#30 tag 24jam
Sektor Saham di BEI yang Berpeluang Cuan atas Kemenangan Trump
Pasar saham RI mendapat sentimen negatif dari kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS. Analis menilai ada beberapa sektor saham yang justru terimbas positif. [325] url asal
#indeks-harga-saham-gabungan #ihsg #indeks-saham #saham #blue-chip #investasi-saham #investasi #modal #uang #modal-asing #investor-asing #aksi-jual #net-sell #aksi-beli #net-buy #donald-trump #kamala-h
(Bisnis.Com - Market) 08/11/24 14:22
v/17775166/
Bisnis.com, JAKARTA — Kemenangan Donald Trump kembali menduduki kursi presiden di Amerika Serikat sempat membawa dampak negatif terhadap pasar saham Indonesia. IHSG terpantau kian melemah akibat dorongan jual bersih atau net sell yang dilakukan oleh investor asing.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia Fath Aliansyah Budiman menilai kemenangan Donald Trump apabila diikuti dengan dominasi anggota legislatif akan berdampak negatif ke pasar saham RI. Namun demikian, pelemahan saham kali ini bisa menjadi kesempatan beli untuk investor yang ingin mengoleksi saham blue chip yang terdiskon.
"Hal ini akan membuat outflow [modal asing] dan kembali ke Amerika Serikat. Koreksi yang terjadi saat ini bisa jadi buying opportunity terutama untuk saham-saham blue chips yang terkoreksi cukup dalam dengan melakukan pembelian secara bertahap dan memperhatikan perkembangan secara global," katanya saat dihubungi Bisnis, Kamis (7/11/2024).
Sementara itu, Director Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada mengatakan dampak dari Pilpres AS nantinya harus melihat terlebih dahulu kondisi pasar saham di negara tersebut. Misalnya, ketika bursa saham di AS menguat diikuti oleh kenaikan indeks dolar AS dipastikan bisa memukul pasar saham domestik.
"Nantinya bisa berimbas pada pelemahan Rupiah. Dengan melemahnya Rupiah maka akan direspon negatif di bursa saham sehingga aksi jual pun dapat kembali terjadi," papar Reza.
Dia pun memilih beberapa sektor saham yang tetap bisa menguat di tengah sentimen kemenangan Donald Trump sebagai Presiden AS a.l. saham sektor infrastruktur, media, dan properti.
Adapun, mantan Presiden AS Donald Trump unggul dalam perolehan suara melawan Wakil Presiden AS Kamala Harris sehingga memenangkan Pilpres AS untuk kedua kalinya dan mengukir sejarah.
Adapun, untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (8/11/2024).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG dibuka menguat pada posisi 7.263,96 pada pukul 09.00 WIB. IHSG bergerak di rentang 7.265,58-7.313,21 setelah pembukaan.
Tercatat, 240 saham menguat, 127 saham melemah, dan 574 saham bergerak di tempat. Kapitalisasi pasar IHSG terpantau menjadi Rp12.216 triliun.
Kompak Memerah, Intip 3 Saham Blue Chip Perbankan LQ45 pada Bursa Hari Kamis (7/11)
Berikut ini pergerakan saham Blue Chip Perbankan LQ45 pada Bursa Hari Kamis (7/11). Cek kinerja emiten ini selengkapnya [562] url asal
#bbri #blue-chip #ihsg #pt-bank-central-asia-bca-tbk #pt-bank-rakyat-indonesia-tbk #bmri #bbca #saham-bmri #unlisted #saham-bbca #saham-bbri #jangan-lewatkan #berita-nasional #indonesia #pemerintah
(Kontan-Investasi) 07/11/24 16:52
v/17679711/
Penulis: Bimo Kresnomurti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Simak pergerakan saham Blue Chip sektor perbankan LQ45 pada Hari Kamis (7/11). Ketiga, emiten tersebut adalah saham BBRI, BMRI, dan BBCA.
Pertama, ada saham BMRI (PT Bank Mandiri (Persero) Tbk) ditutup melemah. Saat bursa menutup perdagangan, saham BMRI berakhir di harga Rp 6.425 per saham.
Dibandingkan dengan penutupan hari Rabu (6/11), harga saham BMRI turun 1,91% dari Rp 6.550. Saham ini dibuka di bawah harga penutupan sehari sebelumnya, yaitu di Rp 6.500 per saham.
Sepanjang hari, saham BMRI mencatat harga tertinggi Rp 6.550 dan terendah Rp 6.425, dengan penurunan Rp 125 per saham pada penutupan.
Jika dilihat dari 7 hari yang lalu (31 Oktober 2024), harga saham BMRI mengalami penurunan sebesar -4,10% dari Rp 6.700.
Dalam setahun terakhir (sejak 7 November 2023), harga saham BMRI telah naik 9,36% dari Rp 5.875.
Menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi saham BMRI mencapai Rp 1.000,00 miliar dengan volume transaksi sebesar 1.547.585 lot.
Nilai laba bersih per saham (EPS) sebesar Rp 600, price to earning ratio (PER) saham ini tercatat 10,92 kali, dan price to book value (PBV) berada di 2,25 kali.

BBCA Turun Lebih dari 2%
Kemudian, ada saham BBCA (PT Bank Central Asia Tbk) ditutup melemah. Ketika pasar ditutup, saham BBCA berada di harga Rp 10.175 per saham.
Dari penutupan pada Rabu (6/11), saham BBCA turun 2,63% dari Rp 10.450. Pembukaan saham BBCA hari ini berada di bawah harga penutupan sebelumnya, tepatnya di Rp 10.325 per saham.
Sepanjang hari, saham BBCA mencapai harga tertinggi di Rp 10.450 dan terendah di Rp 10.175, dengan penurunan Rp 275 per saham pada penutupan.
Dibandingkan dengan 7 hari sebelumnya (31 Oktober 2024), harga saham BBCA hari ini turun sebesar -0,73% dari Rp 10.250.
Sejak setahun lalu (7 November 2023), harga saham BBCA sudah naik sebesar 13,37% dari Rp 8.975.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan total nilai transaksi saham BBCA mencapai Rp 1.348,90 miliar, dengan volume transaksi sebesar 1.315.791 lot.
Dengan laba per saham (EPS) sebesar Rp 444, price to earning ratio (PER) saham ini tercatat 23,54 kali, dan price to book value (PBV) berada di 5,04 kali.
Tonton:Kemenangan Donald Trump Makin Runtuhkan IHSG, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini
BBRI Turut Melemah
Terakhir, ada saham BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk) ditutup dengan penurunan. Saat pasar ditutup, harga saham BBRI berada di Rp 4.550 per saham.
Jika dibandingkan dengan penutupan hari Rabu (6/11), saham BBRI mengalami penurunan 1,09% dari Rp 4.600. Saham ini dibuka di atas harga penutupan sebelumnya, yaitu Rp 4.610 per saham.
Sepanjang hari, emiten Blue Chip ini mencapai harga tertinggi di Rp 4.640 dan terendah di Rp 4.550, dengan penurunan Rp 50 per saham pada akhir sesi.
Jika dilihat dari 7 hari lalu (31 Oktober 2024), harga saham BBRI telah turun 5,21% dari Rp 4.800. Dari setahun yang lalu (7 November 2023), harga saham BBRI turun sebesar 13,33% dari Rp 5.250.
BEI menunjukkan total transaksi saham BBRI mencapai Rp 1.355,60 miliar, dengan volume transaksi sebesar 2.962.186 lot. Saham ini memiliki EPS sebesar Rp 396, dengan PER 11,62 kali, dan PBVsebesar 2,16 kali.
