Ada segelintir pengusaha hingga CEO yang berhasil masuk ke dalam daftar orang terkaya di dunia. Tak tanggung-tanggung, harta yang dimiliki mencapai triliunan rupiah!
Mengutip laman Forbes Real Time Billionaires List, Selasa (15/10/2024), orang terkaya di dunia saat ini adalah Elon Musk. Tercatat, kekayaan yang dimilikinya mencapai US$ 246,5 miliar atau setara Rp 3.839 triliun.
Kemudian di urutan kedua ada Larry Ellison. Dirinya memiliki harta kekayaan senilai US$ 212,4 miliar atau setara Rp 3.308 triliun. Wow!
Penasaran, siapa saja daftar orang terkaya di dunia menurut data Forbes per Oktober 2024? Simak selengkapnya dalam artikel ini.
Daftar 10 Orang Terkaya di Dunia Oktober 2024
Sebagai informasi, jumlah kekayaan setiap orang tentu berbeda-beda. Namun, dalam kurun waktu tertentu bisa bertambah atau juga berkurang.
Berdasarkan data terbaru Forbes Real Time Billionaires List per Oktober 2024, berikut 10 orang terkaya di dunia:
1. Elon Musk
Elon Musk saat ini menduduki takhta sebagai orang terkaya di dunia. CEO Tesla dan SpaceX itu memiliki harta senilai S$ 246,5 miliar atau setara Rp 3.839 triliun.
2. Larry Ellison
Di tempat kedua dihuni oleh Larry Ellison. Pendiri sekaligus Chairman Oracle itu memiliki kekayaan sebesar US$ 212,4 miliar atau setara Rp 3.308 triliun.
Sebagai informasi, Oracle adalah teknologi komputer multinasional yang berbasis di Austin, Texas, Amerika Serikat. Oracle menjadi perusahaan perangkat lunak terbesar ketiga di dunia berdasarkan pendapatan dan kapitalisasi pasar.
3. Jeff Bezos
Posisi ketiga ada Jeff Bezos yang memiliki harta kekayaan sebesar US$ 205,4 miliar atau setara Rp 3.199 triliun. Sebenarnya, pendiri Amazon itu menempati posisi kedua sebagai orang terkaya di dunia per September 2024, akan tetapi berhasil disalip oleh Larry Ellison.
4. Mark Zuckerberg
Pendiri media sosial Facebook, Mark Zuckerberg, berhasil menempati posisi keempat sebagai orang terkaya di dunia. Pria berusia 40 tahun itu memiliki kekayaan sebesar US$ 204,2 miliar atau setara Rp 3.180 triliun.
5. Bernard Arnault & Family
Bernard Arnault merupakan pendiri, chairman, dan CEO LVMH, yakni perusahaan multinasional asal Prancis yang fokus di industri barang mewah, contohnya Louis Vuitton, Fendi, Celine, hingga Christian Dior.
Bernard Arnault dan keluarga memiliki kekayaan senilai US$ 175,9 miliar atau sekitar Rp 2.739 triliun.
6. Warren Buffet
Posisi keenam ada Warren Buffet yang merupakan seorang pebisnis dan investor asal Amerika Serikat. Ia juga merupakan pendiri sekaligus CEO Berkshire Hathaway.
Kekayaan yang dimiliki oleh pria berusia 94 tahun itu cukup fantastis, yakni senilai US$ 143,6 miliar atau setara Rp 2.236 triliun.
7. Larry Page
Larry Page merupakan sosok di balik berdirinya Google, sebuah mesin pencarian di internet yang populer di seluruh dunia. Dirinya memiliki harta kekayaan sebesar US$ 137,2 miliar atau sekitar Rp 2.137 triliun.
8. Amancio Ortega
Don Amancio Ortega Gaona atau lebih dikenal Amancio Ortega merupakan pebisnis sekaligus pemilik dari Inditex, yakni perusahan multinasional asal Spanyol yang fokus dalam mengembangkan pakaian dan industri tekstil, seperti Zara, Bershka, dan Pull & Bear.
Dalam data terbaru, Amancio Ortega memiliki harta kekayaan sebesar US$ 132,6 miliar atau sekitar Rp 2.065 triliun.
