#30 tag 24jam
Takut kepada Allah Meskipun Dijamin Surga
Abu Bakar adalah ahli surga. [441] url asal
#surga #abu-bakar #abu-bakar-ash-shiddiq #islam #infak
(Republika - Khazanah) 01/08/24 23:09
v/12963188/
REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH -- Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq Radhiyallahu Anhu adalah orang yang paling utama di antara seluruh manusia di dunia ini selain para nabi. Abu Bakar dipastikan termasuk ahli surga.
Baginda Rasulullah SAW memberi kabar gembira bahwa Abu Bakar adalah ahli surga. Bahkan, dikatakan akan menjadi pimpinan kaum tua yang akan masuk surga. Semua pintu surga akan memanggil namanya dan menyampaikan kabar gembira kepadanya.
Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda, "Orang yang paling dahulu masuk surga di kalangan umatku adalah Abu Bakar."
Meskipun demikian, Abu Bakar juga berkata, "Alangkah bahagianya, jika aku menjadi sebatang pohon yang akhirnya ditebang." Abu Bakar juga berkata, "Alangkah bahagianya, jika aku menjadi rumput yang dimakan hewan."
Kadangkala Abu Bakar juga berkata, "Alangkah bahagianya, jika aku menjadi sehelai bulu di badan seorang mukmin."
Suatu ketika, Abu Bakar pernah berada di dalam sebuah kebun dan melihat seekor burung yang sedang berkicau. Sambil menarik napas berat, Abu Bakar berkata, "Wahai burung, alangkah beruntungnya hidupmu. Kamu makan, minum, dan beterbangan di antara pepohonan, tetapi di akhirat tidak ada hisab bagimu. Alangkah bahagianya, jika Abu Bakar menjadi sepertimu" (dari kitab Tharikhul Khulafa).
Sayyidina Rabi'ah Aslami Radhiyallahu anhu bercerita, "Suatu ketika pernah terjadi kesalahpahaman antara aku dan Abu Bakar. Dia berbicara kasar kepadaku sehingga aku tersinggung. Ketika dia menyadari kesalahannya, dia berkata kepadaku, 'Ucapkanlah kata-kata kasar kepadaku sebagai balasan'. Namun, aku menolaknya."
Abu Bakar berkata lagi, "Kamu harus mengucapkannya. Jika tidak, akan aku adukan kepada Rasulullah SAW."
Sementara, Rabi'ah Aslami tetap tidak menjawab apa pun. Lalu, Abu Bakar bangun dan pergi meninggalkanku. Ketika itu, beberapa orang dari kabilahku (Banu Aslam) yang menyaksikan kejadian tersebut berkata, "Orang ini aneh sekali. la sendiri yang bersalah dan ia sendiri yang mengadukannya kepada baginda Rasulullah SAW."
Rabi'ah Aslami berkata, "Tahukah kamu siapa dia? Dialah Abu Bakar. Jika ia marah kepadaku, tentu baginda Rasulullah SAW kekasih Allah SWT akan marah kepadaku, dan jika beliau marah, Allah SWT pun akan marah. Jika demikian, maka Rabi'ah dipastiakan binasa."
Kemudian aku pergi menemui Nabi Muhammad SAW dan menceritakan kejadian tersebut. Rasulullah SAW bersabda, "Sikapmu benar, memang sebaiknya kamu tidak membalasnya, tetapi katakanlah, 'Semoga Allah SWT memaafkan kamu, wahai Abu Bakar'."
Kitab Kisah-Kisah Sahabat yang ditulis Syaikhul Hadits Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi diterbitkan Pustaka Ramadhan, menjelaskan, inilah contoh perasaan takut kepada Allah SWT. Hanya karena sepotong kalimat yang sepele, Abu Bakar demikian takut balasannya (di akhirat).
Abu Bakar sangat cemas dan khawatir, sehingga ia sendiri yang minta dibalas, bahkan mengadukannya kepada Nabi Muhammad SAW agar Rabi'ah membalasnya.
