#30 tag 24jam
Bisnis Kartu Kredit Terus Tumbuh di Tengah Semarak Paylater
Nilai transaksi kartu kredit pada Juli 2024 tercatat naik 2,94% (YoY), dengan volume transaksi tumbuh 15,35%, dan jumlah kartu kredit beredar meningkat 2,66%. [678] url asal
#transaksi-kartu-kredit #kartu-kredit #data-kartu-kredit #data-bank-indonesia #data-kartu-kredit-bank-indonesia #data-transaksi-kartu-kredit-bank-indonesia #paylater #transaksi-paylater #pay-later #tra
(Bisnis.Com - Finansial) 22/09/24 13:54
v/15388644/
Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mencatat nilai transaksi kartu kredit mencapai Rp37,19 triliun per Juli 2024. Nilai transaksi tersebut naik 2,94% secara tahunan (year on year/YoY) dari sebelumnya Rp36,13 triliun.
Berdasarkan data Statistik Sistem Pembayaran dan Infrastruktur Pasar Keuangan Indonesia (SPIP) yang dirilis Bank Indonesia, nilai transaksi kartu kredit tersebut terbagi menjadi dua komponen, yakni nilai transaksi tunai dan nilai transaksi belanja, yang masing-masing di dalamnya terdapat komponen domestik dan internasional.
Adapun, nilai transaksi kartu kredit didominasi oleh komponen nilai transaksi belanja yang mencapai Rp36,47 triliun. Sisanya, yakni Rp722 miliar merupakan nilai transaksi tunai pada Juli 2024.
Kenaikan tidak hanya tidak terjadi nilai transaksi, melainkan juga pada volume transaksi kartu kredit yang ikut tumbuh 15,35% secara tahunan. Volume tersebut naik menjadi 39,83 juta transaksi, dari yang sebelumnya 34,53 juta transaksi.
Selanjutnya, jumlah kartu kredit yang beredar pun tak kalah menanjak, yakni mencapai 18,16 juta unit pada Juli 2024 naik 2,66% (YoY) dibandingkan Juli 2023 sebanyak 17,69 juta unit. Hal ini seakan membuktikan bahwa bisnis kartu kredit masih terus bertumbuh di tengah gempuran ragam produk keuangan inovatif paylater.
Bahkan, kini pemain bank makin gencar dalam merilis beragam produk kartu kredit. Teranyar, PT Bank DBS Indonesia yang merilis Kartu Kredit digibank Z Visa Platinum yang terbuat dari bahan yang didaur ulang. DBS Indonesia pun menargetkan 50.000 kartu bisa terbit hingga akhir 2024.
Consumer Banking Director DBS Indonesia Melfrida Gultom menyampaikan peluncuran ini juga menjadi upaya menjaga daya saing DBS Indonesia di pasar di tengah layanan paylater yang makin populer.
Dia juga menyebut milenial dan Gen Z yang berumur 25—30 tahun ini berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan kredit. Pasalnya, segmen ini berada dalam kelompok usia produktif dan sering kali aktif dalam transaksi digital dan konsumsi produk keuangan seperti kartu kredit.
"Untuk Z Card ini 2024 ini kami targetkan 50.000 [kartu]. Adapun, dengan target yang cukup ambisius ini, saya rasa jelas kita menyikapi penurunan tingkat suku bunga dengan positif lewat pilihan produk," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (20/9/2024).
Sebelumnya, Head of Card and Loan Business DBS Indonesia Ari Lastina juga mengatakan inovasi terbaru ini menjadi suatu jawaban untuk kebutuhan generasi muda yang makin memerhatikan masalah keberlanjutan dan lingkungan namun tetap memanfaatkan fitur kartu kredit.
DBS Indonesia pun memfasilitasi beragam nilai tambah atas produk ini, misalnya keleluasaan bertransaksi lewat fitur pay later 0% hingga 6 bulan yang bisa dinikmati untuk transaksi di mana pun dan kapan pun hingga transaksi yang efisien melalui aplikasi digibank by DBS yang dapat diakses kapan pun.
Tak hanya DBS Indonesia, PT Bank UOB Indonesia bersama PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) juga misalnya, yang meluncurkan produk kartu kredit co-branded anyar yakni UOB Telkomsel.
Consumer Banking Director UOB Indonesia Cristina Teh Tan menjelaskan bahwa kerja sama dengan penyedia layanan telekomunikasi pelat merah tersebut dijalin atas kebutuhan gaya hidup digital nasabah, tak terkecuali segmen Gen Z.
Menurutnya, gaya hidup digital Tanah Air telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir, misalnya dalam hal penetrasi internet dan opsi berbelanja secara daring melalui lokapasar alias e-commerce.
Cristina memaparkan, pengguna internet dalam negeri saat ini telah mencapai 185,3 juta orang, yang mana 11,7% segmen Gen Y dan Gen Z tercatat memiliki pengeluaran rutin untuk hiburan dan rekreasi. Sementara itu, pihaknya juga mencatat bahwa 59,3% pengguna internet melakukan pembelian secara online tiap minggunya.
