#30 tag 24jam
Panen Jagung Bioteknologi Capai 15 Ton per Hektare
Pertanian Indonesia sudah tertinggal 15-20 tahun dari negara tetangga dalam adopsi benih teknologi. - Halaman all [677] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #jagung-bioteknologi #produktivitas-jagung #bayer-indonesia #seger-agro-nusantara #kadin-indonesia #swasembada-pangan #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 15/08/24 00:59
v/14431748/
JAKARTA, investor.id–Produktivitas jagung bioteknologi yang ditanam di Desa Lune, Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), mencapai 13-15 ton per hektare (ha) pipilan kering, tiga kali lipat dari rata-rata nasional yang hanya 4-5 ton per ha.
Dengan produktivitas hasil panen jagung di atas 10 ton per ha tersebut diharapkan petani dapat memiliki daya tahan terhadap fluktuasi harga komoditas dan kesejahteraannya lebih baik. Di sisi lain, produksi jagung nasional makin melimpah sehingga Indonesia menuju swasembada pangan tercapai.
Pada 25 Maret 2024, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Pertanian menginisiasi program penanaman 1.000 ha jagung bioteknologi di NTB. Penanaman tahap pertama saat musim kering dan berhasil dilakukan pada lahan 350 ha, berikutnya akan ditanam kala musim hujan seluas 650 ha.
Program penanaman 1.000 ha jagung bioteknologi tahap pertama seluas 350 ha telah berhasil dipanen. Perayaan panen yang meriah dan menunjukkan hasil yang sangat memuaskan itu dilakukan di Desa Lune pada 12 Agustus 2024 dengan mengusung tema Merdeka Pangan Menuju Indonesia Emas Tahun 2045.
Pada panen jagung itu, hasil ubinan yang disaksikan petugas penyuluh lapangan dari Dinas Pertanian setempat di berbagai titik di dua lokasi utama di Sumbawa dan Dompu mencapai 13-15 ton per ha (kadar air 17%), rata-rata produktivitas nasional 4-5 ton per ha.
Dalam sambutannya saat panen itu, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional/National Food Agency (Bapanas/NFA) I Gusti Ketut Astawa mengatakan, penggunaan benih jagung bioteknologi dapat membantu petani meningkatkan pendapatan dengan menghasilkan hasil panen yang lebih melimpah dan berkualitas. “Dengan demikian, Indonesia dapat meraih kemajuan signifikan dalam sektor pertanian dan mencapai tujuan ketahanan pangan berkelanjutan,” ujar Ketut dalam keterangan yang dikutip Rabu (14/08/2024).
Keberlangsungan program Kadin itu bisa terlaksana dengan baik berkat dukungan berbagai pihak yang berkolaborasi dalam skema kemitraan inclusive closed-loop. PT Bayer Indonesia, salah satu anggota Kadin, telah membina petani untuk menggunakan benih jagung bioteknologi DK95R yang tahan herbisida dengan metode budi daya yang tepat dan terbukti meningkatkan hasil panen dan pendapatan petani.
Sementara PT Seger Agro Nusantara berperan memberikan jaminan pembelian hasil panen. Panen raya jagung di NTB itu diharapkan dapat mengajak seluruh stakeholder untuk lebih banyak berkolaborasi di pertanian secara luas demi bisa mempercepat terwujudnya ketahanan pangan di RI.
Swasembada Pangan
Menurut Wakil Komite Tetap Ketahanan Pangan Kadin Indonesia Laksmi Prasvita, di tengah stagnasi produktivitas pertanian, sudah saatnya Indonesia mengadopsi inovasi yang bisa menjadi game changer. “Kadin mendukung penuh inovasi pertanian yang mampu mengubah wajah industri, menjadikan Indonesia lebih kompetitif menuju swasembada pangan dan Indonesia Emas 2045,” ujar Laksmi.
Wakil Bupati Dompu Syahrul Parsan berterima kasih dan mengapresiasi Kadin dan seluruh perusahaan yang terlibat dalam pengembangan dan penjualan jagung bioteknologi di Dompu. Program itu diharapkan bisa bermanfaat nyata bagi para petani jagung dan masyarakat Dompu secara umum. Pemkab Dompu akan terus mendukung pengembangan jagung sebagai salah satu program unggulan.
Sementara itu, Ketua Kelompok Substansi Jagung dan Aneka Serelia Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Arnen Sri Gemala menuturkan, keberhasilan panen jagung di NTB itu juga menunjukkan pemanfaatan teknologi dan ilmu pengetahuan bidang pertanian yang tepat guna dan tepat sasaran akan dapat bermanfaat signifikan dalam memacu produktivitas, meningkatkan pendapatan petani, memberikan stabilitas pasokan bahan pangan, serta keberlanjutan pertanian di Indonesia.
