#30 tag 24jam
Biasa untuk Pakan Ternak, Mesin Bikinan BRIN Bisa Olah Batang Sorgum Jadi Brown Sugar
Mesin Roller Press memiliki keunggulan ideal untuk mengolah sorgum menjadi brown sugar yang dapat dikonsumsi secara sehat. [344] url asal
#sorgum #brown-sugar #inovasi-brin #mesin-roller-press
(MedCom) 31/10/24 13:57
v/17257089/
Jakarta: Batang sorgum banyak diolah menjadi pakan ternak. Namun, berkat inovasi Pusat Riset Teknologi Tepat Guna Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), batang sorgum bisa diubah menjadi gula semut (brown sugar).Pusat Riset Teknologi Tepat Guna BRIN membuat mesin canggih, Roller Press. “Proses pengolahan gula dari tanaman sorgum memerlukan peralatan dan mesin,” kata periset Pusat Riset Teknologi Tepat Guna BRIN, Sandi Darniadi, dalam unggahan di akun Instagram @brin_indonesia dikutip Kamis, 31 Oktober 2024.
Sandi menuturkan lini mesin pengolahan gula sorgum lengkap yaitu mesin ekstraksi, mesin evaporasi atau pengental, mesin pemasak gula (open pan cooker), dan mesin pengering (oven dehydrator). Kini, teknologi mesin pengolah sorgum telah dimanfaatkan oleh Sorgum Center Indonesia (SGI).
Mesin Roller Press memiliki keunggulan ideal untuk mengolah sorgum menjadi brown sugar yang dapat dikonsumsi secara sehat. Berikut ini keunggulan mesin Roller Press:
Keunggulan mesin Roller Press
1. Efisiensi tinggi
Dapat memberikan perasan batang sorgum dengan maksimum, sehingga memberikan rendemen nira yang tinggi.2. Kualitas gula terjamin
Bisa mendeteksi kadar gula dengan memberikan kualitas sesuai standar produk.3. Go-green
Mesin ini didesain menggunakan teknologi hemat energi, sehingga lebih ramah lingkungan dan mendukung keberlanjutan.Proses pengolahan
Berikut ini proses pengolahan batang sorgum menjadi brown sugar:- Batang sorgum dibelah dan dibersihkan
- Batang sorgum kemudian dimasukkan ke dalam mesin Roller Press untuk diekstraksi niranya
- Nira sorgum dikentalkan memakai mesin evaporator hingga menghasilkan gula cair atau nektar
- Gula cair ini kemudian dimasak dalam mesin open pan cooker sampai mengental dan mengkristal
- Setelah gula mengeras, ia dihancurkan menggunakan mesin disc mill untuk menjadi gula semut
Alternatif gula rendah kalori
Gula sorgum menjadi alternatif sehat dengan kalori lebih rendah dibandingkan dengan gula pasir serta mengandung vitamin dan mineral yang bermanfaat bagi tubuh.Rasanya yang unik dan kandungan gizinya menjadikannya pilihan menarik bagi masyarakat yang ingin mengurangi konsumsi gula putih tanpa mengorbankan rasa manis dalam makanan dan minuman mereka.
Kehadiran teknologi ini diharapkan dapat memperluas pemanfaatan sorgum di Indonesia, tidak hanya sebagai bahan pangan alternatif, tetapi juga produk kesehatan bernilai tambah tinggi. (Nithania Septianingsih)
| Baca juga: Peneliti BRIN Ungkap Protein dari Susu Ikan Mudah Diserap Tubuh, Solusi Inovatif Cegah Stunting |
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(REN)
Transisi Energi dengan BBM Rendah Emisi untuk Masa Depan yang Lebih Hijau
Penggunaan bahan bakar fosil perlahan dikurangi dengan memanfaatkan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk menekan emisi. [1,535] url asal
#oki-muraza #fame #fuel #indonesia #hydrotreated-vegetable-oil #bioetanol-sorgum #bbm-rendah-emisi #pemerintah #fatty-acid-methyl-ester #karbon #penggunaan-bioetanol #bahlil-lahadalia #pertamina-renewable-diesel-d
(detikFinance - Energi) 30/10/24 14:20
v/17206024/
Jakarta - Penggunaan bahan bakar fosil perlahan dikurangi dengan memanfaatkan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk menekan emisi. Langkah ini dilakukan PT Pertamina (Persero) dengan memproduksi bahan bakar ramah lingkungan menuju masa depan yang lebih hijau dengan memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) demi kemandirian energi.
