#30 tag 24jam
Pedang Perunggu Berusia 3.200 Tahun Bertuliskan Ramses II Ditemukan - kumparan.com
Arkeolog Mesir menemukan sebuah bangunan bekas barak militer berusia 3.200 tahun berisi pedang Ramses II. [414] url asal
#arkeologi #pedang #firaun #mesir #situs
(Kumparan.com - Tekno & Sains) 19/09/24 14:04
v/15233001/
Arkeolog Mesir menemukan sebuah bangunan bekas barak militer berusia 3.200 tahun berisi banyak artefak berharga, termasuk pedang bertuliskan nama Ramses II.
Ahmed El Kharadly, arkeolog dari Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir yang memimpin penggalian situs mengatakan, barak tersebut berisi gudang yang digunakan untuk menyimpan biji-bijian dan oven untuk memanggang. Tim juga menemukan sisa-sisa tembikar berisi tulang belulang hewan, termasuk ikan. Di situs juga ditemukan beberapa kuburan sapi.
Di era Mesir kuno, sapi melambangkan kekuatan, kelimpahan, dan kemakmuran. Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir mengatakan sapi dipuja sebagai dewa surgawi.
Namun El Kharadly berpendapat, dalam kasus ini, sapi dipersiapkan untuk dimakan. Berdasarkan catatan, tulang tersebut ditemukan di area Silo dekat oven, menandakan bahwa tulang sapi mungkin dibagi menjadi beberapa bagian, kemudian disimpan di Silo setelah dikeringkan.
Selain itu, para arkeolog juga menemukan sisa-sisa senjata, termasuk pedang perunggu bertuliskan nama Raja Ramses II yang memerintah sekitar tahun 1279 hingga 1213 SM. Pedang itu ditemukan di sebuah ruangan kecil di barak, dekat area tempat musuh menyusup, menandakan pedang bukan hanya sekadar hiasan, tapi juga digunakan untuk berperang.
Peneliti juga menemukan dua blok batu kapur di mana satu blok bertuliskan hieroglif yang menyebut Ramses II. Sedangkan yang lain mengutip seorang pejabat bernama “Bay”.
Bangsa Mesir kuno menempatkan barak-barak ini di sepanjang jalan militer di Delta Nil barat laut. Lokasi yang strategis memungkinkan pasukan memantau dan menghadapi secara langsung kelompok-kelompok yang datang ke Delta Nil dari gunung barat atau melalui laut Mediterania.
“Ini adalah penemuan penting untuk memahami strategi dan khususnya logistik militer Mesir di bawah Ramses II,” kata Peter Brand, seorang profesor sejarah dan direktur Karnak Great Hypostyle Hall Project di University of Memphis di Tennessee, AS.
Situs militer lain yang dibangun oleh Ramses II, seperti benteng, telah ditemukan di Mesir barat laut. Namun situs tersebut tidak terpelihara dengan baik seperti situs yang ditemukan kali ini.
“Persenjataan itu menunjukkan tempat ini dipersenjatai dengan baik dan bahkan mungkin mampu memproduksi beberapa senjata di tempat itu,” kata Brand kepada Live Science. “Pedang perunggu itu kemungkinan diberikan kepada seorang perwira tinggi sebagai hadiah kerjaaan. Nama gelar raja yang terukir di atasnya meningkatkan prestise pemiliknya dan mempromosikan kekayaan, kekuasaan, dan kemurahan hati raja.”
Anthony Spalinger, profesor ilmu klasik dan sejarah kuno di University of Auckland di Selandia Baru yang tidak terlibat dalam penggalain mengatakan, situs tersebut sesuai dengan catatan tekstual yang menunjukkan bahwa sebuah kelompok yang disebut Libya menjadi ancaman besar bagi Besar.
“Benteng/garnisun itu dimaksudkan untuk mengendalikan pintu masuk ke Mesir,” kata Spalinger melalui email.
Terungkap, ini Dua Penghancur Diri Firaun Zaman Nabi Musa Saat Jadi Penguasa Mesir
Firaun menjadi ikon azab Allah di dunia bagi pemimpin zalim. [528] url asal
#firaun #kehancuran-firaun #dakwah-nabi-musa #laut-merah #musa-membelah-lautan
(Republika - Khazanah) 25/08/24 00:04
v/14679349/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fir'aun sering kali dijadikan sebagai simbol kezaliman dan kesombongan dalam berbagai tradisi, khususnya dalam ajaran Islam. Dia dikenal sebagai raja Mesir yang menolak pesan Nabi Musa dan melakukan kezaliman terhadap rakyatnya.
Dalam Alquran, Fir'aun diazab oleh Allah dengan cara yang sangat tegas, tenggelam di Laut Merah bersama pasukannya. Kisah Fir'aun ini sering dijadikan pelajaran untuk menunjukkan bahwa kekuasaan dan kesombongan yang tidak diiringi dengan keadilan dan ketakwaan akan berujung pada kehancuran.
Dalam Alquran, Allah SWT berfirman:
فَاَخَذْنٰهُ وَجُنُوْدَهٗ فَنَبَذْنٰهُمْ فِى الْيَمِّ ۚفَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظّٰلِمِيْنَ
Artinya: "Kami menghukum dia (Firʻaun) dan bala tentaranya. Kami menenggelamkan mereka ke dalam laut. Perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang zalim." (QS Al-Qasas [28]: 41)
Dalam Tafsir Tahlili Kemenag dijelaskan bahwa pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa Fir‘aun dan tentaranya sangat sombong dan takabur. Fir‘aun menganggap dan mengaku hanya dialah penguasa yang mutlak di muka bumi. Siapa saja yang menantangnya dianggap salah dan durhaka.
Kalau dikatakan kepadanya ada Tuhan yang lebih besar daripada kekuasaannya, Fir‘aun menjadi kalap, dan tak dapat lagi menguasai dirinya, seperti memerintahkan dengan segera membuat suatu hal yang mustahil, seperti membuat bangunan setinggi langit agar dia dapat berhadapan dengan Tuhan Yang Mahakuasa lagi Mahaperkasa.
Fir‘aun dan kaumnya mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan, tidak akan diperhitungkan apa yang telah dikerjakan selama hidup di dunia, dan tidak ada yang akan menyiksa bila mereka melakukan kezaliman dan kekejaman. Memang demikianlah kepercayaan mereka karena pengaruh kesombongan dan ketakaburan itu. Mereka membuat piramida yang besar untuk kuburan mereka yang diisi dengan perabot yang lengkap dan serba mewah serta pakaian dan perhiasan yang indah-indah, untuk dinikmati sesudah mati.