“Pertanian Indonesia sudah tertinggal 15-20 tahun dari negara tetangga dalam adopsi benih teknologi. Dengan dimulainya budi daya jagung menggunakan benih bioteknologi ini diharapkan dapat mewujudkan ketahanan pangan nasional,” tutur Gemala.
Hamzan Wadi, salah satu dari 2.000 petani yang terlibat dalam program tersebut, mengatakan, penanaman jagung bioteknologi itu didampingi petugas dari Bayer dan panen hasilnya sudah di serap PT Seger Agro Nusantara. “Kami mendapatkan kemudahan dari sebelum tanam hingga pascapanen,” jelas dia.
Perayaan panen jagung di NTB itu juga dihadiri dosen tetap dari Universitas Pertahanan (Unhan) Sunarko dan Iswan Gunadi, anggota Komisi IV DPR Endang Thohari dan Johan Rosihan, pejabat dari Kemenko Perekonomian M Amin Nurhakim, serta pejabat dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Ifan Martino.
Editor: Tri Listiyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Pemerintah adopsi prinsip kehati-hatian dalam penerapan bioteknologi
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan komitmen pemerintah dalam menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pengembangan dan pemanfaatan bioteknologi, ... [433] url asal
#bioteknologi #gmo #bapanas #ketahanan-pangan
(Antara) 31/07/24 17:56
v/12800831/
Komunikasi berbasis ilmiah akan terus kami galakkan, bahkan kepada pihak-pihak yang mungkin belum banyak terlibat dalam diskusi ini, seperti anggota parlemen
Jakarta (ANTARA) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan komitmen pemerintah dalam menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pengembangan dan pemanfaatan bioteknologi, merespons keraguan masyarakat tentang keamanan pangan hasil rekayasa genetika.
Direktur Perumusan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas, Yusra Egayanti, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu, mengakui bahwa penerapan bioteknologi masih mendapatkan pro dan kontra dalam beberapa tahun ini, oleh karena itu pemerintah terus berupaya mengintensifkan sosialisasi dan advokasi untuk menghilangkan kesalahpahaman tentang bioteknologi
Yusra mengatakan bahwa sosialisasi ini sangat penting tidak hanya bagi masyarakat awam, tetapi juga seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam rantai pangan, mulai dari petani, distributor hingga konsumen.
Pemerintah menekankan bahwa penggunaan bioteknologi harus berdasarkan kajian ilmiah yang ketat. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2004 tentang Ratifikasi Protokol Cartagena telah mengatur mengenai pendekatan kehati-hatian terhadap produk rekayasa genetika (PRG), yang merupakan salah satu hasil dari penerapan teknologi bioteknologi.
Hanya produk yang telah dinyatakan aman bagi pangan, pakan, dan lingkungan yang diperbolehkan untuk dibudidayakan dan dikonsumsi.
"Komunikasi berbasis ilmiah akan terus kami galakkan, bahkan kepada pihak-pihak yang mungkin belum banyak terlibat dalam diskusi ini, seperti anggota parlemen," kata Yusra.
“Karena saat rapat dengar pendapat dengan DPR, masih ada beberapa anggota yang berasumsi bahwa GMO itu berbahaya bagi kesehatan,” lanjut dia.
Indonesia telah melakukan penelitian dan pengembangan tanaman PRG dengan tujuan meningkatkan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan.
Sampai saat ini, Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) Kementerian Pertanian telah melakukan pelepasan pada 10 tanaman PRG, yang terdiri atas 8 jenis jagung PRG, 1 kentang PRG, dan 1 tebu PRG.
Kepala PPVTPP Leli Nuryati menyatakan, dalam melakukan pelepasan varietas tanaman PRG, pihaknya selalu mengedepankan prinsip kehati-hatian yang sangat ketat.
“Di lapangan, benih PRG nyatanya sangat dinantikan para petani kita. Pada dasarnya mereka sangat siap untuk mengelola varietas unggulan ini. Tugas kita adalah memastikan proses pelepasan yang sesuai aturan dan prosedur, serta meminimalisir produk palsu yang merugikan petani,” ujarnya.
Bioteknologi diyakini sebagai solusi potensial untuk mengatasi berbagai kendala dalam sektor pertanian Indonesia dan mencegah terjadinya krisis pangan di masa depan.
Menurut Biotechnology and Seed Manager CropLife Indonesia Agustine Christela, penerapan benih bioteknologi memungkinkan petani untuk meminimalisir potensi kehilangan hasil.