Pada saat yang sama, Cards & Payment Head UOB Indonesia Herman Soesetyo menyebut bahwa geliat bisnis paylater itu tak serta-merta berujung pada masalah kompetisi dengan produk konvensional perbankan, dalam hal ini kartu kredit. Pasalnya, dia menilai ada kesempatan yang bisa dieksplorasi dari situasi tersebut.
"Jadi kita lihat ke depannya pasti ada jalan paylater bisa berkolaborasi dengan kartu kredit," katanya.
Dia menjelaskan, secara prinsip, banyak fitur dari BNPL yang telah ada dalam installment kartu kredit sejak waktu yang lama. Hal ini menandakan bahwasanya terdapat banyak kerja sama yang bisa dicapai antara kedua produk tersebut, mengingat hal serupa juga telah berjalan di industri keuangan.
"Kita enggak akan setop [kartu kredit], kita lihat ke depan ini selalu ada opportunity, selalu positif mengeksplorasi opportunity tersebut," tuturnya.
Paylater, Ancaman atau Peluang Bisnis Bank?
Pada awalnya, pemain industri paylater merupakan perusahaan nonbank dan disebut berpotensi menggerus transaksi penggunaan kartu kredit yang dirilis bank. [992] url asal
#paylater #paylater-bank #paylater-bca #paylater-mandiri #transaksi-paylater #kartu-kredit-bank #transaksi-kartu-kredit
(Bisnis.Com - Finansial) 19/07/24 10:30
v/11289271/
Bisnis.com, JAKARTA - Seiring dengan tren digitalisasi transaksi keuangan, muncul beragam cara pembayaran baru salah satunya buy now pay later atau paylater. Pada awalnya, pemain industri paylater merupakan perusahaan nonbank dan disebut berpotensi menggerus transaksi penggunaan kartu kredit yang dirilis bank.
Dalam perkembangannya, pertumbuhan transaksi paylater tumbuh signifikan melampaui transaksi menggunakan kartu. Walaupun, dari sisi nominal, transaksi penggunaan paylater masih jauh lebih kecil ketimbang nilai transaksi kartu kredit.
Mengacu statistik sistem pembayaran dan infrastruktur pasar keuangan (SPIP) Bank Indonesia (BI), nilai transaksi kartu kredit tumbuh 5,09% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp36,12 triliun pada Maret 2024.
Jumlah transaksi kartu kredit juga naik 14,13% yoy menjadi 36,73 juta transaksi dengan kartu kredit yang beredar mencapai 18,13 juta unit pada Maret 2024 naik 4,31% yoy dari 17,38 juta unit.
Namun, bisnis paylater tumbuh lebih pesat lagi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding piutang pembiayaan paylater mencapai Rp6,13 triliun per Maret 2024. Angka tersebut meningkat 23,90% yoy.
Kini sejumlah bank ikut masuk dalam bisnis paylater, seperti BCA dan Bank Mandiri. Sementara, BNI dan CIMB Niaga berencana meluncurkan paylater dalam waktu yang tidak lama lagi.
Mencicipi kue bisnis paylater menjadi bagian dari strategi bank untuk meningkatkan pangsa pasar dan memenuhi kebutuhan nasabah potensial, yaitu kalangan generasi muda yang merupakan pengguna aktif platform digital.
Tak hanya itu, pengembangan produk paylater juga menjadi alternatif yang diberikan bank bagi para nasabahnya untuk menjaga cashflow apabila seorang individu memiliki suatu kebutuhan bersifat konsumtif dengan cara mencicil, mengingat kebijakan persetujuan kartu kredit masih terbilang ketat.
Bank Mandiri pun melaporkan sejak awal diluncurkan ke publik, layanan ini terus mendapat respons positif dari nasabah. Corporate Secretary Bank Mandiri Teuku Ali Usman mengatakan sampai dengan akhir Mei 2024 jumlah nasabah Bank Mandiri pengguna Livin’ Paylater telah mencapai meningkat dua kali lipat jika dibandingkan akhir 2023.
“Sementara itu, jumlah volume transaksi pada periode yang sama turut mencatat pertumbuhan lebih 81% jika dibandingkan dengan posisi Desember 2023 atau year to date [ytd],” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (16/7/2024).
Kata Ali, pencapaian ini tidak terlepas dari beragam strategi dan inovasi yang secara aktif dilakukan perseroan. Salah satunya melalui program promosi dengan berbagai penawaran menarik yang dapat dinikmati di berbagai merchant pilihan.
Tidak hanya itu, Ali menyebutkan bahwa Bank Mandiri juga terus mengembangkan fitur pembayaran yang lebih variatif untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi nasabah. Seperti penambahan fitur pembayaran melalui Virtual Account (VA) di merchant e-commerce.