Karena kesombongan dan ketakaburan itu, Allah mengazab mereka di dunia dan akhirat. Di dunia Fir‘aun ditenggelamkan bersama tentaranya ke dalam lautan, dan di akhirat mereka akan disiksa dalam neraka.
Demikianlah nasib yang telah ditetapkan Allah bagi orang yang takabur dan sombong, berbuat zalim dan aniaya terhadap Allah dan sesamanya. Sebenarnya kelanjutan kisah Fir‘aun bisa ditemukan pada surah-surah lain dalam Alquran seperti Surah al-A‘raf, Yunus, Taha, dan sebagainya.
Lihat halaman berikutnya >>>
Akan tetapi, Allah hendak menegaskan di sini bagaimana nasib orang-orang yang durhaka yang tidak lagi mempergunakan akal dan pikirannya sehingga tertutuplah hatinya untuk menerima kebenaran dari mana pun datangnya, sehingga dia menjadi sombong dan takabur. Hal itu layak menjadi perhatian dan pelajaran bagi seluruh manusia.
Di ayat selanjutnya, kemudian Allah SWT berfirman:
وَجَعَلْنٰهُمْ اَىِٕمَّةً يَّدْعُوْنَ اِلَى النَّارِۚ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ لَا يُنْصَرُوْنَ. وَاَتْبَعْنٰهُمْ فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً ۚوَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ هُمْ مِّنَ الْمَقْبُوْحِيْنَ
Artinya: "Kami menjadikan mereka (Firʻaun dan bala tentaranya) para pemimpin yang mengajak (manusia) ke neraka. Pada hari Kiamat mereka tidak akan ditolong." (QS Al-Qasas [28]: 41-42)
Ayat ini memberi julukan kepada Fir‘aun dan kaumnya yang durhaka bahwa mereka adalah pemimpin-pemimpin yang membawa manusia ke neraka karena mereka telah menyesatkan manusia dan memaksa setiap orang untuk kafir terhadap Tuhannya. Mereka merasa bebas melakukan kezaliman sekehendak hatinya, tanpa ada rasa keadilan dan rasa kasih sayang.
Sebenarnya mereka ini telah melakukan dua kesalahan, kesalahan bagi diri mereka sendiri dan kesalahan menyesatkan orang lain. Maka pantaslah bila mereka menerima siksaan yang berlipat ganda, siksaan terhadap kesesatan sendiri dan siksaan karena menyesatkan orang lain. Oleh karena itu, tidak akan ada penolong bagi mereka di akhirat nanti dan tidak ada yang akan membebaskan dari siksa Allah.
Doa saat Diteror Firaun
Firaun terus mengejar orang-orang yang menentangnya. [220] url asal
#firaun #ramses #piramida #zalim #pemimpin-zalim #islam
(Republika - Iqra) 24/08/24 19:01
v/14685365/
REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Nabi Musa Allaihissalam dan Bani Israil diburu oleh Firaun dan pasukannya karena menolak untuk tunduk. Saat dalam pengejaran Firaun, Nabi Musa menyeru pada Bani Israil untuk bertawakal kepada Allah SWT.
Artinya: Nabi Musa berkata "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri," (Surat Yunus ayat 84).
Setelah nabi Musa menyeru bertawakal, Bani Israil kemudian berdoa. Ada dua doa yang dipanjatkan. Yakni memohon agar terhindar dari sasaran kaum yang zalim serta memohon keselamatan dari tipu daya orang kafir.
Artinya: Kepada Allah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim. (Surat Yunus ayat 85)
Bani Israil memohon pada Allah agar jangan sampai menjadi sasaran fitnah kaum yang zalim. Maksudnya agar jangan sampai Fir'aun dan tentaranya yang zalim itu mempunyai kesempatan berbuat keburukan kepada kaum nabi Musa dan Bani Israil. Setelah itu, bani Israil meneruskan doanya.
Artinya : dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir (surat Yunus ayat 86).
Ayat tersebut menggambarkan bahwa bani Israil mengharapkan rahmat Allah. Sebab hanya dengan rahmat Allah lah mereka dapat bisa selamat dari kejaran Fir'aun dan tentaranya yang kafir.
Allah memperkenankan doa-doa Bani Israil. Kemudian Allah menyelamatkan nabi Musa dan pengikutnya dan menenggelamkan Firaun dan tentaranya.
Apa yang Bisa Dibaca saat Malaikat Hendak Meniup Sangkakala?
Tiupan sangkakala malaikat Israfil itu membuat gunung-gunung berterbangan. [173] url asal
#sangkakala #firaun #kiamat #doa-menghadapi-kiamat #islam #akhirat
(Republika - Iqra) 24/08/24 14:00
v/14685364/
REPUBLIKA.CO.ID, SERANG -- Saat Allah telah memerintahkan Israfil meniup sangkakala, maka berakhirlah sudah seluruh kehidupan makhluk dan hancurlah alam jagat raya.
وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِۗ ذٰلِكَ يَوْمُ الْوَعِيْدِ
Artinya: Ditiuplah sangkakala. Itulah hari yang diancamkan. (Alquran surat Qaf ayat 20).
Tiupan sangkakala malaikat Israfil itu membuat gunung-gunung berterbangan seperti kapas yang ditiup dan saling bertubrukan. Segala macam benda langit berjatuhan dan hancur.
Manusia yang menyaksikan peristiwa itu panik dan ketakutan. Hancurlah jagat raya. Setelah itu Allah ta'ala memerintahkan Israfil meniup sangkakalanya kembali dan bangkitlah semua manusia dari sejak zaman nabi Adam. Mereka berkumpul jadi satu di padang Mahsyar mencari syafaat nabi Muhammad SAW agar selamat.
Rasulullah SAW membocorkan satu kalimat bagi umatnya sehingga dapat menghadapi momentum tersebut. Kalimat itu adalah Hasbunallahu wa ni'mal wakil.
