
Jakarta: Istilah
vibecession yang dicetuskan oleh Kyla Scanlon menggambarkan situasi meski
ekonomi Amerika Serikat (AS) mungkin stabil, persepsi negatif masyarakat, terutama Gen Z, tetap kuat.
Gen Z, yang tumbuh dengan adanya teknologi dan menghadapi ketidakpastian ekonomi seperti inflasi serta ketimpangan pendapatan, cenderung pesimis, terutama terkait pasar perumahan dan pinjaman mahasiswa.
Melansir laman
Yahoo Finance, ada penjelasan lanjutan tentang
vibecession dikalangan Gen Z.
Apa itu vibecession?
Vibecession, gabungan dari kata "
vibe" dan "
recession," mencerminkan pandangan Gen Z terhadap keuangan mereka di tengah yang sedang tidak stabil seperti ekonomi Amerika.
Berikut adalah beberapa poin penting yang bisa dipahami: • Ini tidak hanya soal indikator ekonomi tradisional seperti pasar saham, inflasi, atau angka pengangguran, melainkan tentang bagaimana kondisi ekonomi dirasakan oleh masyarakat.
• Pergeseran generasi ini menunjukkan kesejahteraan emosional dan mental kini menjadi inti dalam pengambilan keputusan keuangan. Bagi Gen Z, pandangannya tentang uang lebih dipengaruhi oleh perasaan negatif terhadap kondisi ekonomi dan lingkungan, daripada laporan atau prediksi ekonomi.
Scanlon telah menulis dalam berita atau jurnalnya, bahwa jika seseorang memiliki pengalaman, seperti hidup melalui resesi 2008, serta bukti nyata seperti harga rumah yang melonjak, hal ini bisa mempengaruhi harapan mereka.
Pandangan ini, pada gilirannya, mempengaruhi cara mereka menafsirkan masa depan sebagai sesuatu yang akan terus memburuk, dan akhirnya menciptakan narasi yang dapat membentuk realitas.
Memahami fenomena
vibecession di kalangan Gen Z dapat membantu melihat bagaimana generasi ini merespons ketidakpastian zaman. Dalam menghadapi tantangan ekonomi dan sosial, mereka menciptakan narasi baru melalui ekspresi budaya dan media sosial.
Untuk memahami perspektif ini bisa memberikan sebuah wawasan lebih dalam tentang generasi yang membentuk masa depan. (
Muhammad Rizky H).
dan followChannel WhatsApp Medcom.id(ANN)