#30 tag 24jam
Semarak Bank Rilis Kartu Kredit Baru di Tengah Popularitas Paylater
Menanjaknya popularitas paylater itu tidak menyurutkan minat perbankan untuk meluncurkan produk kartu kredit baru atau memperbarui produk yang telah ada. [798] url asal
#kartu-kredit #bisnis-kartu-kredit #bisnis-kartu-kredit-bank #transaksi-kartu-kredit #kartu-kredit-bank #paylater #kartu-kredit-mandiri #kartu-kredit-uob #kartu-kredit-dbs
(Bisnis.Com - Finansial) 30/09/24 08:30
v/15756360/
Bisnis.com, JAKARTA - Perbankan masih gencar meluncurkan produk kartu kredit anyar di tengah peningkatan popularitas metode pembayaran lain, seperti buy now pay later (paylater).
Sebelumnya, OJK melaporkan produk paylater perbankan dan perusahaan pembiayaan per Juni 2024 masih terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan.
Meski porsi produk paylater perbankan masih mini yaitu hanya sebesar 0,24% dari total kredit perbankan, akan tetapi outstanding mengalami kenaikan sebesar 36,66% secara tahunan (yoy) menjadi Rp18,01 triliun.
Selain itu, OJK juga mencatat total jumlah rekening paylater perbankan telah mencapai 17,90 juta, naik dari 17,48 juta pada Juni 2024.
Pada periode yang sama, tingkat risiko kredit untuk produk BNPL perbankan juga terus mengalami perbaikan, tecermin dari adanya penurunan ke level 2,24% per Juli 2024, dari 2,5% pada Juni 2024.
Sementara, outstanding pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) oleh perusahaan Pembiayaan per Juli 2024 mencatat pertumbuhan sebesar 73,55% yoy atau menjadi Rp7,81 triliun dengan NPF gross sebesar 2,82%.
Menanjaknya popularitas paylater itu tidak menyurutkan minat perbankan untuk meluncurkan produk kartu kredit baru atau memperbarui produk yang telah ada.
Kemarin, melalui keterangan resminya, Bank Mandiri mengumumkan kemitraan terbaru Bank Mandiri dengan Pertamina Patra Niaga dengan meluncurkan kembali Kartu Kredit Mandiri MyPertamina Card.

Nasabah melakukan transaksi melalui mesin anjungan tunai mandiri (ATM) milik Bank Mandiri di Jakarta, Rabu (4/1/2023). /Bisnis-Eusebio Chrysnamurti
SEVP Micro & Consumer Finance Bank Mandiri Saptari mengungkapkan bahwa pihaknya terus berupaya mendorong inovasi melalui perluasan ekosistem untuk mempermudah transaksi nasabah.
“Peluncuran ulang ini merupakan hasil dari penyempurnaan produk sebelumnya dengan tujuan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi nasabah,” katanya dalam keterangan resmi, Minggu (29/9/2024).
Selain berupaya menghadirkan solusi keuangan sebagaimana kebutuhan nasabah, Bank Mandiri juga menawarkan beragam keuntungan mulai dari welcome bonus e-voucher MyPertamina senilai Rp 200 ribu, bebas iuran tahunan di tahun pertama hingga akses eksklusif ke airport lounges dan airport merchants, dan lainnya.
Menurut Saptari, kartu ini juga memberikan akses lebih ke berbagai fitur di aplikasi Livin' by Mandiri, seperti virtual card, kemudahan transaksi QRIS dengan sumber dana dari kartu kredit, serta fitur unggulan Power Installment yang memungkinkan cicilan hingga 36 bulan. Terdapat pula Power Cash untuk penarikan dana instan dengan bunga mulai dari 0%.
Bank Mandiri mencatat, nasabah kartu kredit telah menembus 2 juta pada Agustus 2024, atau naik sebesar 8% secara tahunan.
Bank dengan nilai aset konsolidasi terbesar di Tanah Air itu juga membukukan kenaikan realisasi volume transaksi kartu kredit sebesar Rp41,3 triliun, meningkat 29% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Sejumlah bank masih gencar merilis beragam produk kartu kredit. Misalnya saja, PT Bank DBS Indonesia yang merilis Kartu Kredit digibank Z Visa Platinum yang terbuat dari bahan yang didaur ulang. DBS Indonesia pun menargetkan 50.000 kartu bisa terbit hingga akhir 2024.
Consumer Banking Director DBS Indonesia Melfrida Gultom menyampaikan peluncuran ini juga menjadi upaya menjaga daya saing DBS Indonesia di pasar di tengah layanan paylater yang makin populer.