Benih bioteknologi dirancang untuk memiliki sifat unggul. Artinya, ketika ditanam, tanaman yang dihasilkan bisa lebih resisten terhadap hama, gulma, penyakit ataupun kondisi lingkungan ekstrem.
Menurut Agustine, dengan pemanfaatan benih bioteknologi, potensi kehilangan hasil pertanian bisa ditekan hingga 10 persen, yang berarti ada peningkatan produksi panen yang signifikansi bagi petani di lahan terbatas.
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2024
Benih Bioteknologi Jadi Solusi Cegah Krisis Pangan
Perlu ada intervensi untuk menjaga ketahanan pangan. [688] url asal
#benig-bioteknologi #ketahanan-pangan #krisis-pangan #kementan
(Republika - Ekonomi) 31/07/24 12:49
v/12738778/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebutuhan adanya kontribusi di bidang ilmu bioteknologi untuk mencegah risiko krisis pangan kian dibutuhkan. Data Badan Urusan Logistik (BULOG) menunjukan dampak serius dari perubahan ikim terhadap ketahanan pangan sudah semakin terasa, khususnya dari sisi penurunan produksi tanaman pangan.
Sebagai contoh, produksi beras nasional dari Januari hingga April 2024 mengalami penurunan sebesar 17,74 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, dari 22,55 juta ton menjadi 18,55 juta ton. Direktur Utama Bulog Bayu Krisnamurthi mengatakan perlu ada intervensi untuk menjaga ketahanan pangan.
"Praktik "business as usual” atau cara biasa akan membuat produksi beras justru menurun dan harga akan naik," katanya di sarasehan "Pertanian Berkelanjutan dan Adopsi Teknologi Modern," Rabu (31/7/2024).
Bayu mengatakan, tanpa pemanfaatan teknologi, Bulog memproyeksikan di tahun 2050 jumlah produksi beras akan turun hingga 20 persen, namun harga akan naik hingga 20 persen.
Sarasehan yang digelar Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian dan asosiasi nirlaba yang mewakili kepentingan petani, industri benih, dan pestisida di Indonesia, CropLife Indonesia (CLID) merupakan respons ancaman krisis pangan global dan mengeksplorasi solusi bioteknologi di sektor pertanian.
Badan Pangan Nasional (Bapanas/NFA) juga menekankan peran penting bioteknologi sebagai solusi untuk ketahanan pangan nasional. Direktur Perumusan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas Yusra Egayanti mengatakan selain menghadapi tantangan perubahan iklim, Indonesia juga harus mengantisipasi pertumbuhan populasi dan alih fungsi lahan.
"Dengan populasi penduduk Indonesia yang diprediksi akan mencapai 324 juta jiwa pada tahun 2045, tentu harus dibarengi dengan kesiapan kita memproduksi bahan pangan yang lebih besar lagi. Salah satu solusi yang kami rasa tepat untuk adalah dengan pemanfaatan benih PRG (produk rekayasa genetik) di sektor pertanian Indonesia," kata Yusra.
Asisten Deputi Prasarana dan Sarana Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Ismariny mengatakan, Kemenko Perekonomian mendorong lebih banyak sinergi peningkatan ketahanan pangan nasional dilakukan di berbagai lini.
"Sebagai contoh, Kemenko Ekonomi sudah mulai menggagas banyak program seperti suplai peningkatan produksi, diversifikasi pangan, efisiensi distribusi pangan, penggunaan teknologi untuk meningkatkan produksi dan kualitas pangan, hingga penguatan stok pangan nasional. Fokus kami adalah membuat program yang manfaatnya bisa dirasakan oleh petani dan masyarakat," katanya.
Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) telah melakukan pelepasan pada sepuluh tanaman PRG yang terdiri dari delapan jenis jagung PRG, satu kentang PRG, dan satu tebu PRG. Kepala PPVTPP Leli Nuryati, mengatakan dalam melakukan pelepasan varietas tanaman PRG, PPVTPP selalu mengedepankan prinsip kehati-hatian yang sangat ketat.
"Di lapangan, benih PRG nyatanya sangat dinantikan oleh petani kita. Pada dasarnya mereka sangat siap untuk mengelola varietas unggulan ini. Tugas kita adalah memastikan proses pelepasan yang sesuai aturan dan prosedur, serta meminimalisir produk palsu yang merugikan petani juga masyarakat," kata Leli.
Direktur Eksekutif CropLife Indonesia Agung Kurniawan mengatakan meski kebutuhan akan bioteknologi terbukti cukup besar, pengembangan benih unggul di Indonesia bisa dibilang terlambat dibanding negara lain. Proses perizinan, pengembangan, hingga komersialisasi benih PRG di Indonesia rata-rata memakan waktu sekitar 15 tahun.