BCA juga membukukan tren kinerja bisnis buy now pay later yang positif. Perseroan juga terus melakukan pengembangan inovasi atas fitur ini.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan pertumbuhan pengguna Paylater mencapai 108% dan outstanding menembus 94% per Mei 2024. "Inovasi produk rutin kita lakukan. Kita saat ini ada grup-grup kecil yang mempermudah setiap inovasi bisa dilalukan dan di-exercise dengan lebih baik," ujarnya dalam Outlook Ekonomi Semester II 2024, Senin (15/7/2024).
Hera mengatakan saat ini inovasi produk paylater masih terus dikaji dengan menyesuaikan kebutuhan market. "Biasanya kita ada pilot project, uji coba, aman enggak, relevan enggak. Jadi, selalu kita lakukan update produk dan layanan," ujarnya.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan melihat dengan semakin banyaknya bank yang masuk ke bisnis paylater, potensi untuk menggantikan kartu kredit akan semakin besar.
“Persaingan bisnis paylater akan semakin ketat seiring dengan masuknya bank-bank besar. Potensi paylater untuk menggantikan kartu kredit juga semakin besar,” kata Trioksa.
Dengan semakin banyaknya jumlah pemain, Trioksa menyebut bahwa pemain baru juga perlu menyiapkan strategi supaya dapat diterima masyarakat. Beberapa di antaranya yakni dengan memberikan promo untuk menarik konsumen baru.
Kendati demikian, perlindungan konsumen juga diperlukan kala bisnis paylater semakin ketat. Diketahui saat ini masih belum ada aturan khusus terkait dengan bisnis paylater.
Menurut Trioksa, peraturan khusus paylater idealnya dapat melakukan pengawasan agar konsumen tetap terlindungi dan bisnis paylater dapat berjalan normal dan dikembalikan kepada selera pasar. “Sepanjang konsumen terlindungi menurut saya, bisnis paylater dapat terbuka lebar,” ungkapnya.
Senada, Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda pun melihat bahwa pembiayaan melalui kartu kredit kemungkinan akan semakin ditinggalkan.
Dia melihat bahwa konsumsi masyarakat ke depan akan terdorong dari konsumsi leisure masyarakat yang terus meningkat. Konsumsi leisure tersebut berkaitan dengan konsumsi gadget, hotelling, dan transportasi.
“Jika melihat data ke belakang, pertumbuhan konsumsi leisure ini lebih cepat dibandingkan dengan konsumsi nonleisure. Pengeluaran masyarakat untuk leisure akan semakin tinggi, terutama untuk gen Milenial dan Z. Ditambah lagi sektor teknologi informasi yang tumbuh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekonom nasional,” kata Huda.
Huda mengatakan konsumsi pembiayaan pun akhirnya berubah dari konvensional ke berbasis pembiayaan berbasis digital. Seperti halnya paylater yang menjadi salah satu metode pembiayaan yang banyak digemari oleh masyarakat.
Huda mengatakan banyak perbankan yang berbondong-bondong yang masuk ke bisnis paylater karena memang menarik pasarnya. Setelah masuknya paylater ke dalam superapp BCA dan Bank Mandiri, dia yakin bahwa semakin banyak bank yang tertarik.
Oleh sebab itu, bisnis pay later pertumbuhannya akan positif ke depan. Terutama untuk paylater yang terhubung dengan layanan digital. “Saya rasa mereka akan lebih unggul dibandingkan dengan lainnya,” imbuhnya.
Optimistis Bisnis Kartu Kredit
Di sisi lain, Bank Danamon (BDMN) masih meyakini bisnis kartu kredit bakal moncer pada tahun ini meskipun harus bersaing ketat dengan paylater.
Bank Danamon sendiri telah menyiapkan bekal untuk bertarung di segmen kredit tanpa jaminan itu dengan mengakuisisi portofolio Standard Chartered Bank Indonesia (SCBI).
Consumer Lending Business Head of Bank Danamon Enriko Sutarto mengatakan perseroan menargetkan pertumbuhan bisnis kartu kredit 15% sampai 20% pada tahun ini. Adapun, pada kuartal II/2024, bisnis kartu kredit Bank Danamon telah tumbuh di kisaran 10% sampai 15%. Perusahaan optimistis target pertumbuhan bisnis kartu kredit bisa tercapai.
Dia menambahkan peluang pertumbuhan transaksi kartu kredit pada tahun ini terbuka lebar. Adapun, Bank Danamon akan memaksimalkannya melalui berbagai cara.
"Pada dasarnya kami lihat di market, kami disuport fitur-fitur andalan di kartu kredit. Inisiatif portofolio Standard Chartered juga membuka peluang cross selling," ujar Enrico.
Bank Danamon juga manfaatkan ekosistem pemegang saham pengendalinya dari Jepang yakni Mitsubishi UFJ Financial Group Inc. (MUFG).