Dia juga menyebut milenial dan Gen Z yang berumur 25—30 tahun ini berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan kredit. Pasalnya, segmen ini berada dalam kelompok usia produktif dan sering kali aktif dalam transaksi digital dan konsumsi produk keuangan seperti kartu kredit.
"Untuk Z Card ini 2024 ini kami targetkan 50.000 [kartu]. Adapun, dengan target yang cukup ambisius ini, saya rasa jelas kita menyikapi penurunan tingkat suku bunga dengan positif lewat pilihan produk," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (20/9/2024).
UOB Indonesia
Tak hanya DBS Indonesia, PT Bank UOB Indonesia bersama PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) juga misalnya, yang meluncurkan produk kartu kredit co-branded anyar yakni UOB Telkomsel.
Consumer Banking Director UOB Indonesia Cristina Teh Tan menjelaskan bahwa kerja sama dengan penyedia layanan telekomunikasi pelat merah tersebut dijalin atas kebutuhan gaya hidup digital nasabah, tak terkecuali segmen Gen Z.
Menurutnya, gaya hidup digital Tanah Air telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir, misalnya dalam hal penetrasi internet dan opsi berbelanja secara daring melalui lokapasar alias e-commerce.
Cristina memaparkan, pengguna internet dalam negeri saat ini telah mencapai 185,3 juta orang, yang mana 11,7% segmen Gen Y dan Gen Z tercatat memiliki pengeluaran rutin untuk hiburan dan rekreasi. Sementara itu, pihaknya juga mencatat bahwa 59,3% pengguna internet melakukan pembelian secara online tiap minggunya.
Pada saat yang sama, Cards & Payment Head UOB Indonesia Herman Soesetyo menyebut bahwa geliat bisnis paylater itu tak serta-merta berujung pada masalah kompetisi dengan produk konvensional perbankan, dalam hal ini kartu kredit. Pasalnya, dia menilai ada kesempatan yang bisa dieksplorasi dari situasi tersebut.
"Jadi, kita lihat ke depannya pasti ada jalan paylater bisa berkolaborasi dengan kartu kredit," katanya.
Dia menjelaskan, secara prinsip, banyak fitur dari BNPL yang telah ada dalam installment kartu kredit sejak waktu yang lama. Hal ini menandakan bahwasanya terdapat banyak kerja sama yang bisa dicapai antara kedua produk tersebut, mengingat hal serupa juga telah berjalan di industri keuangan.
Beda Nasib Kartu Debit vs Kredit saat QRIS dan Paylater Melesat
Transaksi kartu ATM/debit mengalami perkembangan yang berbeda dibandingkan dengan kartu kredit pada Agustus 2024. [874] url asal
#transaksi-kartu-debit #transaksi-kartu-kredit #transaksi-qris #qris #kartu-debit #kartu-kredit #transaksi-digital #transaksi-bank #bank-indonesia
(Bisnis.Com - Finansial) 23/09/24 12:00
v/15435040/
Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) melaporkan perkembangan transaksi pembayaran terkini. Per Agustus 2024, transaksi kartu ATM/debit mengalami perkembangan yang berbeda dibandingkan dengan kartu kredit.
Transaksi dan jumlah kartu kredit yang beredar tercatat masih tumbuh di tengah gempuran paylater. Nilai transaksi kartu kredit mencapai Rp37,19 triliun per Juli 2024. Nilai transaksi tersebut naik 2,94% secara tahunan (year on year/YoY) dari sebelumnya Rp36,13 triliun.
Kenaikan tidak hanya tidak terjadi nilai transaksi, melainkan juga pada volume transaksi kartu kredit yang ikut tumbuh 15,35% secara tahunan. Volume tersebut naik menjadi 39,83 juta transaksi, dari yang sebelumnya 34,53 juta transaksi.
Selanjutnya, jumlah kartu kredit yang beredar pun tak kalah menanjak, yakni mencapai 18,16 juta unit pada Juli 2024 naik 2,66% (YoY) dibandingkan Juli 2023 yang sebanyak 17,69 juta unit. Hal ini seakan membuktikan bahwa bisnis kartu kredit masih terus bertumbuh di tengah gempuran ragam produk keuangan inovatif paylater.
Sementara, BI mencatat penurunan signifikan dalam transaksi melalui kartu ATM pada Agustus 2024, sementara transaksi digital banking, termasuk penggunaan Quick Response Indonesian Standard (QRIS), mengalami lonjakan pesat.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, transaksi digital banking tercatat mencapai 1.871,19 juta transaksi, tumbuh 31,11% secara tahunan, sementara transaksi uang elektronik (UE) meningkat 21,53% yoy dengan total 1.246,58 juta transaksi.