Pada hari ini, kita mudah untuk saling mencaci tanpa rasa khawatir sedikit pun akan balasan perbuatan kita kelak di akhirat atau hari hisab.
Abu Bakar Ash Shiddiq Pernah Jual Pakaiannya di Pasar
Abu Bakar Ash Shiddiq merupakan pemimpin umat pasca Rasulullah SAW wafat. [439] url asal
#abu-bakar #abu-bakar-ash-shiddiq #islam #haji #makkah
(Republika - Khazanah) 26/07/24 21:22
v/12219740/
REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH -- Sahabat Nabi, Abu Bakar RA telah diangkat menjadi pemimpin kaum Muslimin sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar menggenggam seluruh kekuasaan yang dimiliki kaum Muslimin. Abu Bakar memegang komando tertinggi dalam militer kaum Muslimin. Abu Bakar menguasai seluruh aspek politik, ekonomi, sosial kaum Muslimin.
Betapa besar kedudukan khalifah pertama itu. Sebelum menjadi khalifah, Abu Bakar juga salah satu sahabat yang kaya raya. Ia pedagang sukses. Makmur. Tapi lihatlah perilakunya yang satu ini.
Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menggambarkan, suatu hari kala menjadi khalifah mengumpulkan pakaian-pakaian yang ia punyai. Kemudian, ia berjalan ke pasar dan memanggil-manggil orang-orang. "Siapakah yang mau membeli pakaian ini?" serunya.
Kaum Muslimin yang melihat khalifah mereka tengah berdagang di pasar merasa tidak enak hati. Mereka lalu menegur sang khalifah, "Bagaimanakah engkau berbuat demikian? Padahal, engkau telah diangkat menjadi pemimpin umat sepeninggal Nabi?"
Abu Bakar lantas menjawab, "Janganlah engkau melalaikan aku dari memikirkan keluargaku. Karena apabila aku menyia-nyiakan mereka, niscaya aku akan lebih menyia-nyiakan orang selain mereka."
Inilah pemahaman yang agung dari Abu Bakar. Ia memiliki dua kewajiban sekaligus. Kepala keluarga dan kepala pemerintahan. Ia tengah mengamalkan peran keduanya secara seiring sejalan. Tidak tumpang tindah. Tidak abuse of power. Tidak aji mumpung. Tidak.
Abu Bakar sadar, kapan ia dituntut menjadi kepala keluarga. Dia pun berkewajiban mencari nafkah. Ia tidak menggunakan fasilitas kekuasaannya untuk keluarganya. Begitu juga, keluarganya tidak sama sekali menggunakan fasilitas negara untuk urusan pribadi.
Abu Bakar juga sadar, kapan ia harus memerankan sebagai pemimpin kaum Muslimin. Bahwa ada waktu-waktu yang tersita untuk memikirkan umat. Bahwa ada harta yang akan tergadai untuk kepentingan umat. Bahwa ada peluh yang akan tercurah untuk memikirkan umat. Abu Bakar bekerja. Sesuai dengan perannya. Ia tetap bekerja sebagai seorang suami dan ayah. Ia tetap bekerja sebagai pemimpin umat Islam seluruh dunia. Ia tengah menyelesaikan amanah sesuai dengan porsinya.
Kita sebagai manusia memang memiliki pelbagai peran. Harus dijalani berbarengan dalam satu kesempatan hidup. Adil adalah kunci untuk mengatur semuanya dalam harmoni. Adil, menurut Syekh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin, adalah mendudukkan setiap pemilik kedudukan pada tempat yang semestinya.
Menjadi adil memang tidak mudah. Tetapi itu bukan pilihan melainkan keharusan. Ada banyak godaan untuk mencampuradukkan peran demi sebuah kemudahan.
