#30 tag 24jam
Dialog Rasulullah dan Addas
Addas dan Rasulullah bertemu di Taif. [561] url asal
#masjid-addas #addas #taif #rasulullah #nabi-muhammad
(Republika - Khazanah) 26/07/24 21:15
v/12219741/
REPUBLIKA.CO.ID, JEDDAH -- Di tahun ke-10 kenabian, bulan Syawal, Rasulullah ﷺ didampingi oleh Zaid bin Haritsah berangkat menuju Taif. Setiap kali beliau melewati suatu perkampungan, beliau sampaikan dakwah Islam kepada mereka. Namun tidak ada satu pun yang menerimanya.
Seperti dikutip dari Sejarah Hidup dan Perjuangan Rasulullah ﷺ disarikan dari kitab Ar-rahiqul Makhtum, Setibanya di Thaif, Rasulullah ﷺ menemui tokoh-tokoh Tha'if untuk menyampaikan dakwah Islam kepada mereka, namun mereka menolaknya mentah-mentah.
Rasulullah ﷺ menetap di Taif selama 10 hari, tetapi setiap kali dia mendatangi tokoh-tokoh di kota tersebut, mereka justru mengusirnya. Bahkan lebih dari itu, mereka memprovokasi masyarakat awam untuk menyerang Rasulullah ﷺ dan mencaci makinya, bahkan mereka mengejar-ngejar dan menimpuki Rasulullah ﷺ hingga kaki beliau berdarah-darah.
Sementara itu Zaid bin Haritsah berusaha melindunginya dengan dirinya sendiri, hingga dia sendiri terluka di kepalanya. Mereka baru berhenti mengejarnya setelah keduanya berlindung di kebun milik 'Utbah dan Syaibah anak Rabi'ah, sekitar 3 mil dari kota Thaif.
Rasulullah ﷺ mendekati pohon anggur dan duduk di bawah naungannya. Di sana beliau mengadukan segala kegundahan dan kesedihan yang dialaminya :
“Ya Allah, kepadamu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya siasatku dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai yang Paling Pengasih dari pemilik kasih. Engkau adalah Tuhan bagi orang-orang lemah, Engkaulah
Tuhan-ku, kepada siapa engkau akan serahkan aku?, kepada yang jauh nan bermuka masam?, atau kepada musuh yang akan menguasai urusanku?. Asal Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli (terhadap apa yang menimpaku), namun ampunanmu lebih luas (lebih kuharapkan) untukku, Aku berlindung dengan cahaya Wajah-Mu yang karenanya kegelapan menjadi terang benderang, dan urusan dunia dan aklurat menjadi baik, agar Engkau tidak menurunkan kemarahan-Mu kepadaku, atau murka kepadaku. Engkau-lah yang berhak menegurku hingga Engkau rela dan tidak ada daya dan kekuatan selain dengan-Mu"
Melihat keadaan Rasulullah ﷺ dan Zaid, timbul rasa kasihan pada diri kedua anak Rabi'ah. Lalu mereka panggil budaknya bernama Addas yang beragama Nashrani untuk memetikkan setangkai anggur dan memberikannya kepada Rasulullah ﷺ. Addas memetiknya lalu memberikan kepadanya. Rasulullah ﷺ menerimanya, lalu membaca Bismillah sebelum memakannya.
Mendengar bacaan basmalah, Adas berkomentar:
“Itu adalah ucapan yang bukan berasal dari penduduk negeri ini".
“Dari negeri mana kamu? dan apa agamamu?”, Tanya Rasulullah ﷺ kepada Addas.
“Saya dari negeri Ninu” Jawabnya.
“Itu adalah kampung seorang laki-laki yang shaleh, Yunus bin Matta”, kata Rasulullah ﷺ.
“Dari mana kamu tahu tentang Yunus bin Matta?” tanya Adas keheranan.
“Dia adalah saudaraku, Dia dahulu seorang Nabi dan akupun seorang Nabi” Jawab Rasulullah ﷺ.
Langsung saja Addas mencium kepala Rasulullah ﷺ, juga kedua tangannya dan kakinya.
Addas segera mendatangi kedua tuannya dengan tergopoh-gopoh. “Ada apa?”, tuannya keheranan.
“Ya tuanku, tidak ada di atas muka bumi ini orang yang lebih baik dari dia. Dia telah menyampaikan kepada saya perkara yang hanya diketahui oleh seorang nabi”, kata Adas.
“Celaka engkau Addas, jangan kau tinggalkan agamamu, agamamu lebih baik dari agama orang itu”, bentak tuannya.
Dengan kesedihan yang mendalam Rasulullah ﷺ kembali menuju Mekkah. Di tengah perjalanan, Allah Ta'ala mengutus malaikat Jibril bersama malaikat gunung yang siap menunggu perintah Rasulullah ﷺ untuk membalikkan kedua gunung di Mekkah agar ditimpakan kepada penduduk Mekkah.
Namun Rasulullah ﷺ hanya menjawab :
"Justru saya berharap, Allah mengeluarkan dari tulang rusuk mereka, keturunan yang menyembah Allah Azza wa Jalla semata dan tidak menyekutukan-Nya”
Akhirnya Rasulullah ﷺ kembali ke Mekkah dengan mendapatkan perlindungan dari al-Muth'im bin 'Adi.
Demikianlah ketabahan Rasulullah ﷺ dalam berdakwah. Perlakuan buruk dan kasar tidak menjadikannya dendam dan mengharapkan kehancuran bagi umatnya.