Presiden Prabowo Subianto dalam pidato pelantikan Minggu (20/10) lalu juga menargetkan swasembada energi dengan memaksimalkan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki Indonesia.
"Kita harus swasembada energi dan kita mampu untuk swasembada energi, karena kita diberi karunia oleh Tuhan tanaman-tanaman yang membuat kita bisa tidak tergantung bangsa lain. Tanaman-tanaman seperti kelapa sawit bisa menghasilkan solar dan bensin, kita juga punya tanaman-tanaman lain seperti singkong, tebu, sagu, jagung, dan lain-lain," ujarnya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, swasembada energi akan tercapai seiring dengan meningkatnya ketahanan energi nasional. Pemerintah mendorong pemanfaatan B50 dan B60 karena ketersediaan kelapa sawit sebagai bahan baku yang melimpah.
"Kalau ditanya bahwa itu cukup atau tidak, B35 sampai B40 itu kan kita habiskan kurang lebih sekitar 14 juta kiloliter. Nah, sementara ekspor kita kan masih banyak. Nah, kalau ditanya kapasitas Crude Palm Oil (CPO) kita cukup atau tidak, pasti cukup. Nah, tinggal kita lihat adalah teknologinya, teknologinya ini kan harus by process untuk kita uji coba. Agar ketika itu diimplementasikan, B50-B60 itu betul-betul sudah lewat uji coba yang baik," ujarnya.
Senior Vice President (SVP) Teknologi Inovasi PT Pertamina, Oki Muraza Foto: Ardan Adhi Chandra/detikcom |
Sebagai perusahaan energi terintegrasi (integrated energy company), Pertamina memproduksi bahan bakar ramah lingkungan sebagai upaya diversifikasi bahan baku yang tidak hanya bersumber dari fosil, tapi juga sumber alternatif seperti bioetanol, Fatty Acid Methyl Ester (FAME), Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), dan minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO).
"(Pertama), Jadi ini diversifikasi untuk resources dan juga produk. Tidak hanya untuk bahan baku, tidak hanya minyak dan gas bumi, tapi juga sumber energi terbarukan, termasuk minyak nabati, terus sampah biomassa, dan circular economy. Kedua, tentu juga ada kebutuhan seiring sustainability dan juga untuk mendapatkan fuel dengan lower emission, jadi ini climate concern. Ketiga, karena kita BUMN, BUMN itu engine growth, kita berusaha inovasi selain untuk memperkuat ketahanan nasional, tapi juga untuk menciptakan sentra ekonomi baru, menciptakan lapangan pekerjaan. Keempat, kita butuh bisnis yang, ibaratnya kita sudah ada toolbox hydrocarbon economy, memberikan penghasilan sekian tahun, ada kilang, ada distribusi BBM, tapi sumber ini terbatas, jadi kita butuh another toolbox yang bioeconomy, yang masukannya bisa lebih ada di Indonesia barangnya EBT," kata Senior Vice President (SVP) Teknologi Inovasi PT Pertamina, Oki Muraza kepada detikcom, ditulis Rabu (30/10/2024).
Oki melanjutkan, Pertamina sudah memproduksi dan mendistribusikan empat BBM ramah lingkungan, antara lain, Pertamax Green 95, Biosolar, Pertamina Renewable Diesel, dan Bioavtur/Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF). Keempat BBM ramah lingkungan tersebut diproduksi dengan campuran produk ramah lingkungan, apa saja?
