JAKARTA, investor.id – Korporasi swasta bakal mendominasi gelombang surat utang yang jatuh tempo pada semester II-2024 ini dengan total nilai mencapai Rp 43,15 triliun. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyebut, jumlah surat utang jatuh tempo tersebut lebih besar daripada Grup BUMN.
Head of Economic Research Division Pefindo Suhindarto menyampaikan, korporasi bersiap menghadapi gelombang jatuh tempo obligasi korporasi yang lebih besar pada paruh kedua tahun ini ketimbang periode sebelumnya.
Data ini merujuk pada pengumuman Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per akhir Juni, yang menyebutkan, nilai obligasi jatuh tempo dari Juli-Desember 2024 mencapai Rp 83,5 triliun, alias lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di 2023.
“Antara swasta dan BUMN Grup di semester II-2024 ini, dapat kami sampaikan nilai surat utang yang jatuh tempo lebih besar pada kelompok swasta (Non-BUMN) dibandingkan BUMN Grup,” jelas Suhindarto dalam Media Update Pefindo di Jakarta, Kamis (18/7/24).
Dilihat secara nilai, total nilai surat utang korporasi dari swasta alias Non-BUMN yang jatuh tempo pada semester II-2024 sebesar Rp 43,15 triliun. Sementara dari Grup BUMN, total nilai surat utang jatuh jatuh tempo untuk periode yang sama sebesar Rp 40,37 triliun.
Lalu, berdasarkan sektornya, perbankan dan multifinance menjadi dua sektor terbesar dengan didominasi oleh Grup BUMN. Di sisi lain, kelompok Non-BUMN menguasai sektor multifinance.
Mengenai kemampuan pelunasan obligasi korporasi, Assistant Vice President Financial Institution Ratings Kresna Armand menyatakan, pada paruh kedua pembayaran obligasi jatuh tempo diproyeksikan berjalan stabil.
“Kami melihat, tidak ada masalah signifikan di sektor Financial Institution (FI) tahun lalu, dan kondisi tahun ini diperkirakan tetap stabil. Tidak ada prospek yang mengkhawatirkan terkait pelunasan utang jatuh tempo di 2024 dari sektor FI,” ujar dia.
Assistant Vice President Non-Financial Institution Ratings Martin Pandi melanjutkan, pandangan dari sektor non-keuangan khususnya sektor komoditas dan utilitas. "Kesiapan pelunasan bergantung pada kondisi mikro tiap perusahaan. Namun, beberapa tantangan makro bisa mengancam kemampuan pelunasan, seperti tingkat bunga yang tinggi dan risiko geopolitik. Perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang asing juga berpotensi menghadapi kesulitan jika nilai tukar tidak stabil," ungkapnya.
Risiko dan Mitigasi
Head of Non-Financial Institution Yogie Surya Perdana menekankan, pentingnya mitigasi risiko oleh perusahaan. Kesiapan jatuh tempo obligasi di level emiten merupakan kasus per kasus, sehingga perusahaan yang mampu mengelola risiko mata uang serta bunga dengan baik bakal memiliki risiko gagal bayar yang lebih rendah.
“Rating kredit tinggi menjadi indikator kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangan,” ujarnya.
Yogie juga menggarisbawahi, perusahaan dengan rating rendah perlu mendapatkan perhatian lebih. Emiten dengan rating BBB ke bawah, terutama yang memiliki obligasi jatuh tempo dalam waktu dekat, perlu diperhatikan. “Kondisi makro yang memburuk atau fluktuasi nilai tukar dapat meningkatkan risiko gagal bayar,” tandasnya. (fur)
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News