Investasi Dana Pensiun di Saham dan Obligasi Korporasi Turun, Ini Kata Dapen BCA
Investasi industri dana pensiun di instrumen saham turun 9,27% menjadi Rp 26,4 triliun pada Agustus 2024 dari Rp 29,1 triliun pada Agustus 2023. [502] url asal
#suku-bunga #obligasi-korporasi #dana-pensiun-bca #volatilitas-pasar #saham-blue-chip #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #dana-pensiun
(Kontan-Keuangan) 04/11/24 18:28
v/17466281/
Reporter: Ferry Saputra | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Investasi industri dana pensiun di instrumen saham tercatat menurun 9,27% menjadi Rp 26,4 triliun pada Agustus 2024 dari Rp 29,1 triliun pada Agustus 2023. Selain itu, obligasi korporasi juga turun 6,33% dari Rp 61,6 triliun menjadi Rp 57,7 triliun.
Mengenai penurunan kedua instrumen itu, Dana Pensiun BCA (DPBCA) menilai hal tersebut dipicu pasar saham dan obligasi pada 2024 mengalami volatilitas yang cukup tinggi.
Direktur Utama Dana Pensiun BCA Budi Sutrisno menyebut volatilitas itu bisa disebabkan oleh ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi suku bunga, dan ketegangan geopolitik.
Budi mengatakan dana pensiun biasanya mengambil pendekatan strategi investasi yang lebih stabil dan lebih konservatif, terutama dalam kondisi pasar yang tidak pasti.
"Dengan demikian, volatilitas itu mendorong dana pensiun untuk mengurangi eksposur di instrumen-instrumen berisiko, seperti saham dan obligasi korporasi," ujarnya kepada Kontan, Senin (4/11).
Budi menambahkan adanya kenaikan suku bunga juga biasanya menambah tekanan pada korporasi, terutama yang memiliki leverage tinggi. Hal itu meningkatkan risiko kredit yang lebih tinggi di sektor korporasi sehingga membuat obligasi korporasi cenderung dikurangi dibandingkan obligasi pemerintah yang lebih rendah risiko.
"Dengan mengurangi investasi di saham dan obligasi korporasi yang cenderung lebih volatil, dana pensiun bisa meningkatkan likuiditas portofolio dan fokus pada instrumen yang lebih stabil, seperti deposito, SRBI, atau obligasi pemerintah," kata Budi.
Budi menerangkan Dana Pensiun BCA mencatatkan total investasi per September 2024 sebesar Rp 5,87 triliun. Nilai itu naik sebesar 8,4% jika dibandingkan per September 2023.
"Investasi terbesar di Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 36%," ucapnya.
Selain SBN, Budi bilang Dana Pensiun BCA menaruh investasi terbesar di instrumen tanah dan bangunan sebesar 15,84%, deposito berjangka dengan porsi 14,15%, penyertaan langsung sebesar 13,8%. Adapun instrumen obligasi, saham, dan reksadana sebesar 12,05%, sedangkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebesar 8,16%.
Lebih lanjut, seiring adanya potensi penurunan suku bunga lagi dan sentimen window dressing, Budi mengatakan pihaknya akan menerapkan strategi investasi yang tetap berfokus pada stabilitas dan keamanan portofolio, dengan mempertimbangkan profil risiko yang sesuai dengan kebutuhan dana pensiun hingga akhir tahun ini.
Dia menambahkan penurunan suku bunga berpotensi dapat menguntungkan bagi obligasi pemerintah atau korporasi. Sebab, harga obligasi biasanya naik saat suku bunga turun.
"Hal itu memberikan kesempatan untuk menambah alokasi pada obligasi, mengingat imbal hasil dan nilai portofolio obligasi akan mendapat keuntungan dari kondisi pasar. Mengingat juga adanya kewajiban alokasi minimum di obligasi pemerintah (minimal 30%), strategi itu memastikan kepatuhan sekaligus mengoptimalkan potensi pertumbuhan portofolio di tengah penurunan suku bunga," tuturnya.
Dengan adanya sentimen window dressing, Budi menyampaikan saham-saham berkapitalisasi besar yang likuid seringkali mendapat dorongan positif. Sebab, perusahaan dan institusi melakukan pembenahan akhir tahun pada laporan keuangan mereka. Dengan demikian, alokasi ke saham-saham blue chip dengan fundamental yang kuat, dapat menjadi pilihan, mengingat saham-saham tersebut cenderung lebih stabil dan diuntungkan dari permintaan akhir tahun.
"Namun, alokasi itu tetap perlu dibatasi sesuai batas maksimum investasi saham untuk masing-masing dana pensiun, dengan tetap mempertimbangkan profil risiko yang sesuai," ungkap Budi.
Dana Asing Masih Lari dari Pasar Saham, Dampak Indonesia Gabung BRICS?
Aliran dana asing sudah keluar Rp 5,69 triliun selama sebulan terakhir dan Rp 5,47 triliun sejak awal tahun. [1,463] url asal
#blue-chip #ihsg #indeks-harga-saham-gabungan-ihsg #net-sell #capital-outflow #net-sell-asing #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bincang-bursa
(Kontan-Investasi) 01/11/24 20:38
v/17324879/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dana asing masih mengalir keluar dari pasar saham. Hal ini mencerminkan kekhawatiran investor akan keputusan Indonesia untuk daftar menjadi anggota BRICS.
Melansir RTI, dana asing mengalir keluar dari pasar saham sebanyak Rp 616,16 miliar di pasar reguler pada perdagangan hari ini (1/11). Aliran dana asing sudah keluar Rp 5,69 triliun selama sebulan terakhir dan Rp 5,47 triliun sejak awal tahun alias year to date (YtD) di pasar reguler.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi jadi emiten yang paling banyak dilego asing dalam sebulan terakhir, yaitu sebanyak Rp 2,7 triliun. Di posisi kedua ada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang dijual asing Rp 973 miliar dalam sebulan.
Kemudian, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dijual asing Rp 800,2 miliar dalam sebulan, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dilepas asing Rp 318,8 miliar, dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dijual asing Rp 207,1 miliar.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat, sebagian investor asing saat ini lebih memilih untuk pindah ke surat berharga negara (SBN).
“Di sisi lain, rilis laporan keuangan jika hasilnya bagus, terutama untuk emiten big caps, tentu dapat menarik dana asing masuk ke pasar saham,” ujar Budi kepada Kontan.co.id, Kamis (31/10).
Asal tahu saja, Indonesia menyampaikan keinginannya untuk bergabung dalam BRICS dalam pertemuan KTT BRICS Plus di Rusia (24/10). Dengan pengumuman tersebut, proses Indonesia untuk bergabung menjadi anggota BRICS telah dimulai.
BRICS adalah aliansi yang beranggotakan lima negara besar yakni Brasil, Russia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS). Keanggotaan penuh BRICS bertambah setelah Iran, Mesir, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab bergabung. Arab Saudi juga diundang untuk menjadi anggota kelompok tersebut mulai 1 Januari 2024.
Jika Indonesia bergabung dengan BRICS, dampaknya akan positif buat investor China, tetapi akan kurang disukai oleh investor barat.
“Namun, efek mana yang lebih kuat, tidak tahu pasti. Tetapi mungkin investor asing tidak begitu yakin dengan kabinet baru Presiden Prabowo Subianto,” ungkapnya.
Ke depan, Budi melihat, sektor komoditas masih akan diminati oleh para investor. Apalagi jika harga komoditas bertahan sebagai akibat dari ketegangan tensi geopolitik yang belum usai.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus melihat, sejauh ini memang situasi dan kondisi global menyebabkan kekhawatiran para investor dan akibatnya menghantui pergerakan IHSG dalam beberapa waktu belakangan.