9. Sergey Brin
Di urutan kesembilan ada Sergey Brin, yakni seorang pebisnis yang juga ikut mendirikan Google bersama Larry Page. Pria berusia 51 tahun itu memiliki harta kekayaan mencapai US$ 131,4 miliar atau setara Rp 2,046 triliun.
10. Steve Ballmer
Di daftar yang terakhir ada Steve Ballmer. Ia merupakan seorang pebisnis dan mantan CEO Microsoft dari tahun 2000-2014. Saat ini Steve merupakan pemilik dari klub basket NBA, yaitu Los Angeles Clippers (LA Clippers).
Total kekayaan yang dimiliki Steve Ballmer sebesar US$ 123 miliar atau sekitar Rp 1,915 triliun.
Demikian daftar 10 orang terkaya di dunia per Oktober 2024 versi Forbes Real Time Billionaires List.
Berkshire Hathaway milik salah satu konglomerat terkaya di dunia, Warren Buffett, kembali memangkas kepemilikan sahamnya di Bank of America (BOA). [224] url asal
Berkshire Hathaway milik salah satu konglomerat terkaya di dunia, Warren Buffett, kembali memangkas kepemilikan sahamnya di Bank of America (BOA). Kali ini perusahaan menjual 21,1 juta saham bank terbesar kedua di AS ini senilai US$ 845 juta atau Rp 13,05 triliun (kurs Rp 15.455/dolar AS).
Melansir dari Reuters, Sabtu (31/8/2024), transaksi penjualan saham ini dilakukan pada 28 dan 30 Agustus kemarin. Ini merupakan yang ketujuh kalinya bagi perusahaan milik Buffett melepas saham BOA sejak Juli lalu.
"Perusahaan konglomerat yang dijalankan oleh salah satu investor paling disegani di dunia itu telah melepas saham BOA dengan total nilai lebih dari US$ 6 miliar (Rp 92,73 triliun) dalam tujuh putaran penjualan saham sejak bulan Juli," tulis Reuters dalam laporannya.
Disebutkan Buffett mulai berinvestasi di bank tersebut sejak 2011 lalu. Kala itu Berkshire membeli saham preferen BOA senilai US$ 5 miliar atau setara dengan Rp 77,27 triliun jika dihitung dengan kurs saat ini.
Pembelian itu menandakan kepercayaan Buffett terhadap kemampuan CEO BOA, Brian Moynihan, untuk memulihkan kondisi keuangan bank terbesar kedua di AS tersebut setelah krisis keuangan 2008 lalu.
Oleh karenanya pemangkasan kepemilikan saham BOA ini juga merupakan langkah tak terduga lain yang diambil Buffett mengingat pada April 2023 lalu dirinya sempat mengatakan kepada CNBC bahwa ia sangat menyukai Moynihan dan tidak ingin menjual saham bank tersebut.
Perusahaan milik konglomerat terkaya dunia Warren Buffett, Berkshire Hathaway, mencapai kapitalisasi pasar sebesar US$ 1 triliun atau setara Rp 15.423,5 triliun (kurs Rp 15.423,5 per dolar AS) untuk pertama kalinya pada Rabu (28/8) kemarin.
Ini merupakan perusahaan di luar sektor teknologi pertama yang berhasil mencapai nilai kapitalisasi pasar US$ 1 triliun. Di luar entitas milik Warren Buffett ini, perusahaan yang mencapai kapitalisasi pasar sebesar itu ada Apple, Nvidia, Microsoft, Alphabet, Amazon, dan Meta.
Melansir dari CNN, Kamis (29/8/2024), pencapaian Berkshire Hathaway merupakan 'hadiah ulang tahun' yang tidak terduga bagi Warren Buffett. Terlebih mengingat pria kelahiran 30 Agustus 1930 ini sempat memperkirakan kinerja perusahaan tahun ini hanya 'sedikit' lebih baik dari perusahaan raksasa AS lainnya.
Bahkan pada awal 2024 kemarin, Buffett sempat mengingatkan para investor dalam surat tahunannya bahwa kinerja perusahaan yang sempat meroket di tahun sebelumnya kemungkinan besar akan sirna.
"Berkshire seharusnya berkinerja sedikit lebih baik daripada perusahaan Amerika pada umumnya dan, yang lebih penting, juga harus beroperasi dengan risiko kerugian modal permanen yang jauh lebih rendah," tulis Warren Buffett dalam suratnya.
