Perusahaan baterai asal Tiongkok CATL (Contemporary Amperex Technology Co., Limited) memperkenalkan baterai super jumbo untuk kebutuhan komersial seperti truk. Salah satu keunggulannya ialah soal daya tahan dan jarak tempuhnya.
CATL merilis sistem baterai Tectrans (T) yang inovatif supaya merevolusi sektor transportasi komersial.
Pertama, T Long Life Edition menetapkan tolok ukur industri baru dengan umur baterai yang diklaim hingga 15 tahun atau 2,8 juta kilometer.
Teknologi ini menawarkan jangkauan mengemudi yang mengesankan hingga 500 kilometer, melayani berbagai kebutuhan operasional mulai dari pengiriman pelabuhan jarak pendek hingga transportasi jarak jauh.
Kemampuan baterai untuk truk tugas berat ini juga didukung dengan pengisian daya super cepat yang memungkinkan pengisian daya 70% hanya dalam 15 menit. Fitur ini tersedia untuk T Superfast Charging Edition. Namun, ekspektasi umur lebih rendah daripada Edisi Umur Panjang - 1,2 juta kilometer dan 8 tahun.
Di Eropa, CATL sudah bermitra dengan produsen truk tugas berat seperti Daimler Truck AG, Volkswagen Commercial Vehicles, dan Volvo A/B.
Tectrans merupakan merek baterai baru di segmen komersial CATL. Produk ini diluncurkan pada bulan Juli 2024 lalu, dan memiliki tiga produk:
Tectrans - T untuk truk listrik tugas berat
Tectrans - L (Seri-L) untuk EV komersial ringan
Tectrans - B (Edisi Bus) untuk bus listrik
Tectrans L, kadang-kadang disebut L-Series. Ini menawarkan kapasitas baterai 30 - 200 kWh, 150 - 500 km jangkauan dunia nyata, dan tingkat pengisian bisa diklaim selama 8 tahun atau 800.000 km. Muncul dalam dua trim: Long Life Edition dan Edisi Superfast Charging Edition.
Tectrans B, juga dijuluki sebagai Tectran Bus Edition sudah meluncur di China. Baterai ini sudah didesain khusus untuk bus listrik. Kepadatan energi adalah 175 Wh/kg, masa pakai 15 tahun, dan 1,5 juta kilometer (930.000 mil), klaim CATL. Tectran-B akan memiliki garansi 10 tahun atau 1 juta kilometer (620.000 mil).
Seperti diketahui kekhawatiran utama yang dihadapi industri kendaraan komersial dalam pergeserannya menuju elektrifikasi adalah waktu pengisian ulang, biaya, dan jangkauan.
"Sebagai pemimpin industri global, CATL berkomitmen untuk mendorong batas-batas dari apa yang mungkin dalam transportasi listrik," kata Akin Li, Presiden Eksekutif CATL Overseas Business
TANGERANG, KOMPAS.com – Perusahaan baterai dan teknologi asal China, Contemporary Amperex Technology Co Limited (CATL), kabarnya siap membangun pabrik baterai mobil listrik di Indonesia.
Hal ini diungkap Presiden Direktur Wuling Motors Shi Guoyong pada sela-sela pameran GIIAS 2024 di ICE BSD City, Tangerang, Rabu (17/7/2024).
Guoyong mengatakan, mobil listrik Wuling telah memiliki TKDN hingga 40 persen, termasuk lokalisasi baterai yang menggandeng Gotion.
Dok. Carscoops.com Teknologi baterai terbaru diperkenalkan CATL pada Beijing Auto Show 2024
"Mereka sudah punya pabrik local assembly di Indonesia dan mereka punya pack line yang memang sudah ada pabrik di sini. Jadi begitu baterai sudah lokal, termasuk unit (ekspor) di Thailand,” ujar Guoyong.
“Tetapi setelah ini mereka juga mau berencana mau berinvestasi di Indonesia, ada yang lain juga seperti CATL yang mengklaim mau produksi di sini,” kata dia.
Guoyong menambahkan, perusahaan bakal menggandeng supplier baterai yang sudah diproduksi lokal, namun tidak dengan pabrik LG-Hyundai yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo di Karawang, Jawa Barat, belum lama ini.
"Jadi mengenai investasi atau lokalisasi itu sudah sangat dipertimbangkan oleh mereka, secara TKDN bertahap, menggandeng supplier yang sudah bisa lokalisasi,” ucap Guoyong.
“Sebenarnya kami juga punya planning, mereka (CATL) juga ada rencana ke sini. Jadi kalau misalkan yang pabrik baterai di Karawang belum punya rencana saat ini,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa produsen baterai kendaraan listrik CATL berkomitmen untuk menanamkan investasi di Indonesia.
Dengan besaran dana mencapai 35 miliar dollar AS atau setara Rp 550,47 triliun, investasi tersebut akan digunakan untuk membangun ekosistem baterai lithium untuk mobil listrik di dalam negeri.