah ini merujuk pada individu yang menanggung beban tiga generasi.
Mereka harus menghidupi orangtua, diri sendiri, dan anaknya. Tidak hanya menghadapi tantangan dari segi keuangan, generasi sandwich juga kerap kali mengalami tekanan psikologis.
Lantas, bisakah generasi sandwich mendapatkan kebebasan finansial?
Perencana keuangan dan Co-Founder Purwantara, Aidil Akbar Madjid mengatakan, generasi sandwich bisa mendapatkan kebebasan secara finansial. Hal itu dapat diwujudkan jika generasi di atas dan di bawahnya merdeka terlebih dulu.
Apabila memiliki anak, berikan pendidikan dini mengenai pentingnya mengelola keuangan atau bagaimana mencari sumber keuangan.
"Kesalahan orang zaman dulu tidak mau mengajarkan anak mengelola keuangan, takut materialistis, pokoknya anak nggak boleh susah, yang susah orangtua aja," ujarnya, kepada Kompas.com, Rabu (9/10/2024).
Menurut Aidil, hal itu lah yang membuat sejumlah anak-anak sekarang ini termasuk ke dalam generasi stroberi, yaitu kelompok yang rapuh, mudah lemah, dan gampang tertekan.
Di samping itu, generasi sandwich bisa memberikan modal kepada orangtua untuk digunakan membuka usaha. Meski akan sulit di awal, tapi secara perlahan orangtua akan mandiri.
"Anak tetap kasih bulanan tapi berstrategi. Sekarang sudah ada media sosial, e-commerce, itu bukan halangan untuk mengajak orangtua berdagang," tambahnya.
Sementara itu, CEO & Principal Consultant ZapFinance, Pripta Hapsari Ghozie menjelaskan, cara generasi sandwichbisa merdeka adalah dengan membuat anggota keluarganya mandiri, terutama yang masih berusia produktif.
Namun, menurut Pripta, fase generasi sandwich suatu saat akan berhenti karena siklus ilmiah.
"Orangtua sepuh akan berpulang. Adik yang sebelumnya nggak mandiri terus jadi kerja," katanya, Rabu.
Cara mengelola keuangan generasi sandwich
Aidil menjelaskan cara mengelola keuangan bagi generasi sandwich. Hal paling pertama dan paling penting adalah mengetahui antara kebutuhan dan keinginan.
Sebab, dia menilai generasi sandwichsangat rentan jika dihadapkan dengan keinginan. Langkah selanjutnya adalah menentukan tujuan keuangan.
"Kita nabung untuk apa? Tapi ingat balik lagi ada minimum standar hidup yang tetap harus dipenuhi, sandang, pangan, dan papan," katanya.
Kemudian, Aidil menyaranan agar generasi sandwich juga menabung dengan besaran minimum 15 persen hingga 20 persen dari total penghasilan.
Di samping itu, juga bisa merambah ke investasi keuangan. Bila masih pemula bisa mengambil investasi yang rendah risiko, seperti emas.
Sedangkan, bagi yang profil risikonya cenderung agresif, dapat berinvestasi ke obligasi pemerintah, reksadana saham, atau trading crypto.
Sementara itu, Pripta Hapsari Ghozie memberikan sejumlah tips alokasi dana keuangan yang ideal bagi generasi sandwich, yakni:
- Biaya hidup pribadi dan tanggungan keluarga maksimal 70 persen dari gaji
- Biaya untuk kesenangan pribadi 10 persen dari gaji
- Dana darurat dan investasi sebanyak 20 persen dari gaji.
Pripta juga menyarankan untuk menghindari pinjaman online ilegal dan disiplin menambah penghasilan serta hidup dengan hemat.