Pertama, Pertamax Green 95 merupakan bahan bakar hasil pengembangan energi terbarukan berupa Bioetanol yang berasal dari tanaman tebu yang bisa menekan emisi karbon dibandingkan BBM konvensional. Pertamax Green diluncurkan pertama kali pada Juli 2023 dan dijual di sejumlah SPBU Pertamina.
Kedua, Biodiesel yang merupakan campuran antara minyak nabati berupa Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan solar konvensional. Pada 2025, pemerintah menargetkan implementasi Biodiesel 40% (B40), yakni campuran solar dengan 40% bahan bakar nabati (BBN) berbasis minyak sawit dan harapannya bisa mencapai B100.
Ketiga, Pertamina Renewable Diesel D100 yang merupakan bahan bakar nabati ramah lingkungan yang dihasilkan dari Hydrotreated Vegetable Oil (HVO).
"Pertamina Renewable Diesel D100 sering disebut sebagai Pertamina RD yang merupakan bahan bakar nabati ramah lingkungan atau dikenal di pasar global sebagai Hydrotreated Vegetable Oil (HVO)," ujar Oki.
Mengutip dari situs Pertamina, Pertamina Renewable Diesel D100 diproduksi melalui proses hidrotreating yang canggih, yang mengubah bahan baku nabati menjadi bahan bakar diesel yang lebih bersih dan efisien. Proses ini memungkinkan PT Pertamina (Persero) untuk menciptakan produk yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga memiliki kualitas yang setara atau bahkan lebih baik dari diesel konvensional.
Keempat, Bioavtur/Pertamina SAF merupakan bahan bakar pesawat terbang alternatif yang berasal dari sumber daya alam terbarukan, seperti minyak nabati, lemak hewan, atau limbah biomassa.
"Saat ini Pertamina telah mampu memproduksi bioavtur yang dibuat dari campuran avtur dan turunan kelapa sawit (Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil/RBDPKO) 2,4% melalui metode co-processing di kilang RU IV Cilacap," tutur Oki.
Infografis BBM Ramah Lingkungan Pertamina Foto: Dok. Tim Infografis - Zaki Alfarabi/detikcom |
Produksi Bahan Bakar Ramah Lingkungan
Oki menjelaskan, produksi BBM ramah lingkungan Pertamina melibatkan beberapa teknologi dan tahapan utama yang memungkinkan untuk mengubah sumber daya terbarukan seperti minyak nabati, limbah organik, atau biomassa menjadi bahan bakar yang dapat digunakan untuk kendaraan dan industri.
"Untuk memastikan ketersediaan pasokannya, pengembangan bahan bakar ramah lingkungan ini harus diikuti dengan pengembangan infrastruktur bahan bakunya. Termasuk bagaimana melakukan diversifikasi bahan baku dan tentunya perlu dukungan kebijakan yang kondusif dari pemerintah untuk tetap menjaga iklim investasi bahan bakar ramah lingkungan," jelas Oki.
Untuk mencapai target bauran EBT dan nol emisi (Net Zero Emission/NZE) 2060, Pertamina berkomitmen untuk terus mengembangkan dan memproduksi bahan bakar ramah lingkungan. Oki mengatakan, pihaknya akan terus mendorong peningkatan porsi biokomponen dalam campuran bahan bakar.
Selain bioetanol yang sudah digunakan sebagai campuran dalam Pertamax Green 95, biokomponen biodiesel dari kelapa sawit, biokomponen dari minyak sawit, dan minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO), Pertamina juga terus mengembangkan riset potensi dari biokomponen dari minyak nabati lainnya seperti minyak malapari, kepuh, nyamplung, jarak pagar, atau bahkan alga.
"Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, selain minyak kelapa sawit yang menjadi bahan baku saat ini, Pertamina juga membidik beberapa alternatif bahan baku untuk biofuel yang lebih berkelanjutan, antara lain minyak goreng bekas (waste cooking oil), lemak hewani (animal fat), minyak alga (algae oil), minyak-minyak nabati non edible oil termasuk sumber-sumber biomassa dari limbah pertanian dan kehutanan seperti sekam padi, bagas, tandan sawit kosong, dan lain-lain," kata Oki.