"Apa pun yang melampaui 'sedikit lebih baik', hanyalah angan-angan. Kami tidak memiliki kemungkinan kinerja yang luar biasa," tambah salah satu orang terkaya di dunia itu.
Alih-alih mengalami penurunan kinerja, sejak surat tahunannya itu disampaikan kinerja perusahaan malah semakin meningkat. Hal ini terlihat dari nilai saham perusahaan yang naik lebih dari 13% sejak surat itu disampaikan, dan jika dihitung year-on-year nilai saham entitas itu naik 28%.
Sebagai tambahan informasi, dalam beberapa bulan terakhir perusahaan milik Warren Buffett ini kerap melakukan aksi penjualan. Sebelumnya Berkshire Hathaway telah memangkas kepemilikan sahamnya di Apple (AAPL) hingga 50%. Kemudian pada perusahaan milik konglomerat terkaya di bumi itu juga sudah menjual hampir 25 juta saham Bank of America (BAC) senilai hampir US$ 1 miliar.
Namun di luar itu Berkshire Hathaway juga melakukan beberapa pembelian baru, seperti mengakuisisi saham di jaringan toko kosmetik Ulta Beauty (ULTA) dan pembuat suku cadang pesawat Heico (HEI).
Kemudian perusahaan juga terus mempertahankan banyak kepemilikan saham utamanya, termasuk 21,3% saham di American Express (AXP), 9,3% saham di Coca-Cola (KO), dan 6,5% saham di Chevron (CVX). Perusahaan ini juga memiliki Geico, BNSF Railway, Dairy Queen, dan berbagai perusahaan lainnya.
Warren Buffett jual saham Apple di Berkshire Hathaway hampir 50 persen menyedot perhatian pekan ini. Berikut profil perusahaan Berkshire. [442] url asal
TEMPO.CO, Jakarta - Berkshire Hathaway milik Warren Buffett memangkas hampir 50 persen sahamnya di Apple.
Warren Buffet jual saham tersebut mengangkat kepemilikan kas Berkshire ke rekor tertinggi sebesar $277 miliar dolar Amerika, naik $88 miliar dolar Amerika dari kuartal sebelumnya.
Dilansir dari Britannica.com, Berkshire Hathaway adalah perusahaan induk Amerika yang berkantor pusat di Omaha, Nebraska, yang dipimpin oleh investor miliarder Warren Buffett. Perusahaan yang dikategorikan di bawah sektor keuangan dan industri reasuransi ini memiliki puluhan perusahaan di berbagai sektor dan industri, termasuk asuransi , utilitas, energi, transportasi , manufaktur , dan ritel. Berkshire juga memiliki investasi signifikan di perusahaan-perusahaan terkemuka seperti Apple (AAPL), Bank of America (BAC), dan Coca-Cola (KO).
Terkenal karena menjadi perantara investasi bagi Buffett dan mitra bisnis lamanya Charles Munger, yang meninggal dunia pada November 2023, Berkshire Hathaway juga terkenal karena memiliki saham bernilai tertinggi di Amerika Serikat, saham Kelas A-nya melebihi $500.000 per saham pada tahun 2023.
Portofolio dan Struktur Bisnis
Model bisnis dan investasi Berkshire Hathaway difokuskan pada akuisisi dan pengelolaan bisnis di berbagai industri:
Akuisisi penuh.Berkshire Hathaway telah membeli sejumlah perusahaan secara langsung, sehingga memberikannya kendali penuh atas operasi bisnis, manajemen, dan dewan direksi mereka (meskipun bukan praktik umum bagi Berkshire untuk campur tangan dalam operasi perusahaan). Perusahaan yang diakuisisi sepenuhnya oleh Berkshire Hathaway meliputi GEICO, Dairy Queen, dan BNSF Railway.
Pemegang saham mayoritas. Sebagai pemegang saham mayoritas di berbagai perusahaan, Berkshire Hathaway memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hak suara dan manajemen mereka. Berkshire Hathaway secara historis memegang saham mayoritas pengendali di perusahaan-perusahaan seperti Kraft Heinz (KHC), Coca-Cola (KO), dan American Express (AXP).