Rasulullah saw bersabda:
كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ وَحَنَى جَبْهَتَهُ يَنْتَظِرُ مَتَى يُؤْمَرُ أَنْ يَنْفُخَ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ مَاذَا نَقُوْلُ؟ قَالَ: قُوْلُوْا: حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ. (رواه ابن حبان)
Bagaimana aku akan bersenang-senang padahal malaikat pemilik atau peniup sangkakala sudah meletakkan sangkakala di mulutnya, dan menundukkan dahinya menunggu perintah untuk meniup. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang harus kami baca (menghadapi peristiwa yang dahsyat itu)?” Beliau bersabda, “Bacalah: Hasbunallahu wa ni‘mal-wakil.” (Riwayat Ibnu Hibban)
Tafsir Ayat Ini Jelaskan Cara Firaun Berkuasa
Kisah Firaun yang sempat berkuasa di Mesir diabadikan dalam Alquran. [718] url asal
#firaun #firaun-pemimpin-dzalim #kezaliman #islam #pemimpin-zalim
(Republika - Iqra) 23/08/24 14:00
v/14539441/
REPUBLIKA.CO.ID,KAIRO -- Kisah Firaun yang sempat berkuasa di Mesir diabadikan dalam Alquran sebagai pelajaran bagi umat manusia agar tidak berbuat zalim seperti Fir‘aun yang berakhir mati mengenaskan. Cara Fir‘aun berkuasa di Mesir adalah gambaran nyata dari para raja, penguasa dan pemimpin zalim dari masa ke masa, hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Surat Al-Qasas Ayat 4.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ
Inna fir‘auna ‘alā fil-arḍi wa ja‘ala ahlahā syiya‘ay yastaḍ‘ifu ṭā'ifatam minhum yużabbiḥu abnā'ahum wa yastaḥyī nisā'ahum, innahū kāna minal-mufsidīn(a).
Sesungguhnya Firʻaun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah. Dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil). Dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuannya. Sesungguhnya dia (Firʻaun) termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al-Qasas Ayat 4)
Pada ayat ini, Allah menerangkan kisah Fir‘aun yang berkuasa mutlak di negeri Mesir. Tidak ada satu kekuasaan pun yang lebih tinggi dari kekuasaannya. Apa saja yang disukai dan dikehendakinya harus terlaksana.
Semua rakyat tunduk dan patuh di bawah perintahnya sampai dia mengangkat dirinya menjadi tuhan. Dengan kekuasaan mutlak itu, ia dapat melakukan kezaliman dan penganiayaan dengan sewenang-wenang.
Pemerintahannya bukan berdasar keadilan dan akhlak yang mulia, tetapi berdasarkan kemauan dan keinginan semata. Politik yang dijalankannya adalah memecah belah kaumnya menjadi beberapa golongan.
Kemudian Fir‘aun menanamkan benih pertentangan dan permusuhan pada golongan-golongan itu agar dia tetap berkuasa terhadap mereka. Gerakan apapun yang dirasakan menentang kekuasaannya harus dibasmi dan dikikis habis.
Kalau ada berita atau isu yang mengatakan bahwa seseorang atau satu golongan berusaha untuk menumbangkan kekuasaan Fir‘aun atau mungkin menjadi sebab bagi kejatuhannya, pasti orang atau golongan itu dimusnahkannya.
Golongan yang dianggap setia dan selalu menunjang dan mengokohkan singgasananya akan dimuliakan. Mereka juga diberi berbagai macam fasilitas dan keistimewaan agar menjadi kuat dan jaya.
Fir‘aun telah menindas Bani Israil karena dianggap golongan yang berbahaya, bila dibiarkan pasti akan menggerogoti pemerintahannya. Dia memperlakukan golongan ini dengan sewenang-wenang, direndahkan dan dihinakan, serta dianggap sebagai golongan budak yang tidak mempunyai hak apa-apa.
Golongan ini bahkan dipaksa membangun piramida dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar dan berat lainnya. Apalagi setelah ia mendengar dari tukang-tukang tenungnya bahwa yang akan merobohkan kekuasaannya ialah Bani Israil. Semenjak itu Fir‘aun bertekad bulat untuk membasmi golongan ini.
Selain memperlemah dan memperbudak Bani Isra’il, Fir‘aun juga memutuskan setiap anak laki-laki yang lahir di kalangan Bani Israil harus dibunuh, tanpa belas kasihan. Ia tidak mempedulikan ratap tangis ibu yang kehilangan anak yang dikandungnya dengan susah payah selama sembilan bulan dan menjadi tumpuan harapannya.
Dengan tindakan ini, Fir‘aun menyangka bahwa Bani Israil akan punah dengan sendirinya karena tidak ada lagi keturunan anak laki-laki yang akan lahir dan berkembang. Adapun anak-anak perempuan dibiarkan hidup karena selain dianggap lemah dan tak mampu melawan, mereka juga digunakan sebagai pemuas nafsu.
Oleh karena itu, Allah mencap Fir‘aun sebagai orang yang berbuat kebinasaan di muka bumi.
Sebenarnya banyak cara lain yang tidak bertentangan dengan peri kemanusiaan yang dapat dilakukan Fir‘aun untuk menghalangi terjadinya apa yang ditakutkannya itu. Akan tetapi, karena hatinya sudah keras membatu dan pikirannya sudah gelap, tidak ada lagi jalan yang tampak olehnya kecuali membasmi semua anak laki-laki Bani Israil.
Fir‘aun lalu menyebarkan mata-mata ke seluruh pelosok negeri Mesir untuk menyelidiki semua perempuan. Bila ada di antara mereka yang hamil, langsung dicatat dan ditunggu masa melahirkannya. Bila yang dilahirkan anak perempuan akan dibiarkan saja, tetapi kalau yang dilahirkan anak laki-laki langsung diambil untuk dibunuh.
Apakah dengan tindakan itu Fir‘aun dapat mempertahankan ke-kuasaannya? Pasti tidak! Karena di balik kekuasaannya itu, ada kekuasaan yang jauh lebih perkasa yaitu kekuasaan Allah yang tak dapat dikalahkan oleh siapa pun. Dialah Maha Pencipta, Maha Kuasa, dan Maha Perkasa. Diriwayatkan oleh as-Suddi bahwa Fir‘aun bermimpi melihat api datang ke negerinya dari Baitul Maqdis. Api itu membakar rumah-rumah kaum Fir‘aun dan membiarkan rumah-rumah Bani Israil.