Kisah Addas, Budak Nasrani yang Mencium Kaki Rasulullah
Addas berikan buah kepada Nabi SAW yang sedang beristirahat usai diusir dari Thaif. [562] url asal
#addas #kisah-nabi-saw #kisah-rasulullah-saw #addas-masuk-islam #dakwah-rasulullah
(Republika - Khazanah) 24/07/24 18:41
v/11954553/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kisah ini terjadi pada masa ketika Nabi Muhammad SAW belum berhijrah. Kala itu, Rasulullah SAW menyebarkan risalah Islam kepada penduduk Makkah dan sekitar.
Salah satu daerah yang beliau hampiri adalah Thaif. Nabi SAW berdakwah di sana dengan penuh kesabaran dan santun.
Namun, penduduk lokal justru bersikap sangat kasar kepada beliau. Bahkan, Rasul SAW dilempari batu dan dicaci-maki. Sang Khatam al-anbiya pun pergi keluar dari Thaif dengan keadaan kaki dan tubuh penuh luka.
Pada saat itulah, datang malaikat penjaga gunung sekitar Thaif. Kepada Nabi SAW, makhluk itu berkata, "Wahai Muhammad! Angkatlah tanganmu ke langit, dan mintalah kepada Allah agar penduduk Thaif ditimpa azab. Demi Allah, aku ingin sekali melempar gunung ini kepada mereka karena tidak tega melihat engkau diperlakukan sedemikian buruk!"
Alih-alih begitu, Rasulullah SAW berdoa kepada Allah agar kiranya hidayah Illahi melunakkan hati mereka. "Walaupun mereka menolak ajaran Islam, aku berharap padakehendak Allah. Semoga kelak keturunan mereka akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya,” kata beliau kepada pendampingnya, Zaid. Kalimat ini tentunya juga didengar si malaikat penjaga gunung.
Nabi SAW dan Zaid merasa lelah sesudah berjalan menjauh dari perbatasan Thaif. Tampaklah oleh mereka sebuah lahan perkebunan di depan. Keduanya lalu mendekati kebun anggur itu, yang belakangan diketahui adalah milik Utbah dan Syaibah, yakni anak-anak Rabi'ah.
Utbah dan Syaibah melihat kedatangan Muhammad SAW dan Zaid. Timbul rasa iba mereka kepada tamu di kebunnya itu. Para putra Rabi'ah ini lantas mengirimkan budaknya yang bernama Abbas kepada Rasul SAW dan Zaid, yang sedang berteduh di bawah pohon.
"Bawalah sekantong anggur ini, dan berikan kepada mereka," kata Utbah kepada si budak.
Sesampainya di tempat Nabi SAW dan Zaid berteduh, Addas pun memberikan amanat tuannya itu. Setelah mengucapkan terima kasih, Rasulullah SAW bersiap memakan buah anggur itu. Terlebih dahulu, beliau mengucapkan “Bismillah.”
Terkejutlah Addas mendengar kata-kata itu. "Belum pernah ada penduduk sini yang mengucapkan kalimat demikian," gumam budak ini.
“Siapa namamu?” tanya Nabi SAW.
“Addas.”
“Di mana negeri asalmu?”
“Saya dari Niniveh,” jawab Addas.
“Kota nabi yang saleh, Yunus bin Matta,” ujar Rasul SAW.
Mendengar perkataan itu, jantung Addas seperti akan copot. Bagaimana mungkin tamu nan misterius ini mengetahui soal Nabi Yunus?
“Dia itu saudaraku. Dia adalah seorang nabi yang Allah utus untuk menyampaikan risalah kepada kaum di sana. Aku pun seorang nabi,” kata Rasulullah SAW.
Setelah itu, beliau menjelaskan tentang kisah Nabi Yunus secara lengkap. Addas mendengarnya dengan mata penuh haru.
Sesudah itu, budak tersebut seketika menundukkan badannya. Ia pun mencium tangan dan kedua kaki Rasul SAW.
Dari kejauhan, Utbah dan Syaibah menyaksikan perilaku budak mereka itu. Mereka lantas berteriak, memanggil Addas pulang.
“Mengapa kamu mencium kaki orang itu!?” tanya Utbah kepada Addas setengah membentak.
“Lelaki itu sungguh adalah manusia terbaik di muka bumi ini. Dia mengisahkan kepadaku tentang seorang nabi yang diutus kepada kaum kami. Dia menceritakan kisah yang hanya diketahui oleh seorang utusan Allah,” jawab Addas.
“Siapa yang kau maksud?”
“Yunus bin Matta,” kata dia.
“Lantas?”
“Lelaki itu juga mengatakan, dia pun adalah seorang nabi yang diutus oleh Allah,” jelas budak tersebut, berterus-terang.
“Bukankah kamu seorang Nasrani?” tanya Utbah lagi.
“Ya benar.”
“Tetaplah kamu dalam agamamu! Jangan mau tertipu perkataan lelaki tadi,” ketus Utbah.
Menyadari Addas tak kembali, Rasul SAW dan pendampingnya lalu melanjutkan perjalanan kembali.
Berbagai riwayat menyebut, Addas sesudah perjumpaannya dengan Nabi SAW itu langsung menyatakan diri berislam. Kelak, sebuah masjid didirikan di dekat Thaif dan mengadopsi namanya: Masjid Addas.