Transaksi melalui QRIS juga menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan, mencapai 217,33% yoy, dengan jumlah pengguna mencapai 52,55 juta dan jumlah merchant sebanyak 33,77 juta.
"Kinerja transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Agustus 2024 tetap kuat didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal," kata Perry dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada Rabu (19/9/2024).
Di sisi lain, transaksi pembayaran menggunakan kartu ATM atau debit mengalami penurunan 6,82% yoy menjadi 591,92 juta transaksi pada periode yang sama.
Bank Masih Rilis Produk Kartu Kredit untuk Anak Muda
Sejumlah bank masih gencar merilis beragam produk kartu kredit. Misalnya saja, PT Bank DBS Indonesia yang merilis Kartu Kredit digibank Z Visa Platinum yang terbuat dari bahan yang didaur ulang. DBS Indonesia pun menargetkan 50.000 kartu bisa terbit hingga akhir 2024.
Consumer Banking Director DBS Indonesia Melfrida Gultom menyampaikan peluncuran ini juga menjadi upaya menjaga daya saing DBS Indonesia di pasar di tengah layanan paylater yang makin populer.
Dia juga menyebut milenial dan Gen Z yang berumur 25—30 tahun ini berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan kredit. Pasalnya, segmen ini berada dalam kelompok usia produktif dan sering kali aktif dalam transaksi digital dan konsumsi produk keuangan seperti kartu kredit.
"Untuk Z Card ini 2024 ini kami targetkan 50.000 [kartu]. Adapun, dengan target yang cukup ambisius ini, saya rasa jelas kita menyikapi penurunan tingkat suku bunga dengan positif lewat pilihan produk," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (20/9/2024).
Tak hanya DBS Indonesia, PT Bank UOB Indonesia bersama PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) juga misalnya, yang meluncurkan produk kartu kredit co-branded anyar yakni UOB Telkomsel.
Consumer Banking Director UOB Indonesia Cristina Teh Tan menjelaskan bahwa kerja sama dengan penyedia layanan telekomunikasi pelat merah tersebut dijalin atas kebutuhan gaya hidup digital nasabah, tak terkecuali segmen Gen Z.
Menurutnya, gaya hidup digital Tanah Air telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir, misalnya dalam hal penetrasi internet dan opsi berbelanja secara daring melalui lokapasar alias e-commerce.
Cristina memaparkan, pengguna internet dalam negeri saat ini telah mencapai 185,3 juta orang, yang mana 11,7% segmen Gen Y dan Gen Z tercatat memiliki pengeluaran rutin untuk hiburan dan rekreasi. Sementara itu, pihaknya juga mencatat bahwa 59,3% pengguna internet melakukan pembelian secara online tiap minggunya.
Pada saat yang sama, Cards & Payment Head UOB Indonesia Herman Soesetyo menyebut bahwa geliat bisnis paylater itu tak serta-merta berujung pada masalah kompetisi dengan produk konvensional perbankan, dalam hal ini kartu kredit. Pasalnya, dia menilai ada kesempatan yang bisa dieksplorasi dari situasi tersebut.
"Jadi, kita lihat ke depannya pasti ada jalan paylater bisa berkolaborasi dengan kartu kredit," katanya.
Dia menjelaskan, secara prinsip, banyak fitur dari BNPL yang telah ada dalam installment kartu kredit sejak waktu yang lama. Hal ini menandakan bahwasanya terdapat banyak kerja sama yang bisa dicapai antara kedua produk tersebut, mengingat hal serupa juga telah berjalan di industri keuangan.
Alasan Transaksi Kartu Debit Terus Susut
Terkait dengan ransaksi ATM/debit, Direktur Consumer Banking CIMB Niaga Noviady Wahyudi menyatakan bahwa pandemi Covid-19 turut mempercepat digitalisasi di sektor perbankan. "Covid-19 memaksa kita untuk melakukan digitalisasi," ujarnya.
Noviady juga menyebut kebijakan BI terkait QRIS untuk transaksi berukuran kecil (small ticket size) mengurangi kebutuhan akan uang tunai, yang pada akhirnya mengakibatkan penurunan penggunaan ATM.
"Di negara maju, penggunaan uang tunai semakin berkurang, sehingga ATM hanya digunakan untuk kebutuhan darurat," tambahnya.
Ekonom Senior Poltak Hotradero menjelaskan bahwa keberadaan ATM sering kali menjadi beban bagi perbankan, karena biaya pemeliharaan dan asuransi yang tinggi, yang berujung pada peningkatan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO).