Lantas, Fir‘aun bertanya kepada orang-orang cerdik-pandai dan tukang-tukang tenung. Mereka menjawab bahwa takwil mimpi itu ialah akan lahir seorang anak laki-laki (dari Bani Israil) yang akan meruntuhkan kekuasaannya di Mesir. Takwil inilah yang mendorong Fir‘aun melakukan tindakan kejam dan ganas itu. (Tafsir Kementerian Agama RI)
Firaun Berjalan di depan Para Pengikutnya Masuk ke Neraka
Firaun telah melakukan kerusakan di muka bumi. [298] url asal
#firaun #pemimpin-dzalim #dzalim #kedzaliman #penguasa-dzalim #zalim
(Republika - Iqra) 22/08/24 15:51
v/14522785/
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Alquran menjelaskan bahwa Firaun telah melakukan kerusakan di muka bumi, dan memimpin pengikutnya melakukan kedurhakaan serta kekufuran. Di akhirat kelak, Firaun akan berjalan di depan para pengikutnya dan membawa mereka masuk ke dalam neraka.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَقْدُمُ قَوْمَهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فَاَوْرَدَهُمُ النَّارَ ۗوَبِئْسَ الْوِرْدُ الْمَوْرُوْدُ
Yaqdumu qaumahū yaumal-qiyāmati fa auradahumun-nār(a), wa bi'sal-wirdul-maurūd(u).
(Fir‘aun) berjalan di depan kaumnya di hari Kiamat, lalu membawa mereka masuk neraka. Itulah seburuk-buruk tempat yang dimasuki. (QS Hud Ayat 98)
Ayat di atas mengandung arti, Firaun kelak berjalan di depan kaumnya di hari Kiamat, sebagaimana yang ia lakukan ketika di dunia, memimpin kaumnya dalam kekufuran dan kedurhakaan, lalu Firaun membawa mereka masuk ke dalam neraka untuk merasakan pedihnya siksaan itu. Neraka yang penuh siksaan dan penderitaan itu adalah seburuk-buruk tempat yang dimasuki Firaun beserta para pengikutnya.
Tafsir Kementerian Agama menerangkan, dalam ayat ini dijelaskan bahwa Fir‘aun telah merusak di muka bumi dan menyesatkan kaumnya di dunia. Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa di akhirat nanti, Firaun akan mengantar kaumnya ke tempat yang telah disediakan untuk mereka.
Firaun berjalan di depan dan kaumnya yang mengiringinya dari belakang sehingga mereka sampai ke neraka, lalu mereka dijebloskan ke dalamnya bersama-sama.
Alangkah celaka dan meruginya Fir‘aun dan kaumnya, karena neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi, bahkan sejak mereka meninggalkan dunia ini, tiap hari, pagi dan petang neraka itu selalu ditampakkan kepada mereka sebagaimana firman Allah SWT.
"Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, sedangkan Fir‘aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang sangat buruk. Kepada mereka diperlihatkan neraka, pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Lalu kepada malaikat diperintahkan), 'Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras!'" (QS Al-Mu'min Ayat 45-46)
Empat Pemimpin Zalim yang Diazab Tragis dan di Luar Nalar
Pemimpin seperti ini cenderung menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi [967] url asal
#abu-lahab #pemimpin-zalim #pemimpin-dzalim #para-pemimpin-zalim #kezaliman-pemimpin #qarun #kisah-qarun #kisah-firaun #azab-bagi-firaun #azab-yang-amat-pedih
(Republika - Khazanah) 22/08/24 15:26
v/14525480/
REPUBLIKA.CO.ID,Dalam sejarah Islam, terdapat beberapa pemimpin dan tokoh yang dikenal sebagai orang zalim dan diberi azab yang tragis oleh Allah SWT. Para pemimpin zalim ini menjalankan kekuasaannya dengan cara yang tidak adil, sewenang-wenang, dan menindas rakyatnya.
Pemimpin seperti ini cenderung menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, tanpa memedulikan kesejahteraan, hak, dan keadilan bagi rakyat yang dipimpinnya. Tindakan zalim dapat berupa penindasan, kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia, korupsi, serta pengambilan keputusan yang merugikan banyak orang.
Dalam sejarah, pemimpin zalim sering kali diingat karena kekejamannya, penindasan terhadap rakyat, dan tindakan tidak manusiawi lainnya yang mereka lakukan selama masa kekuasaan mereka. Akibatnya, mereka sering dianggap sebagai contoh buruk dalam kepemimpinan dan moralitas, dan dalam beberapa kasus, mereka diyakini mengalami akhir hidup yang tragis atau mendapatkan hukuman baik di dunia maupun di akhirat.
Berikut daftar pemimpin atau orang zalim yang diazab dengan tragis:
1. Fir'aun (Ramses II)
Fir'aun adalah penguasa Mesir yang menentang Nabi Musa dan memperbudak Bani Israil. Dia terkenal karena kezaliman dan kesombongannya. Dalam kisah Alquran, Fir'aun dan pasukannya tenggelam di Laut Merah ketika mereka mengejar Nabi Musa dan umatnya yang melarikan diri dari Mesir.
Puncak kezaliman penguasa Mesir kuno ini adalah ketika klaim dirinya sebagai tuhan. Dia berkata:
أَنَارَبُّكُمُالْأَعْلَىٰ
Artinya: "Aku tuhanmu yang paling tinggi." (QS an-Nazi'at: 24).
Di penghujung hidupnya, Raja zalim ini pun bernasib tragis. Ia tenggelam di laut Merah saat mengejar Nabi Musa dan kaum Bani Israil. Menjelang kematiannya, ia baru berserah diri dan mengakui Tuhan yang diimani oleh Bani Israil. “Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan (yang berkuasa dan berhak disembah) selain (Tuhan) yang telah dipercayai oleh Bani Israil dan aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri kepada-Nya),” (QS. Yunus [10]: 90).
Bahkan, dalam hadits riwayat at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas, dikisahkan bahwa Firaun nyaris saja mengucap kalimat tauhid Lailahaillallah. Namun, karena kekesalannya, malaikat Jibril segera menjejali mulut Firaun dengan lumpur laut. Sehingga ia gagal beriman dan mengakui ketuhanan Allah.
2. Namrud
Namrud adalah raja yang berkuasa di Babilonia dan dikenal sebagai penguasa yang sangat zalim. Dia menantang Allah dan mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Menurut riwayat, Namrud diazab dengan seekor nyamuk yang masuk ke dalam hidungnya dan menggerogoti otaknya hingga dia meninggal dengan sangat menyakitkan.
Raja Namrud juga mengaku berkuasa atas kehidupan seseorang. Semasa hidupnya, dia bahkan mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Karena itulah Allah mengazabnya dengan cara yang tragis.
Dikisahkan bahwa Allah mengirimkan malaikat untuk memberi peringatan kepada raja Namrud yang diktator. Namun, hingga tiga kali peringatan diberikan, Namrud tetap menentang Allah SWT. Hingga malaikat pun menantang Namrud untuk mengumpulkan semua pasukannya.
