#30 tag 24jam
Tak Hanya di Indonesia, Marketplace Temu Juga Ditentang di Eropa dan AS
Marketplace asal China, Temu, dilarang di Indonesia. Marketplace ini ternyata juga ditentang di sejumlah negara. Halaman all [961] url asal
#e-commerce #manipulatif #aplikasi-temu #aplikasi-e-commerce-temu #temu #pinduduo #pdd-holdings
(Kompas.com) 03/10/24 11:51
v/15905976/
KOMPAS.com - Aplikasi marketplace asal China, "Temu" dilarang di Indonesia karena dinilai akan mengancam usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam negeri.
Pasalnya, Temu terhubung dengan 80 pabrik di China yang bisa menyalurkan langsung produknya ke konsumen di seluruh dunia. Praktik ini membuat harga menjadi lebih murah dan memangkas lapangan kerja.
Hal tersebut diungkap oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi dan Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki.
Tak hanya di Indonesia, kehadiran Temu ternyata juga ditentang di beberapa wilayah, termasuk Eropa dan Amerika Serikat (AS).
Dituduh lakukan praktik manipulatif di Eropa
Temu, aplikasi marketplace versi internasional dari Pinduduo asal China, memperluas operasinya ke negara-negara Barat tahun lalu.
Dimulai dari Amerika Serikat pada musim gugur 2022 dan kemudian ke selusin negara Uni Eropa termasuk Belgia, Prancis, Polandia, Jerman, hingga Inggris pada April 2023.
Sebagai bagian dari ekspansi ke Eropa, perusahaan induk Temu, PDD Holdings, juga memindahkan kantornya untuk operasi internasional dari Shanghai ke Dublin, Irlandia pada bulan Mei 2023.
Temu pun menjadi booming. Temu menjadi aplikasi yang paling banyak diunduh di Apple App Store di Belgia, Prancis, Italia, Jerman, dan Portugal pada 8 Juli lalu. Data ini berasal dari situs web pelacakan SimilarWeb.
Temu juga menjadi aplikasi yang paling banyak diunduh kedua di toko Apple AppStore di Belanda, Polandia, Swedia, dan Inggris Raya.
Meski populer, kehadiran Temu di Eropa ini memantik perhatian dari sejumlah organisasi konsumen. Pasalnya, Temu dianggap menenerapkan praktik manipulatif.
Direktur Jenderal Organisasi Konsumen Eropa (BEUC), Monique Goyens mencontohkan praktik manipulatif yang ditemukan di Temu adalah taktik Upselling.
Taktik ini membuat pengguna Temu membeli produk yang lebih mahal atau lebih banyak dari produk yang mereka ingin beli di aplikasi.
Praktik manipulatif lainnya adalah mempersulit prosedur penutupan akun. BEUC juga menyebut Temu transparan terkait sistem rekomendasi dan kriteria produk yang disarankan.
Praktik-praktik itu dianggap melanggar Undang-Undang Layanan Digital (Digital Services Act/DSA).
Getty Images/ Jonathan Raa/NurPhoto Ilustrasi aplikasi e-commerce Temu asal China.Keamanan produk jadi pertanyaan
Di samping itu, ada beberapa organisasi yang menyuarakan keraguan tentang legalitas dan keamanan produk yang tersedia di Temu.
Misalnya, sebuah kelompok konsumen Italia, Altroconsumo, menyebut produk kosmetik yang dibeli di Temu menghilangkan daftar bahan yang digunakan atau hanya mengungkapkan sebagian daftar bahannya.
Vzbv, sebuah organisasi konsumen Jerman juga mencurigai Temu melanggar undang-undang konsumen karena ulasan produk dan praktik penetapan harga yang menyesatkan.
Di Eropa, Temu kini dijerat dengan peraturan paling ketat Uni Eropa setelah pihak berwenang menetapkan perusahaan tersebut sebagai "platform daring sangat besar" (very large online platform/VLOP) berdasarkan Undang-Undang Layanan Digital (DSA).
Artinya, Temu akan menghadapi pengawasan ekstra atas penggunaan algoritma, AI, pemeringkatan konten, alat rekomendasi, dan sejenisnya.
Tak hanya itu, Temu juga sembari harus menilai dan mengurangi "risiko sistemik" apa pun yang berasal dari layanannya, termasuk menangani produk palsu, ilegal, atau tidak aman yang beredar di platformnya.