Oki menambahkan, setiap bahan baku, baik dari minyak kelapa sawit, sorgum, hingga bahan lain seperti minyak goreng bekas atau alga pada dasarnya memiliki proses produksi yang spesifik untuk diubah menjadi bahan bakar ramah lingkungan. Sebagai contoh, Biodiesel adalah bahan bakar yang dihasilkan dari minyak nabati atau lemak hewani melalui proses transesterfikasi. Sedangkan Bioetanol adalah bahan bakar yang dihasilkan dari fermentasi gula atau pati yang terdapat dalam tanaman seperti sorgum, tebu, atau jagung.
BBM B40 diujicoba untuk kendaraan roda empat. B40 merupakan bahan bakar biodiesel campuran minyak sawit 40%. Foto: Rifkianto Nugroho |
Inovasi Bioetanol Berbahan Sorgum
Pertamina juga melakukan inovasi Bioetanol berbahan dasar sorgum. Oki mengatakan, sorgum merupakan salah satu tanaman yang menjanjikan sebagai bahan baku bioetanol. Ketahanan sorgum terhadap kekeringan dan berbagai jenis tanah membuatnya cocok untuk dibudidayakan di berbagai wilayah. Sorgum memiliki kandungan gula yang cukup tinggi, terutama pada bagian batangnya, sehingga potensial untuk dikonversi menjadi bioetanol.
"Pada tahun ini, Pertamina telah melakukan uji coba penggunaan bioetanol 100% (E100) dari sorgum pada kendaraan Toyota Flex Fuel Vehicle (FFV). Hasil uji coba menunjukkan performa yang baik dan emisi yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar fosil," tutur Oki.
Oki mengatakan, Bioetanol yang berasal dari molase sorgum sangat berpotensi dikembangkan di Indonesia diiringi dengan budi daya tanaman dan pengembangan infrastruktur pengolahan. Sorgum dinilai lebih unggul daripada tebu karena kebutuhan air dan pupuk yang lebih sedikit. Pihaknya bekerja sama dengan Universitas Mataram dalam membudidayakan sorgum untuk menjamin pasokan sebagai bahan baku bioetanol.
"Jadi kami ada kerja sama dengan Universitas Mataram, kami coba budi daya di sana dan ini kami akan melakukan scale up yang lebih besar untuk NTB dan NTT, ini masih on going. Harapannya dengan scale up ini kita nanti bisa lebih dapat nih bagaimana implementasinya," ujar Oki.
Tanaman sorgum Foto: ANTARA FOTO/Syaiful Arif |
Bagaimana bioetanol sorgum diolah? Oki menjelaskan, ada tiga bagian dalam tanaman sorgum, yaitu bulir, batang, serta daun dan pelepah. Bulir bisa dijadikan tepung, batang yang mirip tebu bisa diperas dan niranya difermentasi menjadi bioetanol, kemudian daun dan pelepah yang bisa dijadikan pakan ternak.
"Kemudian, batangnya ini mirip tebu, jadi kita peras dan kita bisa niranya ini kita fermentasi dapat bioetanol, kami sudah showcase GIASS sorgum batangnya kita peras dan dapat bioetanol kita sudah tes juga di flexi fuel milik dari kolaborator kami Toyota dan itu sudah sukses," kata Oki.
Oki menjawab bagaimana bahan bakar ramah lingkungan (biofuel) bisa menekan emisi. Pada dasarnya, bahan bakar ramah lingkungan terbuat dari sumber-sumber terbarukan seperti minyak nabati atau limbah pertanian. Ketika biofuel dibakar, CO2 yang dilepaskan ke atmosfer sebenarnya setara dengan CO2 yang diserap tanaman selama masa pertumbuhannya melalui proses fotosintesis.
Tujuan jangka panjang Pertamina dalam memproduksi bahan bakar ramah lingkungan mencakup berbagai aspek, mulai dari mengurangi emisi karbon, mendukung transisi energi nasional, hingga menciptakan daya saing pasar global.