Dalam buku 40 Kisah Akhir Hidup Kezaliman Makhluk-Makhluk Allah diceritakan, pada hari yang ditentukan, Raja Namrud kemudian mengumpulkan seluruh pasukan dengan seluruh kekuatannya, di sebuah tempat yang sangat luas. Allah lalu memerintahkan kepada malaikat yang menjadi utusan-Nya untuk membuka satu pintu yang menjadi jalan bagi datangnya nyamuk-nyamuk.
Selanjutnya, Allah mengirim nyamuk-nyamuk tersebut untuk menyerbu pasukan Namrud. Nyamuk itu menggigit kulit hingga tembus ke dalam daging dan membuat para pasukan Namrud tewas.
Sementara Namrud masih selamat dan menyaksikan kekalahan pasukannya oleh nyamuk. Tetapi, Allah mengirim nyamuk masuk ke lubang hidung Namrud. Nyamuk itu hidup dan tinggal di dalamnya selama 400 tahun. Hal itu membuat Namrud hidup penuh kesengsaraan karena nyamuk yang bersarang di kepalanya.
Namrud hidup seperti orang yang tidak waras. Setiap hari ia memukuli kepalanya sendiri dengan palu, hingga membuat orang merasa iba dan kasihan terhadapnya. Selama 400 tahun, Namrud hidup penuh penderitaan hingga kemudian dia tewas secara tragis.
Qarun dan Abu Lahab..
3. Qarun
Qarun adalah seorang yang sangat kaya raya pada zaman Nabi Musa, namun dia sangat sombong dan zalim. Crazy Rich ini dikenal karena keangkuhannya dan ketidaktaatannya terhadap perintah Allah. Alquran menyebutkan bahwa Qarun beserta kekayaannya ditelan oleh bumi sebagai azab atas kesombongannya.
Allah SWT berfirman bahwa Qarun menjadi tiran terhadap semua orang Bani Israil. Teman dekat Firaun ini juga merupakan salah satu orang yang banyak melakukan dosa pada masa Musa.
Dikutip dalam buku "40 Kisah Akhir Hidup Kezaliman Makhluk-Makhluk Allah", meskipun memiliki harta yang melimpah ruah, Qarun adalah manusia yang pelit dan kikir. Dia tidak mampu mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT.
Dengan harta kekayaan yang luar biasa banyak itu, Qarun justru menjelma menjadi manusia yang sangat sombong dan pongah. Dia merasa semua yang dimiliki adalah hasil usahanya sendiri.
Karena kekikiran dan kesombongannya, Allah SWT pun akhirnya menurunkan azab pada Qarun. Ia lenyap ditelan bumi bersama seluruh hartanya yang sangat banyak. Tokoh zalim ini pun mati dengan tragis.
4. Abu Lahab
Abu Lahab adalah paman Nabi Muhammad yang sangat menentang dakwah Islam dan kerap berbuat zalim. Dia dikenal karena kebenciannya yang besar terhadap Nabi dan umat Islam. Dalam Alquran, terdapat satu surah khusus yang menjelaskan kebinasaan Abu Lahab, yaitu Surah Al-Lahab. Dia meninggal dalam keadaan mengenaskan akibat penyakit yang parah, di mana tubuhnya penuh dengan bisul yang pecah-pecah.
Kematian Abu Lahab terjadi setelah Perang Badar. Saat itu, ia tidak mengikuti pertempuran tersebut. Dengan menyetor 4.000 dirham, dia meminta seorang temannya, al-Ashi bin Hisyam, untuk menggantikannya di medan perang.
Perang Badar lalu berakhir dengan kekalahan yang memalukan dari pihak musyrikin Quraisy. Sepekan setelah itu, Abu Lahab menderita sakit parah. Dia pun meregang nyawa dan tewas.
Jasadnya diabaikan orang-orang tiga hari berturut-turut. Bau busuk menyeruak. Para tetangganya memutuskan untuk menggali sebuah lubang besar dan memasukkan mayat Abu Lahab ke dalam boks kayu. Dimasukkanlah peti kayu dan isinya itu ke dalam lubang tersebut.
Cara menguburkannya begitu merepotkan. Orang-orang tidak tahan dengan bau busuk yang keluar dari jasad Abu Lahab, sehingga mereka memasukkan peti tadi dari kejauhan. Sesudah itu, lubang tadi dilempari dengan kerikil dan tanah sampai rata.
Itulah kisah empat tokoh zalim yang biasa dikemukakan. Tokoh-tokoh ini sering disebut dalam sejarah Islam sebagai contoh-contoh orang yang zalim dan mengalami akhir hidup yang tragis sebagai akibat dari perbuatan mereka.
Firaun Kejam dan Sombong, Nabi Musa Diperintah Berdakwah Lemah Lembut
Allah memerintahkan Nabi Musa berdakwah dengan kata-kata yang lemah lembut. [385] url asal
#kezaliman-firaun #kisah-firaun #firaun-mengaku-tuhan #kesombongan-firaun #kisah-nabi-musa
(Republika - Khazanah) 22/08/24 11:35
v/14525485/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nabi Musa AS adalah utusan Allah Ta'ala kepada Bani Israil. Saudara Harun AS itu dikisahkan dalam banyak ayat Alquran, terutama dalam konteks perjuangannya mendakwahi Firaun.
Firaun sesungguhnya bukanlah nama orang, melainkan gelar bagi raja Mesir pada zaman dahulu. Menurut para ahli, sosok yang ditemui Nabi Musa AS adalah Firaun Ramses II. Jasad atau muminya sudah diteliti ilmuwan sejak abad ke-19 M. Tepatnya pada tahun 1974, Dr Maurice Bucaille dan tim mengonfirmasi Ramses II mati tenggelam di laut.
Hingga kini, orang-orang dapat mengamati muminya di sebuah museum di Kairo, Mesir. Jasad Firaun Ramses II utuh, tak terurai. Ini pun telah diisyaratkan dalam Alquran.
"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Firaun) supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami” (QS Yunus: 92).
Semasa hidupnya, Firaun Ramses II amat kejam dan keji. Ia menindas Bani Israil dengan sangat sistematis dan tanpa rasa kemanusiaan.
Untuk menyadarkan Firaun, Allah mengutus Nabi Musa dan saudaranya, Nabi Harun. Keduanya diperintahkan untuk mengingatkan pemimpin Mesir itu agar bertobat.
Perintah Allah bukan untuk semisal memerangi atau membunuh Firaun. Para nabi itu hanya disuruh-Nya untuk mendakwahi pemimpin Mesir itu dengan bahasa yang jauh dari nada menghasut.
“Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut” (QS Taha: 43-44).
Selain ayat di atas, acuan lainnya dalam berdakwah adalah tegas. Agama ini dengan jelas menyatakan mana saja yang haq (kebenaran) dan mana saja yang bathil.
وَلَا تَلۡبِسُوا الۡحَـقَّ بِالۡبَاطِلِ وَتَكۡتُمُوا الۡحَـقَّ وَاَنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ
"Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya" (QS al-Baqarah: 42).
Dalam kasus Firaun, dakwah yang terus menerus dan lama itu tidak berujung hidayah. Tetap saja raja Mesir nan kejam dan zalim itu bersikukuh pada sikapnya, yang angkuh dengan mengaku-aku diri sebagai tuhan.
Nabi Musa AS pun bertawakal kepada Allah. Ia berdoa, sebagaimana diabadikan dalam Alquran.
وَقَالَ مُوۡسٰى رَبَّنَاۤ اِنَّكَ اٰتَيۡتَ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَاَهٗ زِيۡنَةً وَّاَمۡوَالًا فِى الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا ۙ رَبَّنَا لِيُضِلُّوۡا عَنۡ سَبِيۡلِكَۚ رَبَّنَا اطۡمِسۡ عَلٰٓى اَمۡوَالِهِمۡ وَاشۡدُدۡ عَلٰى قُلُوۡبِهِمۡ فَلَا يُؤۡمِنُوۡا حَتّٰى يَرَوُا الۡعَذَابَ الۡاَ لِيۡمَ
"Dan Musa berkata, 'Ya Tuhan kami, Engkau telah memberikan kepada Firaun dan para pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, (akibatnya) mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan, binasakanlah harta mereka, dan kuncilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat azab yang pedih'" (QS Yunus: 88).
Jangan Seperti Firaun
Firaun pada akhirnya mati dalam keadaan hina. [369] url asal
#kisah-firaun #kezaliman-firaun #kesombongan-firaun #firaun-mengaku-tuhan #hikmah
(Republika - Khazanah) 22/08/24 10:59
v/14525487/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Umumnya, manusia di mana pun dan kapan pun selalu melihat harta sebagai sumber kebahagiaan di dunia. Hal itu mungkin wajar. Sebab, siapapun orang tidak bisa menafikan kegunaan materi dalam kehidupannya. Namun, tidak sedikit yang kemudian terseret dalam godaan duniawi sehingga dengan sengaja melawan aturan Allah SWT.
Manusia yang memilih jalan seperti itu akan semakin jauh meninggalkan eksistensi dirinya. Ia akan terus terobsesi mengumpulkan harta yang banyak dan semakin banyak setiap harinya. Akibatnya, nilai-nilai agama dan norma sosial dinilainya menjadi tak berguna.
Sejauh keinginannya bisa dicapai, apa pun cara harus dilakukan. Inilah tipe manusia yang telah mati hatinya. Mereka tak akan pernah sadar akan kekeliruannya hingga ajal pun tiba.
Kondisi ini bisa menimpa siapa saja, baik penguasa, pegawai, pengusaha, ataupun alim ulama. Itulah mengapa, dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW mengingatkan umat agar berhati-hati pada hal-hal duniawi.
Bagaimanapun, ambisi materiel yang ada pada diri pemimpin jauh lebih berdampak serius dan masif. Alquran memberikan bukti akan hal tersebut.
Simaklah kisah tentang Firaun. Dengan kekuasaannya, raja Mesir itu menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Secara terbuka, ia pun menyatakan perang terhadap utusan-Nya, Nabi Musa AS.
Harta benda dan kekuasaan yang dimiliki Firaun semakin membuatnya gelap mata. Firaun tidak peduli bahwa dirinya hanyalah manusia. Segala yang ada adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Nabi Musa yang mendapat mandat dari Allah agar memberikan peringatan kepada Firaun. Setelah banyak berdakwah, pada akhirnya saudara Harun AS itu pun tak berdaya.
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Firaun dan pemuka- pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih” (QS Yunus: 88).
Belajar dari kisah Firaun, tahanlah diri kita dari berbuat curang, jahat, ataupun kriminal. Jangan sampai kita termasuk orang yang dibutakan mata-hatinya oleh gemerlap harta dan manisnya kekuasaan di tangan. Padahal, semua itu boleh jadi akan membawa kesengsaraan untuk selama-lamanya di akhirat kelak.
Jangan sampai menjadi manusia yang berwatak Firaun, yakni pikiran dan seluruh perilakunya justru mengundang kemurkaan Allah SWT. Ingatlah, betapa penindas itu mati dalam keadaan yang sangat nista.
Kisah Syuhada Gugur di Istana Firaun
Teguh mempertahankan imannya, syuhada ini pun dibakar hidup-hidup oleh Firaun. [516] url asal
#kisah-firaun #kesombongan-firaun #kezaliman-firaun #firaun-mengaku-tuhan #syuhada-dibunuh-firaun
(Republika - Khazanah) 22/08/24 10:44
v/14525489/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nabi Muhammad SAW menuturkan berbagai kisah untuk menguatkan iman kaum Muslimin. Salah satunya, ihwal seorang perempuan pada zaman Firaun di Mesir. Wanita ini gugur sebagai syuhada.
Dalam hadis yang diriwayatkan Ahmad dari jalur Abdullah bin Abbas, disebutkan sebagai berikut. Rasulullah SAW bersabda, "Pada malam ketika aku diperjalankan (isra'), tiba-tiba aroma wangi semerbak menghampiriku. Maka aku bertanya, 'Wahai Jibril, wangi apakah ini?'
Dia (Jibril) menjawab, 'Ini adalah aroma wangi dari seorang perempuan yang (bekerja sebagai) penyisir (rambut) putri Firaun serta anak-anaknya.' Beliau menuturkan, 'Aku bertanya, 'Bagaimana cerita tentang mereka?' Dia (Jibril) menceritakan, 'Ketika dia (perempuan tersebut) sedang menyisir putri Firaun suatu hari, tiba-tiba sisir itu jatuh dari tangannya, kemudian dia mengatakan, 'Bismillah.'
(Mendengarnya) maka putri Firaun bertanya, '(Apakah yang engkau sebut) itu ayahku?' Dia (perempuan itu) menjawab, 'Bukan. (Nama itu adalah) Tuhanku dan Tuhan ayahmu. Dia adalah Allah.'