Sebut saja, tingginya tensi geopolitik, instabilitas politik di Jepang, stimulus ekonomi China yang tak kunjung datang, ketidakpastian hasil Pemilu Amerika Serikat (AS), serta data inflasi dan ketenagakerjaan AS yang keluar pada pekan ini.
“Hal ini yang membuat pelaku pasar dan investor cenderung khawatir, sehingga memilih untuk aksi ambil untung dan wait and see,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (31/10).
Nico melihat, dana asing kemungkinan masih akan terus keluar, setidaknya sampai stimulus ekonomi China keluar dan presiden baru AS terpilih.
Stimulus ekonomi dari pemerintah China untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi domestik mereka meningkatkan ekspektasi pelaku pasar dan investor bahwa perekonomian Negeri Tirai Bambu itu akan pulih. Apalagi, indeks saham China juga sudah terkoreksi cukup dalam, sehingga membuat valuasinya menjadi murah.
“Yang itu artinya menjadi sebuah kesempatan bagi investor asing untuk kembali masuk ke China,” imbuh Nico.
Potensi investor beralih ke obligasi juga ada, karena porsi investor asing di obligasi justru meningkat dan cukup stabil di kisaran 15% untuk saat ini.
“Terkait dampak dari laporan keuangan kuartal III 2024, itu lain hal. Sebab, investor memiliki target harga tertentu dan strategi dari portofolionya, sehingga keputusan masing-masing investor tentu akan berbeda,” paparnya.
Di sisi lain, hasil Pemilu AS memiliki bobot yang cukup besar untuk berdampak pada menyebabkan volatilitas pasar saat ini. Sebab, dampak kepemimpinan AS terhadap perekonomian global akan menentukan juga pertumbuhan ekonomi global ke depannya.
Menurut Nico, pasar lebih menginginkan Kamala Harris untuk memenangkan pemilu kali ini. Tetapi, peluang Donald Trump untuk memenangkan Pemilu AS juga tidak kalah kuat. Apalagi, Trump dinilai mampu mendorong kenaikan inflasi yang menyebabkan peluang tingkat suku bunga turun pada tahun depan menjadi terganggu.
“Belum lagi mengenai tarif dagang yang berpotensi kembali terjadi jika Trump kembali menang,” ungkapnya.
Jika Indonesia bergabung dengan BRICS, dampaknya akan positif ke pasar saham. Salah satu alasannya adalah BRICS memiliki misi untuk mencapai tujuan ekonomi bersama-sama di antara negara anggota, melancarkan koordinasi kebijakan ekonomi di antara negara anggota, dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Posisi BRICS penting karena kelompok ekonomi ini memiliki populasi gabungan sekitar 3,5 miliar juta jiwa yang setara dengan 45% penduduk dunia. Jika digabungkan semuanya, maka perekonomian anggotanya bernilai lebih dari US$ 28,5 triliun, atau 28% dari perekonomian global.
”Hal ini tentu saja akan memberikan dampak positif bagi Indonesia dan kita bisa memanfaatkan BRICS untuk dapat mendorong pertumbuhan ekonomi,” paparnya.
Di tengah volatilitas pasar masih terjadi, potensi aliran dana asing untuk masuk kembali ke bursa domestik masih sangat terbuka, lantaran perekonomian Indonesia yang masih stabil.
Meskipun ada stimulus tambahan dari pemerintah China, namun langkah-langkah pemulihan perekonomian negara tersebut juga belum cukup pasti. Hal itu membuat pelaku pasar dan investor menjadi bimbang dan ragu.
Oleh sebab itu, alokasi untuk inflow dana asing ke Indonesia pasti ada dan terbuka. Apalagi, dengan adanya pemerintahan baru yang memberikan optimisme baru bagi pelaku pasar dan investor untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi di 8% pada tahun depan.
Para investor asing juga akan memperhatikan sektor yang memiliki korelasi positif terhadap rencana kerja pemerintah, terutama dengan adanya program makan bergizi gratis.
“Aliran dana asing yang keluar itu sementara ini masuk ke China, karena masih dinilai sangat menarik bagi para investor asing,” tuturnya.
Nico melihat, para investor asing juga akan segera melakukan rebalancing portofolio investasi mereka menjelang tahun baru. Hal tersebut bisa membuat para investor asing kemungkinan kembali masuk bertransaksi di pasar saham domestik.
“Sektor yang dilihat menarik bagi para investor asing adalah sektor consumer non-cyclical, consumer cyclical, keuangan, energi, properti, dan otomotif,” ungkapnya.
Praktisi Pasar Modal dan Founder Stocknow.id Hendra Wardana melihat, keluarnya dana asing dari pasar saham menunjukkan kehati-hatian yang meningkat dari investor asing terhadap pasar saham domestik.
Penyebab utama keluarnya dana ini beragam. Mulai dari kekhawatiran terhadap ketidakpastian ekonomi global, hingga penilaian bahwa pasar saham Indonesia saat ini kurang menarik dibandingkan pasar atau instrumen investasi lain.
Musim rilis laporan keuangan kuartal III biasanya menjadi daya tarik bagi investor. Namun, hasil laporan yang mungkin tidak memenuhi ekspektasi atau bahkan volatilitas ekonomi global bisa saja menurunkan minat asing.
“Selain itu, dana yang keluar ini cenderung berpindah ke aset yang lebih aman, seperti obligasi atau ke negara-negara dengan fundamental ekonomi lebih stabil,” kata Hendra kepada Kontan.co.id, Kamis (31/10).
Kekhawatiran investor asing bisa juga dipicu oleh keputusan Indonesia untuk bergabung dengan BRICS. Masuknya Indonesia ke aliansi non-barat, seperti BRICS, dapat menimbulkan sentimen negatif bagi investor barat yang berpengaruh di pasar Indonesia.
Terutama, jika melihat ketegangan politik global dan potensi perubahan kebijakan dari negara-negara barat, seperti Amerika Serikat.
Menurut Hendra, investor asing mungkin merasa khawatir jika kebijakan ekonomi Indonesia bergeser ke arah yang lebih condong pada BRICS, sementara AS cenderung memiliki pandangan yang kurang sejalan dengan BRICS. Apalagi, potensi kemenangan Trump cukup besar dalam Pemilu AS kali ini.
“Jika hubungan dengan negara-negara barat menjadi lebih tegang, ini bisa berdampak pada aliran dana asing ke pasar modal domestik, karena investor cenderung menghindari risiko geopolitik,” katanya.
Prospek aliran masuk dana asing di sisa tahun 2024 hingga 2025 pun masih banyak menemui tantangan. Misalnya, dari hasil pemilihan presiden di AS dan potensi kenaikan suku bunga oleh bank sentral dunia.
Di sisi lain, sentimen positif yang bisa menarik dana asing juga ada. Seperti, stabilitas politik dalam negeri, kebijakan fiskal yang pro-pertumbuhan, dan fundamental ekonomi yang solid.
“Jika tren aliran dana asing masih keluar, besar kemungkinan dana tersebut akan mengalir ke aset yang lebih aman, seperti obligasi AS atau pasar saham di negara-negara dengan prospek pertumbuhan stabil dan risiko yang lebih rendah,” ungkapnya.
Beberapa saham, seperti BBRI, BMRI, dan BBCA, menjadi pilihan yang banyak dijual asing. Penyebabnya kemungkinan karena aksi profit taking atau perubahan portofolio yang mencerminkan kehati-hatian para investor asing.
Emiten yang berpotensi dilepas asing dalam waktu dekat bisa jadi adalah saham-saham yang bergantung pada sentimen domestik, seperti sektor perbankan dan energi.
“Sementara, saham yang prospektif di mata asing ke depannya kemungkinan berasal dari sektor infrastruktur dan energi terbarukan. Ini mengingat dukungan BRICS terhadap energi hijau dan infrastruktur di negara berkembang,” tuturnya.
