JAKARTA, KOMPAS.com – Film "Home Sweet Loan" yang diproduksi oleh Visinema Pictures dan Legacy Pictures telah menjadi perbincangan hangat sejak tayang di bioskop pada 26 September 2024.
Film ini mengisahkan Kaluna (diperankan oleh Yunita Siregar) yang disoroti berada di posisi sebagai generasi sandwich (sandwich generation).
Sebagai anak bungsu, ia masih tinggal di rumah orangtua bersama kedua kakaknya yang sudah berkeluarga dan memiliki anak.
Ia harus menanggung seluruh kebutuhan rumah tangga orangtuanya dan seringkali mengalah pada kakak-kakaknya.
Banyak warganet yang merasakan kesamaan dengan Kaluna karena sama-sama terjebak dalam situasi serupa, di mana mereka harus membiayai orangtua atau anggota keluarga lainnya sambil memenuhi kebutuhan diri sendiri. Hal ini membuat mereka merasa terjepit.
Rupanya, fenomena generasi sandwich bisa tercipta karena perang orangtua. Bagaimana penjelasannya?
“Apa yang membuat seorang anak menjadi bagian dari sandwich generation adalah ketidakmampuan orangtua untuk menghidupi dirinya sendiri dan keluarga,” kata psikolog dari MS School & Wellbeing Center Rosdiana Setyaningrum, M.Psi., MHPEd, kepada Kompas.com, Rabu (17/10/2024).
Anak generasi sandwich karena orangtuanya
Generasi sandwich adalah kondisi di mana anak merasa tertekan untuk membiayai dan mengurus kebutuhan berbagai anggota keluarga.
Contohnya, seorang anak mungkin harus membiayai orangtua, kakak, adik, atau anggota keluarga lainnya, sambil juga memenuhi kebutuhan diri sendiri.
Jika anak sudah berkeluarga, mereka juga harus mengeluarkan biaya untuk mengurus anak.
Menurut Rosdiana, fenomena ini dapat dialami oleh anak mana pun tanpa memandang urutan kelahiran.
Ia juga menekankan bahwa latar belakang ekonomi orangtua tidak selalu menjadi faktor penentu.
"Bisa saja tadinya mampu, misalnya orangtuanya kerja kantoran dan bisa mencukupi diri sendiri dan keluarga, tapi kemampuan mereka dalam mengelola keuangan tidak bagus," tuturnya.
Akibatnya, ketika orangtua tidak lagi bekerja, mereka tidak memiliki sumber pendapatan dan bergantung pada anak.
Terkadang, orangtua masih memiliki uang, tetapi mengandalkan anak untuk kebutuhan tertentu karena pola pikir "anak harus balas budi".
Rosdiana menambahkan bahwa fenomena orangtua yang menganggap anak wajib menanggung mereka masih terjadi di Indonesia.
"Tadinya bisa menghidupi diri sendiri dan anak-anak, jadi merasa mereka tidak perlu memiliki manajemen keuangan yang baik, karena mereka berpikir anaknya akan membiayai nantinya," jelasnya.