Mudah mendapatkan harta, mudah mendapatkan akses, mudah mendapatkan keistimewaan. Jika lantas demi semua itu kita menggadaikan semua hak yang seharusnya ditunaikan, kita akan berpindah dari kuadran kebaikan bernama adil menjadi kuadran keburukan bernama zalim. Adil wajib hukumnya ditegakkan kepada siapa saja.
Baik kepada orang yang kita senangi, lebih-lebih kepada orang yang kita benci. Tidak sepaham dengan seseorang mungkin sulit kita hindarkan. Tetapi, tidak berbuat adil kepada orang yang tidak sepemikiran tentu tidak dibenarkan.
Benci, Marah, Menuntut, atau Memaafkan!
Memaafkan adalah perbuatan yang mampu membeli istana di akhirat. [947] url asal
#memaafkan #membenci #fitnah #abu-bakar #rasulullah
(Republika - News) 21/07/24 10:31
v/11528175/
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof Abdurachman Latief
Sepasang keluarga muda yang bersaudara. Kakaknya lebih berada dari adiknya. Keadaan ekonomi keluarga sang adik terlihat pantas dibantu agar lebih mudah maju.
Paham akan kesulitan keluarga adik istrinya, ia mencoba mengulurkan tangan. Beberapa dana dikucurkan untuk menunjang usaha toko kecil-kecilan. Ada beberapa jenis barang dagangan. Namun ia meminta supaya menghindar dari menjual barang yang diyakini banyak orang bisa mengganggu kesehatan.
Lalu mulailah adiknya itu belanja rak, etalase dll. Ketika sudah siap toko segera dibuka. Pembeli mulai banyak yang datang. Lama-lama toko bertambah maju. Mungkin atas permintaan para pembeli, permintaan tetangga atau keinginan pribadi, toko mulai menjual barang yang sebaiknya dihindarkan.
Sampai suatu ketika sang kakak berkunjung dan melihat barang yang diyakini mengganggu kesehatan ada di toko itu, dia diam. Walau dalam hati merasa ditelikung. “Sudahlah, mungkin banyak permintaan”, begitu gumamnya dalam hati.
Satu, dua tahun berselang. Tiba masanya si kakak minta tolong untuk melakukan pengawasan pembangunan rumah. ATM si kakak diserahkan. Berisi sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Membeli barang, juga membayar tukang. Persediaan dana di ATM melebihi kebutuhan untuk pembiayaan setidaknya dalam satu pekan.
Sesampainya pada tenggat masa rumah yang dipercayakan hampir selesai. Ternyata pemasangan pipa ledeng macet. Demikian juga instalasi listrik. Tagihan batu bata dan pasir belum dibayar.
“Lho dana di ATM dibuat untuk membayar apa? Uangnya habis sedang beberapa kewajiban masih terhutang? Padahal jumlah uang yang disiapkan melebihi kadar kebutuhan?” gumam si kakak sedikit ragu.
Si kakak mendatangi rumah pemborong pipa ledeng dan instalsi listrik. Ternyata, mereka mengku bahwa telah sekian waktu belum dibayar. Padahal mestinya dibayar setiap pekan. Anehnya, bukti lunas pembayaran sudah ada. Demikian juga pasir dan batu bata. Nota lunasnya ada, tapi CV pengirim pasir dan batu bata belum menerima pembayaran.
Si kakak menyampaikan teguran. Apa yang terjadi? Si adik melaporkan keadaan itu kepada keluarga besar yang berkebalikan dari kenyataan.
Dia sudah bekerja tapi tidak pernah dibayar. Uang di ATM digunakan untuk membayar dirinya. Padahal uang untuk membayar dirinya tinggal mengambil dari ATM, setiap pekan.
Akibatnya, seluruh keluarga menjadikan si kakak sebagai pesakitan. Mereka menuduhnya tidak profesional. Sungguh mengenaskan.