Hendra pun menilai PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), PT Blue Bird Tbk (BIRD), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) masih menarik untuk dilirik dengan target harga masing-masing Rp 1.655 per saham, Rp 150 per saham, Rp 2.200 per saham, dan Rp 3.200 per saham.
“Di tengah ketidakpastian dan kekhawatiran akibat bergabungnya Indonesia dengan BRICS, saham-saham tersebut menawarkan prospek stabilitas serta pertumbuhan yang bisa memikat minat asing jika sentimen global kembali mendukung,” tuturnya.
Cek Kinerja Emiten Bank Blue Chip LQ45 di Hari Rabu (30/10), Ada BBCA, BMRI, dan BBRI
Berikut ini kinerja emiten Bank Blue Chip LQ45 di Hari Rabu (30/10). Investor wajib cek pergerakan saham BBCA, BMRI, dan BBRI [601] url asal
#bbri #blue-chip #ihsg #pt-bank-central-asia-tbk-bbca #pt-bank-mandiri-tbk #pt-bank-rakyat-indonesia-tbk #saham-bmri #unlisted #saham-bbca #saham-lq45 #jangan-lewatkan #harga-saham-bbri #berita-nasi
(Kontan-Investasi) 30/10/24 16:38
v/17211810/
Penulis: Bimo Kresnomurti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Simak informasi terkait harga saham BBRI, BMRI, dan BBCA yang beda arah pada Bursa Rabu (30/10). Ketiga emiten bank Blue Chip LQ45 patut dipantau memasuki akhir bulan Oktober 2024.
Pertama, ada saham BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk) ditutup dengan kenaikan. Pada akhir sesi perdagangan, harga saham BBRI berada di level Rp 4.710 per saham.
Jika dibandingkan dengan penutupan pada Selasa (29/10), harga saham BBRI meningkat sebesar 0,21% dari Rp 4.700. Saham ini dibuka di bawah harga penutupan sebelumnya, yaitu Rp 4.630 per saham.
Saham BBRI mencatatkan harga tertinggi di Rp 4.750 dan terendah di Rp 4.630, sehingga ditutup naik Rp 10 per saham dalam sehari.
Dalam perhitungan sejak 7 hari yang lalu (23 Oktober 2024), harga saham BBRI telah turun 3,09% dibandingkan harga saat itu (Rp 4.860). Dari satu tahun lalu (30 Oktober 2023), harga saham BBRI mengalami penurunan sebesar 5,80% dari harga Rp 5.000.
Pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total nilai transaksi saham BBRI mencapai Rp 1.384,90 miliar, dengan volume saham yang diperdagangkan mencapai 2.957.986 lot.
Dengan laba bersih per saham (EPS) sebesar Rp 392, rasio harga terhadap laba (PER) saham ini adalah 11,99 kali, dan rasio harga terhadap nilai buku (PBV) sebesar 2,33 kali.

BMRI Turun Lebih dari 1%
Selanjutnya, ada saham BMRI (PT Bank Mandiri (Persero) Tbk) ditutup mengalami penurunan. Pada akhir sesi perdagangan, harga saham BMRI berada di level Rp 6.750 per saham.
Dibandingkan dengan penutupan pada Selasa (29/10), harga saham BMRI turun 1,10% dari Rp 6.825. Saham ini dibuka di bawah harga penutupan sebelumnya, yakni Rp 6.575 per saham.
Saham BMRI mencatat harga tertinggi di Rp 6.775 dan terendah di Rp 6.575, sehingga ditutup turun Rp 75 per saham dalam sehari.
Dalam perhitungan sejak 7 hari yang lalu (23 Oktober 2024), harga saham BMRI mengalami penurunan sebesar 4,59% dibandingkan dengan harga saat itu (Rp 7.075).
Dari satu tahun lalu (30 Oktober 2023), harga saham BMRI meningkat sebesar 17,90% dari harga Rp 5.725.
Pihak BEI melaporkan total nilai transaksi saham BMRI mencapai Rp 815,90 miliar, dengan volume saham yang diperdagangkan mencapai 1.220.980 lot.
Hitungan laba bersih per saham BMRI adalah sebesar Rp 569, rasio harga terhadap laba saham ini adalah 11,99 kali, dan rasio harga terhadap nilai buku dari BMRI sebesar 2,50 kali.
Tonton: Lima Hari Beruntun IHSG Turun, Asing Terus Net Sell, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
BBCA Turut Melemah
Terakhir ada saham BBCA (PT Bank Central Asia Tbk) ditutup dengan penurunan di level Rp 10.350 per saham. Jika dibandingkan dengan penutupan pada Selasa (29/10), harga saham BBCA mengalami penurunan sebesar 1,43% dari Rp 10.500.
Saham ini dibuka di bawah harga penutupan sebelumnya, tepatnya pada Rp 10.275 per saham. BBCA mencatatkan harga tertinggi di Rp 10.400 dan terendah di Rp 10.275, sehingga ditutup turun Rp 150 per saham dalam sehari.
Dalam perhitungan sejak 7 hari yang lalu (23 Oktober 2024), harga saham BBCA telah turun 2,82% dibandingkan harga saat itu (Rp 10.650).
Lewat satu tahun lalu (30 Oktober 2023), harga saham BBCA meningkat sebesar 16,95% dari harga Rp 8.850.
Catatan BEI ungkap total nilai transaksi saham BBCA mencapai Rp 1.182,50 miliar, dengan volume saham yang diperdagangkan mencapai 1.144.740 lot.
Dari laba bersih per saham sebesar Rp 444, rasio harga terhadap laba saham ini adalah 23,65 kali, dan rasio harga terhadap nilai buku sebesar 5,06 kali.
Beda Arah, Cek Saham Bank Blue Chip LQ45 saat IHSG Memerah pada Rabu (23/10)
Berikut ini pergerakan harga saaham Bank Blue Chip LQ45 pada Rabu (23/10). Cek informasi selengkapnya [574] url asal
#bank-mandiri #bbri #blue-chip #ihsg #lq45 #pt-bank-central-asia-tbk-bbca #pt-bank-rakyat-indonesia-tbk #saham-bmri #unlisted #saham-bbca #saham-bbri #jangan-lewatkan #berita-nasional #indonesia #pe
(Kontan-Investasi) 23/10/24 17:10
v/16899229/
Penulis: Bimo Kresnomurti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Simak harga saham bank blue chip LQ45 saat IHSG Memerah pada Rabu (23/10). Ada tiga emiten bank seperti BBCA, BBRI, dan BMRI yang beda arah di perdagangan pekan keempat bulan Oktober 2024.
Pertama, ada saham BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia Tbk) ditutup melemah pada akhir perdagangan. Pada saat penutupan, harga saham BBRI berada di Rp 4.860 per saham, turun 0,82% dibanding penutupan hari sebelumnya di Rp 4.900.
Saham BBRI dibuka lebih rendah dari penutupan sebelumnya, yaitu di Rp 4.830 per saham.
Sepanjang hari, saham ini mencatatkan harga tertinggi di Rp 4.890 dan harga terendah di Rp 4.810, dengan penurunan sebesar Rp 40 per saham dalam satu hari.
Jika dihitung sejak tujuh hari sebelumnya (16 Oktober 2024), saham BBRI telah turun 1,82% dari Rp 4.950. Sementara itu, jika dibandingkan dengan setahun lalu (23 Oktober 2023), saham ini mengalami penurunan sebesar 2,80% dari Rp 5.000.
Pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi saham BBRI mencapai Rp 1,077,90 miliar, dengan volume perdagangan sebesar 2.221.473 lot.
Berdasarkan laba bersih per saham (EPS) sebesar Rp 392, rasio price to earnings (PER) saham BBRI adalah 12,50 kali, dan rasio price to book value (PBV) sebesar 2,43 kali.