Karena kantor Pusat Temu di Eropa berada di Dublin, maka Temu juga perlu bekerja sama dengan Komisi dan Koordinator Layanan Digital Irlandia untuk memberikan laporan penilaian risiko secara berkala. Laporan ini dilakukan sekali di awal, dan kemudian setiap tahun untuk selanjutnya.
"Kami sepenuhnya berkomitmen untuk mematuhi peraturan dan ketentuan yang ditetapkan oleh DSA guna memastikan keamanan, transparansi, dan perlindungan pengguna kami di Uni Eropa," kata juru bicara Temu dalam sebuah pernyataan.
Temu memulai debutnya di pasar Uni Eropa pada April 2023. Temu kini dilaporkan memlki rata-rata 75 juta pengguna aktif bulanan di 27 negara anggota Uni Eropa.
Dugaan kerja paksa sampai kekhawatiran soal privasi
Getty Images/ Justin Sullivan via TecTimes Aplikasi e-commerce asal China, Temu.Selain dugaan eksploitasi tenaga kerja, Temu juga ditentang karena kekhawatiran soal privasi dan keamanan siber.
Temu dinilai memiliki privasi dan keamanan siber aplikasi yang meragukan. Penangguhan aplikasi saudaranya di China (Pinduduo) karena malware dan potensi akses pemerintah China ke data Temu memicu keresahan di kalangan pakar keamanan siber dan privasi.
"Temu adalah bagian dari ekosistem aplikasi Pinduodo, jadi saya pikir ada kekhawatiran privasi data yang meningkat mengenai apakah platform tersebut khususnya dapat mengakses data dari ponsel Anda yang lain," kata Gorman, yang juga menjabat sebagai penasihat kebijakan senior tentang strategi teknologi di Gedung Putih AS pada tahun 2021-2022.
Apple juga sempat menentang aplikasi Temu di toko aplikasinya, App Store. Menurut Apple, aplikasi Temu melanggar aturan privasi wajib yang sudah ditetapkannya.
Apple menyebut, mereka menemukan bahwa Temu menyesatkan orang tentang bagaimana mereka menggunakan data mereka.
Menurut Apple, Temu tidak transparan dalam memberikan deskripsi tentang jenis data yang dapat diakses aplikasi, bagaimana cara melakukannya, dan untuk apa mereka menggunakannya.
Temu juga tidak mengizinkan pengguna memilih untuk tidak dilacak di internet. Namun, menurut Apple, Temu sudah tersedia kembali di toko aplikasi App Store setelah menyelesaikan masalah transparansinya pada awal Juli.
Selain di AS dan Eropa, Temu kini juga mendapat tekanan di Korea Selatan. Di Negeri Gingseng, Temu sedang diselidiki atas dugaan praktik tidak adil termasuk iklan palsu, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Politico, Kamis (3/10/2024).
Ditolak Sejumlah Menteri, Apa Itu E-commerce China Temu dan Bahayanya?
Aplikasi Temu termasuk e-commerce yang laris di sejumlah negara disebut ditolak masuk Indonesia. Apa itu aplikasi Temu dan apa bahayanya? Halaman all [791] url asal
#e-commerce #temu #e-commerce-temu-china #e-commerce-china #aplikasi-temu #aplikasi-e-commerce-temu #temu
(Kompas.com) 03/10/24 08:00
v/15899312/
KOMPAS.com - Aplikasi e-commerce asal China "Temu" dikabarkan beberapa kali berusaha mendaftarkan merek dagangnya ke Indonesia. Namun, perizinannya ditolak.
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi menyatakan, Temu dilarang masuk Indonesia untuk melindungi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam negeri.
"Kita tetap larang. Hancur UMKM kita kalau dibiarkan," ujar Budi Arie, dikutip dari Antara, Selasa (1/10/2024).
Terpisah, Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki juga khawatir jika Temu masuk Indonesia.
Sebab, aplikasi itu terhubung dengan 80 pabrik di China yang bisa menyalurkan langsung produknya ke konsumen di seluruh dunia.
"Kalau TikTok masih mending lah, masih ada reseller, ada afiliator, masih membuka lapangan kerja. Kalau ini kan akan memangkas langsung, selain harganya lebih murah, juga memangkas lapangan kerja misalnya distribusi," katanya pada 10 Juni 2024.
Lalu, apa itu aplikasi Temu dan adakah bahaya di baliknya sehingga perlu dilarang masuk Indonesia?