Modal untuk toko belum dikembalikan. Barang dagangan yang diyakini mengganggu kesehatan terus dijual. Uang di ATM dihabiskan. Para tukang dan supplier bangunan belum dibayar. Disalahkan keluarga besar karena tidak berperasaan. Mempekerjakan adik tampa bayaran.
Jika sidang pembaca menghadapi situasi demikian, apa yang sebaiknya dilakukan?
Benci, marah, menuntut, menjabarkan keadaan kepada keluarga? Semua bisa menjadi respons pilihan. Namun, diam dan memaafkan. Itulah pilihan demi menentramkan keadaan.
Walau hati dan pikiran seringkali bertabrakan. Tidur kadang berulang-ulang terbangun. Karena rasa kesal yang sulit disingkirkan. Yang salah malah dibela, yang benar malah merugi. Yang benar harus berjuang melawan perasaan geram.
Di saat hati gelisah tak karuan. Si kakak teringat kisah tauladan Nabi Muhammad SAW.
Pernah Rasulullah tertimpa musibah. Sayyidatina Aisyah ra. (putri Abu Bakar ra., istri Rasulullah) kalungnya hilang. Terjatuh pada saat perjalanan pulang ke Madinah. Lalu beliau dibantu pulang oleh seseorang yang kemudian dijadikan bahan fitnahan. Rasulullah pun sampai mengalami situasi yang di luar kebiasaan.
Timbul suara hiruk pikuk di luar. Pasti setan menabuh genderang informasi yang tidak menyenangkan. Fitnah bertebaran seperti hewan liar lari dari kurungan.
Yang menarik fitnah tersebut disulut orang yang disantuni Abu Bakar....
Yang menarik bahwa orang yang turut menyulut timbulnya fitnah adalah keluarga di bawah santunan Abu Bakar. Mereka rutin disantuni Abu Bakar dalam hal ekonomi dan seluruh kebutuhannya. Maklum Abu Bakar adalah saudagar kaya raya.
Abu Bakar tahu bahwa yang membantu meluasnya fitnah adalah keluarga yang beliau santuni. Walau Abu Bakar adalah sahabat nabi yang super sabar. Dia sampai merasa kesal. Sampai-sampai ia berniat menghentikan santunan.
Sebenarnya hal ini wajar. Apalagi bagi orang yang hidup di zaman sekarang. Bagaimana tidak wajar, sudah rutin disantuni, tidak berterimakasih malah menjadi bagian pemicu fitnah. Membuat kesal seluruh anggota keluarga. Menimbulkan malu tak tergambarkan. Padahal kasusnya hasil olah pikiran orang belum beriman.
Namun, apakah Gusti Allah mengijinkan apa yang akan diperbuat Abu Bakar terhadap orang itu. Menghentikan santunan? Informasi yang disampaikan melalui Rasulullah tidak boleh. AnjuranNya, teruskan memberikan santunan. Berarti Abu Bakar sebaiknya memaafkan! Itulah tantangan bagi orang yang bersedia menerima untung besar.
Rasulullah bersabda, "Aku diberitahu bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala mereka di hadapan Allah. Salah satunya mengadu kepada Allah sambil berkata, ‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku’.
Allah SWT. berfirman: "Bagaimana mungkin saudaramu ini bisa melakukan itu, karena tidak ada kebaikan di dalam dirinya?".
Orang itu berkata, "Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya."
Allah berfirman kepada orang yang mengadu tadi: "Angkat kepalamu..!".
Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata: "Ya Rabb, aku melihat di depanku ada istana-istana sangat megah yang terbuat dari emas, dan di dalamnya terdapat singgasana yang terbuat dari emas dan perak bertatahkan berlian, intan dan permata. Istana-istana itu untuk Nabi yang mana, ya Rabb? Untuk orang jujur yang mana, ya Rabb? Untuk syuhada yang mana, ya Rabb?
Allah berfirman: "Istana-istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya."
Orang itu berkata, "Siapakah yang bakal mampu membayar harganya, ya Rabb?"
