AREBI melaporkan rumah Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar masih diminati. Begini gambaran kemungkinan kelas menengah untuk dapat beli rumah. [638] url asal
Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) menyebutkan menurut data mereka saat ini, rumah-rumah seharga Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar masih ramai peminat. Peminatnya adalah kelas menengah.
"Yang paling banyak masih di antara Rp 500 juta sampai dan Rp 1 miliar itu rumah-rumah primary 90% tuh belinya tuh pakai KPR," ungkap Ketua Umum AREBI Lukas Bong dalam acara Press Conference AREBI di Sudirman, Jakarta, pada Rabu (18/9/2024).
Sementara itu, menurut Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) diperkirakan terdapat 8,5 juta warga kelas menengah turun kelas dalam 5 tahun terakhir yakni sejak 2018 hingga 2023.
"Pada tahun 2023, kelas menengah di Indonesia mencakup sekitar 52 juta jiwa dan mewakili 18,8% dari total populasi. Namun, jumlah penduduk kelas menengah baru-baru ini mengalami penurunan (jika dibandingkan dengan 2018 lalu)," tulis laporan riset berjudul 'Macroeconomics Analysis Series Indonesia Economic Outlook Triwulan III-2024' seperti yang dikutip Kamis (19/9/2024).
Dilansir detikEdu, menurut ekonom yang juga eks Menteri Keuangan Chatib Basri, jika berpatokan pada besaran nilai garis kemiskinan 2024 yakni Rp 550 ribu, maka seseorang yang punya pengeluaran Rp 1,9 juta sampai Rp 9,3 juta per bulan termasuk dalam kategori kelas menengah. Lalu, pengeluaran Rp 825 ribu sampai Rp 1,9 juta termasuk kelas menengah bawah, dan pengeluaran Rp 550 sampai Rp 825 ribu per bulan termasuk rentan miskin.
Dengan gambaran rata-rata pengeluaran kelas menengah ini, Lukas melanjutkan, bisa saja kelas menengah membeli rumah yang kisarah harganya Rp 500 hingga Rp 1 miliar apabila diberikan insentif PPN DPT 100%.
"Sebenarnya tahun ini kan kita sebutnya tahun politik ya, semester pertama kita bilang ancuran-ancuran lah tapi pemerintah pada semester pertama kan memberikan PPN DPT 100%. Nah itu cukup membantu terutama untuk proyek-proyek developer rumah-rumah primary," ucapnya.
Namun, kondisi ini belum tentu sama pada tahun depan, mengingat belum ada rencana pemerintah akan memberikan insentif yang sama. Dia berharap, jika tidak bisa 100%, setidaknya 50% bisa diberikan oleh pemerintah agar perbedaan harganya tidak begitu mencolok. Apalagi tahun depan, pemerintah akan menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari yang semula 11% menjadi 12%. Kenaikan PPN ini dapat berpengaruh pada pertumbuhan sektor properti Tanah Air.
"Harusnya jangan diberlakukan lagi yang 100%, tetap 50%. Subsidi yang 100% itu nanti diberikan di 50% lagi di tahun depan jadi kenaikannya nggak begitu berasa. Diturunkan jadi 12% dibayar separuhnya jadi 6%," ujarnya.
Ketua Bidang Hubungan Pemerintah Samto Pramono menambahkan salah satu cara pengembang agar propertinya tetap dilirik pasar adalah dengan memberikan harga yang bisa dijangkau tetapi dengan ukuran rumah yang lebih kecil. Saat ini masyarakat juga masih banyak mengincar rumah dengan status Sertifikat Hak Milik (SHM).
Maka dari itu, rumah tapak masih banyak dicari. Sementara peminat apartemen terbilang stagnan karena pembelinya tidak mendapatkan SHM, melainkan sertifikat hak milik satuan rumah susun (SHM Sarusun).
"Makanya sekarang developer besar banyak banget rumah yang luas tanah yang 40, 50, 60 meter persegi. Ada SHM-nya karena ada tanahnya," bebernya.
Keputusan pemerintah untuk menambah insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) diharapkan dapat menjadi daya ungkit untuk perbaikan ... [333] url asal
Jakarta (ANTARA) - Keputusan pemerintah untuk menambah insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) diharapkan dapat menjadi daya ungkit untuk perbaikan performa properti, khususnya segmen kondominium.
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat, dalam jumpa pers Jakarta Property Highlight H1 2024 di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa performa sektor kondominium di Jakarta mengalami pergerakan yang lambat dalam beberapa tahun ini.