"Penurunan jumlah ATM ini sudah menjadi tren global. Di China saja, ATM menurun hingga 150.000–200.000 unit per tahun. Ke depan, pembayaran digital akan semakin diminati," ujar Poltak.
Dia juga menambahkan bahwa dengan peralihan pembayaran ke digital, penggunaan uang tunai akan semakin berkurang, didukung oleh kebijakan bank sentral dunia yang menyadari bahwa penanganan uang tunai (cash handling) cukup mahal. Dengan meningkatnya penggunaan QRIS, peran ATM dinilai semakin tidak relevan.
Bisnis Kartu Kredit Terus Tumbuh di Tengah Semarak Paylater
Nilai transaksi kartu kredit pada Juli 2024 tercatat naik 2,94% (YoY), dengan volume transaksi tumbuh 15,35%, dan jumlah kartu kredit beredar meningkat 2,66%. [678] url asal
#transaksi-kartu-kredit #kartu-kredit #data-kartu-kredit #data-bank-indonesia #data-kartu-kredit-bank-indonesia #data-transaksi-kartu-kredit-bank-indonesia #paylater #transaksi-paylater #pay-later #tra
(Bisnis.Com - Finansial) 22/09/24 13:54
v/15388644/
Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mencatat nilai transaksi kartu kredit mencapai Rp37,19 triliun per Juli 2024. Nilai transaksi tersebut naik 2,94% secara tahunan (year on year/YoY) dari sebelumnya Rp36,13 triliun.
Berdasarkan data Statistik Sistem Pembayaran dan Infrastruktur Pasar Keuangan Indonesia (SPIP) yang dirilis Bank Indonesia, nilai transaksi kartu kredit tersebut terbagi menjadi dua komponen, yakni nilai transaksi tunai dan nilai transaksi belanja, yang masing-masing di dalamnya terdapat komponen domestik dan internasional.
Adapun, nilai transaksi kartu kredit didominasi oleh komponen nilai transaksi belanja yang mencapai Rp36,47 triliun. Sisanya, yakni Rp722 miliar merupakan nilai transaksi tunai pada Juli 2024.
Kenaikan tidak hanya tidak terjadi nilai transaksi, melainkan juga pada volume transaksi kartu kredit yang ikut tumbuh 15,35% secara tahunan. Volume tersebut naik menjadi 39,83 juta transaksi, dari yang sebelumnya 34,53 juta transaksi.
Selanjutnya, jumlah kartu kredit yang beredar pun tak kalah menanjak, yakni mencapai 18,16 juta unit pada Juli 2024 naik 2,66% (YoY) dibandingkan Juli 2023 sebanyak 17,69 juta unit. Hal ini seakan membuktikan bahwa bisnis kartu kredit masih terus bertumbuh di tengah gempuran ragam produk keuangan inovatif paylater.
Bahkan, kini pemain bank makin gencar dalam merilis beragam produk kartu kredit. Teranyar, PT Bank DBS Indonesia yang merilis Kartu Kredit digibank Z Visa Platinum yang terbuat dari bahan yang didaur ulang. DBS Indonesia pun menargetkan 50.000 kartu bisa terbit hingga akhir 2024.
Consumer Banking Director DBS Indonesia Melfrida Gultom menyampaikan peluncuran ini juga menjadi upaya menjaga daya saing DBS Indonesia di pasar di tengah layanan paylater yang makin populer.
Dia juga menyebut milenial dan Gen Z yang berumur 25—30 tahun ini berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan kredit. Pasalnya, segmen ini berada dalam kelompok usia produktif dan sering kali aktif dalam transaksi digital dan konsumsi produk keuangan seperti kartu kredit.
"Untuk Z Card ini 2024 ini kami targetkan 50.000 [kartu]. Adapun, dengan target yang cukup ambisius ini, saya rasa jelas kita menyikapi penurunan tingkat suku bunga dengan positif lewat pilihan produk," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (20/9/2024).
Sebelumnya, Head of Card and Loan Business DBS Indonesia Ari Lastina juga mengatakan inovasi terbaru ini menjadi suatu jawaban untuk kebutuhan generasi muda yang makin memerhatikan masalah keberlanjutan dan lingkungan namun tetap memanfaatkan fitur kartu kredit.
DBS Indonesia pun memfasilitasi beragam nilai tambah atas produk ini, misalnya keleluasaan bertransaksi lewat fitur pay later 0% hingga 6 bulan yang bisa dinikmati untuk transaksi di mana pun dan kapan pun hingga transaksi yang efisien melalui aplikasi digibank by DBS yang dapat diakses kapan pun.