Tonton:Delapan Hari IHSG Menguat Beruntun, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini dari Analis
BMRI Alami Stagnansi
Selanjutnya, ada saham BMRI (PT Bank Mandiri Tbk) ditutup pada harga yang sama seperti hari perdagangan sebelumnya, yaitu Rp 7.075 per saham. Dibandingkan dengan penutupan Selasa (22/10), tidak ada perubahan harga, tetap berada di level yang sama (0,00%).
Pada hari tersebut, saham BMRI dibuka pada harga yang sama dengan penutupan sehari sebelumnya, yaitu Rp 7.075 per saham.
Sepanjang perdagangan, harga tertinggi yang tercatat adalah Rp 7.125 dan terendah Rp 7.025, namun akhirnya saham ditutup tanpa perubahan, dengan kenaikan harian sebesar Rp 0 per saham.
Ketika dibandingkan dengan harga seminggu lalu (16 Oktober 2024), saham BMRI telah naik 1,07% dari Rp 7.000. Dari jangka waktu setahun (23 Oktober 2023), harga saham BMRI telah meningkat 24,67% dari Rp 5.675.
BEI mencatat transaksi saham BMRI mencapai nilai total Rp 269,80 miliar dengan volume transaksi sebanyak 382.229 lot. Lewat laba bersih per saham (EPS) sebesar Rp 569, BMRI memiliki rasio price to earnings (PER) sebesar 12,43 kali dan rasio price to book value (PBV) sebesar 2,60 kali.
BBCA Naik Tipis
Saham BBCA (Bank Central Asia Tbk) ditutup dengan kenaikan. Pada akhir sesi perdagangan, saham BBCA berada di harga penutupan Rp 10.650 per saham, mengalami kenaikan 1,43% dari penutupan sebelumnya di Rp 10.500. Saham BBCA dibuka di bawah harga penutupan hari sebelumnya, yakni Rp 10.475 per saham.
Sepanjang perdagangan, harga tertinggi yang dicapai adalah Rp 10.650, sedangkan harga terendahnya Rp 10.475. Secara keseluruhan, saham ini naik Rp 150 per saham dalam sehari.
Dari hitungan seminggu yang lalu (16 Oktober 2024), saham BBCA telah naik 1,67% dari Rp 10.475. Sedangkan dibandingkan dengan setahun lalu (23 Oktober 2023), harga saham BBCA sudah naik 20,34% dari Rp 8.850.
Total nilai transaksi saham BBCA yang tercatat BEI adalah sebesar Rp 518,70 miliar, dengan volume transaksi mencapai 489.030 lot.
Berdasarkan laba bersih per saham (EPS) Rp 436, saham BBCA memiliki rasio price to earnings (PER) sebesar 24,08 kali dan rasio price to book value (PBV) sebesar 5,38 kali.
Alternatif Saat Blue Chip Tertekan, Simak Saham Lapis Kedua Pilihan Analis
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tampak melambat di tengah tekanan pada saham blue chip lapis pertama. [730] url asal
#blue-chip #ihsg #capital-outflow #rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #big-cap #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 27/09/24 07:45
v/15614618/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tampak melambat di tengah tekanan pada saham blue chip lapis pertama dengan kapitalisasi pasar besar (big cap). IHSG menutup perdagangan Kamis (26/9) dengan kenaikan tipis 0,05% ke level 7.744,51.
Pergerakan sejumlah saham blue chip tertinggal dan menjadi pemberat indeks (laggard). Top laggard secara harian diisi oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Sejumlah indeks yang dominan diisi oleh saham blue chip dan big cap lapis pertama juga melandai, seperti LQ45 dan IDX30. Kedua indeks tersebut masing-masing melemah 0,68% dan 0,55% secara harian. Sedangkan indeks saham papan utama (main board) stagnan.
Berbanding terbalik dengan indeks saham papan pengembangan (development board) yang melejit 1,28%. Begitu juga dengan indeks yang identik dengan saham lapis kedua (second liner), yakni IDX SMC Liquid dan SMC Composite yang masing-masing naik 0,88% dan 0,48%.
Analis Stocknow.id Abdul Haq Alfaruqy mengamati koreksi IHSG sejalan dengan arus dana keluar dari investor asing (capital outflow) yang cukup masif.
Situasi ini sebagai imbas dari kucuran stimulus ekonomi di China, yang mendorong ketertarikan investor asing untuk memindahkan dana ke pasar keuangan di Negeri Panda tersebut.
"Pasar keuangan China saat ini menjadi perhatian para investor dan big fund. Untuk IHSG, masih dalam bullish trend. Tetapi perlu diperhatikan saham blue chip perbankan dan beberapa sektor lainnya mengalami pelemahan," kata Abdul Haq kepada Kontan.co.id, Kamis (26/9).
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menambahkan, perlambatan laju IHSG masih terbilang wajar selama mampu bertahan di atas level psikologis 7.700.
William mengamini tekanan IHSG disebabkan oleh posisi jual bersih (net sell) dari investor asing, akibat sentimen dari stimulus ekonomi di China.
Adapun, net sell pada perdagangan Kamis (26/9) mencapai Rp 2,53 triliun di pasar reguler atau akumulasi Rp 2,27 triliun di seluruh pasar. Dalam posisi tersebut, saham-saham lapis pertama lebih rentan terpapar outflow investor asing.
William melihat saham lapis kedua kembali mendapatkan momentum sebagai alternatif saat saham lapis pertama tertekan.
Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi membenarkan, dalam situasi pasar saat ini ada potensi rotasi ke saham-saham lapis kedua.
Catatan Audi, pelaku pasar mesti tetap selektif. Di tengah sentimen stimulus ekonomi di China, investor bisa memperhatikan saham di sektor energi dan barang baku.
Kedua sektor ini berpotensi terpapar sentimen positif dari pergerakan aktivitas industri di China, yang akan mendorong permintaan dan harga komoditas.
Selain sentimen dari stimulus ekonomi China, Audi menyoroti sikap investor yang mulai mengantisipasi musim rilis kinerja keuangan kuartal III-2024.
Di sisi lain, dia mengingatkan investor juga perlu mengantisipasi koreksi IHSG jika sudah mulai bergerak di bawah level 7.700.
Senior Research Analyst Lotus Andalan Sekuritas Fath Aliansyah menambahkan, pelaku pasar turut mencermati bagaimana dinamika menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, sekaligus susunan kabinet baru pada bulan depan.
Fath pun menaksir gerak melandai IHSG hanya sementara, sehingga bisa kembali rebound.
Dengan begitu, investor dapat memilih saham lapis pertama maupun lapis kedua, asalkan memiliki cerita atau momentum yang menarik.
Fath mencontohkan koreksi pada saham perbankan bisa membawa peluang untuk buy on weakness. Pelaku pasar juga bisa melirik saham bank lapis kedua seperti PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).
Sektor lain yang menarik dilirik adalah kesehatan dan emiten di industri kelapa sawit yang banyak dihuni oleh saham lapis kedua.
Fath merekomendasikan saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).
Sedangkan William melihat ujian pada IHSG dan saham lapis pertama setidaknya bisa terjadi hingga awal Oktober 2024. Dus, pada rentang periode tersebut pelaku pasar bisa melirik saham-saham lapis kedua dari sektor properti dan emiten ritel.
William menyematkan rekomendasi buy untuk saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI).
Audi menyarankan trading buy saham PT Timah Tbk (TINS) dengan target harga di Rp 1.280.
Sedangkan Abdul Haq menjagokan saham LSIP untuk target harga Rp 1.080 - Rp 1.115 dan PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) dengan target harga di Rp 1.380 - Rp 1.450 per saham.