Mengenal aplikasi Temu
Temu adalah marketplace daring yang menawarkan barang dengan potongan harga besar. Sekilas aplikasi ini mirip dengan e-commerce lain seperti Shopee atau TikTok Shop.
Temu merupakan anak perusahaan Pinduoduo Inc. sekaligus saudara e-commerce asal China Pinduoduo. Temu pertama berdiri di AS pada September 2022.
Pada April 2023, Temu masuk Inggris dan menjadi aplikasi belanja yang paling banyak didownload di sana. Aplikasi ini juga ada di Thailand, Malaysia, dan Filipina.
Dikutip dari The Times, Selasa (1/10/2024), Temu mempromosikan situsnya lewat iklan media sosial, tawaran rujukan, dan penjualan obral untuk menarik pelanggan ke platformnya.
Untuk memakainya, aplikasi Temu bisa diunduh melalui iOS dan Android. Namun, aplikasi tersebut hanya bisa dipakai di 58 negara, termasuk Malaysia, AS, dan Inggris.
Aplikasi ini sangat populer di AS. Sebab, Temu menawarkan barang dengan harga sangat murah dari e-commerce lain. Misalnya, sepatu dijual hanya Rp 141.000 meski di aplikasi lain harganya jutaan.
Temu juga memberikan kredit ke pelanggan yang bisa ditukarkan ke pembelian berikutnya serta hadiah gratis. Keuntungan lain juga tersedia bagi orang yang mempromosikan Temu.
Temu bisa menjual barang dengan harga murah karena model bisninya menghubungkan langsung ke produsen produk, tanpa melalui penjual biasa.
Dampak Temu jika beroperasi di Indonesia
DOK. SHUTTERSTOCK Ilustrasi E-CommerceOleh karena itu, tidak ada penjual yang mengambil untung dengan menaikkan harganya bagi pembeli.
Model bisnis ini menarik banyak pembeli karena biaya produksi rendah dan harga produknya murah. Meskipun margin keuntungannya lebih kecil, jumlah penjualannya tinggi sehingga tetap menghasilkan keuntungan.
Meski pembeli bisa membeli barang dengan harga murah lewat Temu, aplikasi ini bisa berdampak bagi kondisi Indonesia.
Dikutip dari The Diplomat (21/8/2024), Temu dapat mengancam pasar domestik Indonesia. Sebab, model bisnisnya akan menurunkan harga produk lokal secara drastis. Akibatnya, pendapatan bisnis lokal terutama UMKM berkurang.
Selain itu, produsen Temu punya akses ke bahan baku murah dan tenaga kerja yang banyak.
Ini membuat mereka memproduksi barang dalam skala besar dengan biaya rendah. Produknya pun mudah didistribusikan secara luas melalui platform e-commerce.
Kondisi tersebut bisa menekan bisnis lokal. Padahal, UMKM dalam negeri harus mengeluarkan biaya bahan baku lebih tinggi dan dibayar dengan upah minimum. Jaringan penjualannya juga tidak seluas Temu.
Model bisnis aplikasi China itu juga diyakini mengabaikan para pengecer, afiliasi, dan distributor tradisional.
Ini mengakibatkan harga jual produknya lebih rendah tetapi berpotensi merugikan UMKM dan mengurangi kesempatan kerja di Indonesia.
Kontroversi Temu
Di sisi lain, Temu memiliki sejumlah kontroversi dalam aktivitasnya sebagai platform e-commerce yang beroperasi secara global, dilansir dari Channel 4 (30/5/2024). Berikut rinciannya.
Produk beracun
Sejumlah produk yang dibeli dari Temu dilaporkan mengandung bahan kimia beracun dalam tingkat berbahaya di Inggris.
Produk perhiasan mengandung logam berat yang menyebabkan masalah mental dan fisiologis. Sementara pakaian anak mengandung antimon perusak saraf.
Sertifikat palsu
Peralatan-peralatan yang dijual di Temu ke Inggris diduga memiliki sertifikat keselamatan produk yang palsu. Keterangan produsen produk itu juga tidak tertera sehingga sulit dicari asal-usulnya.
Aplikasi disusupi malware
Sebuah laporan juga menuduh Temu menyembunyikan malware dan spyware dalam aplikasi selulernya. Itu membuat aplikasi bisa mengambil dan mejual data pengguna ke pihak lain.