Putri Firaun itu mengancam, 'Aku akan beritakan kepadanya (Firaun).' Perempuan itu menimpali, 'Ya, silakan saja.' Putri Firaun lalu mengadukannya kepada Firaun. Akhirnya, Firaun memanggilnya dan menginterogasinya, 'Hai fulanah, apa kamu punya tuhan selain aku?'
Perempuan itu berkata, 'Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.' Firaun lalu menyuruh pembantunya untuk mendatangkan sebuah tungku yang sangat besar, terbuat dari tembaga, yang lalu dipanaskan.
Kemudian, dia (Firaun) memaksa perempuan itu agar terjun ke dalamnya (tungku tersebut) bersama dengan anak-anaknya. Perempuan itu berkata, 'Aku punya satu permintaan kepadamu.' Firaun bertanya, 'Apa itu?'
Perempuan itu mengatakan, 'Aku ingin kau mengumpulkan tulang-tulangku dan tulang anak-anakku dalam satu kain, lalu kuburkanlah kami bersama-sama.' Firaun menimpali, 'Itu sudah menjadi hakmu dan kewajiban bagi kami.'
Rasulullah SAW meneruskan kisahnya ...
Rasulullah SAW meneruskan kisahnya, 'Firaun kemudian menyuruh (para algojonya) agar anak-anaknya (perempuan tersebut) dijatuhkan ke dalam tungku panas tepat di hadapannya satu per satu. Maka tiba giliran anak bayi yang masih disusui (perempuan tadi). Perempuan itu spontan seperti mau mundur karenanya.
Akan tetapi, bayi tadi kemudian berkata, 'Wahai ibu, masuklah ke dalamnya (tungku panas) karena siksa dunia lebih ringan daripada siksa akhirat.' Maka dia (perempuan itu) menceburkan diri.'"
Demikianlah, keberanian sang penyisir putri Firaun. Dia dan anak-anaknya gugur sebagai syuhada karena memilih mempertahankan keimanan daripada menyerah di hadapan penguasa yang lalim.
Maka ketika jasad mereka sudah hangus jadi abu, aroma hasil pembakaran itu menyeruak hingga ke atas langit. Allah menjadikan aroma tersebut harum semerbak secara terus-menerus bagi penduduk langit. Maka ketika Rasulullah SAW menjalani isra dan miraj ke langit, beliau mencium aroma tersebut.
Keberanian perempuan tersebut kelak ditiru umat berikutnya, terutama seperti dikisahkan tentang ashabul ukhdud. Mereka adalah orang-orang yang beriman beberapa puluh tahun sebelum risalah Alquran turun. Orang-orang dari Arab Selatan itu menjalani siksaan penguasa zalim dengan cara dilempar ke dalam parit yang penuh kobaran api.
Seorang ibu di antara mereka sempat gentar, tetapi bayi yang digendongnya kemudian berkata-kata, meyakinkan sang ibu agar menceburkan diri ke dalamnya demi mempertahankan iman. Tindakan masuk ke dalam api bukanlah bentuk bunuh diri. Sebab, hal itu menegaskan kepada penguasa bahwa diri orang beriman menolak memohon-mohon kepada penguasa yang melampaui batas dalam kekafiran.
Ini Sosok Firaun yang Diazab Allah
Firaun ini ditenggelamkan di Laut Merah, jasadnya awet hingga kini. [413] url asal
#kesombongan-firaun #firaun-pada-masa-rasulullah #kisah-firaun #penguasa-mesir #kisah-nabi-musa
(Republika - Khazanah) 22/08/24 10:24
v/14525491/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kedatangan Bani Israil di Tanah Mesir bermula sejak masa Nabi Yusuf AS. Putra Nabi Yaqub--utusan Allah yang berjulukan Israil--ini mengawali kisahnya di negeri delta Sungai Nil itu sebagai budak.
Saat dibawa ke istana raja Mesir, statusnya sangat rendah. Namun, saat dewasa, nasibnya menjadi baik.
Bahkan, ratu Mesir lalu jatuh hati kepadanya. Itu lantaran wajah Yusuf AS yang begitu tampan.
Sang ratu sampai-sampai merayu dan menjebak Yusuf AS di dalam kamar. Namun, putra Yaqub AS itu tidak tergoda. Ia berhasil keluar dari kamar.
Kejadian ini lantas diketahui raja Mesir. Bukti-bukti menguatkan bahwa Yusuf AS tak bersalah. Namun, sang raja memilih untuk menghukum lelaki Bani Israil tersebut demi menjaga nama baik istrinya di mata publik.
Singkat cerita, Nabi Yusuf yang diberi mukjizat oleh Allah dapat menafsirkan mimpi, bebas dari penjara. Ia juga diangkat menjadi menteri sesudah berhasil menakwil mimpi raja Mesir.
Palestina, yakni negeri tempat Yaqub AS dan 11 anaknya, mengalami paceklik hebat. Mereka lantas hijrah ke Mesir.
Awalnya, mereka tak mengira bahwa sosok menteri yang menyambutnya adalah Yusuf. Barulah sesudah mengetahui keadaan yang sesungguhnya, Yakub AS terharu. Begitu pun 11 putranya. Terlebih lagi, Yusuf AS memaafkan para saudaranya itu, yang dahulu telah berkomplot untuk memisahkannya dari sang ayah.
Sepeninggal Yusuf AS, Bani Israil terus berkembang. Namun, posisinya kian tergerus. Hingga akhirnya, mereka menjadi kelompok paling inferior di Mesir.
Sosok Firaun Ramses II, penindas Bani Israil ....
Alquran menceritakan bahwa penindasan yang dialami Bani Israil di Mesir sangat tidak manusiawi. Bahkan, Firaun sampai-sampai membantai nyaris semua bayi laki-laki mereka. Sebab, ia bermimpi bahwa kelak ada seorang putra Bani Israil yang akan menjungkalkannya dari kekuasaan.
Dikatakan "nyaris", sebab Allah berkehendak bahwa satu bayi selamat dari pembantaian itu. Anak ini kelak tumbuh menjadi seorang utusan-Nya. Dialah Nabi Musa AS.
Lantas, siapakah firaun yang menindas Bani Israil pada zaman kenabian Musa AS?
Menurut Ali Akbar dalam buku Arkeologi Al-Qur’an, para peneliti sejauh ini telah mengerucutkan kesimpulan pada dua nama, yakni Firaun Ramses II dan anaknya, Firaun Merneptah.
Ramses II memerintah Mesir hingga tahun 1212 SM. Mumi atau jasadnya telah diteliti banyak ahli, termasuk Dr Maurice Bucaille, seorang ahli bedah asal Prancis, pada 1975-1976.