Ia mendapati rata-rata tingkat penjualan kondominium pada semester I-2024 berkisar 96 persen, meningkat hanya 0,6 persen dibanding semester lalu.
“Saat ini kami melihat dari sekitar 23 ribu unit kondominium yang siap huni, hanya 13 persen dari stok tersebut yang memberlakukan PPN DTP, umumnya pada kelas menengah dan tersebar di area non CBD Jakarta,” ujarnya.
Ia menyebut beberapa proyek kondominium yang memberlakukan PPN DTP dalam penjualannya menyatakan peningkatan penjualan 3-4 persen dari semester sebelumnya. Meski tidak terlalu signifikan, tetapi menurutnya cukup memberikan harapan pada pergerakan transaksi kondominium pada awal tahun 2024.
"PPN DTP memang tidak dipungkiri membantu memberikan magnitude terhadap penjualan kondominium baru. Sejak diberlakukan pada 2021 sampai tahun ini, insentif ini memberikan cukup stimulus terhadap penjualan hunian, terutama rumah tapak dan tidak terkecuali di sektor kondominium," ucap Syarifah.
Kebijakan insentif PPN DTP adalah sebuah program insentif fiskal yang dikeluarkan oleh pemerintah pada 2021 untuk merangsang sektor properti. Dalam program ini, pemerintah menanggung sebagian atau bahkan seluruh pajak pertambahan nilai (PPN) yang seharusnya dibayarkan oleh pembeli properti.
Insentif tersebut diberikan atas dasar pengenaan pajak (DPP) maksimal Rp2 miliar yang merupakan bagian dari harga jual paling banyak Rp5 miliar.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (27/8) menyatakan bahwa pemerintah sepakat untuk menambah insentif PPN DTP properti dari yang sebelumnya 50 persen untuk semester II 2024, menjadi 100 persen sampai Desember 2024.
Ia mengatakan kebijakan tersebut bertujuan untuk memperkuat kelas menengah sebagai motor penggerak perekonomian.
Menurut data dari Kementerian Keuangan, di sepanjang tahun 2024, terdapat sekitar 22.000 unit hunian terserap dengan menggunakan insentif PPN DTP.
Banyaknya permintaan rumah seken, tentu harganya juga akan ikut meningkat. Hal tersebut sedang terjadi di Surakarta atau Solo, Jawa Tengah. [1,052] url asal
Membeli rumah seken atau rumah bekas memang bisa menjadi sebuah pilihan untuk memiliki hunian. Beli rumah seken bisa juga lebih hemat dibandingkan beli baru, maka dari itu hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan masyarakat saat ingin membeli hunian.
Namun, jika terdapat banyak permintaan rumah seken, tentu harganya juga akan ikut meningkat. Hal tersebut sedang terjadi di Surakarta atau Solo, Jawa Tengah.
Dalam laporan Rumah123 Flash Report edisi Agustus 2024, 11 dari 13 kota dalam Indeks Harga Rumah Seken mengalami kenaikan harga bulanan rumah seken. Solo menjadi wilayah dengan kenaikan harga bulanan rumah seken tertinggi di Indonesia, yaitu 6,3%. Sementara itu, secara tahunan kenaikan harga rumah seken dipegang oleh Denpasar yaitu 19,8%.
"Sejak bulan Agustus 2023 lalu, kami melihat Surakarta atau Solo mencatatkan pertumbuhan harga tahunan yang cukup konsisten hampir di setiap bulannya. Pertumbuhan tahunan tertinggi terjadi pada bulan November 2023 lalu, yakni sebesar 8,3% year-on-year (yoy). Harga rumah di Solo meski mengalami fluktuasi setiap bulannya, secara umum menunjukkan tren yang meningkat sejak awal tahun 2023 lalu," kata Head of Research Rumah123, Marisa Jaya dalam keterangannya, dikutip Senin (26/8/2024).
Dari sisi permintaan (enquiries), Solo sempat mengalami penurunan permintaan yang signifikan pada periode Februari-Maret 2023. Permintaan rumah yang dijual turun 37,9% di bulan Februari 2023 dan permintaan rumah yang disewa turun 38,4% pada Maret 2023.
Walau demikian, memasuki tahun 2024, permintaan rumah yang dijual naik 61% secara tahunan, dibandingkan Februari 2023, dan rumah yang disewa naik 36,5% dibandingkan Maret 2023. Jika disimpulkan, tren ini mengindikasikan permintaan rumah yang dijual dan disewa di Solo secara umum bergerak naik meski terbilang fluktuatif.