Menilik Prospek Kinerja Saham Blue Chip yang Masih Laggard
Kinerja sejumlah saham keping biru alias blue chip tercatat masih tertekan dalam jangka waktu yang lama. [535] url asal
#blue-chip #ihsg #indeks-harga-saham-gabungan-ihsg #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 20/09/24 18:39
v/15299213/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja sejumlah saham keping biru alias blue chip tercatat masih tertekan dalam jangka waktu yang lama.
Kinerja para emiten blue chip ini tercatat juga ketinggalan jauh sejak awal tahun 2024. Padahal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tengah melaju kencang.
Sebut saja PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Melansir RTI, saham UNVR sudah turun 38,53% secara year to date (YTD) dan anjlok 75,11% dalam lima tahun terakhir.
PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatatkan penurunan kinerja saham sebesar 23,74% YTD dan 81,12% dalam lima tahun terakhir. Saham PT Astra International Tbk (ASII) turun 7,52% YTD dan 25,62% dalam lima tahun terakhir.
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sahamnya tercatat sudah turun 20,25% YTD dan terkoreksi 16,45% dalam lima tahun terakhir. Saham PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) sudah turun 25,14% YTD dan anjlok 80,80% dalam lima tahun terakhir.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat, kinerja GGRM dan HMSP terkoreksi akibat aturan cukai rokok yang menyebabkan harga rokok makin tinggi.
Selain itu, ada faktor lain yaitu semakin sadarnya masyarakat akan bahaya merokok yang meningkatkan kampanye anti rokok.
“Sementara, UNVR lemah kinerjanya karena penurunan daya beli masyarakat dan juga maraknya persaingan,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (20/9).
Sementara, kinerja ASII dan TLKM melemah karena kerugian investasi mereka di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan ancaman para pesaing, yaitu electric vehicle (EV) dan starlink.
“Sektor otomotif juga agak tertekan, karena semakin lemahnya daya beli kelas menengah,” paparnya.
Di era suku bunga yang mulai rendah, kinerja ASII kemungkinan akan berangsur pulih. Hal ini terkait dengan penurunan bunga kredit kendaraan bermotor yang bisa meningkatkan permintaan pembelian.
“ASII dapat sentimen positif untuk divisi otomotif dan perusahaan-perusahaan pembiayaannya,” tuturnya.
Bagi yang sudah memegang saham-saham blue chip yang masih laggard, investor bisa tetap hold saham yang rutin membagikan dividen dalam jumlah yang cukup besar.
“Boleh juga ditambah kepemilikannya jika investor yakin harga saham para emiten akan rebound, terutama yang earning per share (EPS) masih stabil atau naik. Untuk yang tidak kasih dividen dan EPS menurun, silakan lakukan rebalancing,” ungkapnya.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas melihat, faktor pertimbangan investor masuk ke saham-saham secara umum biasanya adalah karena ada potensi pertumbuhan kinerja dan valuasi yang murah. Jika tidak, saham tersebut pasti akan ditinggalkan oleh investor.
“Misalnya, saham UNVR yang terus bergerak turun karena kinerja dalam beberapa tahun terus mengalami penurunan di tengah valuasi yang relatif mahal,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (19/9).
Selain itu, prospek industrinya juga yang mungkin memberatkan kinerjanya. Contohnya, industri rokok yang dalam beberapa tahun terakhir terhambat oleh kebijakan pemerintah terkait cukai yang sedikit kurang bersahabat.
”Ekspektasi pasar lebih cenderung negatif membuat pasar cenderung keluar dulu sambil melihat perkembangan kinerjanya. Seperti, ASII yang sebelumnya terkena imbas pesaing, khususnya BYD,” paparnya.
Ke depannya, Sukarno melihat kinerja ASII diproyeksikan masih bisa kembali menguat.
Hal itu terlihat dari pergerakan teknikal sahamnya yang sudah masuk fase uptrend. Faktor valuasi saham ASII yang sudah terdiskon juga membuat peluang saham perseroan bisa naik kembali.
“Sentimen penurunan suku bunga diharapkan bisa berdampak positif atas permintaan produk-produk Astra,” ungkapnya.
Sukarno merekomendasikan beli untuk ASII dengan target harga Rp 5.400 per saham.
IHSG Ngebut Rekor Tertinggi, Analis Rekomendasi Beli Saham Blue Chip Harga Murah Ini
Analis rekomendasi buy saham ASII dan TLKM dengan masing-masing target harga Rp 5.600 dan Rp 3.900 [907] url asal
#blue-chip #saham-tlkm #rekomendasi-saham #saham-asii #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 20/09/24 07:15
v/15270547/
Reporter: Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham bergairah pasca kebijakan penurunan suku bunga acuan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju hingga menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah. Saat IHSG ngebut, harga sejumlah saham blue chip masih tertinggal atau laggard dan layak dikoleksi untuk meraih cuan.
IHSG pada perdagangan Kamis 19 September 2024 ditutup di level 7.905,39 naik 76,26 poin atau 0,97%. Ini merupakan posisi IHSG tertinggi dalam sejarah.
Dalam perdagangan seminggu terakhir, IHSG terakumulasi meningkat 116,56 poin atau 1,50%.
Deretan saham berkategori blue chip seperti PT Astra International Tbk (ASII), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) masih tertinggal atau laggard. Padahal saham-saham blue chip tersebut secara bisnis menjadi market leader di tiap sektor-nya.
Berdasarkan data RTI, saham GGRM parkir di level Rp 15.900 per saham pada penutupan perdagangan Kamis (19/9) atau melorot 80,92% dalam 5 tahun terakhir perdagangan.
Begitu pun dengan saham blue chip lainnya kompak mengalami penurunan dalam 5 tahun terakhir. Harga saham ASII turun 26,48%, lalu ada UNVR turun 26,48%, HMSP jeblok 75,11% dan TLKM anjlok 17,15%.
Mayoritas saham tersebut pun dinilai belum bisa lagi melompat ke level tertingginya.
Head Customer Literation and Education PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi menilai, penurunan harga saham tersebut disebabkan oleh faktor kinerja emiten yang cenderung stagnan hingga penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Misalnya, UNVR mencatatkan Compound Annual Growth Rate (CAGR) untuk Earnings per Share (EPS) atau Laba Per Saham (LPS) dalam 3 tahun terakhir sebesar turun 12,5%, lalu GGRM sebesar turun 11,4% dan HMSP sebesar koreksi 1,92%.
Audi bilang, terdapat korelasi positif antara kinerja yang menurun dengan penurunan harga saham, seperti dalam 3 tahun terakhir harga saham HMSP terkoreksi 22,7%, UNVR turun 43% dan GGRM ambles 50%.
"Sentimennya kami lihat beragam, seperti dari GGRM dan HMSP yang memang marginnya terus tergerus seiring dengan kenaikan cukai rokok tiap tahunnya," kata Audi kepada Kontan, Kamis (19/9).
Menurutnya, produsen rokok akan cukup sulit untuk kembali ke masa tertingginya lagi di tengah fokus pemerintah yang masih mencoba mengurangi konsumen rokok dengan terus menaikkan tarif cukai rokok. Bahkan GGRM meski mencatatkan laba di tahun 2023, manajemen memutuskan tidak membagikan dividen.
Ia berpendapat, kondisi tersebut menjadi sentimen yang memberatkan karena salah satu ketertarikan investor di produsen rokok adalah dividen.
"Khusus untuk produsen rokok, investor dapat memanfaatkan jika ada kenaikan untuk jangka pendek saja dan dapat diversifikasi dengan sektor lain," ujarnya.
Kendati demikian, Audi melihat ASII masih berpeluang untuk menguat ke depannya. Ia menilai, koreksi saham yang terjadi pada ASII ini lebih disebabkan oleh pengetatan kebijakan moneter dari suku bunga, yang pada akhirnya berdampak pada permintaan kendaraan.
