KOMPAS.com - Dari semua kelompok hewan, amfibi mungkin yang paling terancam. Banyak spesies telah musnah dan ribuan lainnya berada di ambang kepunahan.
Selain ancaman seperti perubahan iklim dan perusakan habitat yang membahayakan banyak organisme, katak juga mengalami kehancuran karena jamur chytrid.
Asal usulnya tidak diketahui, namun jamur ini telah menyerang sebagian besar benua dan memusnahkan hewan yang tidak memiliki daya tahan.
Di Australia saja, enam spesies diketahui hilang selamanya dan ratusan spesies lainnya terancam dalam berbagai tingkat.
Teknik pengobatan telah dikembangkan untuk mengobati individu yang terinfeksi dan tampaknya memberikan perlindungan saat dilepaskan kembali ke alam liar.
Namun jika bergantung pada strategi penangkapan ribuan individu dan menerapkan perawatan selama berminggu-minggu sebelum dilepas liarkan, metode ini tentu cukup menyulitkan.
Dr Anthony Waddle dari Universitas Macquarie pun punya opsi yang jauh lebih murah untuk mengatasi risiko kepunahan pada katak, salah satunya katak lonceng hijau dan emas (Litoria aurea).
Mengutip IFL Science, Kamis (27/6/2024) jamur diketahui memiliki satu kelemahan yaitu panas.
Dan program penangkaran untuk mengobati katak yang terinfeksi menganggap panas sebagai solusi yang lebih sederhana daripada bahan kimia anti jamur.
Peneliti pun memutuskan memberikan kehangatan pada katak. Mereka membangun sauna mini menggunakan rumah kaca PVC, batu bata berlubang, pot terakota, kerikil, dan tanaman buatan dan menempatkannya di alam liar.
Sebagai pengujian, separuh rumah kaca diberi naungan, sementara separuh lagi terkena sinar matahari.
Katak lonceng diketahui menganggap lubang pada batu bata sebagai rumah yang menarik, dan dengan antusias mengunjungi rumah kaca yang teduh dan tidak teduh.
Suhu di rumah kaca tanpa naungan 4,5 derajat Celcius lebih hangat dibandingkan suhu di rumah kaca lainnya.
Ketika peneliti menangkap kembali katak-katak tersebut setelahnya, mereka menemukan bahwa katak-katak yang tinggal di lokasi tanpa naungan bebas dari chytrid.
“Semuanya seperti spa medis mini untuk katak,” kata Waddle dalam sebuah pernyataan.
Lebih baik lagi, katak yang selamat telah mengembangkan kekebalan yang memungkinkan mereka terhindar dari infeksi di masa depan.
Sementara katak yang tinggal di rumah kaca yang teduh memiliki kemungkinan lebih besar untuk mati.
Habitat katak lonceng yang dekat dengan pusat populasi dan menyukai kehangatan menjadikannya kandidat ideal untuk penelitian ini.
Katak memang merupakan korban utama jamur chytrid, namun banyak hewan amfibi lain yang juga terkena dampaknya.
“Spesies katak lain mungkin juga menggunakannya dan mungkin juga kadal,” tambah Waddle.
Lebih lanjut, temuan ini akan menjadi kemajuan terbesar dalam upaya melawan chytrid sejak ancaman tersebut teridentifikasi.
“Chytrid tidak akan hilang, namun intervensi ekologi perilaku kami dapat membantu amfibi yang terancam punah hidup berdampingan dengan jamur di ekosistem mereka,” kata penulis senior Profesor Rick Shine.
Studi ini dipublikasikan di Nature.