Ban yang kurang angin memiliki daya cengkram yang lebih besar, yang mengakibatkan gesekan lebih tinggi dengan permukaan jalan. Halaman all [345] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com – Banyak pengendara motor sering mendengar bahwa ban yang kurang tekanan angin dapat membuat konsumsi bensin menjadi lebih boros. Apakah klaim ini benar atau sekadar mitos?
Faktanya, tekanan angin ban yang tidak sesuai dengan anjuran pabrikan memang dapat mempengaruhi konsumsi bensin motor. Tekanan ban yang rendah membuat area ban yang menapak ke aspal menjadi lebih besar.
Hal ini meningkatkan resistensi gesekan antara ban dan permukaan jalan, yang membuat mesin bekerja lebih keras untuk menggerakkan motor.
GridOto.com Ilustrasi tambal ban pinggir jalan yang biasa menawarkan jasa tambal model tusuk
Akibatnya, konsumsi bahan bakar menjadi lebih tinggi karena mesin harus mengatasi beban tambahan.
“Pastikan tekanan ban sesuai dengan rekomendasi pabrik. Tekanan ban yang tepat tidak hanya menghemat BBM tetapi juga meningkatkan keselamatan berkendara,” ujar Agus Sani, Head of Safety Riding Promotion Wahana, kepada Kompas.com belum lama ini.
Ketika tekanan angin ban kurang, motor menjadi lebih berat dan membutuhkan tenaga lebih untuk bergerak.
Hal ini karena ban yang kurang angin memiliki daya cengkeram yang lebih besar, yang mengakibatkan gesekan lebih tinggi dengan permukaan jalan.
Peningkatan gesekan ini memaksa mesin bekerja lebih keras, sehingga bahan bakar terbakar lebih banyak.
Ban dengan tekanan yang kurang juga dapat mempengaruhi performa berkendara. Motor akan terasa lebih berat dan sulit untuk bermanuver.
Selain itu, ban yang kurang angin dapat menyebabkan keausan yang tidak merata, memperpendek umur pakai ban, dan mengurangi keamanan berkendara.
Belum lama ini banyak keluhan dari salah satu pengguna mobil MPV yang tiba-tiba mengalami pecah ban. Perlu diketahui, pecah ban bisa dipicu lantaran tekanan angin ban kempis.
Dikutip dari siaran pers Auto2000, dalam banyak kasus, ban mobil pecah sampai rusak berat umumnya disebabkan oleh tekanan udara yang kurang alias ban kempis dan dibiarkan terlalu lama. Situasi ini jelas berbahaya karena dapat mengakibatkan kecelakaan.
"Tekanan udara ban yang pas, sanggup menjaga bidang kontak telapak ban agar tetap optimal sehingga daya cengkeram ban ke permukaan jalan selalu pas. Tekanan udara ban yang sesuai juga membantu dinding ban menopang berat mobil serta meredam gaya akibat gerakan ban. Alhasil, tekanan udara yang sesuai memegang peran sangat penting dalam menjaga performa ban di jalan," jelas Yagimin, Chief Marketing Auto2000, Selasa (9/7/2024).
Tekanan udara ban yang sesuai rekomendasi bisa dilihat pada stiker petunjuk di pilar B sisi pengemudi atau buku petunjuk pemilik kendaraan. Di sana ada tabel tekanan udara yang direkomendasikan untuk beberapa kondisi berkendara, seperti muatan kosong atau penuh.
Pengendara disarankan selalu memeriksa tekanan udara ban mobil di pagi hari saat ban belum berjalan dan suhu lingkungan masih dingin. Kalau repot setiap hari cek tekanan ban, paling tidak usahakan minimal seminggu sekali.
Sebab, kalau ban dibiarkan kempis ada potensi bahaya. Lantaran kempis, ban tidak memiliki area kontak dengan aspal (contact patch) yang cukup. Bahkan cenderung berlebih akibat hanya tertumpu di pinggir telapak ban. Kondisi ini dapat mengakibatkan ban aus di pinggir sisi luar dan dalam saja. Mobil juga akan terasa semakin berat dikemudikan karena daya cengkeramnya terlalu kuat ke aspal jalan.
Gerakan naik turun dinding ban menjadi tidak terkendali ketika kempis. Alhasil, ban menjadi terlalu lentur dan dapat membuat anyaman kawat baja dinding ban rusak. Bahkan dalam kondisi terburuk ketika muatan mobil penuh, perjalanan jauh, dan tekanan udara ban terlalu kempis, bibir pelek dapat menyentuh dinding ban dan berpotensi membuat ban robek.
Tekanan udara ban yang kurang akan langsung terasa pada pengendalian mobil yang lebih sulit. Selain itu, biasanya mobil akan menarik ke sisi ban yang kempis atau mobil bergoyang akibat gerakan dinding ban yang berlebihan.
Tak cuma itu, kenyamanan berkendara juga jadi berkurang akibat gerakan dinding ban yang tiada henti. Gerakan berlebih pada ban juga dapat terjadi ketika mobil berakselerasi atau melakukan pengereman, termasuk ketika belok ke kiri atau ke kanan.
Akibatnya, mobil kian sulit dikendalikan karena gerakan dinding ban semakin liar, termasuk membutuhkan jarak pengereman yang lebih jauh sehingga mengurangi keselamatan berkendara. Dalam kondisi ekstrem di mana tekanan udara ban sangat rendah, dapat membuat ban terlepas dari pelek.
"Jangan pernah lupa mengecek tekanan udara ban setidaknya satu minggu sekali. Dengan begitu, kemungkinan ban kempis yang berisiko pecah atau sobek dapat ditekan. Termasuk pula servis berkala, jangan pernah lupa melakukannya untuk menjaga kondisi mobil supaya selalu prima cukup dengan booking via Auto2000.co.id," tutup Yagimin.