Direktur PT Rumah Para Pedagang Kiswoyo menilai saham GGRM, UNVR dan HMSP yang masuk ke jenis sektor konsumer ambles dikarenakan bobot pada IHSG yang mengecil, efek dari adanya penawaran umum perdana saham (IPO) pada PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) dan PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) beberapa waktu lalu.
"Jadi zaman dahulu itu, bobot IHSG nomor satu nomor perbankan. Yang kedua itu konsumer seperti GGRM, UNVR dan HMSP. Namun, karena ada IPO BUKA dan lanjut GOTO, itu bobotnya diubah perhitungannya, nah yang ketiga emiten ini ambles," kata Kiswoyo kepada Kontan, Kamis (19/9).
Bobot yang menciut pada emiten di bidang konsumer itu membuat para manajer investasi menjual saham-saham tersebut. Ditambah lagi, ada sentimen kenaikan tarif cukai rokok yang membuat kinerja produsen rokok anjlok.
"Sektor rokok memang kena hajar lagi. Jadi keuntungan mereka tergerus," ucapnya.
Di samping itu, Kiswoyo melihat pergerakan saham ASII yang masih laggard karena turunnya penjualan mobil dan masuknya mobil asal China. Namun, sentimen ini dinilai bersifat sementara sehingga saham ASII ke depannya masih berpeluang tumbuh.
"ASII pasti akan naik, tinggal tunggu waktu saja. Kalau untuk HMSP, GGRM dan UNVR itu sulit naik lagi karena bobot IHSG kecil. Susah," tuturnya.
Sementara untuk saham TLKM juga berpotensi tumbuh setelah sebelumnya terkena sentimen dari masuknya Starlink ke Indonesia. "Seharusnya mereka sudah pulih. Net profit mereka bisa tumbuh meski tipis dan pendapatan juga tumbuh. Seharusnya ini tidak ada masalah," tutupnya.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus optimis pergerakan saham blue chip yang laggard tersebut masih bisa tumbuh positif.
Asalkan, perusahaan-perusahaan itu bisa agile dengan setiap perubahan, mampu memitigasi risiko dan didukung oleh regulasi pemerintah.
Hal itu terlihat dari strategi ASII dan TLKM yang terus mendiversifikasi bisnis dan tanggap atas perubahan era.
Nico merekomendasikan untuk buy saham ASII dan TLKM dengan masing-masing target harga Rp 5.600 per saham dan Rp 3.900 per saham.
Sementara Audi merekomendasikan buy untuk saham ASII dengan target harga di level Rp 5.500
Kemudian, Kiswoyo merekomendasikan buy saham ASII dengan target harga Rp 6.500 - Rp 7.000 per saham dan buy saham TLKM dengan target harga Rp 4.500 per saham.
BERITA POPULER: Ada Saham Blue Chip Baru hingga Low Tuck Kwong Caplok Perusahaan Sawit
Berita populer dalam 24 jam terakhir, mulai dari ada saham blue chip baru hingga Low Tuck Kwonng caplok perusahaan sawit - Halaman all [223] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #berita-populer #saham-blue-chip #blue-chip #low-tuck-kwong #akusisi-perusahaan-sawit #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 04/09/24 05:00
v/14900274/
JAKARTA, investor.id – Sebagai media online yang kredibel di bidang ekonomi, terutama investasi dan keuangan, investor.id telah menjadi inspirasi bagi banyak orang dalam berinvestasi. Berikut 5 berita paling populer hingga Selasa (3/9/2024):
1. Selamat Datang Saham Blue Chip Baru, Potensi Cuan 47%
Selamat datang saham blue chip baru, yakni PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) atau PIK2. Bahkan, potensi cuannya mencapai 47%. Simak ulasannya
2. Low Tuck Kwong Caplok Perusahaan Sawit
Low Tuck Kwong melalui PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan PT Bayan Energy mengakuisisi 100% saham perusahaan sawit, Berapa nilainya?
3. Saham 'Of The Year' Menolak Tumbang
Saham ini mencetak gain tertinggi sepanjang tahun berjalan. Saham ini sempat anjlok 10% mentok auto reject bawah (ARB pada perdagangan 3 September 2024 sebelum pukul 11.00 WIB. Namun kemudian saham ini bangkit dengan diparkir melesat 10% mentok auto reject atas (ARA). Saham apakah itu?
4. Saham Bumi Resources (BUMI) Naik Terus, Ternyata Masih Murah
Saham Bumi Resources (BUMI) terus menanjak. Meski demikian, harga saham BUMI ternyata masih murah alias undervalued. Mengapa?
5. Saham Prioritas di Sektor Batu Bara Bergeser dari ADRO ke UNTR
Saham prioritas di sektor batu bara bergeser ke United Tractors (UNTR) dari sebelumnya Adaro Energy (ADRO). Kok bisa?
Editor: Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Mengenal Saham Blue Chip: Pengertian, Keuntungan, dan Contohnya Halaman all
Saham blue chip adalah saham dari perusahaan-perusahaan besar dengan reputasi kuat, kondisi keuangan stabil, dan rekam jejak pertumbuhan konsisten Halaman all?page=all [359] url asal
#saham-blue-chip #saham-blue-chip-adalah #apa-yang-dimaksud-dengan-saham-blue-chip
(Kompas.com) 30/08/24 23:56
v/14844094/
JAKARTA, KOMPAS.com - Bagi para investor, terutama mereka yang baru terjun ke dunia saham, istilah saham blue chip mungkin sudah tidak asing lagi.
Saham blue chip sering kali disebut-sebut sebagai salah satu pilihan investasi yang paling aman dan menguntungkan.
Tetapi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan saham blue chip, dan apa saja keunggulan serta risikonya?
Apa Itu Saham Blue Chip?
Dilansir dari laman Sikapi Uangmu OJK, saham blue chip adalah saham dari perusahaan-perusahaan besar yang memiliki reputasi kuat, kondisi keuangan yang stabil, dan rekam jejak pertumbuhan yang konsisten.
Perusahaan-perusahaan ini biasanya merupakan pemimpin di industrinya masing-masing, dengan pendapatan yang stabil dan konsistensi dalam membayar dividen kepada para pemegang saham.
Istilah "blue chip" sendiri berasal dari permainan poker, di mana chip berwarna biru memiliki nilai tertinggi dibandingkan dengan chip berwarna lain.
Manfaat Investasi Saham Blue Chip
1. Stabilitas Investasi
Salah satu alasan utama investor memilih saham blue chip adalah stabilitasnya.
Saham ini cenderung lebih tahan terhadap gejolak pasar dibandingkan dengan saham dari perusahaan yang lebih kecil atau kurang dikenal.
2. Dividen yang Konsisten
Banyak perusahaan dengan saham blue chip membayar dividen secara teratur, memberikan pendapatan tambahan yang stabil bagi para investor.
3. Baik untuk Jangka Panjang
Karena reputasi dan stabilitasnya, saham blue chip sering kali dianggap sebagai pilihan investasi jangka panjang yang baik.
Investor cenderung mempertahankan saham ini dalam portofolio mereka selama bertahun-tahun, mengandalkan pertumbuhan stabil dan dividen reguler.
Risiko Saham Blue Chip
Meskipun saham blue chip memiliki banyak keunggulan, mereka tidak sepenuhnya bebas dari risiko:
Arah IHSG dan Rekomendasi Saham Unggulan Analis Menyambut RAPBN 2025
Dalam RAPBN 2025 tersebut, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2% dengan tingkat inflasi 2,5%. [1,092] url asal
#blue-chip #ihsg #indeks-harga-saham-gabungan-ihsg #rekomendasi-saham #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan) 18/08/24 17:58
v/14513288/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun ke-79 Republik Indonesia, pemerintah menyampaikan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2025. Ini merupakan RAPBN transisi untuk pemerintahan Presiden terpilih, yang akan dilantik pada 20 Oktober 2024.
