JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam dunia karier, ada istilah kutu loncat. Kutu loncat adalah istilah bagi mereka yang sering berganti-ganti atau berpindah-pindah pekerjaan atau perusahaan.
Dahulu, para kutu loncat sering dipandang kurang baik oleh HRD karena dianggap gagal menunjukkan loyalitas kepada perusahaan.
Meski demikian, saat ini kondisi sudah berubah. Dikutip dari US News, Selasa (17/9/2024), beberapa pakar karier meyakini, kutu loncata atau sering berpindah pekerjaan bukan hanya bukan lagi tanda bahaya bagi perusahaan, tetapi juga bisa menjadi cara terbaik untuk menaikkan karier.
PEXELS/FAUXELS Ilustrasi bekerja di kantor, pegawai di kantor."Kontrak sosial antara perusahaan dan karyawan telah dilanggar. Menjadi kutu loncat sekarang menjadi norma yang diharapkan, dan perusahaan yang merekrut harus terbiasa dengan hal itu jika mereka ingin tetap kompetitif dan mempertahankan bakat terbaik," kata Thom Pryor, pakar hukum dan pendiri Lawsuit Legal.
Kutu loncat adalah ketika seorang karyawan sering berganti pekerjaan, posisi, atau perusahaan.
Meskipun tidak ada jumlah pasti pergantian pekerjaan atau waktu antara pekerjaan yang menunjukkan perilaku berpindah-pindah pekerjaan yang pasti, bekerja kurang dari setahun dan khususnya kurang dari enam bulan sebelum menerima tawaran kerja baru dapat memberi sinyal kepada calon perusahaan bahwa Anda adalah seorang kutu loncat, yang suka berpindah-pindah pekerjaan.
Mengapa ada orang yang suka jadi kutu loncat?
Para kutu loncat di masa kini proaktif dan cerdas, menggunakan perpindahan pekerjaan sebagai strategi untuk kemajuan karier.
UNSPLASH/ARLINGTON RESEARCH Ilustrasi pegawai di kantor, bekerja di kantor.Sebagian kutu loncat melakukannya untuk memperoleh pengalaman dengan cepat dalam suatu posisi atau profesi atau untuk menaikkan gaji.
Bahkan, ujar Pryor, karyawan mungkin percaya bahwa gaji mereka akan stagnan jika mereka tetap bekerja di perusahaan yang sama.
“Realitas yang tidak menguntungkan di perusahaan adalah bahwa sistem internal mengkategorikan pekerja, dan peluang kemajuan tidak tersedia setelah sistem mengklasifikasikan Anda,” kata Pryor.
“Pekerja telah mengetahuinya dan perpindahan pekerjaan memungkinkan mereka untuk mendefinisikan ulang nilai dan keterampilan mereka dengan perusahaan baru," imbuh dia.
Kelebihan dan kekurangan menjadi kutu loncat
Kelebihan dan kekurangan menjadi kutu loncat sangat bergantung pada usia, industri, dan keadaan individu seseorang
Melissa Trager, kepala bagian resume di Resume All Day, mengatakan penting untuk menyadari kekurangan menjadi kutu loncat, yakni sulit untuk berulang kali memulai dari awal sebagai seorang pemula.
"Memulai pekerjaan baru itu melelahkan karena banyak alasan," kata Trager.
"Anda harus membuktikan diri di perusahaan baru, membangun merek, mempelajari budaya perusahaan baru, dan mempelajari seluk-beluk perusahaan untuk unggul dalam peran Anda," imbuh dia.
Kekurangan potensial lainnya termasuk kegagalan untuk menguasai keterampilan secara menyeluruh, kesulitan mendapatkan pengalaman dalam proyek jangka panjang, dan stagnasi karier jika pemberi kerja menjadi waspada dalam mempromosikan seseorang tanpa rekam jejak yang dapat diandalkan.