Hingga kini, jasad firaun Ramses II dan Merneptah dapat disaksikan di museum di Kairo, Mesir. Hal ini mengingatkan pada Alquran surah Yunus ayat 92, artinya, “Maka pada hari ini, Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.”
Doa Agar Firaun dan Kelompok Dzalimnya Binasa: Tafsir Surat Yunus Ayat 88
Alquran surat Yunus ayat 88 membahas soal doa Nabi Musa AS kepada Allah. [637] url asal
#firaun #nabi-musa #surat-yunus #islam #doa #makkah #doa-firaun-binasa #pemimpin-dzalim #zalim #kezaliman
(Republika - Iqra) 22/08/24 05:27
v/14522790/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alquran surat Yunus ayat 88 membahas soal doa Nabi Musa AS kepada Allah. Yakni, agar membinasakan Firaun dan kelompoknya yang zalim dan berbuat sewenang-wenang. Berikut ini adalah surat Yunus ayat 88 dan tafsirnya yang dikutip dari quran.kemenag.go.id.
وَقَالَ مُوْسٰى رَبَّنَآ اِنَّكَ اٰتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَاَهٗ زِيْنَةً وَّاَمْوَالًا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ رَبَّنَا لِيُضِلُّوْا عَنْ سَبِيْلِكَۚ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلٰٓى اَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْا حَتّٰى يَرَوُا الْعَذَابَ الْاَلِيْمَ
wa qâla mûsâ rabbanâ innaka âtaita fir‘auna wa mala'ahû zînataw wa amwâlan fil-ḫayâtid-dun-yâ, rabbanâ liyudlillû ‘an sabîlik, rabbanathmis ‘alâ amwâlihim wasydud ‘alâ qulûbihim fa lâ yu'minû ḫattâ yarawul-‘adzâbal-alîm
Musa berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberikan kepada Fir‘aun dan para pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan (yang banyak) dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, (akibat pemberian itu) mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat azab yang sangat pedih.”
Tafsir Yūnus Ayat 88
وَقَالَ مُوْسٰى رَبَّنَآ اِنَّكَ اٰتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَاَهٗ زِيْنَةً وَّاَمْوَالًا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ رَبَّنَا لِيُضِلُّوْا عَنْ سَبِيْلِكَ ۚرَبَّنَا اطْمِسْ عَلٰٓى اَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْا حَتّٰى يَرَوُا الْعَذَابَ الْاَلِيْمَ
Tafsir Ringkas Kemenag
Setelah membuat beberapa rumah untuk tinggal dan ibadah para pengikutnya, Nabi Musa berkata, yakni berdoa, “Ya Tuhan kami, Engkau telah memberikan kepada Fir'aun dan para pemuka kaumnya perhiasan yang banyak dan harta kekayaan yang berlimpah dalam kehidupan dunia, tetapi mereka tidak pernah bersyukur kepada-Mu. Ya Tuhan kami, dengan anugerah yang banyak itu, mereka justru menyesatkan manusia dari jalan-Mu. Ya Tuhan, binasakanlah harta mereka, dan kuncilah hati mereka, karena mereka telah mengunci hati mereka dari kebenaran, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat dan merasakan azab yang pedih di dunia dan akhirat sebagai balasan kezaliman mereka.”
Dalam ayat ini dijelaskan pembangkangan dan perbuatan sewenang-wenang Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya, kecemasan dan ketakutan Bani Israil, dan pengaduan Musa kepada Allah tentang nikmat yang melimpah yang diberikan kepada Fir‘aun dan kaumnya seperti perhiasan emas permata, pakaian kebesaran yang mewah, dan kekayaan lainnya, namun segala nikmat yang diberikan Allah itu justru menjadikan mereka sesat dari jalan Allah.
Bahkan mereka bertambah sombong dan berbuat aniaya di atas harta kekayaan itu. Allah seakan membiarkan mereka dalam kesesatan sehingga mereka tidak beriman.
Lalu Nabi Musa mendoakan kehancuran Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya dengan alasan sebagai berikut: Pertama, Kufur terhadap nikmat Allah. Suatu kenyataan bahwa Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya memiliki kekuasaan dan kekuatan yang besar.
Di samping itu, ilmu pengetahuan dan teknologi mencapai puncaknya di zaman Fir‘aun di Mesir. Barang-barang peninggalan Fir‘aun, baik yang terdapat di museum Mesir ataupun di Eropa dan Amerika, menunjukkan ketinggian peradaban dan kebudayaan mereka. Demikian pula benda-benda purbakala dan bangunan-bangunan kuno yang terdapat di Mesir.
Dalam pemerintahan, Fir‘aun memegang kekuasaan mutlak bahkan kepada rakyatnya dia mengaku dirinya sebagai tuhan. Kedua, Menolak kebenaran. Kenyataan menunjukkan bahwa Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya telah jauh meninggalkan nilai-nilai moral kemanusiaan dan agama. Hak asasi manusia tidak dihargainya. Mereka hidup dalam kemewahan, di atas derita rakyat.
Musa a.s. telah berupaya membawa Fir‘aun dan pembesar-pembesarnya ke jalan Allah, dengan menunjukkan bukti-bukti kerasulannya. Dia berikan ajaran tentang kebenaran, keadilan, nasehat dan peringatan siksa Allah, dan malapetaka, akibat perbuatannya. Akan tetapi seruan Musa tidak mendapat sambutan yang baik bahkan mendapat tantangan serta permusuhan. Dengan demikian kemungkinan untuk menyeru Fir‘aun dan kaumnya ke jalan Allah telah tertutup serta keimanan mereka tidak dapat diharapkan lagi.
Membiarkan Fir‘aun dan pembesar-pembesarnya dengan kekuasaan, kejayaan dan kekuatannya yang besar sedangkan prinsip dasar hidup mereka jauh lebih rendah dari nilai-nilai moral kemanusiaan dan agama, sangat membahayakan perdamaian dunia dan kesejahteraan umat manusia. Mereka dengan kekuatan dan kekuasaannya, berbuat maksiat dan kerusakan di muka bumi, mengancam keselamatan umat manusia.
Oleh karena itu, Nabi Musa memanjatkan doa kepada Allah untuk kebahagiaan umat manusia, agar Allah melumpuhkan kekuatan Fir‘aun dengan membiarkan mereka dalam kesesatan, sebab kesesatan mereka akan mengakibatkan kehancuran mereka sendiri. Nabi Harun sebagai pembantu utama Nabi Musa, mengamini doa Nabi Musa itu