"Dengan fokus pada keberlanjutan, diversifikasi sumber energi, dan inovasi teknologi, Pertamina berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusi global dalam memerangi perubahan iklim serta menjaga ketahanan energi dan keberlanjutan bisnis di masa depan," jelas Oki.
(ara/ara)
Komisaris Utama Pertamina Apresiasi Inovasi Bioetanol Berbahan Sorgum
Pertamina memproduksi sebanyak 150 liter bioetanol yang diproduksi dari biomasa. [408] url asal
#pertamina #pertamina-giias #pertamina-biomasa #sorgum #bioethanol
(Republika - Ekonomi) 27/07/24 14:33
v/12302033/
REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Pertamina terus melakukan sejumlah upaya dan mendorong berbagai inovasi, khususnya terkait energi hijau dalam rangka mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional. Hal tersebut salah satunya diwujudkan dengan inovasi produk Bioetanol untuk bahan bakar berbahan dasar Sorgum.
Setelah berhasil menggelar uji coba produk bioetanol tersebut di dua mobil Flexy Fuel Vehicle (FFV) Toyota pada Rabu (24/7/2024) lalu, Komisaris Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri turut berkesempatan mencoba performa produk Bioethanol Pertamina ke FFV Toyota ini dengan melakukan test drive dalam gelaran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), di ICE BSD, Jumat 26 Juli 2024.
Usai melakukan test drive Simon menyampaikan apresiasinya kepada Perwira Pertamina yang telah berhasil menghadirkan inovasi produk hijau bioetanol berbahan baku sorgum ini. Dirinya berharap para Perwira Pertamina bisa terus berinovasi menciptakan energi hijau, sehingga nantinya bisa digunakan secara lebih luas untuk kendaraan-kendaraan lain, sehingga emisi yang dihasilkan juga jauh lebih berkurang.
"Saya memberikan apresiasi atas inovasi dan pencapaian Perwira Pertamina. Saya sudah melakukan test drive dengan menyetir langsung FFV Toyota berbahan bakar bioetanol. Rasanya sama seperti menggunakan bahan bakar pada umumnya, semuanya lancar dan baik", ujar Simon.
Pertamina telah memproduksi sebanyak 150 liter bioetanol yang diproduksi dari sampah biomasa, yaitu batang tanaman Sorgum. Proses produksi bahan bakar nabati tersebut menggunakan peralatan distilasi dan dehidrasi yang terdapat di fasilitas Laboratorium Technology Innovation milik Pertamina.
Langkah Pertamina selanjutnya adalah melakukan peningkatan produksi bioetanol dari skala laboratorium ke skala yang lebih besar. Memproduksi bioetanol dari batang Sorgum tidak hanya menjadi sumber energi baru terbarukan untuk Indonesia, tetapi juga inovasi ini memproduksi bahan bakar tanpa berkompetisi dengan bahan pangan.
Simon juga juga memberikan semangat dan pesan kepada Perwira Pertamina agar senantiasa berinovasi untuk menghasilkan karya-karya yang semakin bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, diantaranya dengan mendorong aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) dan tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs)
"Para Perwira Pertamina, ayo dukung terus Pertamina di sektor energi. Semoga Pertamina menjadi motor penggerak ketahanan energi bangsa bagi tercapainya swasembada energi, melalui inovasi-inovasi yang ramah lingkungan," katanya.
Di kesempatan yang sama, Simon juga mengapresiasi kehadiran Pertamina di event GIIAS 2024. Menurutnya di event ini Pertamina dapat menunjukkan dukungannya untuk kemajuan disektor otomotif, khususnya ke ekosistem otomotif Indonesia. Mulai dari produk BBM unggulan, produk pelumas, SPBU Green Energy, kolaborasi dengan racing team hingga inovasi bahan bakar ramah lingkungan.
"Melalui Hadirnya Pertamina di GIIAS 2024, saya berharap industri otomotif akan selalu tumbuh begitu juga Pertamina, yang mendukung hadirnya bahan bakar hijau ramah lingkungan" ungkapnya.
