JAKARTA, investor.id – Kelebihan suplai (oversupply) kapal di pasar pelayaran global menghantui kinerja PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) ke depan. Kondisi tersebut tidak menguntungkan karena berpotensi memberikan tekanan berat kepada tarif kargo (freight rate) yang selama ini menjadi sumber pendapatan perseroan.
Direktur Utama Bani M. Mulia mengungkapkan bahwa kapal baru hampir setiap pekan dan bulan masuk ke pasar pelayaran dunia. Tak ayal, situasi itu telah membuat kapasitas angkut di pasar bertambah yang pada akhirnya berpotensi memengaruhi suplai dan permintaan.
“Artinya, kalau pertumbuhan permintaan tidak bisa menyamai pertumbuhan suplai tentu akan ada tekanan pada freight rate,” ungkap Bani saat menjawab Investor Daily dalam paparan publik akhir pekan lalu.
Ditambah lagi, penambahan kapasitas angkut tersebut akan berlangsung cukup lama hingga 2027 mendatang. Bani memberikan gambaran, kuota pembangunan atau pembelian satu kapal peti kemas saat ini sudah penuh sampai 2027. Karena itu, bisa dibilang, pasar pelayaran global tengah menghadapi tantangan dari tekanan pasar.
“Ini kondisi yang kami hadapi, sehingga kami perlu mengejar pertumbuhan untuk bisa menyeimbangkan supply dan demand. Dengan cara begitu, perusahaan insya Allah bisa tetap menghasilkan pertumbuhan bisnis atau pertumbuhan revenue dan profit,” ujar dia.
Sebab, sekalipun pelayaran global mengarah pada kelebihan suplai kapal, Bani menekankan, kondisi tersebut tidak akan sama di seluruh wilayah dunia atau trayek pelayaran, sehingga peluang-peluang yang sehat tetap masih ada dan freight rate juga bervariasi.
“Ada kondisi freight rate hari ini lebih tinggi dibanding tahun lalu. Tapi, ada juga trayek lain freight rate hari ini lebih rendah dibanding tahun lalu, sehingga tergantung pada kondisi trayeknya masing-masing. Perusahaan akan terus mencari atau meutilisasi layanannya di servis-servis yang menghasilkan hasil terbaik,” papar Bani.
Dengan demikian, peluang-peluang yang menguntungkan bagi SMDR akan tetap ada di tengah kondisi pasar pelayaran global yang mengalami oversupply kapal atau tekanan terhadap freight rate akibat ketidakseimbangan suplai dan permintaan.
“Jadi, dinamika di dunia pelayaran itu dinamis dan saya tidak bisa pastikan 100%. Contoh saja, perkiraan yang direncanakan tahun ini tidak terjadi persis 100% karena tidak ada yang memperkirakan kondisi geopolitik dunia yang ternyata memengaruhi perdagangan dan trayek-trayek perdagangan,” ungkap dia.
Dampak Langsung
Tekanan terhadap freightrate sudah SMDR rasakan pada akhir tahun ini. Terbukti, jika membandingkan freight rate perseroan secara kuartalan, Bani menyebut, freight rate SMDR pada kuartal akhir (November-Desember) 2024 lebih rendah ketimbang freight rate pada kuartal III-2024.
Namun demikian, Bani menegaskan, dampak pelemahan tarif kargo atau freight rate bisa dirasakan langsung, bisa juga tidak (lagging). “Ada lag yang akan terefleksi dari pendapatan yang akan diterima perusahaan berdasarkan freight rate. Jadi, sebagian lagging, sebagian langsung,” ujar dia.
Di tengah ancaman kelebihan pasokan kapal dan tekanan freight rate, Bos Bani optimistis, target kinerja perseroan utamanya pada tahun ini bisa melampaui perencanaan awal. Bahkan, capaian SMDR pada kuartal III-2024 diklaim sudah melebihi ekspektasi. “Menurut prediksi kami, dari yang prediksi sebelumnya, hasil yang sekarang ini sudah lebih baik,” ucapnya.
Sentimen lain yang membuat SMDR optimistis menatap ke depan adalah perekonomian Indonesia yang dinilai sedang berada pada tren pertumbuhan. “SMDR bekerja di negara yang amat sehat dan pertumbuhannya tinggi, sehingga masih banyak peluang yang bisa dikerjakan perseroan di Indonesia dan berpotensi mencetak pertumbuhan maksimal bagi perusahaan,” tutup Bani.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News