Tak hanya DBS Indonesia, PT Bank UOB Indonesia bersama PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) juga misalnya, yang meluncurkan produk kartu kredit co-branded anyar yakni UOB Telkomsel.
Consumer Banking Director UOB Indonesia Cristina Teh Tan menjelaskan bahwa kerja sama dengan penyedia layanan telekomunikasi pelat merah tersebut dijalin atas kebutuhan gaya hidup digital nasabah, tak terkecuali segmen Gen Z.
Menurutnya, gaya hidup digital Tanah Air telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir, misalnya dalam hal penetrasi internet dan opsi berbelanja secara daring melalui lokapasar alias e-commerce.
Cristina memaparkan, pengguna internet dalam negeri saat ini telah mencapai 185,3 juta orang, yang mana 11,7% segmen Gen Y dan Gen Z tercatat memiliki pengeluaran rutin untuk hiburan dan rekreasi. Sementara itu, pihaknya juga mencatat bahwa 59,3% pengguna internet melakukan pembelian secara online tiap minggunya.
Pada saat yang sama, Cards & Payment Head UOB Indonesia Herman Soesetyo menyebut bahwa geliat bisnis paylater itu tak serta-merta berujung pada masalah kompetisi dengan produk konvensional perbankan, dalam hal ini kartu kredit. Pasalnya, dia menilai ada kesempatan yang bisa dieksplorasi dari situasi tersebut.
"Jadi kita lihat ke depannya pasti ada jalan paylater bisa berkolaborasi dengan kartu kredit," katanya.
Dia menjelaskan, secara prinsip, banyak fitur dari BNPL yang telah ada dalam installment kartu kredit sejak waktu yang lama. Hal ini menandakan bahwasanya terdapat banyak kerja sama yang bisa dicapai antara kedua produk tersebut, mengingat hal serupa juga telah berjalan di industri keuangan.
"Kita enggak akan setop [kartu kredit], kita lihat ke depan ini selalu ada opportunity, selalu positif mengeksplorasi opportunity tersebut," tuturnya.
Genjot Transaksi Nasabah, Bank Sinarmas Gelar Program Undian
Program ini dilakukan dengan pemberian nomor undian atas peningkatan saldo tabungan, transaksi kartu kredit, QRIS, pembayaran tagihan, hingga KPR. Halaman all [333] url asal
#pengajuan-kpr #bank-sinarmas #transaksi-kartu-kredit #qris
(Kompas.com) 01/08/24 23:07
v/12925158/
JAKARTA, KOMPAS.com -Bank Sinarmas kembali mengadakan program lucky draw di tahun 2024. Lucky Draw Cuan-tastic merupakan program loyalti yang diberikan Bank Sinarmas kepada nasabah, baik nasabah baru maupun nasabah eksisting.
Program ini dilakukan dengan pemberian nomor undian atas peningkatan saldo tabungan, transaksi kartu kredit, QRIS, pembayaran tagihan, hingga pengajuan KPR.
Enny Kamal, Direktur Bank Sinarmas menyampaikan apresiasi kepada seluruh nasabah yang telah setia menjadi nasabah dan bertransaksi di Bank Sinarmas.
SHUTTERSTOCK/EGGEEGG Ilustrasi tabungan.“Terus tingkatkan transaksi Anda agar dapat memenangkan hadiah pada pengundian Cuan-tastic periode berikutnya dan nikmati berbagai kemudahan layanan perbankan kami," kata Enny dalam keterangan resmi, Kamis (1/8/2024).
Perseroan telah melakukan pengundian Cuan-tastic 2024 untuk periode 1 April hingga 30 Juni 2024 dan pada Rabu (31/7/2024). Pada pengundian ini, nasabah Bank Sinarmas berkesempatan memenangkan puluhan hadiah menarik.
Dengan diselenggarakannya program Cuan-tastic periode 1 ini meningkatkan jumlah transaksi QRIS dan pembayaran tagihan melalui SimobiPlus, peningkatan juga terjadi di transaksi kartu kedit maupun pengajuan KPR.
Adapun total jumlah kupon undian peserta program yang diundi sebanyak 32.499.910 kupon undian.
Sebagai informasi, Bank Sinarmaa melaporkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 1,6 persen pada Maret 2024 hingga Juni 2024. Sementara itu, transaksi QRIS meningkat 26 persen pada Januari hingga Maret 2024 ke April hingga Juni 2024.
Adapun transaksi pembayaran tagihan meningkat 15 persen pada periode Januari hingga Maret 2024 ke April hingga Juni 2024.