Komisaris Utama Pertamina Apresiasi Inovasi Bioetanol dari Sorgum
Komisari utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengapresiasi perwira pertamina yang berhasil membuat Bioetanol berbahan dasar sorgum. [411] url asal
#pertamina #komisaris #bioetanol #sorgum
(Kumparan.com - Bisnis) 27/07/24 13:36
v/12299480/
Pertamina terus melakukan sejumlah upaya dan mendorong berbagai inovasi, khususnya terkait energi hijau dalam rangka mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional. Hal tersebut salah satunya diwujudkan dengan inovasi produk Bioetanol untuk bahan bakar berbahan dasar sorgum.
Setelah berhasil menggelar uji coba produk bioetanol tersebut di dua mobil Flexy Fuel Vehicle (FFV) Toyota pada Rabu lalu (24/07), Komisaris Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri turut berkesempatan mencoba performa produk Bioethanol Pertamina ke FFV Toyota ini dengan melakukan test drive dalam gelaran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), di ICE BSD, Jumat 26 Juli 2024.
Usai melakukan test drive Simon menyampaikan apresiasinya kepada Perwira Pertamina yang telah berhasil menghadirkan inovasi produk hijau bioetanol berbahan baku sorgum ini.
Dirinya berharap para Perwira Pertamina bisa terus berinovasi menciptakan energi hijau, sehingga nantinya bisa digunakan secara lebih luas untuk kendaraan-kendaraan lain, sehingga emisi yang dihasilkan juga jauh lebih berkurang.
"Saya memberikan apresiasi atas inovasi dan pencapaian Perwira Pertamina. Saya sudah melakukan test drive dengan menyetir langsung FFV Toyota berbahan bakar bioetanol. Rasanya sama seperti menggunakan bahan bakar pada umumnya, semuanya lancar dan baik," ujar Simon.
Pertamina telah memproduksi sebanyak 150 liter bioetanol yang diproduksi dari sampah biomassa, yaitu batang tanaman Sorgum. Proses produksi bahan bakar nabati tersebut menggunakan peralatan distilasi dan dehidrasi yang terdapat di fasilitas Laboratorium Technology Innovation milik Pertamina.
Langkah Pertamina selanjutnya adalah melakukan peningkatan produksi bioetanol dari skala laboratorium ke skala yang lebih besar. Memproduksi bioetanol dari batang sorgum tidak hanya menjadi sumber energi baru terbarukan untuk Indonesia, tetapi juga inovasi ini memproduksi bahan bakar tanpa berkompetisi dengan bahan pangan.
Simon juga juga memberikan semangat dan pesan kepada Perwira Pertamina agar senantiasa berinovasi untuk menghasilkan karya-karya yang semakin bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, di antaranya dengan mendorong aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) dan tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs)
"Para Perwira Pertamina, ayo dukung terus Pertamina di sektor energi. Semoga Pertamina menjadi motor penggerak ketahanan energi bangsa bagi tercapainya swasembada energi, melalui inovasi-inovasi yang ramah lingkungan," pungkasnya.
Di kesempatan yang sama, Simon juga mengapresiasi kehadiran Pertamina di event GIIAS 2024. Menurutnya di event ini Pertamina dapat menunjukkan dukungannya untuk kemajuan di sektor otomotif, khususnya ke ekosistem otomotif Indonesia. Mulai dari produk BBM unggulan, produk pelumas, SPBU Green Energy, kolaborasi dengan racing team hingga inovasi bahan bakar ramah lingkungan.
"Melalui Hadirnya Pertamina di GIIAS 2024, saya berharap industri otomotif akan selalu tumbuh begitu juga Pertamina, yang mendukung hadirnya bahan bakar hijau ramah lingkungan" ungkapnya.