Memegang hak suara. Sebagai investor, Berkshire Hathaway dapat memiliki cukup banyak saham untuk memegang hak suara yang signifikan. Misalnya, pada tahun 2023, perusahaan ini memegang saham sebesar 5,8 persen di Apple (AAPL).
Sejak tahun 1965, Berkshire Hathaway memperluas portofolionya secara signifikan, mengakuisisi lebih dari 60 perusahaan (anak perusahaan) dan memegang kepemilikan sebagian di banyak perusahaan lainnya.
Meskipun menikmati periode pertumbuhan dalam bisnis tekstil dalam dua tahun setelah diambil alih Buffett, kekayaan bersih Berkshire Hathaway masih turun sebesar 64% dari tahun 1955. Bisnis tekstilnya terus berjuang selama dua dekade berikutnya.
Warren Buffett mulai mengubah strategi bisnis Berkshire Hathaway, dengan meletakkan dasar bagi operasi investasi dan akuisisinya. Pada tahun 1985, tahun di mana ia melikuidasi operasi tekstil perusahaan, Berkshire Hathaway telah berkembang menjadi perusahaan induk yang mapan.
Di bawah kepemimpinan Warren Buffett dan Charlie Munger, model Berkshire Hathaway dalam membeli bisnis yang mapan tetapi dinilai rendah dan mempertahankan saham signifikan di perusahaan terkemuka telah terbukti berhasil selama beberapa dekade. Hal ini mencerminkan filosofi investasi nilai yang terkenal dari pasangan tersebut dan memperkuat posisi Berkshire Hathaway sebagai konglomerat Amerika yang ikonik.
Perusahaan Berkshire Hathaway milik Warren Buffett menjual 50% kepemilikan saham di Apple. Hal itu terungkap dalam laporan laba kuartal II-2024 perusahaan tersebut.
Dilansir dari CNN, Senin (5/8/2024), kepemilikan Berkshire Hathaway di Apple senilai US$ 84,2 miliar atau Rp 1.363 triliun (kurs Rp 16.195) pada kuartal II-2024, turun dari 790 juta saham menjadi 400 juta saham. Langkah itu dianggap mengejutkan karena Warren Buffett terkenal sebagai investor yang berfokus pada jangka panjang.
Aksi jual saham yang dilakukan Warren Buffett ini bukan kali pertama. Pada 2023, Berkshire Hathaway menjual 10 juta saham Apple yang mewakili sekitar 1% dari kepemilikannya di perusahaan tersebut. Kemudian pada kuartal I-2024, kepemilikan di Apple dipangkas lagi sebesar 13%.
Hal itu membuat tumpukan uang tunai pada kas Berkshire Hathaway melonjak hingga mencapai US$ 277 miliar atau Rp 4.486 triliun pada kuartal II-2024. Jumlah tersebut naik pesat dibandingkan laporan perusahaan pada kuartal I-2024 yang senilai US$ 189 miliar.
Laporan pendapatan menunjukkan bahwa sekitar 72% dari nilai wajar agregat Berkshire Hathaway terkonsentrasi di lima perusahaan: American Express (US$ 35,1 miliar), Apple (US$ 84,2 miliar), Bank of America (US$ 41,1 miliar), Coca-Cola (US$ 25,5 miliar) dan Chevron (US$ 18,6 miliar).
Untuk diketahui, Berkshire Hathaway mulai membeli saham Apple pada 2016 di bawah pengaruh letnan investasi Buffett, Ted Weschler dan Todd Combs.
Belum ada penjelasan resmi dari Apple dan Warren Buffett soal aksi jual 50% saham ini. Akan tetapi, ia sudah mengisyaratkan hal ini dari beberapa waktu sebelumnya.
"Kami ingin sekali membelanjakannya (kas perusahaan), tetapi kami tidak akan membelanjakannya kecuali kami merasa bahwa kami melakukan sesuatu yang risikonya sangat kecil dan dapat menghasilkan banyak uang," kata Warren Buffett dalam rapat tahunan Berkshire pada Mei 2024 lalu, dikutip dari Reuters.
Ia saat itu menyinggung bahwa penjualan saham ditempuh mengingat ada rencana kenaikan tarif pajak atas keuntungan korporasi yang saat ini dipatok 21%. Meski begitu, Warren Buffett mengatakan Apple masih akan menjadi salah satu investasi saham terbesar dari Berkshire Hathaway.