Allah berfirman: "Engkau juga mampu membayar harganya. Orang itu terheran-heran, sambil berkata, "Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb?".
Allah berfirman, "Caranya, engkau maafkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku."
Orang itu berkata, "Ya Rabb, kini aku memaafkannya." Allah berfirman, "Kalau begitu, pegang tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu."
Memaafkan adalah perbuatan yang mampu membeli istana di akhirat. Keadaan pada pada saat uang dan kekayaan tujuh lipat bumi pun tidak berlaku.
Nah, kalau di akhirat saja memaafkan kedzaliman bisa membeli istana terbuat dari perak, emas, bertahtakan berlian. Apalagi di dunia?
Hayo kita pilih memaafkan, setuju kan?
Peran Aisyah Mendidik Umat Islam
Lebih dari 2.200 hadis Nabi Muhammad SAW diriwayatkan melalui Aisyah. [345] url asal
#aisyah-binti-abu-bakar #ummul-mukminin #peran-muslimah #istri-nabi #sejarah-islam
(Republika - Khazanah) 18/07/24 09:27
v/11164920/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejarah Islam mencatat, ada banyak sekali perempuan yang menjadi penerang jalan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, misalnya, istri-istri beliau merupakan madrasah ilmu yang luar biasa. Para ummahatulmu`minin berperan amat besar dalam transmisi keilmuan, utamanya ilmu hadis dan fikih.
Di antara mereka adalah ‘Aisyah binti Abu Bakar RA. Setelah Rasulullah SAW wafat, salah satu ummul mu`minin itu dikenal sebagai seorang alim dan guru besar terkemuka.
Peranan ‘Aisyah dalam sejarah transmisi keilmuan Islam sangat signifikan. Itu tampak dari perkataan Imam al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, “Seperempat hukum-hukum syariat Islam diriwayatkan dari Aisyah RA.”
Sementara, menurut Imam adz-Dzahabi, ada lebih dari 100 orang meriwayatkan hadis dari ‘Aisyah. Total hadis yang diriwayatkan ‘Aisyah ialah 2.210 hadis.
Alhasil, peranan ‘Aisyah bagaikan suatu “madrasah besar”, khususnya sepanjang dekade-dekade awal pascawafatnya Nabi SAW. Beragam ulama mengakui ihwal tersebut.
Dalam kitab At-Thabaqat al-Kubra karya Ibnu Saad, Masruq ibn al-Ajda' memberikan kesaksian, “Aku melihat para ulama senior dari kalangan sahabat Nabi SAW bertanya ihwal hukum faraidh kepada ‘Aisyah.”
Kehebatan istri Rasulullah SAW itu bahkan disandingkan dengan empat sahabat utama. Al-Ahnaf bin Qais, seperti dikutip dalam Tarikh Dimasyq karya Ibnu Asakir, berkata, “Saya pernah mendengar orasi Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta banyak tokoh lain. Akan tetapi, tak ada kalimat yang lebih kaya dan lebih baik melebihi ungkapan-ungkapan dari ‘Aisyah.”
Imam az-Zuhri dalam Siyar A'lam an-Nubala' menyatakan, “Seandainya dikumpulkan ilmu dari seluruh perempuan Muslim, lalu itu dibandingkan dengan ilmu ‘Aisyah. Maka, ilmu ‘Aisyah akan tetap lebih utama.”
Kepandaian ‘Aisyah tidak hanya dalam bidang hadis, melainkan juga fikih, ilmu pengobatan, dan sastra. Ia tak sekadar mengajarkan sunah Rasulullah SAW, tetapi juga mengoreksi beberapa pernyataan para sahabat.
Sebab, ada keterangan dari mereka yang kurang sesuai dengan sabda atau tindakan Nabi SAW. Misalnya, kritik ‘Aisyah terhadap Abu Hurairah tentang apakah shalat seseorang batal bila ada orang melintas di depannya.