Artikel ini dibuat oleh kumparan Studio
Pertamina Gandeng Toyota Uji Coba Bioethanol 100% di GIIAS 2024 - kumparan.com
Pertamina berkolaborasi dengan Toyota melakukan test drive Bioethanol 100% (E100) di GIIAS 2024. [469] url asal
(Kumparan.com - Bisnis) 24/07/24 16:55
v/11947744/
Pertamina terus mempertajam kompetensi dan memperluas kolaborasi untuk mendorong pengembangan dan pemanfaatan bioenergi di berbagai sektor. Di ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024, Pertamina berkolaborasi dengan Toyota untuk melakukan pengisian perdana dan test drive penggunaan Bioethanol yang bersumber dari batang tanaman Sorgum.
Pada test drive yang dilakukan di GIIAS 2024 , Bioethanol 100% (E100) yang diproduksi dari tanaman Sorgum, digunakan sebagai bahan bakar alternatif pada kendaraan Flexy Fuel Vehicle (FFV) Toyota.
Senior Vice President Technology Innovation PT Pertamina (Persero), Oki Muraza menjelaskan bahwa untuk mengadakan test drive di GIIAS 2024, Pertamina telah memproduksi sebanyak 150 liter Bioethanol yang diproduksi dari ampas biomasa, yaitu batang tanaman Sorgum.
Proses produksi bahan bakar nabati tersebut menggunakan peralatan distilasi dan dehidrasi yang terdapat di fasilitas Laboratorium Technology Innovation milik Pertamina.
“Nira sorgum didapatkan melalui kerja sama dengan universitas yang sudah melakukan uji penanaman di beberapa lahan. Setelah itu nira yang dihasilkan difermentasi menjadi Bioethanol dan kemudian dimurnikan,” ungkap Oki di sela-sela uji coba Bioethanol di GIIAS 2024.
Oki menambahkan bahwa Bioethanol yang diproduksi Pertamina telah diuji di kendaraan Toyota Fortuner Flexy Fuel Vehicle (FFV) menunjukkan peningkatan performa dengan pembakaran yang lebih sempurna dan emisi yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar fosil pada umumnya
Langkah Pertamina selanjutnya, ungkap Oki, adalah melakukan peningkatan produksi Bioethanol dari skala laboratorium ke skala yang lebih besar. Selain itu, Pertamina menjajaki kemitraan untuk mendapatkan ketersediaan suplai Sorgum dan bahan nabati lainnya.
“Dengan memproduksi Bioethanol dari Sorgum tidak hanya menjadi sumber energi baru terbarukan untuk Indonesia, tetapi juga inovasi ini memproduksi bahan bakar tanpa berkompetisi dengan bahan pangan, dapat membuka lapangan pekerjaan dan usaha kecil menengah baru di sektor perkebunan Sorgum, pengolahan Nira, dan pengolahan Bioethanol,” tambah Oki.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso mengungkapkan bahwa Pertamina sebagai pemimpin transisi energi secara berkelanjutan mendorong penggunaan Bioethanol sebagai bahan bakar transportasi.
Pada hari ini Pertamina menampilkan inovasi terbarunya yaitu Bioethanol 100% (E100) dan di saat yang sama Pertamina mengimplementasikan secara bertahap Bioethanol di Indonesia dimulai dari Pertamax Green 95 yaitu bahan bakar dengan kandungan Bioethanol 5% (E5).
Fadjar menuturkan bahwa dengan implementasi E5 pada industri hulu-hilirnya dapat memberikan manfaat pengurangan impor gasoline nasional, membuka lapangan pekerjaan baru, meningkatkan GDP dan diperkirakan berkontribusi pada penurunan emisi sebesar 2,8 juta ton CO2 atau 1,9% emisi per tahun.
“Penggunaan Bioethanol akan memperkuat peta jalan Pertamina dalam pengembangan Energi Baru Terbarukan. Pertamina akan melakukan secara bertahap yang utamanya untuk mendukung program pemerintah yaitu mencapai target Net Zero Emission di Tahun 2060,”ucap Fadjar.
Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.