Dalam RAPBN 2025 tersebut, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2% dengan tingkat inflasi 2,5%. Penerimaan negara diperkirakan mencapai Rp 2.996,9 triliun, dengan belanja negara sebesar Rp 3.613,1 triliun.
Pada periode yang sama, estimasi defisit anggaran sekitar 2,53% dari Gross Domestic Product (GDP). Sementara itu, asumsi nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2025 sebesar Rp 16.100 per dolar Amerika Serikat (AS).
Beberapa poin yang menarik perhatian adalah anggaran pendidikan yang melonjak menjadi Rp 722,6 triliun, terdongkrak oleh program Makan Bergizi Gratis sebesar Rp 71 triliun. Sedangkan anggaran pembangunan infrastruktur menyusut sekitar 5,3% menjadi Rp 400,3 triliun.
Head of Institutional Research Sinarmas Sekuritas Isfhan Helmy mengamati pelaku pasar cenderung merespons positif RAPBN 2025, setidaknya dalam jangka pendek sebagai bagian dari kelancaran transisi pemerintahan Presiden Joko Widodo ke Prabowo Subianto. Fokus berikutnya, pelaku pasar menanti kejelasan komposisi kabinet baru.
Ada harapan porsi tenaga profesional masih cukup besar untuk mengisi pos kementerian penting. Transisi pemerintahan ini akan menjadi sentimen penting bagi pasar saham, yang akan turut memengaruhi arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
"Jika kementerian baru di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo memenuhi ekspektasi pasar, dan kondisi makro tetap baik, maka IHSG dapat berada pada kisaran target tertinggi kami pada akhir tahun," ungkap Isfhan kepada Kontan.co.id, Minggu (18/8).
Adapun, Sinarmas Sekuritas menaksir IHSG bisa menembus level 7.500 - 7.900 pada tahun ini. Soal pergerakan IHSG, pada perdagangan 12 Agustus - 16 Agustus terjadi lonjakan setinggi 2,41% dalam sepekan.
IHSG pun menembus level tertinggi baru (all time high) pada area 7.460,38. Saat ini, IHSG sedang parkir di posisi 7.432,09 usai menguat 0,30% pada perdagangan akhir pekan, Jum'at (16/8).
Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi memproyeksikan IHSG bisa melaju ke level 7.676 sampai tutup tahun 2024. Proyeksi ini mempertimbangkan kondisi makro ekonomi, kebijakan moneter dan potensi rotasi aset investasi pada semester II-2024.
Audi menyoroti beberapa data asumsi makro ekonomi pada RAPBN 2025 berada pada level yang optimistis, di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi. Audi pun sepakat, pelaku pasar masih menantikan bagaimana arah kebijakan Presiden baru.
Meski masih ada sikap wait and see, Audi memperkirakan arus dana dari investor asing (capital inflow) masih mengalir pada paruh kedua tahun ini. "Arus inflow disebabkan perubahan kebijakan moneter bank sentral global, terlebih didorong juga dengan stabilitas ekonomi dalam negeri," ungkap Audi.
Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih memperkirakan IHSG bisa menyentuh level resistance 7.700 pada akhir tahun 2024. Dia menaksir akselerasi IHSG bisa berlanjut, dengan ditopang oleh sentimen domestik dan global yang cenderung lebih positif.
Catatan Ratih, para investor masih harus memperhatikan risiko dari faktor politis. Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan komposisi kabinet dalam pemerintahan baru serta sentimen Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) Serentak pada November mendatang.
Dari geopolitik global, pemilihan presiden AS turut menjadi perhatian pelaku pasar. Selain faktor politis, sentimen signifikan lain yang akan memengaruhi pergerakan pasar saham adalah arah suku bunga acuan dari bank sentral.
Terdekat, ada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan berlangsung pada 20 Agustus - 21 Agustus 2024. Ratih memproyeksikan BI-Rate akan tetap bertahan pada level 6,25%. "BI akan menunggu langkah pasti The Fed untuk memangkas suku bunga," ungkap Ratih.
Arah IHSG dan Rekomendasi Saham
Dengan berbagai sentimen tersebut, Ratih memproyeksikan IHSG masih dapat bergerak menguat pada rentang support 7.350 dan resistance 7.500 dalam sepekan ke depan, dari 19 Agustus - 23 Agustus 2024.
Sedangkan CEO Pinnacle Persada Investama Guntur Putra menaksir IHSG akan bergerak pada rentang 7.300 - 7.500 hingga akhir bulan ini.
Pasca nota keuangan RABN 2025, Guntur melihat sentimen pasar masih cenderung positif. Terutama dengan komitmen pemerintah untuk melanjutkan hilirisasi dan stabilitas ekonomi.
"Namun, mengingat tahun politik masih berlangsung, pelaku pasar kemungkinan akan tetap berhati-hati dan cenderung wait and see menjelang pergantian presiden pada Oktober serta Pilkada Serentak di November," ujar Guntur.
Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada juga melihat IHSG berpotensi menuju resistance 7.500. Hanya saja, Reza mengingatkan setelah IHSG menyentuh level all time high, biasanya akan diikuti dengan aksi profit taking.
Dus, jika sentimen tidak mendukung, maka IHSG berpeluang mengalami koreksi teknikal pada support 7.277 - 7.367. Reza menaksir RDG BI belum memberikan perubahan yang signifikan, sehingga tidak banyak direspons oleh pasar.
Secara bersamaan, Reza melihat respons terhadap nota keuangan RAPBN 2025 juga tidak signifikan. "Pelaku pasar lebih menantikan kebijakan riil-nya seperti apa? Misalnya bagaimana menjaga nilai tukar rupiah, kebijakan apa yang akan dikeluarkan," terang Reza.
Namun, pelaku pasar berpeluang mencermati beberapa sektor yang cenderung terpengaruh oleh RAPBN 2025. Contohnya penurunan alokasi infrastruktur bisa saja membawa sentimen negatif bagi sektor infrastrutkur, khususnya untuk BUMN Karya.
"Ini yang ke depannya menjadi tantangan bagi BUMN Karya untuk tetap bisa survive dan sustain. Tapi posisi pasar juga masih menunggu kepastian dari pemerintahan baru," kata Reza.
Di sisi lain, prioritas dalam RAPBN 2025 seperti hilirisasi pertambangan, kesehatan dan peningkatan daya beli, berpotensi membawa sentimen positif pada sektor terkait. Sedangkan Isfhan menyarankan untuk memanfaatkan momentum pasar jangka pendek dengan mengakumulasi saham blue chip yang valuasinya sudah murah.
Saham pilihannya adalah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT Astra International Tbk (ASII), dengan target harga Rp 3.900 dan Rp 5.450. Saham lain yang layak dicermati adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan target harga Rp 8.600.
Audi menyematkan rekomendasi trading buy untuk saham-saham yang berpotensi menguat, yakni TLKM, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Target harga masing-masing berada di level Rp 3.270, Rp 3.430 dan Rp 168.
Sedangkan Ratih menyodorkan trading plan dengan rekomendasi buy saham TLKM, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Target harga masing-masing berada di area resistance Rp 3.120, Rp 5.100, Rp 1.700 dan Rp 1.560 per saham.
Sementara itu, Guntur menyarankan para investor melakukan diversifikasi portofolio, untuk mengurangi risiko di tengah sentimen global dan domestik yang bergerak dinamis. Saran Guntur, cermati saham di sektor defensif serta yang diuntungkan dari berlanjutnya kebijakan hilirisasi.