Beberapa fatwa sahabat Nabi SAW diluruskan ‘Aisyah. Disusun Imam az-Zarkasyi dalam kitab Al-Ijabah li Iradi ma Istadrakathu ‘Aisyah 'an as-Shahabah.
Membayangkan Bagaimana Teman Dekat Rasulullah SAW Sejak Kecil Itu Masuk Islam Pertama | Republika Online
Abu Bakar adalah sahabat dekat Rasulullah SAW yang masuk Islam [873] url asal
#abu-bakar #abu-bakar-masuk-islam #kisah-abu-bakar #sejarah-abu-bakar #kedudukan-abu-bakar #keistimewaan-abu-bakar #rasulullah #muhammad
(Republika - Khazanah) 08/07/24 18:06
v/10097647/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Abu Bakar adalah sahabat sekaligus mertua Rasulullah SAW. Tidak hanya dikenal dekat, Abu Bakar adalah orang yang pertama kali membenarkan dakwah Rasulullah SAW.
Dikutip dari About Islam, Aisha Steacy dalam artikel This is How the Prophet’s Best Friend Converted to Islam, menjelaskan menurut sumber-sumber yang dapat dipercaya, ketika Abu Bakar kembali dari apa yang sekarang kita sebut sebagai perjalanan bisnis, dia ditarik ke samping oleh beberapa orang dalam lingkaran teman-temannya yang berbisik, mungkin karena cemas, bahwa Muhammad telah menyatakan dirinya sebagai utusan Allah SWT.
Dengan bijaksana, dan kebijaksanaan adalah sifat yang telah kita kaitkan dengan Abu Bakar, ia menahan diri untuk tidak bergosip dan langsung menuju ke teman dekatnya untuk memverifikasi apa yang telah ia dengar.
Sekarang setelah Anda memiliki gambaran tersebut dalam pikiran Anda, coba bayangkan bagaimana Anda akan bertindak dalam situasi yang sama, dapatkah Anda merasakan gelombang kejut yang pasti melanda Abu Bakar? Apa sebenarnya yang kita ketahui tentang peristiwa penting ini?
Abu Bakar mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu orang pertama yang memeluk Islam.Bisa dikatakan, dia ada di sana saat kelahiran Islam.
Teman Dekat
Dia dan Nabi Muhammad SAW adalah kerabat jauh; keduanya berasal dari suku yang sama, suku Quraisy. Dipercaya oleh beberapa ahli bahwa mereka berdua melakukan perjalanan dengan kafilah yang sama ke Suriah ketika Nabi Muhammad berusia 12 tahun dan Abu Bakar sekitar 2 tahun lebih muda.
Mereka adalah teman masa kecil yang tumbuh menjadi pedagang dan pebisnis yang handal dan jujur.
Ketika Nabi Muhammad SAW SAW menikahi istri pertamanya, Khadijah, mereka tinggal bersebelahan dan menjadi teman dekat. Mereka juga mengakui satu sama lain sebagai saudara seperjuangan; tidak ada seorang pun dari mereka yang pernah bersujud kepa=
Dengan mengetahui apa yang kita ketahui tentang karakter kedua orang tersebut, mudah untuk membayangkan bahwa alih-alih membuang-buang waktu untuk bergosip tentang sahabatnya, Abu Bakar langsung menemui Muhammad SAW untuk mendengar apa yang harus dikatakannya tentang peristiwa penting yang terjadi saat dia tidak ada.
Mungkin orang-orang yang mengelilingi Abu Bakar pada saat kepulangannya, mereka berperilaku sedikit mirip dengan orang-orang di abad ke-21, saling melempar pandang satu sama lain atau mencibir di balik tangan mereka.