Artikel ini dibuat oleh kumparan Studio
Pertamina Gandeng Toyota Uji Coba Bioethanol 100% di GIIAS 2024 - kumparan.com
Pertamina berkolaborasi dengan Toyota melakukan test drive Bioethanol 100% (E100) di GIIAS 2024. [469] url asal
(Kumparan.com - Bisnis) 24/07/24 16:55
v/11946513/
Pertamina terus mempertajam kompetensi dan memperluas kolaborasi untuk mendorong pengembangan dan pemanfaatan bioenergi di berbagai sektor. Di ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024, Pertamina berkolaborasi dengan Toyota untuk melakukan pengisian perdana dan test drive penggunaan Bioethanol yang bersumber dari batang tanaman Sorgum.
Pada test drive yang dilakukan di GIIAS 2024 , Bioethanol 100% (E100) yang diproduksi dari tanaman Sorgum, digunakan sebagai bahan bakar alternatif pada kendaraan Flexy Fuel Vehicle (FFV) Toyota.
Senior Vice President Technology Innovation PT Pertamina (Persero), Oki Muraza menjelaskan bahwa untuk mengadakan test drive di GIIAS 2024, Pertamina telah memproduksi sebanyak 150 liter Bioethanol yang diproduksi dari ampas biomasa, yaitu batang tanaman Sorgum.
Proses produksi bahan bakar nabati tersebut menggunakan peralatan distilasi dan dehidrasi yang terdapat di fasilitas Laboratorium Technology Innovation milik Pertamina.
“Nira sorgum didapatkan melalui kerja sama dengan universitas yang sudah melakukan uji penanaman di beberapa lahan. Setelah itu nira yang dihasilkan difermentasi menjadi Bioethanol dan kemudian dimurnikan,” ungkap Oki di sela-sela uji coba Bioethanol di GIIAS 2024.
Oki menambahkan bahwa Bioethanol yang diproduksi Pertamina telah diuji di kendaraan Toyota Fortuner Flexy Fuel Vehicle (FFV) menunjukkan peningkatan performa dengan pembakaran yang lebih sempurna dan emisi yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar fosil pada umumnya
Langkah Pertamina selanjutnya, ungkap Oki, adalah melakukan peningkatan produksi Bioethanol dari skala laboratorium ke skala yang lebih besar. Selain itu, Pertamina menjajaki kemitraan untuk mendapatkan ketersediaan suplai Sorgum dan bahan nabati lainnya.
“Dengan memproduksi Bioethanol dari Sorgum tidak hanya menjadi sumber energi baru terbarukan untuk Indonesia, tetapi juga inovasi ini memproduksi bahan bakar tanpa berkompetisi dengan bahan pangan, dapat membuka lapangan pekerjaan dan usaha kecil menengah baru di sektor perkebunan Sorgum, pengolahan Nira, dan pengolahan Bioethanol,” tambah Oki.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso mengungkapkan bahwa Pertamina sebagai pemimpin transisi energi secara berkelanjutan mendorong penggunaan Bioethanol sebagai bahan bakar transportasi.
Pada hari ini Pertamina menampilkan inovasi terbarunya yaitu Bioethanol 100% (E100) dan di saat yang sama Pertamina mengimplementasikan secara bertahap Bioethanol di Indonesia dimulai dari Pertamax Green 95 yaitu bahan bakar dengan kandungan Bioethanol 5% (E5).
Fadjar menuturkan bahwa dengan implementasi E5 pada industri hulu-hilirnya dapat memberikan manfaat pengurangan impor gasoline nasional, membuka lapangan pekerjaan baru, meningkatkan GDP dan diperkirakan berkontribusi pada penurunan emisi sebesar 2,8 juta ton CO2 atau 1,9% emisi per tahun.
“Penggunaan Bioethanol akan memperkuat peta jalan Pertamina dalam pengembangan Energi Baru Terbarukan. Pertamina akan melakukan secara bertahap yang utamanya untuk mendukung program pemerintah yaitu mencapai target Net Zero Emission di Tahun 2060,”ucap Fadjar.
Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.
Artikel ini dibuat oleh kumparan Studio