Menurutnya, sampai dengan tahun ini, baru ada 10 varietas benih bioteknologi yang mendapat persetujuan penggunaannya, dan itu pun masih dalam skala terbatas.
"Regulasi yang ketat masih jadi kendala utama para peneliti di lapangan. Ditambah, ada kemungkinan ketika benih tersebut berhasil dikomersialisasi, tantangan yang dihadapi para petani sudah berubah. Padahal dari sisi petani, mereka sudah sangat antusias dan siap untuk mengadopsi teknologi ini secepatnya," kata Agung.
Agung mencontohkan keberhasilan beberapa negara Asia, seperti Vietnam dan Filipina, yang telah mengadopsi bioteknologi dan mengalami peningkatan produksi pertanian hingga 30 persen. Agung mengatakan pencapaian ini menunjukkan potensi besar bioteknologi dalam memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.
“Kami berharap sinergi antara berbagai pihak ini dapat mendorong pengembangan dan komersialisasi benih bioteknologi di pasar, sehingga para petani dapat merasakan dampak positif yang sama seperti di negara-negara lain," tambah Agung.
Biotechnology and Seed Manager CropLife Indonesia Agustine Christela Melviana menambahkan penerapan benih bioteknologi memungkinkan petani untuk meminimalkan potensi kehilangan hasil. Benih bioteknologi dirancang untuk memiliki sifat unggul. Artinya, ketika ditanam, tanaman yang dihasilkan bisa lebih resisten terhadap hama, gulma, penyakit, ataupun kondisi lingkungan yang ekstrem.
"Dengan pemanfaatan benih bioteknologi ini, potensi kehilangan hasil pertanian bisa ditekan hingga 10 persen, yang berarti ada peningkatan produksi panen yang signifikan bagi petani di lahan terbatas," jelasnya.
Airlangga Bertemu Utusan AS, Bahas Kerja Sama Bioteknologi Pertanian
Utusan AS berniat untuk kerja sama dengan Indonesia dalam bidang bioteknologi pertanian. [290] url asal
#bioteknologi #hubungan-indonesia-amerika-serikat #indonesia-amerika-serikat #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan - Terbaru) 16/07/24 17:26
v/10975786/
Reporter: Rashif Usman | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan Under Secretary for Economic Growth US Department of States Jose Fernandez di Kantor Kemenko Perekonomian pada Senin (15/07).
Dalam kesempatan tersebut, Under Secretary Fernandez menyampaikan keinginan untuk kerja sama dalam bidang bioteknologi pertanian.
Menko Airlangga menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia terbuka untuk kerja sama di bidang bioteknologi dengan AS seperti pada komoditas padi, jagung, dan tebu.
Kerja sama tersebut salah satunya juga telah dilakukan melalui research pada bidang bioteknologi antara Universitas di Indonesia seperti Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan Universitas di AS.
“Pemerintah telah bekerja sama dengan sejumlah universitas untuk mengembangkan laboratorium pada beberapa komoditas seperti beras, jagung, dan tebu serta penggunaan bio-etanol untuk bahan bakar ramah lingkungan,” ungkap Menko Airlangga dalam keterangan resminya, Senin (15/7).
Dirinya juga menerangkan bahwa pemerintah saat ini juga sedang mengembangkan sejumlah food estate untuk menjaga keamanan pangan di seluruh Indonesia.
Selain itu, terkait optimalisasi pemanfaatan energi non-fosil sebagai pembangkit listrik, Menko Airlangga menyinggung pemanfaatan teknologi Small Modular Reactor (SMR) sebagai Pembangkit Tenaga Listrik.
“Mempertimbangkan Indonesia sebagai negara kepulauan yang besar, diperlukan kapasitas energi listrik yang sesuai dengan kondisi geografis Indonesia. Reaktor nuklir yang dihasilkan melalui modular SMR, dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tersebut,” jelasnya.
Selanjutnya, Fernandez menyebutkan bahwa pihaknya akan siap untuk mendukung penggunaan SMR dan mendorong pihak swasta agar dapat membantu pengembangan dan kajian kelayakan untuk pembangunan reaktor tersebut di Indonesia.
Terkait pengembangan semikonduktor, Pemerintah Indonesia juga telah membentuk Satuan Tugas Pengembangan Ekosistem Semikonduktor melalui Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2024.
Satuan tugas tersebut bekerja sama dengan OECD dan Departemen Luar Negeri AS untuk melakukan kajian atas ekosistem semikonduktor Indonesia.