Sulit bagi kita untuk mengetahui apa yang harus kita katakan ketika orang-orang mulai menggosipkan teman-teman Anda. Apakah Anda akan menjauh, ikut-ikutan, atau membela teman Anda. Rupanya tidak sulit bagi Abu Bakar, ia tidak melakukan satu pun dari hal-hal tersebut. Dia kemudian langsung menemui temannya untuk mencari tahu kebenaran dari masalah tersebut.
Ketika dia tiba di rumah Muhammad SAW, dia mendengar semua rincian tentang pengalaman di gua dengan malaikat Jibril. Dia tidak langsung mencoba mencari penjelasan yang lebih rasional atas pengalaman temannya, melainkan dia hanya merasakan kegembiraan untuk sahabatnya.
Dikatakan bahwa dia mengulurkan tangannya dan meminta Muhammad SAW untuk mengajaknya masuk ke dalam agamamu dengan menyatakan bahwa dia benar-benar seorang nabi Allah SWT.
Ketika Abu Bakar mendengar kata-kata tidak ada yang layak disembah selain Allah dan bahwa dia (Muhammad) adalah utusan Allah,d ia menerima Islam tanpa ragu-ragu.
Bertahun-tahun kemudian, Nabi Muhammad akan berkata bahwa ketika ia mengajak orang untuk masuk Islam, semua orang memikirkannya, setidaknya untuk beberapa saat, tetapi tidak demikian halnya dengan Abu Bakar, dia menerimanya tanpa ragu-ragu. Dan ini menurut standar siapa pun adalah hal yang besar.
Menyebarkan Islam
Abu Bakar mengakui kebenaran dan menerimanya dengan tenang dan tanpa keributan. Pertobatannya membawa banyak orang masuk Islam karena ia tidak merahasiakan penerimaannya terhadap pesan temannya.
Abu Bakar merasa...
Abu Bakar merasa bangga dan terhormat karena telah dipilih, dia juga bangga dan sangat gembira karena temannya telah dimuliakan oleh Allah SW. Saat ini banyak orang yang tidak menyadari betapa menakjubkannya dipilih oleh Allah. Ya, dipilih!
Hanya Allah SWT sendiri yang menuntun seseorang kepada Islam. Terkadang Allah SWT dengan lembut mendorong kita ke arah yang benar untuk waktu yang sangat lama dan bagi orang lain hal itu terjadi sekaligus. Kadang-kadang itu hanya sebuah kata, atau suara, atau kalimat tertulis yang dikirim oleh Allah untuk satu orang yang istimewa dan terpilih.
Kelahiran Islam berarti berkumpulnya banyak orang yang berbeda. Pada tahap ini tidak ada anak yang lahir dalam Islam, semua orang adalah mualaf. Semua orang mengalami kegembiraan yang sama seperti yang kita rasakan saat ini ketika menerima Islam.
Dikatakan bahwa pada saat itu hanya ada kurang dari 50 orang Muslim. Saat itu memang sebuah negara yang masih muda dan belum siap untuk melebarkan sayapnya, namun Abu Bakar memiliki ide lain. Dia ingin meneriakkannya dari atap-atap rumah.
Cobalah untuk masuk kembali ke dalam imajinasi Anda dan rasakan apa yang Abu Bakar rasakan. Kita yang telah memilih Islam pasti pernah mengalami perasaan ingin menghentikan orang-orang dan berkata, "Hei, saya tahu hal yang luar biasa ini dan saya ingin menceritakannya kepada Anda semua".
Abu Bakar ingin memberitahu semua orang tentang Islam, namun Nabi Muhammad SAW menganggap jumlah Muslim terlalu sedikit untuk mengambil risiko.
Namun Abu Bakar tetap bersikeras dan ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mempublikasikan pesannya, mereka pergi ke Ka'bah, rumah Allah SWT, bersama-sama.
Di sana Abu Bakar memproklamirkan dengan suara lantang bahwa tidak ada yang layak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Itu adalah semacam pengumuman kelahiran, Abu Bakar berkata, inilah Islam, jadi bergabunglah dengan kami dalam perayaan ini.