Sepanjang periode Januari-Juli 2024, area paling populer dalam permintaan rumah seken di Solo adalah Banjarsari (35,2%), Jebres (30,4%) dan Laweyan (22,3%). Sementara, Serengan dan Pasar Kliwon mencatatkan proporsi popularitas yang lebih kecil di 7,1% dan 4,9%.
Salah satunya dikarenakan Serengan dan Pasar Kliwon memiliki area yang lebih kecil dibandingkan kecamatan lainnya, sehingga mencatatkan permintaan yang lebih sedikit. Sementara wilayah lain, seperti Banjarsari dan Laweyan merupakan dua area yang terbilang strategis lantaran juga berlokasi paling dekat dari Bandar Udara Adi Soemarmo.
Harga Rumah Seken yang Banyak Diincar
Sepanjang periode Januari-Juli 2024, area paling populer dalam permintaan rumah seken di Solo adalah Banjarsari (35,2%), Jebres (30,4%) dan Laweyan (22,3%). Sementara, Serengan dan Pasar Kliwon mencatatkan proporsi popularitas yang lebih kecil di 7,1% dan 4,9%.
Rinciannya, permintaan rumah seken di Banjarsari didominasi oleh kelas menengah atas. Permintaan tertinggi tercatat pada rentang harga Rp 1-3 miliar (40,7%), diikuti rentang harga Rp 400 juta-Rp 1 miliar (30,8%). Sementara properti dengan harga di atas Rp 3 miliar juga mencatatkan permintaan yang cukup tinggi, sebesar 19,4%.
Di Jebres, permintaan didominasi oleh kelas menengah dan menengah-atas dengan proporsi permintaan tertinggi terdapat pada harga Rp 400 juta-Rp 1 miliar (37,3%) diikuti oleh rentang harga di bawah Rp 400 juta (33,3%). Sementara segmen harga Rp 1-3 miliar mencatatkan permintaan sebesar 22,4%.
Laweyan dan Serengan menunjukkan karakteristik pasar yang mirip, didominasi oleh kelas menengah dan menengah-atas. Permintaan tertinggi berada pada rentang harga Rp 1-3 miliar, dengan proporsi sebesar 24,5% di Laweyan dan 27,4% di Serengan. Di segmen harga Rp 400 juta-Rp 1 miliar, permintaan tercatat sebesar 21,1% di Laweyan dan 20,2% di Serengan. Untuk properti dengan harga di atas Rp 5 miliar, permintaan di Laweyan cukup tinggi, mencapai 22,3%, sementara di Serengan sebesar 14,3%.
Di sisi lain, Pasar Kliwon mencatat permintaan dari kelas menengah dan menengah bawah, dengan proporsi permintaan tertinggi untuk properti di bawah Rp 400 juta sebesar 42,7%. Selanjutnya, permintaan rumah dengan harga Rp 1-3 miliar tercatat 29,9%, dan untuk harga Rp 400 juta-Rp 1 miliar sebesar 20,5%.
Generasi Muda-Dewasa Dominasi Pasar Properti
Dalam laporan yang sama, disebutkan bawa pencari properti di Solo didominasi oleh orang-orang yang berusia 25-34 tahun (31,6%), disusul oleh kelompok umur 45-54 tahun (23,6%), 18-24 tahun (18,1%), 35-44 tahun (17,9%), 55-64 tahun (8,7%), dan di atas 65 tahun (0,3%).
Sementara dari sisi asal domisili, mayoritas pencari properti berasal dari Solo sendiri, sebesar 24,3%, diikuti individu asal Jakarta (19,1%), Semarang (17,1%), dan Surabaya (4,3%). Permintaan dari Jakarta serta kota-kota besar lainnya, seperti Semarang dan Surabaya, menunjukkan persentase yang cukup signifikan sepanjang Januari hingga Juli 2024.
Ke depan, properti di Solo akan semakin banyak diincar karena wilayah tersebut akan semakin mudah diakses. Adanya jaringan tol Yogyakarta-Surakarta, yang menghubungkan kawasan Surakarta Raya dengan Yogyakarta serta akses ke Bandara Internasional Yogyakarta juga menjadi semakin mudah.
Dengan adanya tol yang menghubungkan Solo dan Yogyakarta, sektor pariwisata di kawasan Jawa Tengah dan sekitarnya semakin terintegrasi, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada sektor properti, terutama dalam hal penyediaan akomodasi di Solo dan sekitarnya.